
Ternyata di setiap lembar buku itu terdapat sebuah nama dan juga mantra yang di yakini adalah milik para manekin-manekin itu. Karena setiap Mark membuka lembar demi lembar, dirinya melihat suatu kejadian di saat tante Ana membunuh dan menjadikan mereka sebagai sebuah manekin.
Mark yang menutup matanya itu tiba-tiba saja menitihkan air matanya. Dia sungguh merasa tidak tega melihat mereka yang tak bersalah di bunuh dengan brutal oleh tante Ana. Mark seperti di sayat melihat perlakuan tante Ana yang sudah seperti seorang iblis tak memiliki hati ketika melakukan hal keji seperti itu.
"Kak!" Ucap Alfian yang menyadarkan kakaknya, dia khawatir karena melihat Mark menitihkan air matanya di saat matanya tertutup.
Mark membuka matanya dan langsung mengusap air matanya, "Bakar semuanya!!" Kata Mark menyuruh para mafioso untuk membakar semuanya. Kecuali jasad dari ibu Ana itu yang akan di bakar dan di kumpulkan abunya untuk di kuburkan dengan layak.
Setelah selesai membakar semuanya, Mark membawa abu milik nenek itu dan langsung menguburkannya di tempat pemakaman yang letaknya tak jauh dari mansion milik Windy. Kemudian Mark dan Alfian dengan mengendarai mobil yang di bawa mafioso tadi menuju ke rumah sakit tempat Windy di rawat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit, Windy telah selesai melakukan operasi. Namun kondisinya yang sudah membaik itu ternyata tak membuat dia kunjung sadar. Kini Windy juga sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VIP yang di minta oleh Alfin.
Alfin saat itu menunggu Windy sadar dan duduk di kursi yang ada di dekat brankar nya. Sedangkan Lucas duduk di sofa sembari memainkan ponselnya itu. Alfin memandangi wajah Windy yang pucat itu, Alfin tentu saja tak tega melihatnya. Dia ingin sekali menggantikan posisi Windy kalau bisa. Dia sungguh tak bisa melihat Windy yang tak kunjung sadar.
"Windy, kenapa kamu nggak sadar juga? Aku berharap kau membuka matamu dan lihatlah aku yang ada di sampingmu ini!! Ku harap kau segera bangun, aku ingin sekali melihatmu tersenyum! Aku memang bodoh tak menyadari perasaanku ini! Aku sayang sama kamu Windy, bangunlah!" Batin Alfin sembari menatap Windy dengan wajah sendunya.
Selang beberapa menit setelah itu, datanglah Mark dan juga Alfian ke ruang rawat inap Windy. Mereka juga sama halnya mencemaskan Windy, "Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sadar?!" Tanya Mark yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Alfian. Alfin yang mendengar itu tak menjawab dan masih terus memandangi wajah Windy. Lalu Lucas lah yang angkat bicara dan menjelaskan kalau Windy baru saja selesai di operasi dan belum sadarkan diri sampai sekarang.
Mark melihat Alfin yang masih fokus duduk di dekat brankar Windy tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Hati Mark menghangat melihat Alfin yang telah benar-benar ingin berubah dan membuka hatinya lagi untuk seorang wanita.
"Duduklah dulu, kita tunggu Windy sadar baru setelah itu kita pergi ke markas untuk mengurus wanita itu!" Ucap Lucas dengan datar, namun di dalam hatinya sangat merasa kesal. Karena orang itu yang menjadi penyebab Windy seperti ini ,dan itu tentu saja berdampak pada Alfin yang memiliki rasa pada Windy. Lucas sendiri sudah berjanji tak akan membiarkan siapapun orang yang berani menyakiti para saudaranya. Dia tentunya tak akan tinggal diam, dia bahkan sudah memikirkan cara apa yang akan dia lakukan untuk menyiksa wanita bernama Nuri itu.
Selang beberapa menit saat Lucas tengah menunggu sembari memainkan ponselnya, dia mendapatkan sebuah pesan dari Victor yang tampaknya memberi tahunya berita penting. Lucas langsung segera membuka pesan itu dari Victor. Dan betapa terkejutnya dia kalau adiknya itu tanpa di minta telah melakukan tugasnya untuk mencari informasi mengenai Nuri itu sebelum dia menghabisinya.
Nuri adalah seorang wanita patuh baya yang telah menjadi pengikut tante Ana. Usianya terpaut 3 tahun dari Ana, namun Ana telah menganggap bi Nuri sebagai kakaknya sendiri. Mengingat saat itu dia selalu merasa kesepian di setiap harinya. Karena tak ada teman sama sekali.
Nuri yang ternyata adalah seorang anak yatim piatu itu tengah mencari makanan dengan memulung. Mencari makanan sisa untuk dia makan. Namun siapa yang menyangka kalau Ana menawarkannya sebuah pekerjaan dengan menjadi asisten rumah tangga (ART) di mansion nya. Bahkan Nuri ternyata berada di sana jauh sebelum Ana mengenal Bram, yang lebih tepatnya hanyalah obsesi saja.
Nuri selalu menuruti apa yang di inginkan nona nya, yaitu ana. Termasuk kadang juga membantu Ana untuk membuat sebuah patung manekin yang tentunya menjadi kebiasaan dari Ana untuk membuat patung itu. Bahkan bagi Ana itu sama sekali tidak sulit untuk di lakukan. Dia bisa membuatnya sendiri, namun suatu saat Ana memang sengaja mengajari bi Nuri juga cara seperti Ana .Awalnya bi Nuri memang takut dengan suatu hal keji ,yang telah di lakukan oleh nona nya itu ketika merasa marah.
Namun lambat laun Nuri sudah mulai terbiasa dengan apa yang dia lakukan. Dia bahkan tak segan-segan untuk menangkap target yang akan di jadikan sebuah manekin, itu semua juga atas dasar suruhan dari majikannya yaitu Ana. Nuri bahkan sudah di beri tahu tentang rahasia yang Ana miliki, termasuk mayat ibunya itu yang sudah di awetkan. Tujuan Ana memberi tahu Nuri ialah hanya untuk berjaga-jaga kalau semisal ada orang yang mau mencari tahu tentang keluarga Ana sebelumnya. Dan juga untuk memberikan ruangan rahasia itu setiap hati, tidak mungkin kan kalah Ana sendiri yang setiap hari membersihkan tempat itu?
Itu karena Ana sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tak memiliki waktu untuk membersihkan ruangan rahasia miliknya itu sendiri.
Ana yang notabene nya hanya seorang pembantu rumah tangga dan merasa telah di tolong oleh Ana pun hanya bisa menurut saja, walau sebenarnya hatinya sempat merasa takut. Akan tetapi lambat laun dia sudah mulai terbiasa dengan itu semua dan dia juga tak mempermasalahkan tentang pekerjaannya selama ini. Itu kenapa dia akan membunuh siapapun yang ingin mengetahui tentang Ana , karena Nuri sudah bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia akan menjaga rahasia nyonya besarnya itu yang telah menolongnya.
Nuri sendiri sebenarnya juga pernah melakukan ritual semacam itu, dengan tujuan untuk membunuh setiap orang yang sudah berani membully dia dulu ketika masih menjadi seorang pengemis.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jauh di alam bawah sadar seseorang
Dan tepatnya itu adalah Windy, dirinya yang sudah selesai melakukan operasi itu sempat di tarik oleh salah satu sosok yang ingin membawanya pergi bersama dengannya. Ya ,siapa lagi kalau bukan mamanya, Ana.
Windy berdiri di tangah gelapnya tempat itu. Bahkan hanya ada cahaya tamaram yang sepertinya letaknya sangat jauh dari tempatnya berdiri saat ini, "Siapa di sana? Adakah orang?!" Kata Windy mencoba menyapa siapapun yang ada di sana. Karena memang saat itu Windy masih belum sadar kalau dia tengah berada di alam duni, untuk menunggumu sadar, bukankah kau seharusnya bahagia bisa melihat orang itu yang mau setia menunggu sampai Windy sadar nanti.
Lalu kemudian tiba-tiba seseorang yang sangat dia kenal, yaitu mamanya kandungnya sendiri, Ana. Dengan itu saja Windy langsung paham kalau dirinya sebenarnya harus lari dan pergi ke kembali tempat di mana seharusnya dia berada yaitu alam manusia.
"Mama?!" Ucap Windy ketika melihat mamanya berdiri di depannya dengan senyumannya yang manis, seperti saat dulu ketika masih hidup.
"Nak, maafkan mama yang telah membunuh papa kamu, mama sungguh menyesali semua perbuatan mama!" Ujar mama Ana yang terlihat memelas dan menyesali apa yang telah perbuat ketika semasa hidupnya.
Bukannya menjawab ucapan mamanya tadi ,Windy malah menanyakan di mana keberadaan papanya, "Ma, papa ada di mana? Apa dia juga berada di sini?!" Tanya Windy tanpa menanyakan keadaan Ana saat ini.
"Apa kau tidak menanyakan keberadaan mama kamu ini nak?!" Tanya Ana dengan tatapan sendunya melihat anaknya itu seakan tak perduli padanya.
"Maafkan Windy ma, tentu saja! Aku ini anakmu ma, bagaimana mungkin aku tidak ingat dengan mama?!" Kata Windy yang setelahnya mendekat ke arah Ana dan memeluknya dengan hangat. Ana juga membalas pelukan itu.
"Nak, apa kau ingin melihat papa kamu?!" Tanya Ana yang melihat manik wajah anaknya itu ingin melihat papanya.
Mata Windy sontak saja berbinar mendengar apa yang di katakan oleh mamanya itu, "Apa aku bisa bertemu dengan Papa? Dia ada di mana ma?!" Tanya Windy antusias.
"Lalu dia ada di mana ma?" Tanya Windy penasaran dan juga tak sabar ingin segera bertemu dengan papanya itu. Jujur saja Windy sangat merindukan orang yang dia sebut sebagai papa , karena bagaimana pun seorang papa adalah cinta pertama setiap anak gadisnya.
"Dia sedang berada di sebuah taman yang indah, sebenarnya mama ke sini ingin membawa kamu ke sana, papa kamu sudah menunggu kamu di sana nak!" Kata mama Ana yang ternyata memiliki tujuan yang terselubung di dalamnya. Tentu saja, dengan Windy mengikuti apa yang mama Ana katakan, arwahnya pasti akan ikut di bawa oleh mamanya. Dan juga raganya yang belum bangun setelah operasi itu akan mati karena sang pemilik raga telah meninggalkan raganya.
"Antar kan aku pada papa ma! Mari kita hidup bertiga lagi seperti dulu ma!" Kata Windy dengan segala harapannya. Dia ingin sekali kehidupannya sama seperti dulu, saat belum mengetahui kebenaran semuanya yang membuat dia kehilangan kedua orang tuanya dan hidup sebatang kara sekarang.
"Mama akan dengan hati mengajak kamu bertemu dengan papa Bram, ayo kita hidup bahagia lagi bersama!" Kata Mama Ana yang tanpa di sadari oleh Windy, dirinya tengah menyunggingkan senyum liciknya. Ya, tentu saja itu adalah tujuan utama Ana yang menginginkan Windy mati dan ikut bersamanya di alam kegelapan. Lalu menjadi pengikut iblis yang selama ini menaungi Ana. Dnegan begitu Ana tidak akan kesepian lagi, dan iblis itu juga pasti akan bahagia melihat Ana yang dapat seorang tumbal yang akan di jadikan budak iblis itu juga. Dalam artian Windy akan menjadi tumbal selanjutnya.
Windy mengangguki ucapan mamanya itu dengan penuh yakin. Tak dapat di pungkiri kalau dirinya sangat merindukan sosok papanya saat ini. Dia ingin sekali bertemu dengan papa Bram saat itu juga. Yang tanpa Windy ketahui apa yang menjadi tujuan utama mamanya itu yang akan menjadikannya sebagai tumbal untuk di berikan pada iblis yang menaungi Ana.
"Baiklah, ayo ikut mama, mama akan menunjukkan jalannya padamu nak!" Ajak Ana yang merasa sangat bangga bisa mengelabuhi anaknya yang tampak polos itu.
Setelah Windy mengiyakannya, muncullah sebuah pintu berwarna merah darah yang jika di lihat sangat menyeramkan yang membuat Windy bergidik ngeri hanya karena melihatnya saja.
"Ma, apa benar papa ada di balik pintu ini? Kenapa pintu ini begitu menyeramkan?!" Tanya Windy penasaran dan jadi tak yakin kalau papanya ada di balik pintu yang tampak mengerikan itu.
__ADS_1
"Apa kamu tidak percaya sama mama? Kau bisa mengeceknya sendiri dan melihatnya dengan mata kepala kamu sendiri!" Kata Ana yang berusaha meyakinkan anak gadisnya itu mengenai papanya yang ada di balik pintu menyeramkan itu.
Windy pun berjalan mendekat ke arah pintu itu. Lalu kemudian saat hendak menyentuh pintu itu ,tiba-tiba saja dia mendengar samar suara orang yang tengah menangisinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alam manusia sekarang kondisi Windy mulai memburuk dan Alfin sangat khawatir mengenai hal itu, secepatnya dia memanggil dokter untuk segera menanganinya.
"Windy, aku mohon bertahanlah! Jangan tinggalkan aku!!" Kata Alfin sembari menitihkan air matanya melihat kondisi Windy yang melihat orang yang dia cintai seperti tak memiliki harapan untuk hidup. Dia juga bingung kenapa tiba-tiba kondisi Windy yang telah membaik pasca operasi, tapi malah drop dan kritis lagi.
Mark ,Alfian dan Lucas yang tadinya berada di sofa langsung mendekat ke arah Alfin untuk mendekatkannya. Mark dan Alfian merasa ada yang tidak beres mengenai itu. Kenapa bisa tiba-tiba Windy kondisinya malah memburuk seperti saat ini. Lalu kemudian,
"Windy, jika kau mendengar ku, tolong kau kembali! Jangan turuti apapun kemauan mama kamu! Ingatlah kalau kamu itu tidak sedang berada di alam manusia!" Batin Mark yang berbicara dengan tujuan membuat Windy sadar kalau dia itu tidak sedang berada di alam manusia. Tempat yang seharusnya dia berada saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Back to Windy yang berjalan mendekati pintu itu dan hendak membukanya, namun dia menghentikan langkahnya saat samar-samar mendengar suara Alfin yang sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini. Di tambah lagi suara Mark yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Itu membuat Windy sadar akan apa yang sudah dia lakukan sekarang, dia sama saja ingin bunuh diri dan menyerahkan jiwanya pada iblis yang telah lama menjerat mananya itu.
"Nak, ada apa? Kenapa kau berhenti? Apa ada masalah? Tunggu apa lagi? Papa kamu pasti sudah menunggu kamu di sana!" Kata Mama Ana yang lagi-lagi mencoba membujuk anaknya itu untuk masuk ke dalam perangkapnya.
Namun siapa sangka Windy yang tadinya membelakangi mamanya itu langsung berbalik menatap mamanya dengan tatapan mata tajam. Hal itu sontak membuat Ana tak mengerti dengan apa yang akan di lakukan oleh Windy dengan tatapan mata tajamnya itu, "Ada apa?!" Tanya Ana yang masih tak mengerti dengan arti tatapan mata Windy padanya itu.
Lalu perlahan Windy berjalan mendekati mamanya itu, dan kini Windy telah berada tepat di depan mamanya yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Apa mama berusaha menipuku? Mama berusaha membuat aku juga ikut terjerat seperti mama saat ini? KENAPA MAMA MELAKUKAN INI PADAKU? APA SALAHKU MA?!!! AKU KECEWA SAMA MAMA!" Ucap Windy yang awalnya lirih dan mulai meninggikan suaranya karena mengetahui tujuan utama mamanya ,yang ingin menjadikannya sebagai seorang tumbal.
Ana yang telah ketahuan pun tak kalah emosi dengan apa yang di ucapkan oleh anaknya itu, "APA AKU AKAN MENJADI ANAK YANG PEMBANGKANG? KENAPA KAU BERTERIAK PADA MAMA KAMU SENDIRI HAH?!" Bentak Ana yang tak kalah meninggikan suaranya pada Windy saat itu, yang membuat Windy yakin dengan keputusannya dan membatalkan niatnya untuk memasuki pintu merah yang menyeramkan itu.
"ITU KARENA MAMA SUDAH TEGA INGIN MENJADIKAN AKU TUMBAL!!!" teriak Windy dengan marah dan dengan mata yang berkaca-kaca, dirinya tak percaya kalau mamanya akan menjadikannya sebagai salah satu tumbal untuk di berikan pada iblis yang telah menjeratnya itu. Namun beruntung Windy telah membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam pintu itu.
"Cepat masuk ke dalam, mama tidak pernah berbohong, papa kamu ada di dalam sana!" Kata mama Ana dengan nada yang sedikit melembut, dan membuatkan sebuah ilusi kalau papanya ada di balik pintu itu.
Pintu itu yang sengaja di buka oleh Ana dan dia juga memperlihatkan adanya papa Bram berada di sana hanya dengan ilusi yang dia buat. Tentu saja semua makhluk tak kasat mata yang jahat akan bisa membuat sebuah ilusi untuk mengelabuhi mangsanya.
Windy yang mendengar suara papanya di balik pintu itu langsung berbalik dan menatap dari tempatnya berdiri saat ini, "Papa?!" Lirih Windy yang melihat papanya ada di balik pintu merah itu. Akan tetapi itu hanyalah ilusi semata. Namun sayangnya Windy tak sadar akan hal itu dan malah terpengaruh dengan apa yang dia lihat saat itu juga.
Mata Windy berkaca-kaca melihat adanya papanya di dalam sana. Ingin sekali dirinya berlari masuk dan langsung memeluk papanya itu.
"Windy, kemari lah nak! Papa sangat merindukan kamu! Kemari lah!!" Ucap papa Bram yang seakan membujuk Windy supaya dirinya mau masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Siapa sangka Windy yang terbuai dengan perintah papanya itu, karena rasa rindunya akan pelukan papanya itu pun, dia mulau berjalan mendekat lagi ke arah pintu itu berada. Hal itu membuat Ana tersenyum seringai karena telah berhasil mengelabuhi anaknya itu.
Saat Windy hendak melangkah masuk, sebuah suara dari kejauhan membuatnya tersentak dan sadar dengan apa yang akan dia lakukan. Windy langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya itu, "Tunggu!!! Jangan masuk ke dalam!!!" Ucap suara itu yang membuat Windy langsung tersadar.