Kamar 126

Kamar 126
Kakak?


__ADS_3

Di perjalanan menuju desa Loka, Gisella tidak henti-hentinya menangis. Alfin kini berada di jok belakang bersama dengan Gisella dan memeluk mamanya dengan hangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meskipun memakan waktu untuk menuju ke desa Loka. Mereka akhirnya tiba di sana tanpa memberi tahu yang lain kalau dirinya pergi ke desa Loka.


Gisella langsung turun dari mobil dan berhambur masuk ke dalam vila. Terlihat semuanya tengah duduk di ruang keluarga dan tengah bingung harus berbuat apa lagi untuk menemukan keberadaan Dira.


"Dira, di mana Dira!" Ucap Dira sambil memasuki vila. Semua yang ada di dalam saat itu langsung menoleh ke sumber suara yang tak asing. Mereka menatap heran pada Gisella yang tiba-tiba saja datang tanpa memberi tahu terlebih dulu.


"Gisella!" Kata Chan langsung berdiri dari duduknya.


Gisella langsung berhambur ke arah Chan dan mencecar berbagai pertanyaan padanya.


"Chan di mana anak kita? Di mana Dira?!" Tanya Gisella pada Chan dengan tatapan penuh harap.


"Gisella tenanglah, jangan seperti ini sayang!" Kata Chan mencoba menenangkan Gisella. Chan langsung memeluk hangat Gisella yang mulai kembali menitihkan air matanya.


"Chan, apa yang aku katakan memang benar, bukan? Aku memiliki firasat buruk tentang anak kita! Dan sekarang lihatlah apa yang terjadi!" Kata Gisella yang terisak dalam pelukan Chan.


"Gisella tenangkan dirimu" kata Nathan.


"Aku tidak ingin kehilangan anak kita lagi Chan!" Karena tak memikirkan hal lain lagi selain hilangnya Dira, Gisella tanpa sadar membuat Nathan dan juga Lucas merasa bingung akan apa yang di katakan oleh mama Gisella barusan. Jelas saja, apa maksudnya kehilangan anak lagi? Bukankah anak mama Gisella semua masih lengkap dan tidak ada yang hilang sebelum Dira?


Mereka berpikir akan hal itu, namun karena kondisinya sedang seperti ini. Tidak mungkin mereka akan menanyakan hal seperti itu pada Gisella bukan.


"Gisella, jangan seperti ini, ingatlah rahasia yang harus kamu jaga!" Bisik Nadia, "Kamu harus bisa tenang!" Sanggahnya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang, Nad! Anakku hilang!! Dira hilang!! Chan ku mohon temukan anak kita! Aku bermimpi kalau Dira dalam bahaya Chan! Ada 2 algojo bersama dengannya!" Gisella semakin histeris dan mengatakan apa yang dia lihat di alam bawah sadarnya tadi.


"Nathan, bagaimana ini?" Tanya Chan yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih untuk masalah ini.


"Tidak ada cara lain lagi selain melakukan astral projection! Tapi kondisi Gisella sedang tidak memungkinkan!" Kata Nathan.


Saat itu kebetulan Lucas dan Sudah di suruh oleh mama Sindy untuk menenangkan adik-adiknya yang tengah berada di kamar Dira. Jadi mereka tidak mengetahui apa yang di katakan oleh mereka lagi setelahnya. Bahkan mereka pergi dengan rasa penasaran akan apa yang di katakan oleh Gisella tadi.


"Tapi Gisella tidak mungkin pergi dengan kondisi seperti ini bukan?" Chan bingung dengan apa yang harus di lakukan nya.


"Aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anakku, Dira!" Kata Gisella sambil menyeka air mata yang sedari tadi jatuh dari pelupuk matanya.


Tanpa mereka sadari, Dila yang mendengar percakapan mereka , saat dirinya memilih pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia yang hendak kembali ke kamar Dira, malah justru mendengar ucapan para orang tuanya.


"Aku tahu siapa yang bisa melakukannya!" Kata Dila yang tiba-tiba datang dan langsung menyela pembicaraan para orang tua.


"Dila!!" Ucap para orang tua dengan kompak sambil menatap Dila dengan ekspresi khawatir karena takut Dila tahu semuanya.


"Maksud kamu apa Dila?!" Tanya Chan yang penasaran sekaligus memastikan apakah Dila mengetahui sesuatu dari ucapan Gisella tadi atau tidak.


"Kalian ingin melakukan astral projection bukan? Aku memiliki teman yang bisa melakukannya!" Ucap Dila yang ternyata hanya mendengar tentang astral projection saja. Bagaimana dia tahu tentang astral projection?


Tentu saja itu dari Mark dan kedua sahabatnya bukan?


"Nak, kamu tahu dari mana tentang astral projection?" Tanya Nadia yang penasaran.


"Sebelumnya maaf karena tadi Dila tidak sengaja mendengar apa yang kalian semua bicarakan tentang astral projection, tapi Dila sungguh memiliki teman yang bisa melakukan seperti itu!" Kata Dila yang merasa bersalah karena tak sengaja mendengar apa yang sedang diperbincangkan oleh para orang tuanya.

__ADS_1


Gisella yang mendengar penuturan Dila pun perlahan berjalan mendekat ke arahnya. Wajahnya yang sembab berusaha menahan air matanya lagi di depan anak keduanya itu.


"Dila, katakan pada mama! Siapa temanmu itu? Dan bawa dia kemari untuk menemui mama!" Ucap Gisella dengan wajah memelas nya menatap kedua mata Dila yang tak kalas sembab akibat menangis.


Dila langsung menjelaskan pada Gisella, kalau Mark dan kedua sahabatnya juga baru saja datang ke vila itu tadi siang. Tapi mereka tidak menemukan apapun setelah menelusuri astral projection.


Namun Gisella yang masih merasa sangat penasaran dengan hal itu, langsung menyuruh beberapa mafioso untuk menjemput teman-teman Dila itu.


Hanya dalam hitungan menit, mafioso itu langsung kembali dengan membawa Mark, Bayu dan juga Mela. Mereka sudah tahu tentang apa tujuan mereka di suruh datang kembali ke vila itu. Tentu saja Dila yang menyuruhnya atas perintah dari mamanya.


Dila tampak tersenyum melihat Mark datang kembali bersama kedua sahabatnya.


"Mark, kau datang lagi!" Ucap Dila yang menyambut kedatangan Mark yang tengah berjalan dari arah pintu utama.


"Aku sudah bilang kalau aku akan datang jika kau membutuhkanku!" Jawab Mark, entah kenapa dia yang memang terkenal dingin bisa mendadak bersikap seperti itu pada Dila.


Namun saat Mark mengedarkan pandangannya ke arah semua orang yang ada di sana.


Deg,,,,


Mata Mark mengarah tepat pada seseorang yang kini berdiri tak jauh darinya. Dia membelalakkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Benar saja, setelah beberapa tahun lamanya tak bertemu, wanita yang dia kenal pernah menolongnya dulu, kini masih sama seperti dulu. Bahkan wajahnya semakin cantik walaupun usianya tak lagi muda.


"Kakak?!" Ucap Mark saat melihat ke arah Gisella.


Semua tertegun dan mengerutkan dahinya, mereka tidak mengerti kenapa bisa Mark menyebut Gisella dengan sebutan kakak.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa memanggilku dengan sebutan kakak?!" Tanya Gisella sambil mengerutkan keningnya karena bingung.

__ADS_1


"Kakak yang waktu itu pernah menolong keluarga aku bukan? Kak Gisella!" Ucap Mark yang mengingat baik kejadian bertahun-tahun lamanya ketika Gisella membantu dirinya saat masih kecil.


Gisella mengangkat satu alisnya dan mencoba memahami apa yang di katakan oleh pemuda yang mungkin umurnya masih di atas anak pertamanya.


__ADS_2