Kamar 126

Kamar 126
Bertemu nenek tua


__ADS_3

Pintu ruang rawat inap milik Windy itu pun terbuka. Dan terlihat Mark dan AlfianĀ  memasuki ruang rawat inap itu. Alfian menenteng sebuah paperbag untuk Alfin, yang berisi makanan dan juga pakaian milik Alfin.


Alfin sendiri bahkan tidak tahu kalau ada orang yang datang ke ruang rawat inap itu. Dia terlalu fokus pada Windy. Mark dan juga Alfian langsung mendekat ke arah Alfin berada.


"Alfin, ini gue sama Alfian datang bawain lo makanan sama baju ganti buat lo!!" Kata Mark memberi tahu Alfin kalau dirinya telah datang.


Alfin tak menoleh, dia langsung menjawab, "Nanti aja kak, gue masih mau nunggu Windy bangun dari tidurnya!" Kata Alfin menolak secara halus. Membuat Mark dan Alfian menghela nafas mereka ,melihat tingkah Alfin yang tak seperti biasanya. Bahkan Alfin tak pernah seperti itu semejak dia kehilangan Saviana dulu.


"Jangan seperti ini kak! Kalau kakak mau jaga kak Windy, lo harus jaga diri lo sendiri dulu kak! Kalau lo sakit, nanti yang ada lo malah nggak bisa jagain kak Windy! Sebaiknya lo mandi terus makan kak!" Kata Alfian yang angkat bicara, dia sendiri tidak tega melihat kakaknya seperti itu. Sungguh sangat berantakan jika di lihat.


Alfin menghela nafasnya, dia sudah berpikir. Alfin memikirkan ucapan dari Alfian tadi, "Iya lo benar! Kalai gue mau jaga Windy, gue nggak boleh sakit!" Kata Alfin dengan antusias. Membuat Mark dan Alfian tersenyum mendengarnya.


"Lo tenang aja, gue sama Alfian bakal jagain Windy dulu!" Kata Mark sambil menepuk pelan pundak Alfin.


Setelah itu, Alfin kemudian mengambil paperbag berisi pakaian gantinya dan menuju ke toilet. Dirinya akan membersihkan diri di toilet yang ada di ruang rawat inap VIP itu. Sedangkan Alfian menyiapkan makanan di meja makan untuk Alfin. Untuk Mark sendiri dia langsung duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Alfin. Menatap wajah pucat Windy dengan iba. Dia kasihan terhadap Windy yang telah kehilangan kedua orang tuanya dan bahkan juga pasti merasa syok karena tahu pembantu di mansion nya sendiri bahkan mencelakai dirinya.


"Kasihan banget sih lo Win! Lo pasti nanti bakal ngerasa trauma kalau di mansion sendiri! Gue bahkan nggak bisa bayangin kalau misalnya gue ada di posisi lo sekarang ini!!" Kata Mark di dalam batinnya.


Ring ring ring


Terdengar suara dering ponsel Alfian yang langsung dia lihat siapa yang sedang menelpon dirinya.

__ADS_1


Mark yang juga mendengarnya pun langsung menoleh ke arah Alfian berada "Dari siapa?!" Tanya Mark penasaran.


"Ini dari kak Lucas!" Jawab Mark lalu setelahnya mengangkat telepon itu.


"Halo, ada apa kak??" Tanya Alfian pada Lucas yang menjawab di telepon.


"Gue mau ke markas, apa lo mau ikut untuk menyiksa tahanan baru?!" Jawab Lucas di balik teleponnya.


"Bentar kak, gue tanya ke kak Mark dulu!" Kata Alfian. Lalu setelahnya bertanya pada Mark untuk memberi tahu kalau Lucas akan ke markas untuk menyiksa orang yang sudah membuat Windy terbaring lemah di rumah sakit.


Mark menjawab Alfian dengan mengatakan kalau dia akan menyusul ke sana nanti ,setelah melihat dan memastikan kalau Alfin sudah memakan makanan yang dia bawa. Mark menyuruh Alfian untuk tidak ikut dan menemani Alfin di rumah sakit saja, dan tidak ikut dengan Mark yang akan ke markas nanti.


Tak berapa lama kemudian Alfin telah selesai mandi dan dia terlihat lebih segar dan enak di pandang sekarang.


"Makanlah dulu kak! Mommy Jeni yang menyiapkannya buat lo, dia bakal marah kalau lo nggak makan!" Kata Renjun memberi tahu Alfin.


Alfin sendiri pun langsung mendekat ke arah Alfian yang sedang duduk di sofa setelah menata makanan itu di meja tadi. Alfin pun duduk di dekat Alfian dan mulai memakan makanan yang di bawa oleh Alfian dan juga Mark tadi.


"Oh iya kak, nanti kak Mark mau ke markas buat interogasi sekaligus menyiksa tawanan yang sudah membuat kak Windy jadi kayak ini! Apa kakak mau ikut?!" Tanya Alfian di sela saat Alfin makan.


Alfin pun terdiam sejenak, dia merasa kesal mengingat orang yang telah menyakiti Windy , hingga Windy mengalami hal buruk seperti ini, "Kak gue serahin ini sama lo! Gue harap lo bisa balas kan apa yang telah dia perbuat! Buat dia jera! Bahkan meminta kematiannya sendiri!! Gue akan tetap di sini untuk menunggu Windy sadar!" Ucap Alfin memberi tahu dan meminta Mark untuk melakukan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Mark pun menghela nafasnya, "Lo tenang aja! Gue akan buat perhitungan sama dia!! Serahkan semuanya sama gue!!" Kata Mark memberi tahu Alfin untuk tidak memikirkan tentang tawanan mereka yang ada di markas.


Alfin pun tersenyum dan langsung melanjutkan makannya. Sedangkan Mark akan menyusul Lucas yang berada di markas utama sekarang. Saat Mark keluar dari ruang rawat VIP itu, dirinya menyusuri lorong dan berpapasan dengan seorang nenek tua yang tampaknya sedang sedih. Mark juga melihat adanya sosok seorang kakek tua yang mengikutinya di belakang kakek itu.


Mark sungguh kasihan melihatnya, dia berpikir kalau nenek itu bersedih karena di tinggalkan oleh sang kakek . Lalu Mark mengehentikan nenek itu dan mengatakan ,"Nenek yang sabar ya! Biarkan kakak pergi dengan tenang!" Kata Mark yang membuat nenek itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mark berada.


Tatapan sayu yang di berikan oleh nenek itu membuat Mark merasa iba melihatnya., "Dari mana kamu tahu cu?" Tanya nenek itu. Mark tersenyum manis, "Aku melihat kakek yang berada di bekang nenek sekarang! Dia sangat sedih melihat nenek yang bersedih!" Kata Mark yang membuat nenek itu langsung berjalan ke arah Mark.


"Maksud kamu! Suamiku sudah mati?!" Kata nenek itu.


Deg,,,,,


Mark bingung, ternyata nenek ini tidak tahu kalau suaminya telah tiada. Bahkan nenek itu tadi tampak terkejut saat mendengarkan ucapan yang Mark katakan tadi. Hal itu langsung membuat Mark bingung harus menjawabnya dengan bagaimana, "Aku datang ke sini untuk membeli obat! Dulu suamiku pergi berperang dengan mengatakan dia akan kembali entah hidup atau mati! Tapi sampai sekarang dia belum ada kabar sama sekali!" Kata nenek itu yang malah langsung menceritakan semuanya pada Mark.


Mark sedikit terkejut lalu menatap ke arah kakek itu berada, tatapan kakek itu sungguh dalam. Mark merasa kalau kakek itu merasakan penyesalan entah karena dia yang telah mati dan tak bisa memberi tahu istrinya? Mungkin, itu bisa saja terjadi.


"Lalu, apa nenek tidak mendapatkan berita mengenai kakek?!" Tanya Mark dengan suara lembutnya, supaya membuat nenek itu merasa nyaman.


Nenek itu pun langsung duduk di sebuah kursi yang ada di sana, dan Mark mengikuti nenek itu untuk duduk.


"Aku tidak pernah tahu berita tentangnya cu! Aku tidak memiliki uang untuk pergi ke tempatnya dan bertanya pada atasannya, bahkan sampai sekarang sudah lebih dari 20 tahun aku hanya bisa mencari makam demi makam untuk memastikan apakah suami ku telah mati atau di kuburkan di pemakaman! Tapi sampai sekarang aku bahkan tidak pernah menemukannya!" Kata nenek itu dengan sendu yang membuat Mark merasa kasihan padanya. Tentu saja bagaimana bisa dia mengira kalau nenek itu telah mencari suaminya di berbagai desa hanya untuk mencari tahu apakah suaminya ada di desa itu dan juga mencari di beberapa pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2