
Paman Felix pun berjalan kembali ke ruang tamu di ikuti oleh Gisella dan juga Chan yang mengekor dari belakang. Paman Felix duduk di kursi kebesaran nya lagi lalu menatap ke arah Chan dan juga Gisella yang ada di depannya.
"Kalian tenang saja, tempatnya tidak jauh dari sini!! Kalian nantinya akan di bimbing oleh bi Inem, dia yang nanti akan menunjukkan jalannya!" Kata paman Felix yang memberi tahu mereka.
Gisella masih bingung, "Lalu bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kita paman?!" Tanya Gisella khawatir dirinya tak bisa menjaga diri.
"Bukankah kau bahkan sudah pernah melawan iblis? Kau juga memiliki air suci dan air anggrek hitam! Jadi apa yang kau takutkan nak?!" Bukannya menjawab paman Felix malah bertanya balik pada Gisella, yang membuat Gisella langsung teringat kejadian di masalalu. Di mana dirinya melawan sosok iblis kejam bernama Wendy. Dia bahkan juga berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga seluruh keluarganya.
Kalian pasti bertanya paman Felix mendapatkan informasi dari mana. Paman Felix sendiri sebenarnya saat bertapa di dalam pendopo tadi, dia sudah tahu akan kedatangan Chan dan juga Gisella. Dalam tapanya, tanpa di minta Paman Felix melihat masalalu yang telah di alami oleh kedua pasangan itu. Dari suka maupun duka yang mereka alami bersama dengan sekejap saja paman Felix telah mengetahui semuanya.
"Iya paman benar! Aku yakin pasti aku bisa!" Ucap Gisella dengan penuh percaya diri.
Sedangkan Chan tampak ragu, dia takut kalau nantinya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, "Tapi Gisella! Kita tidak bisa langsung pergi mencarinya begitu saja! Kita tidak tahu apa saja yang akan menjadi persyaratan untuk ke sana!" Ucap Chan dengan nada khawatirnya.
Paman Felix menghela nafas, "Untuk apa kau bingung nak? Kau selalu saja begitu? Bahkan kalian belum berperang tapi sudah menyerah?!" Menghela nafas di sela ucapannya, "Kamu tenang saja, saat kalian berdua nanti mengambilnya, kalian tidak akan merasakan apapun! Bahkan nantinya kalian senantiasa akan merasa tenang dan nyaman!" Ujar paman Felix memberi tahu.
Gisella dan Chan heran dengan ucapan paman Felix, bukankah tadi pama Felix mengatakan harus berhati-hati ketika di sana nanti?
"Tapi tadi paman bilang?" Tanya Gisella.
Seakan tahu apa yang akan di katakan oleh Gisella, paman Felix langsung berkata, "Hanya orang-orang yang berniat buruk lah yang akan di ganggu penunggunya, tapi jika kalian memiliki niat baik! Kalian akan senantiasa merasa nyaman dan tenang! Apa kalian paham?!" Tanya Paman Felix di akhir ucapannya.
"Iya paman aku dan Chan sangat paham!" Jawab Gisella dengan antusias.
"Ini sebenernya yang ponakan paman Felix siapa sih? Aku atau kamu? Kenapa kamu malah banyak bertanya seperti ini di bandingkan aku?!" Kesal Chan dengan mulut mengerucut seperti ikan.
Gisella menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu suaminya itu. Namun berbeda dengan paman Felix yang saat ini tengah terdiam dan memejamkan mata sejenak. Chan dan juga Gisella yang melihatnya bingung akan apa yang terjadi pada paman Felix.
"Paman?! Apa paman baik-baik saja?!" Tanya Gisella.
Paman Felix langsung membuka matanya, dia tampak menatap Chan dan Gisella bergantian, "Jaga anak gadis kalian! Dia telah melanggar aturan dan pasti banyak makhluk tak kasat mata yang berada di sekelilingnya!" Ucap paman Felix yang langsung membuat Chan dan juga Gisella tersentak. Bagaimana mungkin paman Felix bisa berkata seperti itu, bahkan beliau saja tidak pernah bertemu dengan Dila, anak gadis satu-satunya keluarga kecil Gisella.
"Apa yang paman maksudkan? Kenapa tiba-tiba membahas mengenai anak perempuanku? Ada apa dengannya?!" Tanya Chan yang sudah khawatir mengenai anaknya yang telah di bicarakan oleh paman Felix tadi.
"Aku tidak bisa mengatakan ini pada kalian, para makhluk tak kasat mata itu akan melukainya jika aku mengatakannya pada kalian!"kata paman Felix.
Gisella mencoba menenangkan diri dan menetralkan nafasnya yang tadi sempat kaget mendengar ucapan paman Felix, "Lalu apa yang harus aku dan Chan lakukan paman? Apakah anak gadis kita akan baik-baik saja? Apa dia tidak akan terkena suatu masalah?!" Tanya Gisella yang sebagai ibu dari Dila itu pun tak tinggal diam, dia tentunya sangat khawatir dengan itu.
"Kalian tenang saja, hanya ada satu cara! Yaitu ritual pembersihan diri! Tapi sebelum itu kalian carilah bambu kuning itu, dan tanamlah di setiap sudut mansion kalian! Jangan lupa bacakan doa di setiap bambu kuningnya! Dan lagi yang terakhir, bawalah gadis kalian ke sini! Aku akan membersihkan dirinya dari para makhluk tak kasat mata yang ingin mengganggunya!!" Ucap paman Felix panjang lebar, dan menjelaskan apa saja yang harus di lakukan oleh Chan dan Gisella untuk melindungi anaknya.
Tanpa pikir panjang Gisella saat itu mohon undur diri dan langsung menelpon Jennie untuk menanyakan kabar dari Dila. Saat itu tepatnya siang hari, dan kelima putra dari keluarga besar itu tengah menjalankan misi, sedangkan Dila masih di mansion bermain bersama dengan para saudaranya yang lain. Jadi di hari pertama Gisella datang ke pendopo paman Felix itu adalah saat di mana pengungkapan patung manekin-manekin di museum milik Ana.
__ADS_1
Setelah telepon di matikan, Gisella kembali bergabung lagi dengan Chan dan juga paman Felix yang masih berada di ruang tamu. Terlihat wajah Gisella yang tampak lega setelah mencari tahu keadaan anak gadisnya. Bahkan saat itu Gisella tidak tahu kalau anak-anaknya yang lainnya sedang menjalankan sebuah misi.
"Menginap lah di sini, besok kalian akan di antar oleh bi Inem untuk menuju ke tempat bambu kuning berada!" Kata paman Felix memberi tahu supaya Chan dan Gisella menginap di sana.
Dan mereka setuju dengan saran yang di berikan oleh paman Felix, karena bagaimana pun juga tidak enak menolak ajakan dari paman Chan sendiri yang bahkan sudah di anggap seperti papa bagi Chan.
Mereka di antar oleh bi Inem ke kamar yang nantinya akan mereka pakai untuk menginap beberapa hari di pendopo paman Felix.
Di dalam kamar Chan dan juag Gisella. Tampak Gisella sedang bersandar pada dipan ranjang. Chan yang baru selesai membersihkan dirinya pun langsung menghampiri Gisella tanpa memakai pakaiannya terlebih dahulu.
"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu di tekuk begitu hm?" Tanya Chan mencari tahu apa penyebab istrinya menjadi pemurung seperti itu.
"Chan, pakailah dulu baju kamu! Aku sedang tidak ingin melakukannya!" Kata Gisella yang malah mengalihkan pembicaraannya tanpa menjawab ucapan Chan tadi.
Chan menghela nafasnya, "Siapa sih sayang yang mau melakukannya? Aku cuma tanya aja sama kamu, soalnya dari tadi aku lihat kamu kayak lagi mikirin sesuatu gitu!!" Kata Chan lagi menjelaskan apa yang dia lihat tadi.
"Aku kepikiran sama anak gadis kita pa! Aku kepikiran sama Dila!! Apa yang di lakukan dia? Kenapa paman Felix bisa berkata seperti itu?!" Tanya Gisella tanpa melihat ke arah Cham.
"Hanya itu? Haish sayang, kamu jangan terlalu memikirkannya, bukannya tadi kamu udah telepon Jennie? Katanya Dila baik-baik saja? Lalu apa yang kamu khawatirkan hm??!" Tanya Chan.
"Tetap saja aku khawatir Chan!" Gisella memeluk Chan karena dia butuh ketenangan.
"Tadi katanya suruh pakai baju dulu? Kenapa sekarang malah di peluk gini? Kamu sengaja memancing junior untuk bangun hm?!" Ucap Chan yang malah menggoda istrinya itu.
"Tunggu sayang!" Kata Chan yang langsung menghalangi langkah Gisella.
Gisella berbalik dan menoleh ke arah Chan, "Ada apa hm? Apa kau mau menggodaku lagi?!" Ucap Gisella dengan berdecak kesal menatap Chan, suaminya.
"Haish, mana ada aku menggoda kamu, yang ada kamu yang malah menggoda aku sayang!" Ucap Chan sembari menangkup kedua pipi Gisella lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Bah sudah, sekarang kau boleh keluar!" Kata Chan yang ternyata hanya ingin mengecup bibir Gisella sekilas saja, karena dia sebenarnya sangat ingin melakukannya. Namun Chan tentu tahu di mana dia berada sekarang. Dan sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal seperti itu.
Gisella menghela nafas pelan, lalu setelahnya tersenyum menatap suaminya. Kemudian dia segera keluar menuju dapur untuk membantu bi Inem yang tengah memasak di dapur.
"Bi, Gisella bantuin ya!" Kata Gisella yang langsung mengambil alih pekerjaan bi Inem yang tengah memotong beberapa sayuran.
"Apa nona tidak masalah membantu bibi? Ini kotor loh non!" Kata bi Inem yang tidak enak hati.
Gisella tersenyum, "Sudah bibi tenang saja, gini-gini Gisella tuh udah anak 4 loh bi! Masak iya cuma masak aja takut kotor sih! Jadi ini juga udah semestinya jadi tugas Gisella bi!" Kata Gisella lalu kemudian melanjutkan lagi memotong beberapa sayuran.
Bi Inem tersenyum melihat Gisella yang tak hanya cantik namun dirinya juga sangat rajin.
__ADS_1
"Bi, apa bibi tidak memiliki keluarga? Bibi di sini tidak pulang?!" Tanya Gisella di sela kegiatan memasaknya. Seketika membuat bi Inem mendadak melamun, entah apa sebabnya Gisella tidak tahu. Lalu kemudian, Gisella mendekat ke arah bi Inem dan bertanya, "Tidak apa-apa kalau bibi tidak mau cerita, maaf ya kalau Gisella jadi kepo tanya-tanya ke bibi!" Kata Gisella merasa bersalah sudah membuat bi Inem sepeti ini.
Bi Inem tersenyum lalu menggeleng, "Bibi nggak apa-apa kok non! Bibi akan ceritakan perjalanan hidup bibi!" Kata Bi Inem yang hendak bercerita tentang perjalanan hidupnya pada Gisella.
"Tidak apa bi, jangan di paksakan! Mungkin masalalu bi Inem memang tidak untuk di ceritakan, jadi Gisella nggak maksa kok!"
"Bibi adalah anak yatim piatu non, dulu bibi pernah menikah dengan anak dari orang terpandang di pulau Jawa ini! Tapi ada seseorang yang tidak menyukai keberadaan bibi non, bibi di fitnah bahkan bibi di santet supaya tidak bisa memiliki keturunan! Maka dari itu bibi yang tidak bisa memiliki keturunan karena ulah mereka yang tidak suka pada bibi!" Ucap Bi Inem panjang lebar.
Flashback on
Dahulu jauh sebelum mengenal paman Felix. Bi Inem yang memang lebih tua 10 tahun dari pada paman Felix saat itu bertamu pada Felix. Kebetulan saat itu Felix sudah memiliki istri, istri paman Felix telah menganggap Bi Inem sebagai ibunya sendiri karena usianya yang terbilang terpaut jauh.
Dulu ketika bi Inem datang ingin meminta pekerjaan pada Felix. Bi Inem malah menceritakan semua yang dia alami semasa hidupnya setelah menikah. Bi Inem menceritakan semuanya pada paman Felix dan juga istrinya.
Bi Inem dulu adalah istri dari seorang ningrat berdarah biru. Namun hubungannya dengan suaminya itu tak berjalan mulus, meskipun keduanya saling mencintai. Akan tetapi keluarga dari suaminya tak menyukai bi Inem. Hingga suatu saat keluarga dari suaminya datang ke seorang dukun untuk membuat Bi Inem tidak bisa hamil, dengan begitu Bi Inem pasti akan di tinggalkan oleh suaminya. Sebab dirinya harus memiliki keturunan untuk menjadi penerus suaminya nanti.
Suaminya yang memang tak tahu apapun mengenai santet yang di terima bi Inem. Lebih tepatnya suami bi Inem tidak percaya akan adanya hal-hal seperti itu. Maka dari itu bi Inem yang saat itu juga sama tak percayanya hanya menganggapnya tak serius. Bahkan bi Inem benar-benar tak tahu kalau dirinya di santet oleh keluarga dari suaminya sendiri.
Hingga suatu ketika, sang suami yang tak kunjung memiliki keturunan dari rahim Bi Inem pun. Langsung membawa bi Inem ke rumah sakit, dan memeriksa kandungannya. Dan ternyata saat di periksa, hasil pemeriksaan mengatakan kalau bi Inem mandul, atau tidak bisa memiliki keturunan.
Suami bi Inem yang mengetahui hal itu pun syok. Dia tidak menyangka kalau dirinya tidak akan bisa memiliki keturunan dari orang yang sangat dia cintai. Sebenarnya suami dari bi Inem tidak terlalu memikirkan itu, namun dorongan dari keluarganya yang mengharuskan dirinya mencari wanita lain untuk meneruskan keturunan keluarga ningrat itu. Karena memang saat itu suami bi Inem adalah anak tunggal, yang hanya bisa menuruti apa yang akan menjadi keputusan dari kedua orang tuanya.
Hingga pada akhirnya suami bi Inem menikah lagi. Namun tak mau menceraikan bi Inem, karena memang suaminya itu sangat mencintai dirinya. Bi Inem yang terus-terusan di tekan oleh keluarga suaminya, selalu di siksa oleh mertua dan juga istri muda suaminya ketika suaminya sedang bekerja. Bi Inem tak tahan dengan semua itu. Yang pada akhirnya dia memilih untuk membujuk suaminya agar mau berpisah dengannya. Namun siapa yang menyangka kalau itu tidak akan mudah di lakukan bi Inem. Suaminya benar-benar tak ingin kehilangan dirinya.
Sehingga pada suatu hari, Bi Inem menemukan sebuah ide untuk membuat suaminya menceraikan dirinya. Bi Inem menyuruh seorang pria untuk berpura-pura menjadi selingkuhannya supaya suaminya memarahinya hingga akhirnya mau menceraikan dirinya.
Sebenarnya bi Inem tak mau melakukan hal itu, namun bertahan dalam rumah tangganya hanya akan membuat dirinya tersiksa dan mati dengan perlahan akibar perlakuan buruk dari keluarga sang suami dan juga istri muda suaminya.
Rencana yang di buat oleh Bi Inem saat itu berjalan dengan lancar, walau dirinya harus mendapatkan cemoohan dari suaminya dan juga hinaan. Bi Inem sungguh tak perduli dengan hal itu, yang dia inginkan hanyalah lepas dari sang suami yang sangat dia cintai dan juga dari keluarga suaminya yang tak pernah menerima kehadirannya.
Setelah resmi bercerai, Bi Inem tak tahu harus pergi ke mana. Bahkan hinaan yang dia dapatkan membuat dia tak di terima di sebuah kontrakan ataupun tempat tinggal mana pun. Suaminya yang sengaja di buat kecewa itu membuat Bi Inem tak dapat melakukan apapun, seluruh tempat kerja bahkan tertutup untuk bi Inem. Hingga akhirnya bi Inem bertemu dengan keluarga dari paman Felix.
Saat bertemu dengan istri dari paman Felix dulu. Paman Felix juga memperbolehkan bi Inem tinggal di pendopo dan memberikan bi Inem pekerjaan di pendopo milik paman Felix. Hingga paman Felix mendapatkan penglihatan dan mengatakan kala u ternyata bi Inem itu bisa memiliki keturunan, hanya saja dulu dia di santet oleh seorang dukun ilmu hitam. Yang membuatnya tak dapat memiliki keturunan.
Bi Inem sebenarnya tak mau percaya akan apa yang di katakan oleh paman Felix. Namun ketika bi Inem menjalani ritual pembersihan diri, dirinya memutuskan untuk periksa ke dokter lebih tepatnya untuk memastikan apakah benar yang di katakan oleh paman Felix kala itu.
Setelah hasil tes keluar, betapa terkejutnya bi Inem mengetahui kalau benar dirinya itu tidak mandul, Bi Inem bisa memiliki keturunan. Bi Inem sangat bahagia mengetahui itu, akan tetapi dia memutuskan untuk tidak menikah lagi dan menjadi seperti sekarang. Karena bagi bi Inem menikah hanya sekali seumur hidup, sungguh bi Inem trauma akan berumah tangga. Jadi bi Inem memutuskan akan menjadi pengikut paman Felix hingga tiba nanti usianya telah habis.
Ada banyak hal juga yang di pelajari bi Inem selama berada di pendopo. Bi Inem yang memang awalnya tak bisa melihat makhluk tak kasat mata pun meminta paman Felix untuk membukanya. Tak hanya itu bi Inem juga belajar banyak hal tentang makhluk tak kasat mata.
Flashback off
__ADS_1
"Astaga bi, maaf karena Gisella sudah membuat bibi jadi mengingat masalalu kelam bi Inem!" Kata Gisella menyesal, dia tak enak hati membuat bi Inem menjadi teringat akan kejadian masalalu nya yang kelam.
Bi Inem tersenyum ke arah Gisella sambil mengelus surai hitam Gisella, "Tidak apa-apa non, bibi nggak apa-apa kok! Lagi pula itu semua sudah menjadi masalalu yang hanya bisa di kenang saja! Nona tak perlu terlalu memikirkannya ya!" Ucap Bi Inem dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya yang sudah memasuki usia 80 tahunan.