
Hilang sudah arwah dari Ana dan juga ibunya. Telah menjadi abu karena iblis itu yang telah murka terhadap budaknya itu.
"Sial!!! Gara-gara budak tidak tahu diri itu, rencana aku jadi harus gagal!!!" Gumam iblis itu dengan guratan wajah menyeramkan nya. Dia sangat murka sekarang, lalu kemudian dia langsung masuk ke dalam pintu merah tadi dan menghilang bersamaan dengan pintu yang dia masuki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi dunia yang berbeda. Tepatnya di rumah sakit. Para dokter telah selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Windy.
"Bagaimana keadaannya dok?!" Tanya Alfin yang terlihat sangat khawatir di bandingkan dengan yang lainnya.
Dokter itu menjawab dengan wajahnya yang sedikit tersenyum, "Kondisinya sudah mulai stabil lagi, mungkin ini sebuah anugrah dari tuhan! Karena tadi pasien sempat kritis dan hampir tidak terselamatkan!" Kata dokter itu dengan senyumannya. Sontak saja itu membuat mereka kembali bernafas dengan lega, karena mendengar kondisi Windy telah stabil kembali.
"Kapan dia akan sadar dok?!" Tanya Mark.
"Mungkin sebentar lagi dia akan sadar! Tolong panggil kami jika nanti dia sadar, biar kami cek lagi keadaan pasien! Kami permisi dulu!" Kata Dokter itu memberi tahu.
"Baik dok!" Jawab Mark.
Lalu kemudian dokter itu berlalu pergi meninggalkan ke empat pemuda itu yang ada di sana. Alfin langsung mendekat ke brankar Windy, lalu diikuti oleh para saudaranya juga.
"Syukurlah lo baik-baik saja Win!" Kata Alfin sembari menatap wajah pucat Windy yang masih belum sadar itu.
"Alfin! Apa lo akan di sini? Kita akan ke markas!" Tanya Mark sekaligus memberi tahu kalau dia akan ke markas.
"Gue serahkan manusia bi*dab itu pada kalian! Urus dia hingga dia memohon kematiannya!" Kata Alfin tanpa melihat ke arah para saudaranya.
Lucas menghela nafas, "Kalau itu tanpa lo suruh pun, gue akan melakukannya! Dia bahkan akan mendapatkan balasan 100× lipat dengan apa yang dia lakukan pada Windy! Lo tenang aja!" Kata Lucas sambil bersedekap dada.
"Kalau gitu hubungi kita kalau lo butuh apa-apa!" Kata Mark pada Alfin yang masih menatap Windy. Lalu di jawab anggukan oleh Alfin. Kemudian setelahnya mereka meninggalkan Alfin di rumah sakit untuk menjaga Windy di sana. Alfin akan menunggu sampai Windy sadar dan juga pulih apapun yang terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat Chan dan juga Gisella yang sedang berada di pulau Jawa. Berbeda dengan yang di lakukan para anak-anaknya itu yang tengah berjuang mencari tahu mengenai kebenaran dan bukti-bukti kecurangan Ana. Pagi hari itu Gisella bangun dan membantu bi Inem untuk memasak di dapur. Lalu kemudian mereka sarapan bersama di meja makan.
Setelah selesai sarapan, paman Felix menyuruh mereka untuk ke ruang tamu. Tentunya paman Felix akan mengatakan apa saja yang nantinya harus mereka lakukan di saat mengambil bambu kuning itu.
__ADS_1
Di sinilah mereka sekarang, di ruang tamu dengan paman Felix yang duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Gisella dan juga Chan duduk di depannya, tak lupa bi Inem yang hanya berdiri karena dia tidak ingin bersikap tidak sopan pada paman Felix.
Paman Felix pun buka suara, "Jadi begini, saat kalian ke sana nanti! Kalian pasti akan bertemu dengan sosok cantik yang menjaga bambu kuning itu! Orang Jawa menyebutnya dengan sebutan peri!" Ucap paman Felix memberi tahu.
"Peri? Apa dia berbahaya paman?" Tanya Gisella yang sudah tidak sabar lagi ingin segera mengetahuinya.
Paman Felix menghela nafas ," Dia adalah penjaga bambu kuning itu! Dia sama sekali tidak berbahaya bagi orang baik! Namun dia akan menjadi sangat ganas terhadap seorang yang memiliki niat buruk! Kalian nanti pasti akan bertemu dengannya!" Ucap Paman Felix lagi menghela nafas untuk melanjutkan ucapannya lagi, "Tapi tetap ingat kalau dia bukanlah manusia, dia makhluk tak kasat mata yang sama kuatnya di bandingkan dengan iblis! Maka dari itu iblis akan takut ketika berhadapan dengannya!!" Paman Felix kembali mengingatkan kalau peri itu bukanlah manusia melainkan makhluk tak kasat mata yang tak bisa di lihat dengan mata telanjang saja.
"Tapi apakah nanti dia akan tetap menampakkan diri ketika aku menanam tanaman itu di mansion paman? mengingat anak-anakku banyak yang pria! Aku tidak ingin mereka malah mengira dia wanita yang pantas di cintai!!" Ucap Gisella khawatir dan teringat akan kisah Alfin yang tak tahu kalau dirinya mencintai sosok makhluk tak kasat mata.
Paman Felix kembali menarik nafasnya dan menghembuskan nya, "Itu yang ingin aku katakan juga terhadap kalian! meskipun dia peri, dia juga tetap makhluk tak kasat mata yang kadang sering menganggu kita makhluk hidup!!" Kata paman Felix yang membuat Chan dan Gisella merasa tambah khawatir akan hal itu.
"Lalu apa yang bisa lakukan paman?!" Tanya Gisella penasaran.
Lalu kemudian paman Felix berkata lagi kepada mereka, "Bacalah ini ketika kalian sudah mencabutnya, dengan begitu peri itu tidak akan menganggu para anak-anak kalian, peri itu hanya akan muncul di depan makhluk tak kasat mata yang ingin berbuat jahat terhadap keluarga kalian!" Kata paman Felix sembari menyodorkan sebuah kertas bertuliskan sebuah mantra. Mantra itu juga bukan sembarangan mantra, hanya bisa diucapkan oleh orang dengan berhati bersih saja yang bisa mengucapkannya.
Gisella dan Chan langsung melihat mantra itu dan mencoba mengucapkannya dalam hati. Takut kalau sampai kesulitan pengucapannya nanti. Namun ternyata mantra itu tidak sulit di ucapkan, Gisella dengan mudah menghafalkannya.
"Paman, apakah peri juga menganggu manusia?!" Tanya Gisella. Peri sebenarnya hampir mirip dengan bidadari, namun sosoknya itu berbeda dengan bidadari yang berada di khayangan. Peri ini adalah peri yang sengaja di turunkan oleh tuhan untuk menjaga satu tanaman yang memang di sebut sebagai bambu kuning penangkal iblis. Peri sendiri sebenarnya juga sosok pengganggu, namun tak seaktif seperti hantu pada umumnya yang sering berkeliaran dan bergentayangan untuk menakut-nakuti orang. Peri biasanya akan muncul dengan wujud cantiknya untuk menggoda para manusia yang sedang memiliki pikiran buruk. Akan tetapi hal itu juga kadang tak luput dari penglihatan orang dengan hati yang baik.
Peri bambu kuning itu sering muncul ketika menjelang tengah malam, itu pun jika dia mau menampakkan dirinya. Akan tetapi sangat berbeda dengan peri bambu kuning yang telah memiliki majikan atau tuan rumah, dia biasanya akan di suruh bersembunyi supaya sosoknya tidak menakuti atau membuat seseorang terlena akan kecantikan yang di milikinya. Dan biasanya mereka hanya akan memberikan sebuah aroma di sekitar bambu kuning supaya orang tahu kalau dirinya itu ada. Bau yang dia berikan itu identik dengan wewangian bunga yang sangat harum. Membuat semua orang merasakan suatu keharuman yang tak pernah mereka cium sebelumnya.
"Mereka peri tak akan muncul kalau kalian berhasil menaklukan nya! Maka dari itu kalian harus bisa membuat mereka menurut dan menganggap kalian adalah seorang teman!" Jelas paman Felix. Namun lagi-lagi dahi Gisella mengernyit, dia heran dengan apa yang di katakan oleh paman Felix saat itu.
"Tapi paman, kenapa seperti itu? Bukankah jika mereka nanti menganggap kami seperti itu, sama saja kita menganut mereka? Itu tidak baik paman! Kita hanya akan menyembah tuhan, bukan peri itu!!" Kata Gisella dengan polosnya, dia ternyata masih belum paham dengan apa yang di katakan oleh paman Felix.
"Gisella, kau tidak perlu khawatir! Ini seorang peri, bukan seorang iblis! Meskipun kekuatan yang di miliki peri sedikit lebih besar di bandingkan dengan iblis, tapi peri bukanlah makhluk serakah yang menginginkan seorang budak!!" Kata paman Felix menjelaskan supaya Gisella paham dengan apa yang dia katakan.
Gisella akhirnya paham dan akhirnya mereka akan menuju ke tempat bambu kuning itu berada. Pan Felix tidak ikut, hanya Gisella, Chan dan bi Inem saja sebagai orang yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Letaknya juga lumayan jauh, paman Felix saat itu tidak ikut karena harus melakukan tapa. Dia ingin berserah diri sepenuhnya kepada sang pencipta. Karena bagaimana pun usia paman Felix sudah tidak muda lagi. Bahkan dia sempat merasakan firasat kalau ajal akan segera menjemputnya.
"Kalau begitu kami permisi paman!" Kata Chan mewakili istrinya juga. Lalu berjalan keluar setelah mendapat anggukan dari paman Felix sebagai jawaban mereka.
"Saya mohon undur diri dulu tuan Felix!" Kata bi Inem yang juga akan undur diri untuk menemani Gisella dan Chan dalam perjalanannya menuju ke tempat bambu kuning berada.
"Berhati-hatilah, tunjukkan mereka jalan yang benar dan bawa mereka pulang dengan selamat!!" Pesan paman Felix kepada bi Inem, pelayan sekaligus orang kepercayaan paman Felix. Kemudian setelah itu, bi Inem mengangguk dan menyusul Chan dan juga Gisella yang sudah lebih dulu berada di mobil.
__ADS_1
Chan pun segera menyalakan mesin mobilnya dan menuju ke lokasi yang di tunjukkan oleh bi Inem. Sedangkan di sisi pama Felix saat itu, dia yang melihat dari jendela pun tak sengaja melihat satu bayangan hitam yang muncul di dekat mobil Chan yang perlahan menjauh dari pendopo. Sosok itu tak jelas, hanya sebuah bayangan hitam saja. Akan tetapi Paman Felix sangat yakin kalau sosok itu adalah perempuan. Bahkan dia tersenyum seringai ke arah Felix. Felix yang ada di sana hanya tenang dan mencoba mencerna semua ini, sosok itu terlihat sangat senang dengan apa yang nantinya akan di lakukan oleh orang-orang yang berada di mobil.
"Siapa dia? Beraninya dia datang ke sini? Cih , makhluk itu pasti yang telah mengintai dan mengincar ponakan ku Chan dan keluarga nya!!" Ucap paman Felix yang melihat sosok itu. Akan tetapi ternyata sosok itu langsung menghilang dari pandangan mata Felix dan pergi entah ke mana.
Paman Felix pun segera kembali ke ruangannya untuk melakukan meditasi nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
20 menit kemudian di sebuah hutan yang tak begitu lebat , bi Inem menyuruh Chan untuk menghentikannya, karena menurut Inem, mereka tidak akan bisa masuk ke dalam hutan itu menggunakan mobil, dan harus berjalan kaki hingga nanti sampai di tempat tujuan.
"Bi kenapa kita berhenti di sini?! " Tanya Gisella yang tak melihat adanya tanaman bambu kuning di sekitar tempat mobilnya berada.
Bi Inem berkata, "Nona, memang sampai di sini kita tidak bisa masuk hutan dengan menggunakan mobil, kita harus berjalan sampai ke tempatnya!" Kata Bi Inem.
"Lalu bagaimana cara kita membawanya bi? Bukankan akan sangat merepotkan kalau kita membawa banyak bambu kuning tanpa langsung membawa mobil ini bersama dengan kita?!" Kata Chan yang membayangkan akan bolak balik untuk membawa memasukkan bambu kuning ke dalam bagasi mobil. Itu akan sangat melelahkan, pikir Chan yang membayangkannya.
"Apa anda tidak tahu atau tidak mendengarkan apa yang sudah paman anda katakan tuan?!" Tanya Bi Inem.
"Kami ingat bi, kita hanya perlu mengambil bibitnya saja supaya tidak kerepotan saat membawanya, dan bambu kuning itu berbeda ukuran dengan bambu yang selama ini sering kita lihat Chan, bambu kuning itu tingginya hanya setinggi kamu saja! Tidak lebih!!" Kata Gisella memberi tahu, yang ternyata Chan tadi tidak mendengarkan apa yang telah di katakan oleh paman Felix padanya.
"Oh begitu, aku mungkin sempat melamun tadi, jadi aku tidak mengingat kalau paman mengatakan itu tadi!!" Kata Chan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lalu kemudian mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang mungkin mengarah pada bambu kuning yang tengah di cari keberadaannya oleh Gisella itu. Namun belum sempat mereka sampai, entah kenapa mereka telah mencium aroma yang sangat harum.
"Apa bibi menciumnya?!" Tanya Gisella pada bi Inem. Bi Inem yang di tanya pun hanya mengangguk lalu setelahnya berkata, "Kita sudah semakin dekat dengan tanamannya. Jadi mungkin ini adalah aroma peri yang sengaja tercium oleh kita nona!" Jelas bi Inem yang membuat aku dan Chan mengangguk paham. Baunya sungguh harum, sudah seperti bau saat mandi kembang tujuh rupa dengan banyak bunga dan dengan wangi yang berbeda-beda di campur menjadi satu, hingga siapapun yang menciumnya pasti akan terlena dengan aromanya yang sangat harum itu. Akan tetapi itu tidak mungkin terpengaruh , mengingat Gisella dan Chan memakai kalung air suci dan kalung air bunga anggrek hitam. Sedangkan bagaimana dengan bi Inem? Apakah nantinya dia akan terlena dengan aroma ini?
Hahh,,menghela nafas, Gisella tahu kenapa bi Inem yang tak memakai apapun tidak bisa terpengaruh oleh sosok peri itu, walaupun hanya dengan jauh. Akan tetapi ternyata bi Inem juga sudah sempat di berikan sebuah ramuan yang di buat khusus untuk melindungi dirinya dari serangan apapun
Hingga sampailah mereka di suatu tempat yang luas dan banyak bambu kuning di sekitarnya.
Tentu saja Gisella dan Chan tidak langsung mendekat, mereka mengamati sekitar dan melihat indahnya bambu kuning yang terbentang luar di hutan itu.
"Siapa kalian!!!" Ucap seseorang yang membuyarkan kekaguman mereka mengenai bambu kuning. Sontak saja Gisella dan Chan langsung menoleh ke sumber suara dan melihat satu sosok cantik berada tepat sekitar 10 langkah dari mereka.
Saat itu memang Bi Inem tidak ikut dengan mereka, karena yang bertujuan hanyalah Chan dan Gisella. Bi Inem menunggu di sebuah gubuk yang tepatnya ada di dekat pohon besar yang tak jauh dari lokasi Chan dan Gisella berada.
__ADS_1