Kamar 126

Kamar 126
Melanjutkan pendidikan


__ADS_3

"Makasih ma!" Ucap Alfian dan Mark bersamaan.


"Kalau begitu cepat bersihkan diri kalian semua, kita makan malam bersama nanti!" Ucap Gisella menyuruh para anak-anak untuk mandi dan bersiap untuk makan malam. Padahal hari masih sore.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Dila


Malam hari itu Axel yang datang ke kamarku membawakan segelas susu. Namun aku sedikit kecewa padanya karena baru kali ini dia menolak permintaanku.


Padahal kita juga sudah sering tidur dalam satu kamar. Tapi entah kenapa Axel seperti tak ingin dekat denganku, dia malah menolaknya secara halus. Aku sama sekali tidak tahu apa penyebabnya, yang aku tahu aku tidak memiliki masalah apapun dengannya.


Aku merasa dia saat itu sedang marah padaku, tapi marah karena apa?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya tampak Mark hendak pergi ke meja makan, dan melihat Dila yang baru saja keluar dari kamarnya. Mark langsung saja mendekat ke arah Dila.


"Dila!" Panggil Mark pada Dila, dan yang di panggil pun langsung menoleh ke sumber suara.


"Kak, Mark?!" Ucap Dila ketika melihat Mark memanggilnya dan berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ada apa kak?!" Tanya Dila penasaran.


"Apa harus ada sebuah alasan dulu untuk berbicara dengan adikku ini, hm?!" Tanya Mark sambil mencubit pelan hidung Dila.


Dila mengusap hidungnya yang terasa sedikit sakit akibat cubitan dari Mark tadi, "Haish kakak! Maksud Dila bukan itu!! Dila cuma mau tanya aja kok, ada apa manggil Dila?!"


Mark menjawab, "Ada yang mau kakak omongin sama kamu, ya mungkin ini tidak lah penting! Tapi mungkin kau akan sedikit terkejut mendengarnya!" Ucap Mark yang malah membuat Dila semakin penasaran di buatnya.


"Kakak mau ngomong apa sih emangnya?!" Tanya Dila yang sudah sangat penasaran sebenarnya.


"Kakak mau- !" Ujar Mark terpotong.


"Dila?!" Panggil Axel yang baru saja keluar dari kamarnya sendiri.


Mark dan Dila langsung menoleh ke sumber suara.


"Kalian lagi ngomongin apaan? Kayaknya serius banget?!" Tanya Axel yang penasaran dan langsung nimbrung.


"Oh ini tadi, kak Mark katanya mau ngom-" terpotong.


"Nggak ada apa-apa kok, mending kita segera turun buat makan malam, mereka semua pasti sudah menunggu di meja makan!" Kata Mark mengalihkan pembicaraan, lalu setelahnya berjalan duluan dan menaiki lift menuju lantai dasar di mansion itu, yang lebih tepatnya menuju meja makan.


"Ada apa sama kak Mark?!" Tanya Dila bingung pada Axel.


Axel yang saat itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana pun hanya mengedikkan bahunya tanpa bahwa dia tidak tahu.


"Haish, lo juga sama aja!" Ucap Dila kesal. Lalu berjalan duluan meninggalkan Axel.


"Lah salah gue apa? Kenapa gue malah di tinggalin?!" Gumam Axel bingung. Lalu setelahnya mengikuti langkah Dila menuju ke meja makan.


Di meja makan,


Seperti biasanya, di sana sama sekali tidak ada suara orang berbicara, hanya dentingan sendok yang mengenai piring saja yang terdengar di sana.


Setelah selesai dengan acara makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Sambil minum teh dan ada juga yang memutuskan untuk menikmati udara di tepi kolam renang. Karena kebetulan letak dari kolam renang dengan ruang keluarga itu berdekatan, bahkan jika berada di tepi kolam renang, kita masih bisa melihat dan mendengar apapun percakapan para orang tua.


Di dekat kolam renang, Mark tampak duduk dengan memasukkan kakinya ke dalam air kolam. Dila saat itu sedang bersama dengan Alisya, lalu melihat Mark yang duduk sendirian. Lebih tepatnya tidak sendiri, ada juga yang lain, cuma mereka tidak duduk bersama dengan Mark.


Dila dan Alisya berjalan ke arah Mark dengan membawa cemilan dan minuman.


"Kak Mark!" Panggil Alisya dan Dila bersamaan lalu langsung duduk di samping kiri dan kanan Mark.


"Kalian?!" Jawab Mark melihat kedua gadis itu duduk di masing-masing sisinya.

__ADS_1


"Kak, ini gue bawain cemilan!" Kata Alisya sambil menyodorkan cemilan pada Mark.


Mark hanya tersenyum lalu menjawab, "Taruh di situ saja, nanti gue akan memakannya!" Jawab Mark, kemudian Alisya meletakkan cemilan itu di sebuah meja yang tak jauh dari sisi Mark.


"Kak, ini aku bawain jus kesukaan kakak!" Ucap Dila sembari menyodorkan sebuah jus semangka pada Mark. Dila memang sudah tahu apa yang di sukai oleh Mark.


Mark yang melihat jus itu langsung mengambilnya lalu meminumnya, "Ahh, segar sekali!" Kata Mark setelah menenggak jus itu.


"Kak Mark, lo ngapain duduk di sini sendiri sih? Tuh kaki juga nggak dingin apa malah di masukin ke kolam?!" Tanya Alisya.


"Nggak kok Alisya, gue nyaman kayak gini! Coba aja deh airnya nggak terlalu dingin kok!" Kata Mark menawarkan.


"Alisya emang gitu kak, dia itu nggak suka yang dingin! Apalagi sama cowok dingin!!" Ucap Dila yang mengarah pada seorang pria yang saat ini sedang Alisya taksir.


Mark langsung menoleh pada Alisya, "Hey, siapa pria yang sudah mengambil hati adik gue ini hm?!" Tanya Mark sambil menatap Alisya, sedangkan Dila tampak tersenyum mengejek karena sudah berhasil menggoda Alisya.


"Haish, apa gue harus cerita? Tapi nyesek banget kak!" Kata Alisya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Katakan saja, siapa tahu gue bisa bantu!" Ujar Mark mencoba membuat Alisya mengatakan tentang apa yang sedang mengganjal di hatinya.


Alisya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya, seakan mengambil ancang-ancang untuk menceritakan apa yang dia rasakan, Alisya menatap air kolam renang yang tenang itu, "Gue suka sama cowok kak, tapi sayangnya dia dingin banget, gue bahkan nggak tahu kenapa bisa gue suka sama tuh cowok!" Kata Alisya heran pada dirinya sendiri.


Mark yang mendengarnya merasa kasihan, tapi bagaimana dengan dirinya sendiri. Yang juga tak tahu kapan akan mengungkapkan perasaannya pada Dila itu.


"Kak Mark, apa lo punya saran?!" Suara Alisya membuyarkan lamunan Mark.


"Ah, eh kalau itu sih menurut kakak dia juga nggak salah! Dia kan nggak tahu lo suka sama dia apa nggak! Setidaknya beri dia sedikit kode kalau lo perhatian sama dia! Tapi gue saranin jangan berlebihan, karena nantinya dia malah ilfil sama lo!" Mark menarik nafasnya untuk melanjutkan ucapannya, "Menaklukkan hati pria dingin itu memang sulit! Tapi setelah lo berhasil mendapatkan hatinya, percayalah dia akan berubah menjadi pria manja di tangan gadis yang tepat!" Kata Mark menjelaskan apa yang dia tahu. Meski dia tidak memiliki pengalaman mengenai percintaan, tapi setidaknya dia mengerti sedikit mengenai semua itu.


Alisya menoleh ke arah Mark, "Benarkah begitu?!" Tanya Alisya antusias setelah mendapat pencerahan dari Mark tadi. Mark menjawabnya dengan tersenyum lalu mengangguk.


Rasanya seperti ada seberkas cahaya terang menyinari hati Alisya yang kelam, karena selalu di buat bingung bagaimana caranya bisa membuat orang kita sayangi juga menyayangi kita.


Padahal nyatanya ucapan itu tak seindah apa yang nantinya akan di lakukan, tidak semuanya berjalan dengan mulus. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, tanpa tahu nanti kedepannya akan seperti apa. Hanya Tuhan lah yang tahu akan hal itu.


"Kalau begitu makasih udah di kasih tahu ya kak, gue mau ke dapur dulu bikinin lo jus semangka lagi!" Ucap Alisya senang lalu melihat jus semangka Mark yang telah habis, dirinya berinisiatif untuk membuatkan Mark jus lagi sebagai tanda terima kasih telah memberinya pencerahan mengenai apa yang selama ini dia rasakan.


Setelah Alisya pergi, "Kak Mark!" Panggil Dila yang ada di samping Mark. Mendengar namanya di panggil Mark langsung menoleh ke arah Dila yang memanggilnya.


"Apa benar yang kau katakan tadi?!" Tanya Dila padahal Mark belum sempat menjawab panggilannya tadi. Dahi Mark mengernyit heran dengan apa yang tiba-tiba di tanyakan oleh Dila.


"Benar tentang apa, Dil?!" Tanya Mark penasaran, dan juga mengingat ingat tentang ucapan apa tadi yang membuat Dila menanyakan seperti itu padanya.


"Apakah benar pria dingin yang jatuh ke dalam cinta gadis yang tepat akan berubah menjadi pria manja?!" Tanya Dila memperjelas tentang apa yang tadi sempat Mark katakan pada Dila.


"Tentu saja ,Dil!" Jawab Mark sambil mengusap rambut Dila dengan lembut. Namun seketika dia terhenyak dengan jawabannya sendiri tadi. Dia teringat akan dirinya sendiri dulu, yang menjadi pria dingin lalu setelah bertemu dengan Dila. Mark berubah menjadi pria manja yang seakan sudah menemukan pawang hatinya.


Mark langsung mengalihkan pandangannya ke depan dengan tangan yang langsung dia turunkan dari kepala Dila.


Sontak saja Dila bingung dengan apa yang di lakukan oleh kakak tertuanya itu, "Ada apa kak?!" Tanya Dila penasaran.


"Tidak ada apa-apa, Dil!" Jawab Mark tanpa menoleh menatap ke arah Dila.


"Kenapa kau terlihat gugup kak?! Apa ada sesuatu?!" Tanya Dila mencecar Mark dengan berbagai pertanyaan yang langsung berkecamuk melihat perubahan Mark.


Mark bingung, lidahnya seakan kelu untuk mengatakan pada Dila. Dia bahkan bisa mengatakan hal seperti itu pada Alisya, tanpa tahu kalau dirinya dulu ternyata adalah pria dingin.


Mark berpikir, mungkin saja Dila menanyakan itu karena dia yang melihat perubahan Mark, sungguh Mark takut kalau sampai Dila berpikir begitu, dia pasti akan sangat malu kalau sampai Dila tahu.


Saat hendak menjawab,,,, "Ak-aku-"Terpotong.


"Kak Mark, ini jus semangka buat lo! Khusus karena kak Mark udah bikin gue percaya diri lagi!" Ucap Alisya dengan senyum sumringah.


Merasa lega karena kedatangan Alisya membuat Mark tidak perlu lagi menjawab ucapan dari Dila tadi. Lagi pula akan dia jawab apa nanti?.


"Makasih ya!" Jawab Mark.

__ADS_1


"Iya sama-sama, kalau gitu gue masuk dulu ya kak Mark, Dila!" Ucap Alisya berpamitan lalu setelahnya berlalu pergi entah ke kamar atau ke mana.


Setelah Alisya pergi, kecanggungan kembali terjadi lagi. Entah kenapa semenjak Dila menanyakan hal itu tadi, membuat Mark merasa salah tingkah sendiri, dan bibirnya serasa tidak bisa berucap.


"Kenapa kak Mark malah diem aja? Apa aku salah menanyakan hal itu padanya? Tapi kalau memang benar apa yang di katakan kak Mark, apa benar dia menemukan gadis yang tepat sehingga sikap dinginnya dulu saat masih di desa Loka berubah menjadi penceria dan manja seperti ini?!" Batin Dila sambil menatap Mark yang terlihat sedang gugup itu.


"Kak, kenapa malah diam dan nggak jawab pertanyaan aku?!" Tanya Dila mulai bertanya lagi.


"Gue harus jawab apaan ini? Kalau gue kasih tahu itu yang benar, Dila pasti tahu kalau gue itu udah menemukan orang yang tepat, yaitu lo, Dila!!" Batin Mark sambil terus berpikir alasan apa yang akan dia buat nanti.


Dengan menarik nafas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya dia berusaha menjawab pertanyaan dari Dila.


"Iya, Dil itu memang benar!" Jawab Mark akhirnya.


Dila masih ingin bertanya, "Lalu apa kakak sudah menemukan gadis yang kakak sukai? Sampai kak Mark bisa berubah tidak dingin lagi?!" Tanya Dila dengan polos. Mark yang mendengar itu mendengus, Bagaimana bisa gadis pujaan hatinya ini begitu polos?


"Emt, Dila! Aku berubah bukan karena menemukan gadis yang aku sukai, tapi karena aku menemukan keluarga baru, terutama mama Gisella!" Jawab Mark berkilah. Dengan tujuan semoga Dila akan percaya pada ucapannya itu.


"Apa benar begitu?!" Tanya Dila memastikan lagi. Sedangkan Mark tampak mengangguk yang menandakan kalau dia serius akan ucapannya.


"Maaf karena telah berbohong padamu Dil! Jujur aku masih belum siap mengungkapkan perasaan ini, jadi aku akan tetap memendamnya,!! Walaupun aku tak tahu entah sampai kapan rasa ini akan aku pendam darimu!" Batin Mark.


"Oh jadi begitu!" Jawab Dila dengan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia mengerti akan maksud dari Mark itu.


"Aku kira kau berubah karena diriku, kak Mark! Tapi ternyata aku salah! Kau berubah menjadi pria yang tidak dingin karena telah bertemu keluarga baru dan kebahagiaanmu!! Bukan karena aku!" Batin Dila yang nampak kecewa akan dirinya yang telah salah dalam mengambil kesimpulan.


"Oh iya, Dil!" Ucap Mark yang memecah sejenak keheningan yang terjadi di antara mereka tadi.


"Hem?!" Jawab Dila singkat sambil menoleh ke arah Mark.


"Aku ingin memberi tahu kamu sesuatu!" Kata Mark membuat Dila merasa sangat penasaran akan apa yang nantinya akan di katakan oleh kakak angkatnya itu.


"Apa kak? Sepertinya ini masalah serius?!" Tanya Dila yang semakin penasaran di buatnya.


"Aku akan melanjutkan pendidikan ku, Dil!" Kata Mark.


Dila terpaku sejenak mendengar penuturan dari Mark tadi. Dia tidak percaya kalau kakaknya ini akhirnya mau melanjutkan pendidikannya. Tentu itu menjadi kabar gembira bagi Dila yang mendengarnya langsung dari Mark.


"Benarkah itu kak?!" Tanya Dila antusias dengan mata yang berbinar.


"Iya, tapi mungkin aku akan mengambil fakultas yang sama dengan saudara-saudara yang lainnya!" Ucap Mark memberi tahu Dila.


"Itu sangat bagus kak, aku tidak menyangka kau akan berubah pikiran secepat ini kak! Aku akan selalu mendukung semua keputusan kamu kak!" Ucap Dila dengan perasaan senang. Hati Mark seakan luluh melihat guratan senyum di wajah Dila yang terlihat bahagia mendapat kabar tentang Mark itu.


Di sebuah balkon kamar terdapat pria remaja yang tengah menatap nanar kedua sejoli itu yang tengah bersenda gurau di dekat kolam renang. Ya tentu saja, siapa lagi kalau bukan Axel. Semenjak makan malam itu Axel memilih masuk ke dalam kamarnya, dengan alasan akan mengerjakan tugas yang belum sempat dia kerjakan.


Namun siapa sangka kalau dia justru diam-diam memperhatikan Dila yang sedang asik berbincang ria dengan Mark di bawah sana. Hati Axel merasa cemburu melihatnya, ingin sekali berada di sisi Mark saat ini. Akan tetapi perkataan papa Byun masih saja terngiang di telinganya, untuk menjauhi Dila untuk satu bulan lamanya.


"Apa lo bahagia saat bersama dengan kak Mark, Dil?!" Lirih Axel saat melihat mereka dari balkon kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Chan dan juga Gisella.


Chan tampak duduk di ranjang dengan mata masih fokus pada layar ponselnya untuk mengecek data perusahaan yang tadi sempat di kirim oleh Ayah Nathan. Sedangkan Gisella tampak terdiam dengan bersandar pada dipan ranjang. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan dia sendiri bingung akan hal apa yang membuat hatinya merasa tidak tenang.


Gisella menghela nafas, "Sayang!" Panggil Gisella dengan nada manja pada Chan.


"Ada apa sayang?!" Jawab Chan tanpa menoleh ke arah istrinya berada.


Gisella meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Bersandar seakan mencari sebuah kenyamanan. Chan yang merasa kalau istrinya itu sedang ada pikiran berat pun langsung meletakkan ponselnya di atas nakas, yang terletak di dekat ranjang.


Chan mengusap lembut rambut istrinya itu, "Ada apa hm? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?!" Tanya Chan yang seolah tahu akan kegelisahan Gisella.


"Aku masih bingung Chan, aku merasa aneh sama anak gadis kita!" Ucap Dila memberi tahu.

__ADS_1


"Maksud kamu Dila? Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah baik-baik saja sekarang?!" Tanya Chan pada istrinya.


__ADS_2