Kamar 126

Kamar 126
Rahasia apa


__ADS_3

"Apa gue kasih tahu kak Alfin aja ya?" Batin Dila.


"Kak Alfin!" Panggil Dila pada Alfin yang tengah fokus memainkan ponselnya.


"Ada apa dek?" Tanya Alfin setelah menoleh ke arah adik pertamanya itu.


"Ada yang mau gue omongin nih sama kakak! Tapi ini masalah pribadi!" Ucap Dila yang langsung to the point pada Alfin.


"Hmm main rahasia-rahasiaan segala lagi!" Sahut Victor yang mendengar pembicaraan antara Dila dan Alfin.


"Ok nggak rahasia, gue akan kasih tahu kalian semua kalau gue mau nyuruh kak Alfin buat nganterin gue ke minimarket yang ada di depan tuh!" Ujar Dila mencoba serius.


"Mau ngapain?" Tanya Bryan penasaran.


"Mau beli pembalut! Puas?!" Ucap Dila menekankan seluruh katanya.


"Ish, sana-sana! Ngerepotin aja lo!" Usir Bryan pada Dila


"Yee, siapa juga yang mau ngerepotin lo! Orang gue mau ngerepotin kakak gue sendiri!" Ucap Dila sambil menggandeng tangan kakaknya, Alfin.


Dila pun langsung mengajak Alfin untuk berjalan ke luar dari ruang rawat Alfian. Sedangkan Alfin yang ketarik pun hanya bisa pasrah.


"Ada apa sih dek, kok tarik-tarik kakak?" Tanya Alfin yang merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh adiknya itu.


"Ada yang mau Dila kasih tahu ke kakak!" Ucap Dila.


"Loh, nggak jadi beli pembalut?" Tanya Alfin yang mengira kalau Dila akan mengajaknya pergi membeli pembalut.


"Haish, itu cuma pura-pura aja kok kak, biar mereka nggak pada kepo!" Ujar Dila sembari menghela nafas.


"Tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi dari mereka?" Tanya Alfin penasaran.


"Dila tadi dengar saat papa dan orang tua yang lain mengatakan kalau mereka memiliki sebuah rahasia besar yang di tutupi dari semua para anak-anaknya!" Jelas Dila pada Alfin. Alfin yang mendengar ucapan Dila pun menghela nafas santai.


"Haish, mana ada kayak gitu dek! Mungkin lo salah dengar tadi!" Ucap Alfin yang tak percaya pada apa yang di katakan oleh Dila.


"Nggak mungkin kak, orang Dila tadi dengarnya mereka bilang kayak gitu! Kayaknya memang ada yang mereka sembunyikan dati kita para anak-anaknya deh kak! Buktinya mereka aja ngomongnya di rooftop ,supaya kita semua nggak ada yang tahu! Rahasia apa yang mereka sembunyikan dari kita?" Ucap Dila yang diakhiri dengan kalimat tanya, yang bahkan Alfin tidak tahu harus menjawabnya dengan bagaimana.


"Kakak juga nggak tahu dek, tapi kayaknya kita harus cari tahu deh!" Kata Alfin yang mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dila.

__ADS_1


"Iya kakak benar! Dila penasaran banget sama apa yang mereka rahasiakan dari kita semua! Memangnya hal sepenting apa, sampai-sampai kita tidak boleh tahu!" Kata Dila berdecak heran sambil mencoba berpikir.


"Yang pasti sepertinya ini rahasia besar, dan tentang masalalu mereka yang kita tidak tahu Dil!" Ucap Alfin menerka-nerka.


"Tapi menurut gue sih, mama lah yang sebenarnya menyimpan rahasia besar itu kak!" Ujar Dila menebak.


"Kenapa lo bisa ngomong gitu dek?" Tanya Alfin sambil mengernyitkan dahinya.


"Soalnya gue dengar sendiri saat mereka ngomongin soal hal itu, mama memang ada sangkut pautnya dengan rahasia ini kak! Bahkan mungkin mama lah rahasia yang merek maksud!" Ujar Dila.


"Kita juga nggak boleh langsung menyimpulkan kalau ini memang rahasia mama dek! Kita harus bisa pastiin dulu semuanya!" Ucap Alfin menyarankan.


"Iya kak, tapi bagaimana caranya?" Tanya Dila sambil berpikir.


"Nanti kakak akan coba pikirkan itu!" Kata Alfin.


Gubrakkkk,,,


Suara pintu di buka dari dalam ruang rawat Alfian pun , membuat kakak beradik itu terperanjat kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


Orang yang membukanya yang tak lain adalah Bryan.


"Sorry, gue terlalu bersemangat tadi! Gue cuma mau kasih tahu kalau Alfian udah sadar!" Bryan memberi tahukan berita bagus itu pada Dila dan juga Alfin yang ada di depan ruang rawat Alfian. Padahal awalnya memang Bryan tidak tahu kalau sebenarnya di depan ruang rawat Alfian ada mereka berdua di sana.


Terlihat Dila dan Alfin yang mendengar kabar gembira itu, mereka langsung masuk ke dalam ruang rawat Alfian untuk menemui adik bungsunya yang sudah sadar.


"Katakan, kenapa lo bisa melakukan hal bodoh kayak gitu? Lo nggak tahu kalau Mama sama Papa sangat mengkhawatirkan lo!" Ujar Dira yang langsung menanyakan mengenai apa yang dilakukan Alfian sampai berbuat nekat seperti itu.


"Niat gue kan bagus kak!" Ucap Alfian yang masih berusaha membela diri.


"Bagus dari mana? Lo bahkan udah bahayakan nyawa lo sendiri! Tuh lihat aja luka yang lo dapat!" Kata Alex yang tak kalah mengomeli Alfian.


Namun Alfian hanya menanggapi omelan mereka sebagai candaan saja. mereka tidak benar-benar memarahi Alfian, karena Alfian yakin mereka sangatlah menyayangi Alfian.


"Dil, lo udah kasih tahu mama sama papa belum kalau Alfian udah sadar?" Tanya Dira, kembaran Dila.


"Eh iya gue sampai lupa!" Ucap Dila sambil menepuk jidatnya karena terlalu antusias akan kesadaran Alfian, hingga lupa memberi tahu kedua orang tuanya.


"Kalau gitu gue kasih tahu mereka dulu ya!" Seketika Dila yang hendak beranjak pun di halangi oleh Adam.

__ADS_1


"Biar gue aja dek!" Kata Adam.


"Ah, iya makasih ya kakak Adam sayang!" Ucap Dila dengan nada manjanya.


Setelah itu Adam pun menuju ruang di mana Gisella di rawat juga karena pingsannya tadi. Namun saat hendak masuk ke dalam ruang rawat Gisella. Langkah Adam seketika terhenti karena mendengar percakapan antara para orang tua nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruang rawat yang di penuhi oleh para orang tua itu, Gisella tampaknya sudah siuman.


"Gisella , ada yang mau aku omongin sama kamu!" Ujar Chan memulai percakapan setelah Gisella sadar dari pingsannya tadi.


"Apa Adam sudah sadar?" Bukannya menjawab, Gisella justru mengalihkan pembicaraannya dengan menanyakan kondisi anaknya.


"Sepertinya Alfian belum sadar! Tapi aku cuma mau bilang dan ngingatin ke kamu, tolong kamu jangan marahi dia atas apa yang sudah dia lakukan ini!" Kata Chan mencoba membujuk dan memberi tahu Gisella.


"Memangnya apa yang dia lakukan?" Tanya Gisella tak mengerti.


"Gisella, aku tahu masalalu mu membuatmu trauma berat! Tapi tolong jangan marahi Alfian hanya karena dia menolong mereka yang tak kasat mata!" Sahut Nathan yang langsung memberi tahu Gisella.


"APA?!" Gisella tampak terkejut di buatnya, "Jadi anakku seperti ini karena dia melakukan hal itu? Hanya karena membantu mereka?" Ucap Gisella mulai emosi dan meninggikan suaranya.


"Gisella, ku mohon tenanglah! Aku mohon kamu tetap jaga sikap kamu ini! Alfian anak kita sedang sakit! Aku tidak mau dia terbebani dengan kamu memarahi dan memberi tahunya tentang masalalu kita!" Chan memohon supaya Gisella mengurungkan niatnya untuk memarahi Alfian atas apa yang sudah dia lakukan.


"Tapi dia akan terus melakukannya, jika kita tidak menegur atau memarahinya!" Kesal Gisella yang tiba-tiba saja mengingat janin nya dulu yang pernah lenyap akibat makhluk tak kasat mata.


"Iya Gisella, aku tahu! Tapi jangan sekarang! Kau tahu kan anak kita sedang sakit! Biarkan dia sembuh dulu!" Chan masih mencoba menenangkan Gisella.


"Gisella aku mohon kamu mengerti, jangan marahi Alfian! Bukan kah kamu masih mau menyimpan rahasia masalalu kamu?" Ucap Nadia mengingatkan akan rahasia masalalu Gisella itu.


Gisella pun menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar, karena dirinya tidak memiliki pilihan lain lagi, selain menuruti apa kata saudara-saudaranya itu.


"Baiklah kalai begitu, aku akan bicara setelah Alfian sembuh nanti!" Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega mendengar apa yang di katakan oleh Gisella tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlihat Adam yang tak sengaja mendengar percakapan mereka pun sontak menimbulkan banyak tanya di benaknya.


"Apa maksud mereka? Rahasia apa yang mereka simpan di masalalu? Dan kenapa harus ada rahasia?" Batin Adam di depan ruang rawat Gisella.

__ADS_1


__ADS_2