
Ada banyak hal juga yang di pelajari bi Inem selama berada di pendopo. Bi Inem yang memang awalnya tak bisa melihat makhluk tak kasat mata pun meminta paman Felix untuk membukanya. Tak hanya itu bi Inem juga belajar banyak hal tentang makhluk tak kasat mata.
Flashback off
"Astaga bi, maaf karena Gisella sudah membuat bibi jadi mengingat masalalu kelam bi Inem!" Kata Gisella menyesal, dia tak enak hati membuat bi Inem menjadi teringat akan kejadian masalalu nya yang kelam.
Bi Inem tersenyum ke arah Gisella sambil mengelus surai hitam Gisella, "Tidak apa-apa non, bibi nggak apa-apa kok! Lagi pula itu semua sudah menjadi masalalu yang hanya bisa di kenang saja! Nona tak perlu terlalu memikirkannya ya!" Ucap Bi Inem dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya yang sudah memasuki usia 80 tahunan.
Setelah itu mereka melanjutkan memasak hingga selesai dan menyiapkan makanan di meja makan. Untuk makan malam nanti.
Setelah semuanya siap, mereka pun menikmati makan malam bersama. Paman Felix mengatakan kalau dirinya akan bertapa malam ini dan tidak ada yang boleh mengganggunya hingga pagi menjelang.
Di dalam kamar Gisella dan juga Chan. Mereka tampak sedang berbincang mengenai keesokan hari saat mereka akan mengambil bambu kuning yang di katakan sebagai penangkal iblis.
"Chan, apa kita bisa membawanya sampai ke mansion? Apakah bambu itu muat kita bawa?!" Tanya Gisella yang memikirkan bagaimana cara membawa tanaman bambu kuning itu ke kota, tempat tinggal mereka.
"Kita ambil saja yang sedang tumbuh, ya yang masih kecil jadi nanti kita bisa bawa sedikit lebih karena mengingat mansion kita yang sangat luas!! Kata Chan memberi tahu yang nantinya akan mereka bawa.
"Aku juga akan membuatkan kalung pengganti air anggrek hitam nanti Chan! Aku akan gunakan bambu kuning itu untuk menjadi liontin, karena memang itu penangkal yang paling mempan menangkal iblis!!" Kata Gisella dengan rencananya yang akan membuat beberapa liontin dari bambu kuning itu nantinya.
Kemudian setelah berbincang-bincang mereka berdua pun tidur hingga pagi menjelang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, di mansion keluarga besar Nathan. Seperti biasa mereka akan sarapan bersama di meja makan. Hari itu adalah hari minggu, yang tepatnya hari libur. Karena memang sekolah mereka sudah full day, jadi hanya 5 hari kerja saja di sekolah dan libur di hari sabtu dan minggu.
Mereka semua sarapan tanpa ada suara , hanya ada suara dentingan sendok yang berbenturan dengan piring mereka masing-masing.
Hari itu kelima anak itu akan melanjutkan misi mereka untuk menuntaskan masalah di museum manekin. Tentunya untuk ikut andil dalam acara pemakaman para jasad-jasad yang telah menjadi manekin itu.
Sedangkan Dila hari itu memilih mengajak Alisya untuk membaca buku di perpustakaan pribadi yang ada di mansion. Tentunya mereka akan belajar karena sebentar lagi akan ada ujian dan mereka harus belajar dengan giat untuk mendapatkan nilai yang memuaskan.
Di sisi Axel , dirinya memilih untuk ikut dengan Bryan yang sedang berada di ruang gym. Mereka akan berolah raga hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mark, Lucas , Victor, Alfin dan juga Alfian hari itu pamit pada para orang tua untuk mengikuti acara pemakaman masal yang akan di lakukan oleh pihak yang akan bertanggung jawab mengenai itu.
Setelah selesai berpamitan, mereka menuju ke garasi mobil, untuk memilih mobil yang akan mereka kendarai. Sebuah mobil hitam dengan atap yang terbuka itu di pilih oleh Alfin. Ya, lebih tepatnya itu adalah mobil yang sering di pakai oleh Alfin ketika akan pergi ke kampus.
__ADS_1
Namun sebelum mereka berangkat, Alfian menceritakan kejadian yang dia alami di dalam mimpinya, "Kak, gue mau cerita ke kalian!" Kata Alfian memulai ucapannya sebelum naik ke mobil.
Mark yang saat itu hendak masuk ke dalam mobil pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah adik bungsunya itu, "Ada apa Alfian? Katakan saja!" Ucap Mark yang penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Alfian padanya dan juga saudaranya yang lain.
"Gue melihat tante Ana di mimpi gue, dia dalam naungan iblis, gue nggak tahu apa yang akan dia lakukan!! Tapi aku ingat dia mengancam gue!!" Jelas Alfian singkat supaya mudah di mengerti oleh para saudaranya yang ada di sana.
"Lo diancam? Dalam mimpi ? Dan lo takut?!" Tanya Lucas dengan entengnya. Memang orang awam akan menganggapnya tidak masuk akal, namun bagi sang pemilik indra keenam itu adalah suatu pertanda untuk selalu waspada terhadap apa saja yang nantinya dapat mengancam ketenangan dan ketentraman mereka.
"Kalau begitu, kita sebaiknya berhati-hati lagi! Karena kita juga nggak tahu apa yang nantinya akan menjadi musuh dan apa yang harus kita hadapi kita tidak tahu itu!" Kata Mark memperingatkan para saudara-saudaranya.
Alfin menghela nafas, " Lo tadi bilang dia dalam naungan iblis? Apa ini berarti dia menganut ilmu hitam juga?!" Ucap Alfin tanpa sadar dan membuat Mark berpikir sejenak.
"Tunggu!! Lo tadi bilang dia dalam naungan iblis? Tapi bagaimana bisa? Seharusnya kalau dia tak ada hubungannya dengan iblis, dia akan langsung pergi ke alam selanjutnya!" Tanya Mark yang mulai menyadari ada yang janggal.
Alfian mencoba mengingat sesuatu, "Lo benar kak, gue juga punya felling yang sama kayak lo, kayaknya sih memang tante Ana menganut ilmu hitam penyembah iblis! Bahkan iblis yang gue temui di mimpi gue dia sangat cantik, ukuran badannya 2 kali lebih besar dan tinggi di bandingkan dengan tante Ana!" Kata Alfian menghela nafas untuk melanjutkan ucapannya, "Gue sempat terkejut sih pas lihatnya, terus gue nggak nyangka kalau tante Ana waktu itu juga bakal mencekik gue!!" Lanjut Alfian lagi.
Mark menghela nafas nya, "Gini aja, mulai sekarang kita harus lebih hati-hati lagi dan saling menjaga satu sama lain!!" Ucap Mark.
"Jaga-jaga dari apa dulu nih? Dari musuh? Kan ada kak Lucas?!" Kata Victor dengan melihat kakaknya yang tengah bersedekap sembari mendengarkan para saudaranya yang tengah berbincang di samping mobil.
"Tidak hanya ada Lucas yang bisa jaga kita dari musuh!! Kan juga ada kak Mark yang selalu ada saat kita di ganggu makhluk tak kasat! Jadi apa yang perlu di khawatirin lagi?!" Ucap Alfin menimpali.
Mark menghela nafas "Iya kalian benar, kita juga punya kalung pemberian mama, jadi gue rasa kita hanya perlu waspada saja!" Kata Mark mengingatkan.
"Ya udah ayo buruan masuk, biar gue yang nyetir!" Kata Lucas yang dari tadi diam tak bergeming.
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil yang di pilih oleh Alfin tadi. Namun kini Lucas lah yang menyetir, dan mereka pun menuju ke museum manekin.
Tak butuh waktu yang lama, hanya menempuh perjalanan 27 kilo meter saja mereka telah sampai di museum manekin. Sesampainya di depan museum, ternyata beberapa manekin sudah di masukkan ke dalam sebuah peti mati untuk siap di makamkan.
Mark dan yang lainnya melihat adanya Windy di sana. Namun Windy hanya menatap kosong ke arah peti mati yang di bawa masuk ke dalam mobil ambulan. Mark pun akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah Windy berada. Akan tetapi Alfin sudah lebih dulu berjalan menuju ke arah Windy. Hal itu membuat Mark seketika menyunggingkan senyum melihatnya.
Di sis Alfin dirinya mendekat ke arah Windy, "Windy!" Panggil Alfin pada Windy yang duduk di kursi dan termenung menatap banyaknya peti mati yang keluar dari museum. Windy yang mendengar panggilan itu pun langsung menoleh dengan lesu, dirinya seperti orang yang tak memiliki semangat hidup lagi.
"Alfin?!" Kata Windy ketika melihat Jaehyun yang tadi memanggil dirinya. Tanpa di suruh Alfin langsung duduk di samping Windy.
"Gue tahu lo pasti sangat sedih! Sangat menyakitkan ketika kita melihat orang yang kita sayangi pergi begitu saja dan bahkan pergi untuk selama-lamanya dari dalam hidup kita!!" Ucap Alfin sambil menatap para perawat medis membawa peti mati itu ke dalam beberapa ambulan yang sudah siap di depan museum. Tentunya untuk membawa para jasad itu ke pemakaman.
"Gue beneran nggak nyangka kalau semua ini akan terjadi, apalagi semua yang ada di museum ini seperti telah terbebas dari jeruji besi yang menjerat mereka! Gue merasakan lega melihatnya, tapi dada gue rasanya sakit kalau ingat bokap sama nyokap gue yang udah lebih dulu pergi ninggalin gue! Gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin tanpa mereka!! Rasanya gue nggak sanggup untuk hidup sendiri!!" Ujar Windy panjang lebar dengan tanpa menatap ke arah Alfin yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Alfin yang mendengar keluhan dari Windy itu pun sontak langsung menoleh dan menatap ke arah Windy, "Lo tenang aja, kalau lo butuh apa-apa bilang aja ke gue! Gue akan dengan senang hati bantuin lo!" Ucap Alfin menawarkan diri, dan mencoba membuat Windy supaya tak sedih lagi.
Windy yang mendengar itu juga ikut menoleh ke arah Alfin , "Apa lo ngomong kayak gini hanya karena merasa iba sama gua? Bahkan sebelumnya lo nggak pernah bicara sama gue! Kita kayak orang asing!! Kenapa lo tiba-tiba kayak gini? Gue mohon jangan datang pas gue cuma butuh lo! Gue nggak mau kehilangan lagi!!" Ucap Windy tanpa sadar akan apa yang dia ucapkan dan langsung menatap ke arah depan lagi dengan tatapan kosongnya. Bahkan Alfin yang mendengarnya tertegun. Memang benar Alfin tidak pernah berbicara pada Windy, bahkan sebenarnya Alfin jarang sekali berbicara dengan para wanita yang ada di kampus. Hanya Saviana lah wanita pertama yang membuat Alfin bisa terbuka dan hanya Saviana juga yang mampu membuat hatinya terbuka untuknya. Akan tetapi Saviana telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Ucapan Windy tadi sungguh mengingatkan Alfin terhadap Saviana. Alfin bingung dia sungguh tidak tahu harus menjawab Windy dengan ucapan yang bagaimana lagi. Memang benar Alfin merasa iba padanya karena telah menjadi korban dari mamanya yang telah membuatnya seperti sekarang ini.
"Windy, maaf! Gue nggak bermaksud buat lo jadi tambah sedih! Tapi jujur gue ngerasa nggak tega lihat lo nangis kayak gini!" Kata Alfin yang membuat Windy kembali menatapnya dengan penuh nanar.
"Alfin , gue nggak tahu apa yang akan terjadi sama gue setelah ini! Gue nggak kuat kalau harus jalani hidup gue tanpa mereka!!" Ucap Windy yang perlahan menitihkan air matanya. Hal itu membuat hati Alfin yang melihatnya merasa semakin tak bisa membiarkan Windy menangis seperti itu. Entah kenapa hati Alfin juga ikut merasakan sakit saat melihat Windy menangis seperti itu. Padahal sebelumnya Alfin tak pernah merasakan hal seperti itu, apalagi iba terhadap orang lain. Perasaan Alfin seakan ikut mati seiring Saviana yang telah pergi jauh meninggalkannya.
Alfin lalu merengkuh tubuh Windy dan mendekapnya. Windy pun ikut terhanyut dengan menitihkan air matanya, membayangkan hal buruk yang akan menimpanya ketika dia akan berjalan sendiri tanpa ada kedua orang tua yang akan mendampinginya.
"Apa salah gue sampai mereka secepat itu pergi tinggalin gue?!" Ucap Windy dalam pelukan Alfin sembari menangis terisak.
"Syuttttt, jangan pernah anggap lo sendiri!! Ada gue! Lo bisa minta apapun ke gue! Gue sebisa mungkin akan ada buat lo!" Kata Alfin tanpa sadar.
Mark yang melihat dari jarak yang tak terlalu jauh pun hanya menyunggingkan senyumnya, dia bahagia melihat Alfin bisa seperti itu lagi. Mark sangat tidak menyangka kalau Alfin akan bersikap seperti itu pada Windy. Bahkan Mark pikir Alfin tak akan mau membuka hati lagi. Namun setelah melihat itu sepertinya dugaan Mark telah salah. Alfin seperti telah membuka pintu untuk orang yang akan masuk ke dalam hatinya.
Pov Alfin
Hari itu seperti biasa akan ikut dengan kak Mark untuk menjalankan misinya bersama dengan Alfian . Dan sudah di tetapkan kami berlima akan seperti itu ketika menjalankan misi. Sebenarnya para saudara yang lain juga ingin ikut, mereka juga ingin merasakan bagaimana seru dan semisteri apa ketika menjalani misi, yang dilakukan kak Mark dan juga Alfian.
Awalnya aku ragu untuk ikut karena aku takut teringat lagi dengan masalalu ku yang kelam akibat di tinggal oleh kekasihku, Saviana. Namun setelah aku paksakan ikut karena rasa penasaranku, aku malah jadi ingin terus ikut dengan kak Mark. Aku selalu ingin ikut dia untuk menjalankan misi. Dengan begitu aku akan ikut merasa lega bisa iku andil dalam membantu mereka makhluk tak kasat mata.
Tapi hati itu setelah misi mencari tahu kebenaran di museum manekin, aku menemukan hal yang tak biasa. Bagaimana bisa sebuah patung manekin terbuat dari tubuh manusia asli. Bukankah itu hal yang kejam untuk di lakukan?
Hingga akhirnya semuanya terungkap, dan kejadian tak terduga juga terjadi di museum itu. Tuan Bram meninggal karena di tembak oleh nyonya Ana menggunakan pistol miliknya. Akan tetapi yang membuat aku terkejut untuk yang kedua kalinya. Saat melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat nyonya Ana atau yang biasa Alfian panggil tante itu, tertabrak sebuah truk yang melintas. Bahkan tubuh tante Ana terseret jauh dan tak lagi berbentuk manusia.
Di hari setelah kejadian itu, aku dan para saudaraku datang lagi untuk ikut dalam acara pemakaman puluhan manekin yang terbuat dari manusia itu. Kedatanganku ke saja juga ingin mendoakan mereka supaya mereka semua mendapatkan tempat terbaik.
Aku tak sengaja melihat Windy yang tengah duduk melamun menatap para petugas medis yang membawa peti mati, dan menaruhnya di mobil jenazah. Ku putuskan untuk mendekat ke arah Windy dan menanyakan ada apa dengan dirinya. Walau ku tahu dia pasti sedang bersedih mengingat kedua orang tuanya telah tiada. Itu pasti akan sangat menyakitkan baginya.
Entahlah, rasanya tidak tega melihatnya termenung seperti itu. Hingga tanpa aku sadari aku malah duduk di dekatnya, lalu ku peluk dia mencoba untuk menenangkan hatinya. Aku merasakan ada rasa takut yang mendalam pada diri Windy, dia sangat takut akan kehidupan yang nantinya akan dia jalani seorang diri tanpa adanya kedua orang tua yang mendukungnya.
Aku semakin tak tega melihatnya ketika dia mulai terisak. Entahlah, kata-kata Windy yang membuat otakku beku adalah ketika dia bertanya mengenai aku yang hanya datang di saat dia butuh seperti sekarang. Entah kenapa rasanya sakit saat dia mengatakan itu, padahal kalau boleh jujur padanya, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku sangat ingin menemaninya dan menjaga dirinya sebisaku. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi padaku, aku juga tak tau apa yang sedang aku rasakan saat itu. Yang aku tahu perasaan ini hampir sama ketika aku akan kehilangan Saviana untuk selama-lamanya, rasanya tak sanggup untuk menjalani hidup.
Apakah yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku benar-benar memiliki rasa pada Windy? Atau hanya rasa iba yang datang sesaat saja?
Entahlah, aku akan memikirkannya setelah acara pemakaman itu selesai nanti.
__ADS_1