
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke sebuah tempat hiburan. Ya ,hari itu memang Axel sengaja ingin menyenangkan Dira dengan mengunjungi sebuah pekan raya yang baru beberapa hari di buka di taman kota.
Lagi-lagi memang mata mereka tak ading lagi dengan berbagai permainan yang ada di pekan raya itu. Akan tetapi sepertinya lebih seru ketika bermain di tempat yang begitu ramai itu, pikir Dila.
"Mark, naik itu yuk!" Ajak Dila sambil menunjuk sebuah biang lala yang memang tingginya menjulang hingga beberapa puluh meter dari permukaan tanah.
"Baiklah ayo!" Axel yang menggandeng tangan Dila pun berjalan menuju ke arah biang lala itu dan menaikinya bersama dengan Dila.
Saat setelah menaikinya, tak di sangka biang lala yang mereka naiki terhenti karena harus bergantian penumpang. Dan yang mereka naiki itu tepat berada di puncak bianglala.
"Astaga, Axel lihatlah pemandangannya indah sekali!" Kata Dila yang takjub akan keindahan kota yang tampak sangat jelas di lihat dari atas bianglala yang mereka berdua naiki itu.
"Apa kamu suka?!" Tanya Axel yang tak henti-henti tersenyum ke arah Dila yang kelihatannya tampak takjub akan keindahan pemandangan dari atas bianglala yang mereka berdua naiki itu.
"Iya, aku sangat menyukainya Axel!" Spontan saja Dila memeluk Axel dengan erat. Entan itu memang pelukan yang biasa dia rasakan atau pelukan baru yang menyebabkan jantung keduanya berpacu dengan cepat.
"Syukurlah kalau kau menyukainya!" Ucap Axel lirih.
Dila lalu mengingat saat tadi di mobil Axel mencium pipinya. Lalu tiba-tiba saja , Dila yang saat itu mengeratkan pelukannya tiba-tiba saja pelukan itu di lepas olehnya. Lalu berhanti dengan Dila yang menatap Axel.
Axel sendiri mengernyitkan dahinya karena merasa tatapan Dila itu entah apa maksudnya. Dia menerka-nerka tentang apa yang dia maksudkan dari tatapannya itu.
"Axel!" Ucap Dila lirih yang membuat jantung Axel berpacu cepat. Axel seperti terhipnotis dengan pandangan manik mata Dila yang begitu memabukkan. Lalu seketika,,,
Cup,,,,
Sebuah ciuman mendarat pada pipi Axel, membuat remaja pria itu membulatkan matanya dan terpaku. Seluruh badannya terasa sangat kaku untuk di gerakkan. Mendapat ciuman yang tiba-tiba saja di lakukan oleh Dila tadi, membuat waktu seakan berhenti dalam sekejap.
"Terima kasih!" Ujar Dila lembut sambil mengusap lembut pipi Axel yang tadi sempat dia cium. Axel seperti tersadar dari lamunannya itu. Lalu seketika dia perlahan menyentuh tangan Dila yang masih menempel pada pipinya itu. Axel terlihat sangat bahagia. Di pegang nya lembut tangan Dila yang masih berada di pipinya. Keduanya saling melempar senyum penuh arti yang membuat siapa saja pasti akan iri melihatnya.
Direngkuhnya tubuh Dila untuk di peluknya. Dila juga tak menolak dengan apa yang di lakukan oleh Axel itu, hanya menurut saja. Kedua remaja itu memang sudah seperti sepasang kekasih.
Pov Dila
Hari itu aku melihat raut wajah kak Mark yang sendu menatapku, yang perlahan memasuki area sekolah dengan di gandeng oleh Axel. Aku sendiri tidak tahu apa yang kak Mark lakukan itu. Seperti ada tatapan tak rela jika aku bersama dengan Axel waktu itu. Tapi aku berusaha menepis rasa itu, karena memang Axel hanyalah saudara yang mampu membuat aku bahagia ketika melihat senyuman indahnya.
Entahlah ,setelah kepergian saudara kembar ku itu. Aku seperti ingin melihat Axel yang terus tertawa sama seperti dulu. Ada keinginan di hati supaya terus menerus membuat Axel merasakan kebahagiaan, sama seperti saat masih ada saudara kembar ku dulu, Dira.
Untukmu Dira, apa kau bahagia di sana? Lihatlah aku di sini yang berusaha mati-matian membuat pria mu ini tersenyum kembali. Hatiku merasa bahagia saat Axel sudah mulai kembali ceria seperti hari-hari biasanya. Dira bahkan pernah menemui ku di sebuah mimpi yang terjadi tepat di malam saat aku akan pergi dengan Axel kala itu.
"Dira, apa ini lo?!" Tanyaku saat aku melihat Dira di sebuah taman yang luas nan indah kala itu.
Dira mendekatiku yang masih tak percaya bisa bertemu kembali dengan saudara kembar ku itu. Dia bahkan berlari lalu memelukku dengan hangat. Entahlah, itu terasa sangat nyata. Pelukan Dira membuatku lupa kalau dirinya sebenarnya sudah tiada.
__ADS_1
"Dira, gue kangen banget sama lo!" Kataku saat masih memeluk tubuh Dira dalam dekapanku.
"Gue juga kangen sama lo Dil!! Apa Axel baik-baik saja? Gue pengen banget hidup dengannya, bahkan gue menyesal baru menyadari rasa cinta gue sama Axel Dil!" Kata Dira yang terdengar sangat menyayat hati itu membuatku teringat akan kejadian naas yang menimpa saudara kembar ku itu.
"Dira kembalilah jika lo ingin merasakan kebahagiaan bersama dengan Axel!" Kataku pada Dira kala itu, tapi aku yakin kalau itu tidak akan pernah berhasil aku lakukan. Dira telah pergi dan tak akan pernah bisa kembali lagi.
"Memangnya apa lo nggak bisa reinkarnasi gitu?!" Tanyaku dengan polos, entah kenapa pertanyaan itu seakan terdengar aneh di telingaku sendiri ketika mengingatnya.
"Gue bahkan bisa melakukan apapun, Dil! Tapi sebelum itu, gue akan mengajak lo berkeliling di taman ini!! Gue mau lo tahu kalau lo itu tinggal di taman ini Dil! Bahkan di tempat ini juga gue merasa nyaman buat tinggal di sini!" Kata Dira yang membuatku jadi iri, bisa tinggal di tempat indah seperti itu. Padahal aku tahu mansion milik keluarga besar ku juga tak kalah megah dan banyak pemandangan yang bisa menyejukkan mata.
Tapi entah kenapa seakan ada dorongan yang kuat, hingga aku ingin tinggal di tempat itu bersama dengan saudara kembar ku, Dira.
"Ayo, gue akan ajak lo biar berkeliling!" Ajak Dira di dalam mimpi itu.
Taman yang luas itu terdapat sebuah air mancur yang memiliki air berwarna putih, seputih susu. Aku di buat takjub dengan apa yang aku lihat di dalam mimpi itu.
"Apa itu susu?" Tanya ku saat masih di sana.
"Iya, kalau lo mau coba, silahkan! Rasanya segar sekali, lo pasti bakalan ngerasa badan lo lebih berenergi setelah meminumnya!" Kata Dira kala itu.
"Sungguh ? Gue beneran bisa minum itu??!" Aku tak menyangka kalau di alam mimpi itu memang ada kolam air mancur yang airnya seputih susu.
Aku mendekati air mancur dengan warna putih susu itu, dan aku memutuskan untuk mencobanya.
Dan benar saja! Rasanya sangat lezat, tidak terlalu manis dan pas di lidahku. Aku tersenyum ke arah Dira yang juga balik tersenyum ke arahku. Sampai tiba-tiba dadaku seperti terhisap sesuatu.Aku bahkan tidak tahu apa itu sebabnya.
"Gue akan selalu ada bersama lo, Dil! Gue akan hidup dalam jiwa lo!" Ucapan Dira itu membuatku tersentak dan bangun dari tidurku. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan diri setelah memimpikan kejadian di dalam mimpi. Sungguh sangat di sayangkan kalau aku kala itu bisa memimpikan Dira, namun hanya sebentar saja. Bahkan aku beluk sempat menyampaikan padanya tentang Axel yang terus menempel padaku.
Sampai siang hari, tepatnya selepas pulang sekolah. Axel mengajakku keluar untuk jalan-jalan, tapi dia hanya minta untuk berdua saja. Sampai akhirnya terjadilah adegan itu, aduh aku sampai pusing bisa mengingatnya. Entah kenapa aku seperti linglung kala itu. Aku sendiri juga bingung kenapa bisa aku seperti itu di hadapan Axel.
Kalian tahu bukan? Dia mencium ku, ini mungkin tidak aneh bagi kalian yang mungkin juga memiliki kekasih atau suami. Tapi apa kalian tahu hubunganku dengan Axel? Kita berdua saudara!
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padaku, sampai aku justru juga ikut mencium pipinya. Duh, malunya aku kalau mengingat itu. Tapi ada sesuatu yang membuat hatiku berdesir. Tapi pikiranku seketika seperti kosong saat setelah melakukan itu di depan Axel.
Hari itu bahkan aku merasa bahagia bisa membuatnya tertawa, dan senyumnya penuh dengan arti. Apa kalian tahu apa itu cinta? Apakah cinta itu bisa bikin gila? Oh aku tidak tahu. Bahkan sampai sekarang aku juga tak tahu apa yang aky rasakan pada Axel. Yang aku tahu , aku hanya nyaman saat di dekatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makan malam pun tiba, semua telah berada di meja makan. Kecuali Axel dan Dila yang tadi pamit untuk pergi jalan-jalan.
Mark yang tak melihat adanya Dila di meja makan pun mulai gelisah. Dirinya takut kalau sampai nanti terjadi sesuatu pada mereka terutama dengan Dila.
"Ma, kak Dila sama kak Axel kemana?!" Tanya Renald pada Gisella.
__ADS_1
"Mereka tadi pergi jalan-jalan katanya!" Jawab Gisella sembari tersenyum. Gisella merasa ada yang salah dengan wajah Mark. Dirinya merasakan kalau anak sulungnya itu tengah di landa kegundahan.
Ya, tentu saja Gisella tahu kalau Mark itu sedang gelisah memikirkan Dila yang sedang bersama dengan Axel.
"Semoga kelak tidak terjadi perselisihan di antara kalian semua nak!" Batin Gisella yang khawatir akan terjadinya perselisihan antara Axel dan juga Mark.
Karena yang Gisella tahu, Axel juga sangat dekat dengan Dila. Bahkan mereka hampir selalu bersama, sama seperti Mark yang juga tak kalah dekat dengan Dila.
Gisella tak mau larut dalam memikirkan itu, dia tidak ingin pikirannya di penuhi tentang masalah percintaan anak-anaknya itu. Lagi pula mereka masih sangat muda untuk mengenal cinta. Apalagi dengan Dila yang tak begitu peduli dengan hal yang namanya cinta. Dia tidak perduli pada masalah hatinya.
Malam itu bahkan saat makan malam sudah di mulai dengan di pimpin doa oleh Leon. Axel dan Dila tak tampak, yang menandakan kalau mereka belum pulang. Gisella tentu tak khawatir karena dia percaya pada Axel, kalau dia bisa menjaga Dila saat bersama dengannya.
Pukul 20.00
Semua orang kini sudah berada di kamar mereka masing-masing, tentu Gisella sebagai seorang mama harus tahu tentang anaknya yang pergi sedari tadi sepulang sekolah. Namun rasa khawatirnya mereka kala di seberang telepon Dila mengatakan kalau sebentar lagi akan sampai di mansion.
Berbeda dengan Mark yang tampak menunggu di balkon kamarnya. Tentu dia menunggu pujaan hatinya pulang. Meski dia tak tahu kapan mereka akan datang, namun dia setia menunggu di balkon kamarnya.
Sampai beberapa menit kemudian, terlihat mobil warna merah dengan atap yang terbuka, memasuki pelataran mansion. Terlihat kalau Dila tertidur di mobil. Mark sebenarnya ingin turun dan membawa Dila ke kamarnya. Namun dia urungkan niatnya karena tahu Axel pasti akan membawanya sendiri.
Diam-diam Mark melihat ke arah kamar Dila yang kebetulan letak kamarnya dekat dengan dirinya.
Memang tata letak kamar mereka sesuai saudara kandung mereka masing-masing. Dan tanpa meminta bantuan Gisella pun, Gisella memahami kalau Mark ingin dekat dengan Dila.
Urutan kamar mereka yang ada di lantai 4 adalah kamar anak-anak Ayah Suho, Daddy Leon dan Papi Alex. Sedangkan di lantai 3 terdapat kamar anak-anak Papa Chan dan Papa Byun di lantai 3 itu juga terdapat beberapa ruang pribadi milik dari masing-masing mereka.
Lantai 2 di tempati oleh Para orang tua, lalu yang terakhir adalah lantai utama yang ada beberapa kamar kosong. Kalau-kalau nanti ada tamu atau teman anak-anak mereka yang ingin menginap. Tak lupa ada banyak ruangan game, bioskop pribadi, mini market pribadi, dan masih banyak lagi di sana. Sedangkan di pelataran rumah terdapat air mancur , lalu di belakang terdapat pantai pribadi, dan ada juga taman bunga yang tak lain terdapat tempat tersembunyi air terjun yang pernah di datangi Dila dan Axel waktu itu.
Back to Mark,
"Apa lo bahagia sama Axel, Dil? Gue bahkan takut kalau sampai lo jadi miliknya! Gue nggak tahu apa yang akan terjadi sama gue nanti!" Kata Mark setelah melihat Axel menggendong Dila dan membawanya masuk ke dalam kamar Dila.
Hatinya sakit melihat orang yang dia cintai di sentuh oleh orang lain. Tapi dia bisa apa? Dia tidak memiliki hak atas Dila. Bahkan Mark mungkin hanya di anggap sebatas kakak saja oleh Dila.
Mark pun langsung menutup pintu kamarnya perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Dia tampak gelisah dengan hatinya yang tak karuan. Dia bingung harus melakukan apa. Akahkah dia harus melupakan Dila? Tapi bagaimana bisa? Bahkan Mark lebih dulu mencintai Dila di bandingkan dengan Axel.
Sampai akhirnya Mark menemukan suatu cara, dan memutuskan akan membicarakannya dengan Gisella besok pagi.
"Ya, besok gue harus ngomong sama mama tentang apa yang gue mau!" Gumam Mark lalu memutuskan untuk segera tidur.
Setelah itu, Axel yang tadi menggendong Dila pun meletakkan Dila di atas ranjang, sambil membelai rambutnya yang menutupi wajah cantiknya itu.
Dirinya tersenyum lalu hendak mencium Dila, namun dia urungkan. Kemudian setelahnya Axel tampak menyelimuti Dila dan langsung pergi ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
Pov Axel
Hari itu adalah hari paling bahagia yang pernah aku alami setelah sekian lama di tinggal oleh pujaan hatiku, Dira. Entah kenapa rasanya aku malah justru menyukai Dila yang memang awalnya berniat membuatku kembali tersenyum. Aku yang berubah menjadi dingin setelah ditinggal oleh Dira. Saat itu mendadak meleleh dengan cara yang di berikan oleh Dila. Aku seperti terhipnotis dengan dirinya yang selalu membuatku tersenyum.