Kamar 126

Kamar 126
Kamar kedua orang tua Windy


__ADS_3

Apakah yang sebenarnya terjadi padaku? Apa aku benar-benar memiliki rasa pada Windy? Atau hanya rasa iba yang datang sesaat saja?


Entahlah, aku akan memikirkannya setelah acara pemakaman itu selesai nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Mark


Saat aku dan keempat saudaraku tiba di depan gedung museum manekin. Ku lihat Windy tengah duduk sendirian di sebuah kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri. Ku lihat tatapan matanya yang sendu. Aku yakin dia tengah teringat dengan kedua orang tuanya yang telah tiada.


Aku memutuskan untuk mendekatinya hanya sekedar untuk membuat hatinya merasa lebih tenang. Namun aku urungkan niatku ketika ku lihat adik pertamaku yang berjalan mendahuluiku. Sontak saja aku langsung menoleh ke sembarang arah, supaya Alfin tak mengetahui kalau aku juga akan mendekat ke arah Windy waktu itu.


Ku lihat Alfin mendekat ke arah Windy yang sedang duduk termenung. Aku menyunggingkan senyuman melihat Alfin, yang sepertinya peduli pada Windy. Aku tahu Alfin sudah menutup hati untuk wanita lain, apalagi setelah kepergian Saviana. Rasanya aku pikir Jaehyun akan teguh pada pendiriannya untuk menjaga hatinya dari wanita mana pun.


Akan tetapi ketika ku lihat dia berinisiatif mendekat ke arah Windy duduk. Aku sangat senang dan juga yakin kalau Alfin telah membuka hatinya untuk wanita lain. Aku juga yakin, Alfin sedang menaruh hati pada Windy. Apalagi saat itu ku perhatikan Alfin  yang merengkuh pundak Windy dan memeluknya. Aku merasa sangat senang melihatnya. Andai mama Gisella ada di dekatku waktu itu, sudah aku peluk dan menunjukkan kalau anaknya yang telah berubah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah itu, semua manekin telah di bawa ke tempat pemakaman. Windy yang saat itu masib terpuruk pun juga ikut dalam acara pemakaman. Dia sendiri mewakili kedua orang tuanya yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya.


"Aku sangat tahu kalian pasti sangat menderita karena mama! Maafkan semua kesalahan mama aku karena telah melakukan ini kepada kalian semua!!" Batin Windy sembari menatap setiap peti mati yang telah di masukkan ke dalam liang lahat.


Bahkan Windy juga melihat satu persatu dari korban mamanya itu menghilang seperti di tarik ke arah tempat dengan kilauan cahaya putih yang berpendar tepat di kepala mereka.


Kemudian setelah semuanya telah di makamkan dengan layak. Kelima pria itu tak langsung kembali ke mansion, melainkan akan pergi ke mansion milik Windy. Mereka akan mengantarkan Windy dan juga ingin membuktikan rasa curiga Alfian dan juga Mark mengenai mama Windy yang di duga telah melakukan ritual ilmu hitam penyembah iblis.


Sesampainya di mansion milik Windy. Semuanya di suruh duduk di ruang tamu. Mark sedari tadi duduk tatapannya terus mengarah ke sebuah ruangan yang tampak mencurigakan baginya.


Windy yang menyadarinya langsung membuka suara, "Apa kau penasaran dengan ruangan itu?!" Tanya Windy yang membuat semua ke 5 pria itu menoleh ke arahnya. Namun hanya Mark saja yang seakan mengerti apa yang di maksudkan oleh Windy.


"Memangnya ada apa di ruangan itu?!" Tanya Mark yang langsung paham akan ucapan dari Windy.


Namun Windy menjawabnya dengan gelengan, lalu menoleh ke arah ruangan itu. Semua juga ikut menoleh ke ruangan yang pintunya tertutup rapat itu.

__ADS_1


"Saat mama masih hidup, dia melarang gue untuk masuk ke dalam sana! Bahkan pintunya selalu mama kunci! Gue sendiri nggak tahu ada apa di dalamnya, bahkan yang gue tahu setiap malam mama selalu masuk ke sana dalam waktu 1 jam lamanya!" Jelas Windy dengan segala yang dia tahu mengenai ruangan itu.


"Apa lo tidak penasaran dengan ruangan itu? Bukankah harusnya lo bisa ngerasain apa yang gue sama Alfian rasain terhadap ruangan itu!!" Kata Mark dengan rasa penasarannya.


Lagi-lagi Windy menggeleng, "Gue nggak berani masuk, gue takut kalau nantinya terjadi hal buruk sama gue! Aura di ruangan itu terlihat sangat mencekam!" Kata Windy dengan raut wajah ketakutannya. Dia memang penakut sebenarnya, maka dari itu dia selalu menutup diri dari makhluk tak kasat mata yang ingin meminta tolong padanya. Bahkan tak ada makhluk tak kasat mata yang tahu kalau Windy juga bisa melihat mereka, hanya Tante Klara saja yang tahu kalau Windy dapat melihatnya.


"Kalau lo ngijinin, apa boleh gue sama Alfian masuk ke dalam sana?!" Tanya Mark mencoba menawarkan dirinya, "Tapi kalau nggak boleh nggak apa-apa, gue cuma mau pastiin doang tentang ruangan itu!" Lanjut Mark yang tak ingin membuat Windy salah paham terhadapnya.


"Apa kau tidak takut? Kau yakin?!" Tanya Windy dengan wajah sendunya.


Mark menggeleng, "Tidak, apa yang perlu kau takutkan? Kita yang memiliki indra keenam harus bisa menggunakannya dengan baik! Lagi pula kita salah jika kita takut pada mereka! Karena semakin takut kita, akan semakin besar kekuatan mereka untuk selalu mengganggu kita!" Jelas Mark sembari menarik nafasnya.


"Apa yang di katakan oleh kak Mark ada benarnya kak, kita ini manusia! Derajat kita lebih tinggi di bandingkan dengan makhluk tak kasat mata! Yakinlah kalau kita akan selalu ada dalam lindungan tuhan!" Kata Alfian  melanjutkan ucapan dari Mark tadi.


Windy menghela nafasnya setelah mendengar saran dari mereka, dirinya merasa percaya diri kembali dengan ucapan dari Mark dan juga Alfian , "Makasih ya kalian udah mau datang buat nemenin gue dan jengukin mansion gue! Gue juga jadi sedikit lebih percaya diri dengan kemampuan yang gue punya! Gue akan berusaha memanfaatkan apa yang gue punya!" Kata Windy dengan niat tulus dari dalam hatinya.


"Kalau begitu, bisakah kita langsung ke ruangan itu?!" Tanya Mark yang matanya kembali fokus pada salah satu ruangan yang ada di sana. Di mata Mark sungguh ruangan itu seperti memiliki aura yang tak baik. Ada aura jahat di dalam sana, yang membuat Mark ingin segera menuntaskannya.


"Kalau boleh biar bibi bantu nona mencarikan kunci itu di kamar tuan dan nyonya nya!" Ucap salah satu ART yang berkerja di sana, dan bahkan ternyata ART itu adalah orang yang selalu membersihkan kamar dari kedua majikannya itu. Jadi tentu saja dia sangat hafal di mana saja tempat-tempat yang di sering di gunakan oleh mama Ana.


Windy menoleh ke salah satu ART nya itu, "Apa bibi tidak keberatan untuk mencarinya? Tapi sepertinya aku harus ikut denganmu untuk mencarinya bi, aku sangat tidak ingin terlalu merepotkan dirimu.


"Tidak apa-apa non!! Lagian ini sudah menjadi tanggung jawab bibi untuk membersihkan semuanya di mansion ini!" Kata ART itu lagi.


Hingga pada akhirnya ART itu bersama dengan Windy menuju ke kamar kedua orang tuanya. Sedangkan Mark dan para saudaranya menunggu di ruang tamu sembari menikmati minuman dan cemilan yang di sediakan oleh ART nya tadi.


Pov Mark


Saat aku dan para saudaraku sampai di mansion Windy untuk yang kedua kalinya. Waktu itu Windy mempersilahkan aku dan para saudaraku untuk masuk dan berbincang di ruang tamu. Namun kali ini sangat berbeda dari kemarin.


Memang kemarin kita tidak berpusat duduk di kursi ruang tamu. Akan tetapi saat kita semua berada di ruang tamu, aku benar-benar merasakan hawa dingin yang menyergap di tubuhku. Tentu itu bukan karena AC yang terlalu dingin, melainkan karena adanya ruangan itu. Saat aku melihatnya aku seperti melihat adanya aura hitam yang muncul dan mengelilingi di depan pintu ruangan itu.


Saat itu juga aku langsung terkejut, dan menoleh ke arah Alfian sekilas. Aku tahu arti tatapan Alfian yang seakan mengatakan kalau dia juga sama penasarannya denganku, mengingat dia juga memiliki penglihatan yang sama sepertiku.

__ADS_1


Lalu kemudian aku yang berniat hendak bertanya kepada Windy, aku urungkan niat aku karena takut Windy malah akan tersinggung dengan ucapan ku nantinya. Makanya aku hanya memperhatikan ruangan itu sesekali. Namun siapa sangka ternyata Windy telah memperhatikan aku yang sedari tadi mencuri-curi pandang untuk melihat ke arah ruangan itu. Aku ketahuan oleh Windy, dia langsung bertanya padaku mengenai ruangan itu.


Aku bahkan lupa kalau Windy juga sama sepertiku. Dia yang tinggal di mansion itu dari dia masih kecil. Tentu saja dia tahu banyak mengenai apa saja yang ada di mansion itu, termasuk dengan ruangan yang sedari tadi menarik perhatianku.


Akan tetapi Windy yang aku duga telah mengetahui tentang ruangan itu dan aku bahkan berpikir kalau Windy pasti juga mau membagi ceritanya padaku dan para saudaraku yang ada di sana. Tapi ternyata dugaan ku salah, Windy justru tak mengetahui apapun yang ada di dalam ruangan itu. Windy sama sekali tak pernah tahu mengenai ruangan itu, dan apa saja yang ada di dalamnya. Dia hanya merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini, dan itu sudah lebih dari 20 tahun, Windy menyimpannya sendiri mengenai yang dia rasakan terhadap ruangan itu.


Aku bertanya pada Windy untuk mengecek atau bahkan untuk sekedar melihat-lihat ruangan yang terkunci rapat itu. Windy yang awalnya terlihat keberatan dan takut untuk melakukannya, berpikir dan akhirnya dia memutuskan memperbolehkan aku untuk melakukannya.


Windy memutuskan untuk mencari kunci dari suatu ruangan itu yang akan aku cari tahu nantinya. Aku dan para saudaraku menunggu di ruang tamu selagi Windy dengan salah satu ART nya tengah sibuk mencari kunci ruangan itu di dalam kamar kedua orang tuanya.


Pikiranku berkecamuk mengenai ruangan itu, rasa penasaranku membuncah karena aku ingin segera mengetahui apa yang ada di ruangan itu sehingga auranya jadi seperti ini. Aku bertanya pada Alfian mengenai mimpinya semalam. Dan Alfian dengan senang hati mengulang apa yang telah dia mimpikan semalam. Aku yakin ruangan itu yang telah membuat tante Ana selalu membunuh orang-orang yang baginya menganggu dirinya. Bahkan dia tak segan-segan untuk menjadikannya sebagai bahan pembuatan manekin. Sungguh mengerikan bukan?


Alfian pun mulai menceritakan kembali apa yang terjadi di dalam mimpinya. Sehingga aku sangat yakin kalau yang ada di dalam mimpi Alfian itu adalah sebuah pertanda, bahwa aku dan para saudaraku harus menuntaskan masalah ini. Aku ingin semua ini selesai hingga sampai pada akarnya. Hingga aku yakin kalau arwah dari tante Ana masih berkeliaran, dan bisa saja mencari ancaman bagi mereka orang-orang yang nantinya akan menjadi tumbal untuknya. Entahlah, hanya dengan membayangkannya saja sudah ngeri. Tante Ana yang masih hidup saja sudah sangat mengerikan ketika dia menghabisi para orang-orang tak bersalah. Lalu sekarang dia juga masih akan tetap menjadi ancaman bagi semua manusia, dia telah terpengaruh oleh iblis dan terjerat karena ulahnya sendiri.


Akan tetapi dari cerita Alfian yang aku dengar, aku justru heran karena tante Ana malah bangga bisa menjadi salah satu pengikut iblis. Aku sempat bingung dengan cara berpikirnya. Sehingga aku putuskan untuk menuntaskan semua ini hingga semuanya selesai tanpa ada yang akan terluka karena ulah dari tante Ana lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Windy, dia tengah mencari keberadaan kunci itu di dalam kamar kedua orang tuanya. Kamar yang tak pernah ia jamah semasa hidupnya. Karena Windy selalu di marahi oleh mamanya kalau dia berani masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Seakan ada sesuatu yang telah di sembunyikan oleh mama Ana di dalam kamarnya itu.


Waktu itu adalah waktu pertama kali Windy menginjakkan kakinya di kamar kedua orang tuanya. Bahkan dia tak menyangka, ART lah yang justu di perbolehkan untuk masuk ke dalam sana untuk membersihkan kamar yang ada di sana.


Lalu seketika pikiran Windy berkecamuk, dia berpikir apakah ART yang berada bersamanya saat ini akan bersekongkol dengan mamanya? Lantas apa yang akan dia lakukan pada Windy sekarang?


Tiba-tiba bulu kuduk Windy meremang takut kalau akan terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. Bukan takut karena makhluk tak kasat mata, namun takut akan terjadi sesuatu pada dirinya karena ulah ART itu.


Windy yang saat itu membelakangi ART, sempat mengeluarkan ponselnya untuk mengiriminya sebuah pesan pada Alfin. Ya, tadi saat di mobil Alfin sengaja masuk ke dalam mobil Windy untuk mengemudikan mobil karena takut kalau nantinya akan terjadi sesuatu pada Windy nantinya. Lalu mereka berdua bertukar nomor ponsel, dengan tujuan mereka dapat berkomunikasi di saat apapun nantinya.


Windy mengirimi sebuah pesan pada Alfin yang isinya


[Alfin, tolong aku! Aku takut!],


Hanya itu pesan singkat yang di kirim oleh Windy sebelum dia berbalik untuk menoleh ke arah ART yang masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya bersama dengan Windy. Sebenarnya Windy bisa saja langsung keluar dari kamar itu jika mau, namun dia takut kalau malah akan terjadi sesuatu pada dirinya nanti.

__ADS_1


__ADS_2