Kamar 126

Kamar 126
TAMAT


__ADS_3

"Mami, Axel ikut!" Rengek Axel lalu mengekor di belakang Lisa.


"Lah, nih anak kemarin dinginnya minta ampun, sekarang jadi kayak gini!!" Ujar Lisa lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Alfin bersama dengan Axel.


Ceklek,,


Lisa membuka pintu kamar Alfin perlahan, dan langsung membelalakkan matanya melihat apa yang ada di dalam kamar Alfin. Tak hanya Lisa saja, bahkan Axel membulatkan matanya melihat para saudaranya itu tidur berempat di satu ranjang Alfin.


Dengan posisi Alfin yang tidur di lengan Mark, lalu Dila yang memeluk Alfis berada di paling pojok kiri. Sedangkan Alfian tidur pada perut Mark.


Bayangin sendiri aja lah!


"Astaga!" Pekik Lisa pelan sambil membelalakkan matanya.


"Pffff, ini sih harus di abadikan!" Ucap Alex tersenyum lalu mengeluarkan ponsel untuk memotret anak-anak Gisella itu.


Axel pun menyuruh maminya untuk menutup telinga, karena Axel akan membangunkan para saudaranya itu dengan berteriak.


"WOY LO SEMUA PADA BANGUN!!!" Teriak Axel.


Bruk,,,


"Aw!!!" Dila meringis kesakitan karena terjatuh dari ranjang.


Sedangkan ke 3 saudaranya langsung turun dari ranjang untuk menolong Dila, "DILA!!" Pekik mereka bersamaan. Bahkan Axeljuga ikut menolong Dila.


"Dila, lo nggak apa-apa? Haish Axel nggak bisa pelan-pelan apa?!" Kesal Mark pada Axel karena sudah membuat Dila terjatuh dari ranjang.


"Nggak apa-apa kok!" Jawab Dila santai sambil masih meringis.


"Maafin gue ya Dil!" Axel merasa bersalah melihat Dila yang terjatuh itu. Dila hanya mengangguk saja.


Sampai akhirnya Lisa menyuruh mereka untuk segera mandi dan untuk sarapan bersama di meja makan.


Di meja makan, terlihat semua menatap ke arah Lisa dan Axel yang berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


"Ada apaan sih kok teriak-teriak?!" Tanya Byun pada anaknya itu, karena tadi sempat mendengar anaknya berteriak.


Axel pun menceritakan kalau 4 bersaudara itu tidur di satu ranjang yang ada di kamar Alfin. Sampai akhirnya Dila, Mark, Alfian dan Alfin yang sudah selesai mandi pun berjalan menuju meja makan. Mereka duduk di kursi mereka masing-masing. Namun hari ini ada yang berbeda dari biasanya, kursi Gisella dan Chan tampak kosong. Bahkan mereka semua sudah memulai memakan sarapan mereka, setelah di pimpin doa oleh Nathan.


"Loh, mama sama papa kemana?!" Tanya Dila yang tak mendapati mama dan papanya di kursinya.


"Mereka pergi!" Jawab Byun sambil mulai menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Hah?!" Dila tersentak.


"Pergi ke mana? Kok nggak pamit ke kita?!" Tanya Alfian dengan heran.


Nathan menghela nafasnya dan memberhentikan makannya sejenak, "Kalian ingat kejadian kemarin? Itu membuat mama Gisella terpukul dan memutuskan untuk pergi dari mansion!" Jelas Nathan dengan tatapan sendu.


"Mereka ke mana, Ayah? Bilang sama kita!" Pinta Mark yang tak bisa melanjutkan makannya setelah mengetahui kalau Gisella pergi.


Belum sempat ada yang menjawab ucapan Mark, Alfin sudah lebih dulu berdiri dari duduknya. Menatap sendu ke arah semua orang yang ada di meja makan itu. Dirinya merasa sangat menyesal telah membuat hati mamanya kecewa akan ucapannya kemarin. Semua mata tertuju pada Alfin yang tengah berdiri itu.


"Semuanya, Alfin ingin meminta maaf pada kalian semua! Alfin salah! Maafkan Alfin karena sudah membuat kalian semua kecewa!" Alfin mulai menitihkan air mata, bulir bening itu jatuh begitu saja setelah kembali mengingat akan ucapan Ayah Nathan kalau mama dan papanya pergi meninggalkannya, "Alfin tau kalau Mama tidak akan bisa memaafkan kesalahanku, tapi bukan berarti mama dan papa memilih pergi dan meninggalkan anak-anak yang lain!" Alfin sangat menyesal akan apa yang sudah dia lakukan. Bahkan dia berpikir tidak akan bisa lagi bertemu dengan mamanya.


Alfin hanya bisa meluapkan rasa penyesalan yang dia punya pada air matanya. Sampai tiba-tiba ada suara yang mampu menghentikan tangisnya.


Deg,,,


Ya, suara itu terdengar sangat familiar di telinga Alfin. Suara mamanya yang selalu saja memanjakannya itu membuat Alfin dan anak-anak kandungnya menoleh ke arah Gisella.


"Mama?!" Ucap mereka kompak saat melihat Gisella.


Alfin langsung berlari ke arah Gisella dan bersujud di kaki mamanya, memohon maaf atas apa yang sudah dia lakukan.


"Mama, tolong maafkan Alfin, ma! Alfin salah!" Ucap Alfin di sela isak tangisnya. Gisella yang melihat anaknya itu jadi tidak tega dan menyuruhnya untuk bangkit dari posisinya.


"Nak, bangun sayang!" Pinta Gisella.


"Tidak, Alfin hanya akan bangun kalau mama sudah benar-benar memaafkan Alfin!" Ucap Alfin yang masih terus memohon.

__ADS_1


Gisella menarik nafasnya, "Mama sudah maafkan kamu nak! Ayo bangun nak!" Pinta Gisella, dan Alfin langsung berdiri dengan perlahan.


"Ma, maafkan Alfin! Alfin udah jadi anak durhaka ma!!" Ucap Alfin dengan air matanya yang masih terus mengalir, Gisella sendiri juga sudah tak kuasa menahan air matanya. Melihat anaknya menangis itu membuat hatinya terasa tersayat oleh pisau.


"Udah sayang, mama udah maafin Alfin! Alfin jangan ulangi kesalahan itu lagi ya!" Gisella mencoba tersenyum di sela isak tangisnya, dan mengusap air mata yang keluar dari mata Alfin.


"Alfin janji ma!" Kata Alfin lalu setelahnya memeluk mamanya dengan hangat. Begitu juga dengan Gisella yang membalas pelukan anaknya itu dengan kasih sayang.


Mereka saling berpelukan dengan di susul Chan, Dila, Alfian dan juga Mark. Semua yang melihat itu pun merasakan haru. Hati mereka merasa lega melihat itu. Mereka semua merasa bahagia, karena masalah sudah terselesaikan dengan kepala dingin. Akhir yang sangat indah untuk di pandang mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, mereka kembali melanjutkan tour mereka untuk berkeliling dunia. Mereka menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang. Bahkan semenjak kejadian itu tidak ada lagi masalah yang terjadi di keluarga mereka.


Mereka makhluk tak kasat mata memang selalu ada di sekitar mereka. Namun kini Gisella sudah menyuruh anak-anaknya itu untuk tidak melepas kalung air suci yang dia buat, supaya tidak ada makhluk tak kasat mata yang mengganggu mereka semua.


Alfin sekarang memilih untuk menutup setengah mata batinnya yang terbuka. Dan tak lagi bisa melihat mereka makhluk tak kasat mata.


Hubungan Mark dan juga Dila kini juga semakin akrab, entah nantinya akan seperti apa kelanjutannya. Yang pasti mereka hanya akan menjalani semuanya seiring berjalannya waktu.


Mark dan Alfian sendiri juga kadang membantu mereka makhluk tak kasat mata, tentu saja atas ijin dari Gisella yang memperbolehkan mereka, asal tidak membahayakan nyawa mereka.


Axel yang awalnya berlarut dalam kesedihan pun sekarang memilih untuk kembali terbuka lagi dan menjalani hari-harinya dengan baik. Ucapan Dila selalu terngiang di kepalanya untuk selalu menjadi periang demi Dira.


Jessica yang memang anak bungsu dari Byun kini sangat dekat dengan Tania, anak bungsu dari Jeni dan Leon. Mereka bahkan sudah seperti anak kembar yang selalu bersama, bahkan sampai tidak mau pisah kamar.


Renald dan juga Bryan, anak dari Ayah Nathan dan bunda Nadia itu kini juga mulai menguasai bisnis dan mendirikan lebih dari 100 perusahaan. Padahal mereka masih duduk di bangku sekolah.


Adam, Zaki dan Rafi menjadi seorang model brand ambasador di ratusan perusahaan yang di pimpin oleh Ayah Nathan.


Alisya, anak kedua dari Lisa dan Alex itu kini menjadi seorang idol ternama dan mampu menguasai 30 bahasa.


Victor sendiri anak kedua dari Leon dan Jeni itu menjadi seorang atlet Internasional yang pandai dalam semua bidang olahraga.


Dan yang terakhir adalah Lucas, anak pertama dari Leon itu menjadi seorang mafia terkejam di dunia setelah menuruni bakat bela diri dari Daddynya.

__ADS_1


Semenjak kejadian Alfin waktu itu, tidak ada masalah serius yang terjadi dalam keluarga besar itu lagi. Hingga membuat mereka hanya merasakan kebahagiaan hingga saat ini. Masalalu yang kelam mereka jadikan pelajaran untuk menghadapi hari-hari mereka di masa depan.


~TAMAT~


__ADS_2