
Dila pun langsung duduk di ranjang Dira yang memang Dira sedang duduk bersandar pada dipan ranjang itu dengan memegang sebuah buku novel.
"Lo ngapain ke sini?" Tanya Dira sambil masih fokus membaca novel yang ada di tangannya itu.
"Gue mau nanya sama lo!" Ucap Dila.
"Tanya soal apaan?" Dira mulai penasaran, namun pandangannya masih fokus pada buku novel yang ada di genggamannya.
"Gue mau nanya soal pria yang lo ceritain ke gue kemarin!" Jelas Dila. Dira yang mendengarnya pun langsung menutup bukunya dan beralih menatap ke arah Dila berada.
"Nah, pada akhirnya lo kepo juga kan sama dia?" Tukas Dira yang menatap mata Dila lekat, padahal memang kemarin Dila kemarin yang awalnya memang ingin tahu tentang pria yang di ceritakan oleh Dira. Dira pun kembali membuka novel dan mulai membacanya lagi.
"Gue serius, Dir! Lo tahu namanya nggak?" Tanya Dila yang memang sudah sangat ingin tahu tentang pemuda yang dia temui siang tadi
Dira pun menghela nafasnya "Lo tuh gimana sih, ya gue nggak tahu lah! orang kemarin aja gue lihat dia di depan pintu gerbang doang" Dira berdecah sambil memutar bola mata malasnya.
"Ya udah deh kalau gitu, nanti di bahas sama yang lain aja!" Dila pun hendak beranjak dari kamar Dira.
"Nanti lo juga bakal tahu sendiri!" Dila terus melanjutkan langkahnya yang hendak keluar dari kamar Dila.
"Ish, nyebelin banget sih lo! Gitu aja pakai rahasia-rahasiaan segala sama gue!" Dila menghela nafas kasar karena kesal , tak mendapat jawaban dari ucapannya.
"Hehe sorry!" Dila hanya terkekeh kecil lalu berjalan pergi sampai punggungnya tak lagi terlihat oleh Dira.
Di hari itu, sengaja mereka gunakan untuk bermalas-malasan , meskipun sebenarnya Dira ingin segera menyelesaikan makalah itu, dan segera kembali ke mansion.
__ADS_1
Malam hari di Villa itu, seperti biasa bi Sara dan bi Tina sudah pulang dan hanya menyiapkan makan malam, seperti biasanya. Mereka semua berkumpul untuk makan malam.
Hanya suara detingan sendok yang berpadu dengan piring yang mereka gunakan untuk makan. Suasana hening dan hanya Dila yang dari tadi terlihat tidak memakan makanannya. Dila masih memikirkan pemuda tadi. Dia semakin penasaran dengan semua yang di katakan oleh pria itu. Dira yang menyadari saudara kembarnya hanya melamun dan tidak menghabiskan makan malamnya pun menegurnya.
"Lo kenapa sih ,Dil? Kenapa dari tadi nggak makan! Kasihan tuh nasi lo anggurin!" Dira terlihat menegur saudara kembarnya itu. Dan itu cukup membuat seluruh perhatian orang yang makan pun langsung menatapnya dengan heran.
"Kalian tahu nggak!" Dila membuka suara setelah lamunannya terbuyarkan oleh saudara kembarnya.
"Ya nggak tahu lah, orang lo belum bilang apa-apa ke kita!" Victor langsung menyela ucapan Dila.
"Ish!!" Karena kesal, Dila mengetuk tangan Victor dengan sendok yang ada di tangan Dila. Sendok itu terlihat masih bersih dan belum terkena nasi.
"Aw,, biasa aja kali Dil!" Victor mengelus tangannya yang sakit karena di ketuk oleh Dila tadi.
"Siapa suruh lo ngeselin!"
"Udah-udah, kenapa malah jadi ribut sih? Dila, memangnya ada apa sih? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran lo? Sampai-sampai lo dari tadi melamun mulu!" Alisya pun juga menanyakan hal yang sama seperti yang di katakan oleh Dira. Karena memang dari tadi diam-diam Alisya melihat Dila yang hanya melamun tanpa menyendok sesuap nasi pun.
Dila pun menarik nafas pelan lalu mengeluarkannya, "Gue tuh tadi siang kayaknya ketemu sama pemuda yang di maksud Dira kemarin, deh!" Dila akhirnya mau buka suara dan mengatakan apa yang dia alami tadi siang. Hanya Dira yang tampaknya seperti terkejut dengan apa yang Dila katakan barusan.
"Apa? Lo serius ,Dil? Terus gimana? Lo nggak apa-apa kan? Lo nggak di ganggu sama dia kan?" Dira begitu khawatir saat mendengar itu, karena yang Dira dari bi Sara, Dira tahu pemuda itu sangat aneh. Meskipun Dira sendiri belum pernah melihatnya dari dekat, apalagi berbicara dengannya.
"Yeee, apaan sih Dir! Gue kan cuma nebak aja! Gue kan juga nggak tahu, itu pemuda beneran yang lo maksud apa nggak! Tapi sih kalau menurut gue, dia memang aneh sih!" Ucap Dila.
"Aneh kenapa, Dil?" Tanya Bryan penasaran sambil terus melanjutkan makan malamnya.
__ADS_1
"Ya aneh aja, dia tuh nyuruh gue kalau gue sama kalian harus segera pergi dari vila ini!" Dila pun memberi tahu rasa kebingungannya pada mereka.
"Maksudnya gimana sih ,Dil? Kok gue jadi nggak paham?" Ujar Axel penasaran.
"Gue juga nggak tahu pastinya sih! Tapi yang gue ingat, jelas dia bilang kalau vila ini memiliki aura hitam dan dia menyarankan kalau kita sebaiknya pergi dari Vila ini!" Dila menjelaskan apa yang dia dapat dari pemuda aneh itu.
Semuanya tampak mengernyitkan dahi mereka, karena tak paham dengan apa yang di maksud oleh Dila. Tapi lain halnya dengan Dira yang malah tiba-tiba merinding dan langsung merasa takut dengan apa yang di katakan oleh Dila barusan.
"Tuh, kan gue bilang juga apa! Vila ini tuh pasti angker!" Ucap Dira sambil memegang tengkuknya yang mulai merasa merinding.
"Dira ,apaan sih lo! Jangan mulai deh! Kita kan juga nggak tahu dan nggak kenal siapa orang yang bilang kayak gitu tadi! Dan kita juga nggak tahu, apa tujuan dia ngomong kayak gitu?!" Ungkap Victor sambil menghela nafasnya. Mereka memang sering tidak terlalu perduli dengan ketakutan yang di rasakan oleh Dira. Karena memang dari mereka semuanya, hanya Dira lah yang paling penakut. Bahkan bukan hanya saat itu aja, Dira sering kali merasa takut yang entah apa sebabnya. Namun yang pasti dirinya seringnya dia merasa merinding, saudaranya yang lain hanya menganggap itu hal biasa.
"Iya, Victor benar! Alangkah baiknya kita selidiki dulu, dan cari tahu apa maksud yang di katakan oleh pemuda itu! Kita juga nggak boleh langsung percaya gitu aja kan? Siapa tahu malah ngerugiin diri kita sendiri! Lagi pula kita juga kan nggak pernah ngerasain hal janggal di sini!" Ucap Axel yang memang dirinya di anggap sebagai yang paling tua diantara mereka yang ada di Vila itu.
"Gue sih setuju sama Axel!" Alisya mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Axel, "Bisa aja pemuda yang di temuin Dila itu cuma iseng aja mau ngerjain kita ya kan? Kita nggak boleh langsung percaya gitu aja! Lagian kan kita juga nggak kenal sama tuh orang!" Ucap Alisya lagi.
"Ya udah deh lupain aja!" Dila tampak menghela nafas ketika semua saudaranya seperti tidak ingin mendukung apa yang ingin dia lakukan.
Malam itu mereka melanjutkan makan malam dan setelahnya mereka pergi ke kamar mereka masing-masing, untuk beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Dila.
Meskipun saudaranya yang lain memilih untuk tidak terlalu menganggap serius tentang apa yang Dila katakan. Namun lain halnya dengan Dila yang masih saja terus merasa penasaran, dengan pemuda yang dia temui tadi siang itu. Sambil menyilangkan tangannya di dada, Dila berjalan ke arah jendela kamarnya dan menatap ke luar jendela.
__ADS_1
Namun saat dirinya sedang fokus berpikir, tiba-tiba saja pandangan Dila di menelisik adanya seseorang yang sedang memperhatikan vila yang di tempati nya itu. Dilihatnya ada seorang yang yak asing sedang memandang vila itu dari kejauhan. Namun kebetulan kamar Dila tepat berada di bagian depan, dan langsung menghadap gerbang. Terlihat pemuda itu menoleh ke arah Vila sebentar lalu melanjutkan lagi mengayuh sepeda gunung miliknya.
"Eh siapa tuh?" Dila mulai menajamkan penglihatannya, "Loh, bukannya itu pemuda yang gue temui tadi siang? Ngapain dia ngelihatin vila ini terus?" Dial yang semakin penasaran dan ingin tahu pun, menatap pemuda itu, sampai dia kembali mengayuh sepeda gunungnya dan menjauh dark Vila.