Kamar 126

Kamar 126
Mengungkap 1


__ADS_3

"Kalau begitu kita harus buat dia mengakuinya, entah itu cara halus atau bara kasar sekali pun!!!" Ucap Lucas dengan penuh penekanan. Bagaimana pun juga meski dia seorang king mafia. Dia tidak akan membunuh sembarang orang yang tak bersalah. Dia hanya akan membunuh siapapun yang pantas untuk di bunuh.


Selang beberapa menit kemudian Ana menuju ke tempat kelima anak itu berada. Dan ternyata Mark dan juga para saudaranya itu terlihat di loby. Karena mereka ingin berbincang sembari berjalan ke arah beberapa manekin itu.


"Selamat siang tuan muda!" Ucap Ana yang baru saja datang ke loby tempat di mana para anak-anak itu berada.


Mereka yang awalnya duduk santai, langsung berdiri ketika melihat seorang wanita berusia sekitar mama Gisella itu mendekat, dengan memakai pakaian yang membuat siapapun pasti ingin menerkamnya. Tapi tidak dengan anak-anak remaja itu, mereka bahkan malah memandangnya dengan jijik.


"Selamat siang nyonya Ana!" Ucap Mark dengan sopan namun nadanya sedikit datar.


"Senang bisa bertemu dengan kalian semua! Silahkan melihat-lihat hasil mahakarya tanganku sendiri!" Ucap Ana dengan tersenyum ramah namun dengan penuh kalimat menggoda.


Mark lalu berkata, "Baiklah, dengan senang hati! Kalau boleh kita akan melakukan tour di sini, dan kami ingin anda sendiri yang membimbing sekaligus menceritakan asal usul dari setiap manekin yang anda buat ini!" Ucap Mark.


Senyum di wajah Ana sedikit memudar namun sebisa mungkin dia akan menjaga senyuman itu di depan ke 5 anak remaja pria itu, "Dengan senang hati, mari silahkan!" Ucap Ana mempersilahkan mereka untuk memulai tournya.


Untuk kedua kalinya mereka masuk ke dalam museum itu dengan adanya Ana di sana.


"Ini adalah hasil mahakarya pertamaku! Aku membuatnya karena merasa ingin membuat manekin seorang modeling!" Ucap Ana di depan manekin dengan gaya modeling. Yang di lihat Mark dan Alfian memang ada satu sosok yang berdiri di samping manekin itu. Wajahnya terlihat pucat, ingin rasanya dia di makamkan dengan layak.


Mark sendiri sebelumnya juga sudah melihat gambaran masalalu dari sosok itu. Mark melihat bahwa dia adalah seorang modeling yang ternyata dulu pernah menjadi saingan dari Ana. Namun semenjak kematiannya Ana memilih untuk tidak lagi menjadi model, karena alih-alih dia ingin bersembunyi untuk tidak membuat semua orang curiga akan kejahatan yang dia lakukan. Dia mengatakan pada publik kalau dia trauma atas hilangnya model itu, padahal dia sendiri yang menjebaknya dan membunuhnya, lalu kemudian tubuhnya di jadikan sebuah manekin dengan berpose seperti model.


"Apa dia model di masalalu?!" Ucap Alfian yang membuat Ana langsung menoleh ke arahnya. Ana sedikit terkejut mendengarnya, seketika dia ingat akan kejadian masalalu saat dia menyuruh seorang penculik untuk menculiknya. Hingga akhirnya dia membunuh rekan modelnya itu dan di jadikan manekin.


"Maksud anda bagaimana tuan muda?!" Tanya Ana yang tak paham akan arah pembicaraan dari Alfian.


Mark yang mulai melihat gelagat mencurigakan dari Ana pun langsung mengalihkan pembicaraan, "Ah ya, nyonya Ana! Bukankah apa yang di katakan oleh adikku itu benar adanya? Manekin yang anda buat ini apakah terinspirasi dari salah satu model di masalalu? Mengingat sepertinya tanggal di sini di buat dari 25 tahun yang lalu?!" Ucap Mark sembari melihat ke arah tulisan yang mengatakan kalau manekin itu di buat 25 tahun yang lalu.


Ya, tentu saja karena memang manekin itu sengaja di keluarkan 5 tahun setelah menghilangnya model itu. Supaya tak ada satu orang pun yang tahu mengenai hal itu.


Ana menghela nafas lega, "Iya tuan anda benar! Mengingat ini memang di buat 25 tahun yang lalu, jadi aku mungkin sedikit lupa akan hal itu!" Ucap Ana yang terlihat lebih tenang sekarang.


Alfin langsung menyela "Bukankah manekin ini di buat pertama kali oleh anda nyonya Ana? Bagaimana mungkin kau bisa lupa dengan itu?!"


"Oh itu , mungkin karena aku sudah terlalu tua sehingga menjadi seorang yang pelupa!" Ucap Ana sedikit merasa gugup.


"Sial, kenapa anak-anak ini malah menanyakan hal sedetail itu? Apa mereka mencoba merencanakan sesuatu padaku? Ah tidak mungkin! Mereka hanyalah bocah ingusan yang tak tahu apa-apa!" Batin Ana menggerutu.


"Bukankah penampilan anda itu membuat anda terlihat muda? Bahkan anda tak tampak seperti gadis berusia 19 tahun!" Ucap Lucas sembari menatap Ana dengan tatapan menggoda, padahal dalam hatinya dia merasa sangat jijik.


"Ah, itu-!" Ucap Ana terpotong.


"Lebih baik kita langsung saja ke manekin yang selanjutnya nyonya! Bukankah masih ada banyak lagi manekin yang perlu anda tunjukkan pada kami?!" Ucap Mark yang memotong ucapan dari Ana tadi.


Ana hanya menjawab nya dengan anggukan, karena dia yakin kalau dia mengucapkan sebuah kalimat lagi. Para anak-anak remaja itu akan terus mempermainkannya.


Mereka pun berjalan dan mendengarkan penjelasan dari Ana dari setiap manekin yang dia buat, ada sekitar kurang lebih 50 manekin yang ada di sana.

__ADS_1


"Nah sekarang sudah selesai tour kita, apa ada yang ingin anda tanyakan lagi?!" Tanya Ana memastikan kalau mereka benar-benar sudah puas melihat berbagai manekin dengan cerita bohong yang di buat-buat oleh Ana itu.


"Tunggu sebentar, masih ada satu manekin lagi yang belum anda tunjukkan pada kami semua!" Ucap Mark yang menyela Ana. Karena memang ada satu manekin yang belum mereka lihat, yaitu manekin tubuh Klara.


Ana mengernyit heran, dan mencoba mengingat apakah ada satu mansion yang terlewat ,"Ah iya memang ada tapi mungkin akan sedikit vulgar! Mungkin tidak akan pantas untuk di lihat!" Ucap Ana sedikit takut salah bicara.


Mark berbicara dengan nada bicara yang datar, " Tenang saja, hanya 3 orang saja yang akan masuk ke tempat yang anda bicarakan itu!! Diantara kami berlima hanya 3 diantaranya yang sudah lumayan dewasa untuk mengetahui apa yang anda katakan vulgar itu!!" Ucap Mark yang masih saja berbasa-basi mengenai itu.


"Ah baiklah kalau begitu!" Ucap Ana dengan senyum yang di paksakan.


"Sebenarnya apa yang anak-anak ini ingin lakukan? Apa mereka akan menjadi ancaman untukku? Ah kurasa itu tidak mungkin!" Batin Ana, lalu setelahnya Ana mempersilahkan Alfin, Lucas dan Mark untuk masuk ke salah satu ruangan khusus yang ada di sana.


Tentu saja Alfin, Lucas dan Mark hanya menatapnya sekilas lalu beralih menatap Ana , untuk mendengarkan sebuah kebohongan dari salah satu manekin yang di spesial kan ini.


"Ini adalah mahakarya ku yang terakhir, setelah pembuatan ini aku tidak lagi membuat manekin! Karya ini sengaja aku buat karena mungkin menurutku orang dewasa juga perlu mengetahuinya, meskipun begitu aku sengaja mengkhususkan ruangan ini dan hanya mempersilahkan siapa saja dengan uang tertinggi untuk melihatnya!" Ucap Ana sembari menjelaskan.


"Apa suami anda juga sudah melihat ini?!" Tanya Lucas yang langsung membuat Ana terdiam dan menelan ludahnya.


Ana menarik nafasnya dalam, "Suamiku tak begitu menyukai seni, dia datang ke sini hanya untuk melihatku saja, tidak ada yang lain!" Ucap Ana dengan berbangga diri.


"Apa benar begitu? Atau memang anda sengaja tak memperbolehkan suami anda untuk masuk ke ruangan khusus ini?!" Tanya Mark yang kembali membuat Ana terhenyak. Bagaimana mungkin anak-anak ini malah mempertanyakan hal seperti itu pada dirinya. Sejenak dia terdiam karena takut kalau sampai semua perbuatannya terbongkar.


"Sudah ku bilang tuan muda, kalau suamiku tidak begitu tertarik dengan seni, dia jarang sekali datang ke sini apalagi hanya untuk karya seni ku, dia hanya akan mene-!" Terpotong.


"Hanya akan menemui anda!!itu yang ingin anda katakan bukan?!" Ucap Mark lalu menatap tajam ke arah Ana.


"Iya begitu!" Jawab Ana sedikit gugup setelah mendapat tatapan tajam dari Mark.


Deg,,,,


Ana membulatkan matanya, dia sekarang berkeringat dingin mendengar nama itu di sebut.


Ceklekk,,,


Sebuah suara dari pintu yang di buka itu pun mengalihkan pandangan mereka. Ya, ternyata itu adalah tuan Bram. Tuan Bram yang memang tidak pernah datang untuk mengunjungi ruangan itu, akhirnya masuk ke ruang khusus. Itu karena memang awalnya dia hanya di minta untuk datang karena ada anak-anak pemegang saham terbesar di kantor dan juga museum itu.


"Nak, apa yang kau tanyakan tadi? Kenapa kau menanyakan itu?!" Tanya Bram setelah masuk dan mendekati mereka yang tengah berdiri di dekat manekin tanpa melihatnya.


Alfin pun berjalan ke arah tuan Bram itu, "Biar aku tebak, apakah anda ini tuan Bram? Anda suami dari nyonya Ana ini?!" Tanya Alfin memastikan.


"Iya, memang benar kalau aku suami dari Ana! Apa yang membuat kalian datang ke sini tuan muda? Apakah ada yang perlu anda teliti?!" Tanya Bram sembari menunduk, karena takut kalau itu akan berpengaruh pada perusahaan yang dia jalankan saat ini.


"Kau tenang saja! Kami datang ke sini hanya akan bertanya mengenai sesuatu di masalalu! Dan akan sedikit membantumu mengurangi rasa penasaran mu!" Ucap Mark dengan percaya diri dan wajah datarnya.


Dahi tuan Bram mengernyit mendengar ucapan Mark tadi, "Apa maksud anda tuan muda? Selama ini saya tidak pernah ragu dengan apapun, termasuk dengan keluarga tuan muda!" Jawab Bram takut karena memang dirinya mengira kalau percakapan itu akan berujung pada pekerjaan. Padahal bukan itu tujuan anak-anak itu datang ke museum itu.


"Kalau begitu, bisakah anda memberi tahuku tentang perempuan dengan nama Klara? Dia ada di mana sekarang?" Tanya Lucas yang menyela ucapan mereka.

__ADS_1


Pertanyaan yang keluar dari mulut Lucas itu langsung membuat Ana dan Bram terkejut, mereka tak menyangka kalau anak-anak itu akan menanyakan tentang masalalu nya.


"Tuan, apakah tidak ada pertanyaan lain? Jujur saya merasa tidak nyaman untuk membahasnya! Bagaimana pun saya masih ingat betul perbuatan tercela yang di lakukan olehnya!" Ucap Bram yang seakan menutup mata dan telinganya kalau membicarakan tentang Klara. Istri pertamanya.


"Benarkah begitu? Ku rasa ada sebuah kesalahpahaman di sini!" Ucap Mark, yang sudah membulatkan tekatnya untuk membongkar semua yang telah di lakukan oleh Ana.


"Tuan Bram yang terhormat, menurutmu kedatangan kita ke sini untuk apa? Kita ke sini ingin memastikan sesuatu, dan ada seseorang yang telah menyuruhku untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada pada rumah tangga anda!" Ucap Mark yang berjalan mendekat ke arah Bram.


"Tuan muda, maaf sebelumnya! Bukankah ini sudah menjadi masalah pribadi keluarga kami? Kenapa anda malah akan membuat keluarga kami hancur?!" Tanya Ana yang tangannya sudah gemetaran.


"Oh iya benarkah? Aku bahkan belum mengatakan apapun, kenapa kau sudah mengira kalau aku akan membuat rumah tanggamu hancur?!" Tanya Mark dengan tersenyum sinis ke arah Ana.


"Tuan, apa yang istri saya katakan memang benar, mungkin jika saya mengungkit ini! Itu akan membuat kita terluka akan masalalu dan malah membuat masalah di rumah tangga kami! Jadi mohon maaf sebelumnya!" Ucap Bram yang hendak beranjak dari tempat itu dengan menggandeng tangan Ana.


Bram sendiri sebenarnya ingin tahu keberadaan Klara saat ini. Mengingat kejadian di masalalu saat itu membuatnya bingung harus mempercayai siapa, padahal meskipun dia melihat video yang beredar mengenai istri pertamanya itu. Seakan dia tak percaya dengan itu. Namun istri keduanya itu malah berhasil mempengaruhi Bram supaya melupakan Klara dari kehidupannya. Bahkan sebenarnya Bram tidak mencintai Ana. Dia hanya bertahan karena putri mereka yang bernama Windy.


Saat Bram hendak beranjak,,,,


"Istri pertama anda ada di sini tuan! Dia bernama Klara!" Ucap Mark yang mampu menghentikan langkahnya.


Deg,,,,


Sontak saja Bram dan Ana langsung berbalik. Bram sangat penasaran dengan apa yang di katakan oleh Mark saat itu, bagaimana bisa dia mengatakan kalau Klara ada di sana? Padahal jelas-jelas di sana hanya ada Ana saja yang perempuan. Di sisi Ana sendiri dirinya merasa sangat khawatir akan kemungkinan yang akan terjadi, dia takut dan juga badannya gini bergetar hebat. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya yang di poles dengan make up tebal.


"Apa maksud ada tuan? Tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa anda mengatakan kalau Klara ada di sini?!!" Ucap Bram yang bertanya-tanya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Aku tidak berbohong, istri pertama anda ada di sini! Bahkan dia selalu mengawasi putri kalian berdua, Windy!! Dia sebenarnya ada di sekitar kalian selama ini! Tapi kalian tidak pernah menyadari itu!" Ucap Mark dan Alfin juga Lucas hanya mendengarkan saja.


"Katakan saja tuan, tolong jangan berbelit-belit!!" Ucap Bram memohon.


Mark menarik nafasnya, "Istri anda tepat ada di belakang kami!" Ucap Mark memberi tahu kenyataan itu.


Namun tentu saja Bram masih bingung. Akan tetapi berbeda dengan Ana yang tampaknya membelalakkan matanya karena terkejut, perbuatannya akan terbongkar oleh anak-anak itu.


"Apa yang anda katakan tuan muda? Itu jelas saja manekin, apa anda sedang membual?!" Ujar Ana yang mencoba mengelak dari kesalahannya.


"Nyonya Ana, anda yang membuat manekin ini bukan? Dan ini juga di buat dari tubuh asli manusia! Yang tak lain adalah nyonya Klara!!" Ucap Mark akhirnya.


Deg,,,,


"Apa?!" Kata Bram.


"Mas, apa kamu percaya pada bualan bocah-bocah ingusan ini? Mereka hanya membual tentang ini?! Bukankah itu lucu?!" Ucap Ana yang mencoba membuat suaminya itu tak percaya dengan apa yang dia dengar, "Hey anak-anak tidak tahu diri! Bagaimana bisa kalian menuduhku melakukan hal sekeji itu? Apa kalian mau di penjara karena sudah mencemarkan nama baik seseorang?!" Ancam Ana yang kesal pada mereka.


"Mas, mereka-" ucap Ana terpotong.


"Katakan! Apa kalian memiliki bukti?!" Ucap Bram yang membuat Ana tak menyangka kalau dia justru akan percaya dan meminta bukti.

__ADS_1


"Mas apa yang kamu katakan?!" Tanya Ana heran.


"Diam lah Ana! Kalau memang kau tidak bersalah, maka mereka tak akan bisa membuktikan apapun!" Ucap Bram menenangkan istrinya.


__ADS_2