
"Kamu tenang saja nak, kita akan kembali ke mansion ini setelah cucu-cucu kami menikah dan memiliki bayi yang mungil! Kita akan tinggal lalu pensiun dari pekerjaan!" Jelas mama dari Gisella yang lebih tepatnya nenek mereka itu.
"Haish, aku kok malah kangen sama nenek ya!" Kata Alfian yang teringat dengan neneknya.
"Sabar ya nak, bentar lagi pasti nenek akan berkunjung lagi!" Kata Gisella sembari mengusap lembut rambut Alfian, anaknya.
Mark menghela nafasnya, "Makasih ya ma, udah mau kasih tahu kita berdua soal tadi!"
Gisella menghela nafasnya, "Iya sayang, sama-sama! Memangnya ada apa sampai kalian berdua ingin sekali tau tentang sosok iblis? Apakah ada masalah?!" Tanya Gisella sedikit penasaran, akan tujuan anaknya menanyakan tentang hal itu padanya.
"Ini juga yang mau Mark katakan sama mama!" Kata Mark. Namun Alfian langsung menimpali, karena takut kalau sampai mamanya itu memarahi dirinya.
"Tapi mama janji jangan marah ke kita berdua ya!" Kata Alfian memohon.
Gisella tersenyum,"Mama nggak akan marah, katakan saja sayang!" Pinta Gisella yang sudah mulai penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh anaknya itu.
"Sebenarnya 2 hari kemarin, Mark sama Alfian habis bantuin arwah yang berhubungan dengan iblis ma! Ya lebih tepatnya kit-!" Ucap Mark terpotong.
"Apa? Kalian membantu makhluk tak kasat mata yang berhubungan dengan iblis? Kalian baik-baik saja kan?!" Gisella yang yang mendengar itu langsung khawatir dan mulai panik.
Mark dan Alfian saling pandang, mereka bingung. Bahkan sebelum mereka mengatakan semuanya, mama Gisella sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Ma, dengerin kak Mark dulu, kan kak Mark belum selesai ngomong!" Pinta Alfian mencoba menenangkan mamanya yang tampak khawatir.
Sampai akhirnya Gisella mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, lalu setelahnya dia mulai tenang.
"Katakan!" Pintanya.
"Memang dia berhubungan dengan iblis ma, tapi Mark sama Alfian nggak ikut campur sama iblis nya kok! Kita cuma pastiin aja jasad mereka di kebumikan dengan layak!! Kita nggak mungkin melakukan hal yang di larang sama mama!" Kata Mark menjelaskan.
Gisella kembali menghela nafas, "Syukurlah kalau kalian sudah mau mengerti, mama nggak mau kalau sampai kalian berhubungan dengan iblis! Karena mereka bukan tandingan kalian?!" Ucap Gisella mengingatkan, sembari kedua tangannya menggenggam erat tangan kedua anaknya itu.
"Cukup mama saja yang dulu pernah menghadapi iblis jahanam! Kalian jangan, karena konsekuensinya sangat fatal untuk jiwa kalian!" Kata Gisella.
"Ma, bisakah kita mendengarkan cerita mama tentang melawan iblis di masalalu mama?!" Tanya Alfian yang memang belum mengetahui masalalu Gisella dengan detail. Bahkan malah Mark yang lebih dulu mengetahuinya di bandingkan dengan anak-anak Gisella yang lain.
"Apa kamu ingin mendengarnya?!" Tanya Gisella memastikan, dan langsung di jawab anggukan oleh Alfian saat itu juga.
Gisella menarik nafas lalu membuangnya, "Baiklah, mama akan ceritakan salah satu kisah di masalalu mama dulu!" Ucap Gisella mengawali ucapannya.
Mark dan Alfian pun dengan senang hati mendengarnya, namun sebelum Gisella melanjutkan ucapannya tadi. Mark meminta ijin untuk mengambil minuman kaleng di kulkas pribadi yang ada di kamar Mark.
"Dulu, di mansion Jepang! Saat pertama kali mama datang ke sana bersama dengan para orang tua yang lain! Mama sudah memiliki sebuah firasat, bahkan mama mendengar suara tangisan sebelum memasuki mansion!" Ucap Gisella mulai menceritakan, "Bahkan papa Chan yang juga memiliki indra keenam yang terbuka pun tidak sama sekali tidak mendengar suara tangisan itu! akan tetapi mama memutuskan untuk tidak mengatakan itu pada sahabat-sahabat mama! hal itu bertujuan supaya mereka merasa nyaman dan tidak terganggu dengan apa yang Mama rasakan, Mama memilih memendamnya sendiri" menghela nafas untuk melanjutkan ucapannya lagi.
"Lalu apa yang terjadi ma? Apa mama tetap memendamnya sendiri sampai mama kembali ke negara ini?!" Tanya Alfian.
"Tidak nak, mama mengatakannya pada Papa Chan! Mama diam karena mama tidak mau menghancurkan liburan kala itu! Sampai akhirnya mama masuk ke kamar mama dan papa Chan, saat itu mama juga mendengar suara anak-anak kecil bermain di halaman belakang yang letaknya ada di dekat kamar mama sama papa Chan! Kalian berdua pasti sudah tahu kan tata letak mansion di Jepang itu?!" Tanya Gisella di akhir ucapannya, Mark dan Alfian langsung mengangguk secara bersamaan. Biar bagaimana pun mereka juga pernah singgah di mansion Jepang saat liburan.
"Saat itu mama melihat dari balkon kamar, namun tidak ada siapapun di halaman itu! Hingga suara papa Chan memanggil mama, saat itu juga mama menengok ke belakang , tepatnya ke arah papa Chan!! Namun mama justru tersentak saat melihat adanya sosok menggantung tepat di atas kepala papa Chan!! Apa kalian tahu yang terjadi pada mama saat itu?!" Kembali Gisella melontarkan kalimat tanya di akhir ucapannya.
"Apa ma? Apa yang terjadi?!" Mark semakin penasaran, karena memang Mark mengetahui. Namun nyatanya cerita dari Gisella dulu tidak sedetail itu.
__ADS_1
"Mama langsung mengalami mimisan mendadak, sama seperti yang terjadi pada Alfian kemarin!" Kata Gisella sambil menoleh ke arah Alfian.
Alfian dan Mark mengernyitkan dahi, ada banyak pertanyaan di benak mereka. "Tapi ma, apakah saat itu mama sama papa baik-baik saja dan tidak mengalami gangguan?!" Tanya Alfian.
Gisella menarik nafasnya, "Kalian berdua tahu bukan mimisan yang mama alami itu seperti apa? Dan apa penyebabnya?! Itu karena mama tidak membuka komunikasi dengan mereka, apalagi mereka arwah yang jahat, entitas mereka yang negatif pasti akan membuat keberanian kita dan kemauan mereka saling bertabrakan sehingga menyebabkan mimisan mendadak!!" Ujar Gisella menjelaskan, "Bukankah mama sudah memberi tahu kamu Alfian?! Selagi kita berusaha pasti kita bisa mengalahkan mereka, karena sejatinya manusia itu lebih tinggi derajatnya di bandingkan dengan makhluk tak kasat mata!" Lanjut Gisella menjelaskan.
Gisella lalu menceritakan masalalu nya. Tentang bagaimana ,dan kejadian apa saja yang di alami mereka semasa singgah di mansion Jepang itu. Gisella memberi tahu 2 anaknya itu kalau mereka juga sempat terlibat dalam sebuah insiden kesalahpahaman dengan almarhum Tao dan adiknya, Tio. Rentetan kejadian itu dengan detail dijelaskan oleh Gisella secara gamblang.
Hingga akhirnya sampai di titik akhir, Gisella juga mengatakan kejadian kelam yang membuat dia kehilangan anak sulung pertamanya. Itu juga terjadi ketika mereka kembali ke mansion Jepang untuk melihat Tao yang sudah bunuh diri dengan cara menggantung. Sampai Gisella yang keras kepala memilih melakukan astral projection untuk menjemput arwah Tao yang di yakini, di jerat oleh iblis. Namun Chan saat itu menolak keras, karena kondisi Gisella yang sedang hamil. Bagaimana pun juga Chan tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya. Hingga Suho dan Sehun lah yang masuk ke astral projection untuk menjemput arwah Tao saat itu. Lalu dengan tampa sengaja saat hendak di serang oleh iblis, Gisella tiba-tiba muncul dan ikut masuk ke astral projection. Hal itu membuat Gisella kehilangan calon anak pertamanya.
Sampai akhirnya Gisella memutuskan untuk tidak ingin lagi terlibat dengan makhluk tak kasat mata lagi. Karena itu hanya akan menyakiti hatinya, begitu pun mengingatkannya pada kejadian naas itu.
"Maaf karena membuat mama mengingat masalalu kelam itu!" Kata Alfian menyesal karena sudah menyuruh Gisella untuk menceritakan kejadian di masalalu. Padahal kenyataannya, Alfian sebenarnya tidak tahu kalau cerita dari Gisella itu akan mengarah pada masa kelam mama Gisella.
"Hey, jangan mengatakan hal seperti itu!! Mama kan hanya cerita, itu semua hanya bisa kita kenang saja, tanpa bisa kita ulang! Jadi kalian harus percaya kalau mama baik-baik saja oke!" Gisella tersenyum manis ke arah kedua anaknya itu.
Sampai tak terasa, waktu sudah larut. Dan mereka pun mengakhiri percakapan itu. Gisella juga mengatakan kalau dirinya pasti akan memberitahukan kisah tentang masa lalunya pada anak-anaknya. Supaya mereka selalu senantiasa berhati-hati dalam bertindak. Apalagi jika itu berhubungan dengan makhluk tak kasat mata, yang kapan saja bisa membahayakan nyawa mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, tampak semua orang bersemangat. Apalagi di tampak kakak tertua mereka, yaitu Mark. Akan mulai melanjutkan pendidikannya di universitas ternama milik Ayah Suho.
Setelah selesai sarapan dan juga berpamitan kepada para orang tua. Mereka pun menuju pelataran depan untuk menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke sekolah. Akan tetapi berbeda dengan para anak-anak yang kuliah, mereka mengendarai mobil masing-masing. Bahkan Mark memilih untuk mengantarkan adik-adiknya itu duku untuk pergi ke sekolah.
"Lo yakin nggak bareng kita? Kan ada supir! Biar mereka di antar sama supir aja!" Tanya Alfin sembari memberi nasehat pada Mark.
Mark menggeleng, "Gua sendiri yang akan mengantar mereka, lagi pula kelas pertama gue masih di mulai 1 jam lagi!" Kata Mark menolak tawaran dari Alfin.
Di sisi Mark, dirinya langsung mengantarkan para adik-adiknya untuk pergi ke sekolah. Tampak belum terlalu ramai, karena memang masih terlalu pagi. Hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh Mark itu sampai di depan gerbang sekolah.
Seperti biasa, Mark turun drai mobil dan membukakan pintu untuk adik-adik perempuannya. Memang biasanya Mark hanya akan membukakan pintu untuk Dila saja tapi kini dia ingin adil pada semua adik-adiknya.
Axel yang biasanya langsung merangkul pundak Dila dan akan masuk ke kelas bersama. Kali ini terasa sangat berbeda, Axel terlihat tidak seperti biasanya, membuat Dila merasa tak enak hati. Entah itu karena apa, Dila sendiri juga tidak tahu.
Pov Dila,
Hari itu terasa sangat berbeda. Axel tak seperti biasanya yang selalu manja padaku, atau membuat aku senang dan terheran akan sikapnya. Tapi hari itu dia benar-benar berubah padaku, bahkan setelah turun dari mobil, dia langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berdiri di dekat kak Mark. Tapi memang sebelum melenggang pergi, Axel tampak mengatakan suatu hal pada kak Mark.
"Kak, jaga Dila baik -baik!" Itu yang aku dengar dari mulut Axel ketika berbicara pada kak Mark. Aku sendiri dibuat bingung dengan tingkah laku Axel yang seperti itu. Dia benar-benar sangat berubah.
Bahkan di kelas pun dia yang sering menatapku, hari ini memilih untuk menatap ke arah tembok yang menang letaknya di dekat bangku meja yang aku tempati.
"Axel, sebenarnya ada apa dengan dirimu?" Gumam batinku melihat perubahannya yang begitu tiba-tiba. Memangnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan hingga membuatnya berubah seperti ini?
Aku akan menyayangkan nya langsung ketika jam istirahat nanti.
Di sisi Mark , setelah mengantarkan para adik-adiknya itu ke sekolah. Dia langsung menuju ke kampus tempat dia menimba ilmu nantinya.
Sesampainya Mark di kampus, benar saja. Ternyata para saudaranya telah menunggunya di parkiran kampus.
"Gue kira lo nggak jadi ke kampus kak,!" Kata Zaki yang melihat Mark baru keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Mark tersenyum sambil berjalan ke arah para saudaranya. Dengan memasukkan satu tangannya ke saku, dan tangan yang lain memegang tas ransel yang di letakkan di satu pundaknya.
"Ada apa?!" Tanya Mark.
"Haish, lo nggak denger ternyata,!" Ya sudah ayo buruan masuk! Tapi lo nanti ke ruang dosen dulu, dan nantinya lo juga masuk ke kelas sama dosen!" Kata Adam memberi tahu kakaknya itu.
Mark tampak menghela nafasnya, lalu berkata, "Iya baiklah!"
Setelah itu mereka berjalan menuju kelas. Mereka berpisah di koridor, dengan Mark yang di beri tahu harus ke ruangan dosen dulu. Sebenarnya mereka bisa saja mengajak Mark untuk langsung masuk ke dalam kelas, namun karena Mark tidak ingin di kenal sebagai orang yang sombong karena menjadi salah satu anak dari pemilik kampus, dirinya ingin melakukan apa yang seharusnya di lakukan mahasiswa baru.
Lalu kemudian setelah menemui dosen, mereka berjalan menuju kelas. Dosen yang membimbing kelas itu pun memperkenalkan Mark pada semua para mahasiswa yang ada di sana.
"Pagi anak-anak! Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru yang akan masuk ke kelas ini! Nak, silahkan perkenalkan nama kamu!" Pinta dosen itu pada Mark yang berdiri di sampingnya.
Mark tersenyum ke arah dosen itu lalu memperkenalkan diri, "Perkenalkan nama gue Mark!" Singkat padat dan jelas seperti yang diinginkan oleh Mark. Lalu dosen segera menyuruhnya duduk di satu bangku yang ada di dekat Alfin.
Singkat cerita, waktu istirahat pun telah tiba. Mereka menuju ke salah satu kantin yang ada di kampus. Semua mata memandang ke arah 5 pria dengan mata yang berbinar. Ingin rasanya memiliki salah satu diantara mereka. Siapa lagi kalau bukan Alfin, Lukas, Adam, Zaki dan yang terakhir Mark.
"Itu yang di samping Alfin siapa sih, kenapa pria gantengnya tambah lagi, bikin gue klepek-klepek aja!"
"Iya bener, ahhh Alfin aku mencintaimu!"
"Itu mahasiswa baru, katanya dia dari keluarga pemilik kampus ini, sama seperti para saudaranya itu!"
"Lukas aku sayang padamu!!"
"Mark namanya, kalau nggak salah!"
Seluruh mahasiswi yang sangat mendambakannya pun langsung berteriak histeris melihat ketampanan ke 5 pria itu.
"Adam lo yang pesen aja!" Suruh Lukas.
Menghela nafas, "Oke gue yang akan pesen!" Jawab Adam pasrah.
"Gue ikut lo!" Ucap Mark yang memilih untuk ikut memesan makanan di kantin itu.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan telah datang. Namun tiba-tiba ada satu geng mahasiswi yang datang mendekat ke arah mereka, ketuanya bernama Viola. Dirinya langsung bergelayut di tangan Lukas. Sedangkan para gengnya hanya memandang saja tak berani mendekat.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu! Mau aku suapin?!" Tanya siswi bernama Viola yang bergelayut di tangan Lukas.
"Bisa kalian pergi? Aku sedang tidak ingin di ganggu!" Kata Lukas dingin. Dia dan para saudaranya ,sebenarnya mereka merasa jijik dengan mereka. Bagaimana tidak, Viola terkenal sebagai ****** di sana. Bahkan Lukas juga pernah menjadi salah satu yang membuat Viola terlena dengan surga dunia yang Lukas berikan.
Mark yang menatapnya bingung pun bertanya pada Alfin, "Siapa mereka?!" Tanya Mark.
"Hanya seorang ******!" Jawab Alfin dengan entengnya.
Mark yang mengerti pun hanya mengangguk, namun dia masih berpikir, bagaimana bisa ****** itu mendekati Lukas tanpa takut kalau Lukas itu adalah seorang king mafia berdarah dingin.
Viola yang mendapat penolakan pun tidak berani membantah, dirinya juga takut kalau sampai nanti di keluarkan dari kampus hanya karena menggoda mahasiswa pemilik kampus.
"Baiklah ,panggil aku jika kau membutuhkan aku!" Ucap Viola dengan nada manja. Lalu setelahnya mencari tempat duduk di kantin itu.
__ADS_1