Kamar 126

Kamar 126
Tertusuk


__ADS_3

Windy yang saat itu membelakangi ART, sempat mengeluarkan ponselnya untuk mengiriminya sebuah pesan pada Alfin. Ya, tadi saat di mobil Alfin sengaja masuk ke dalam mobil Windy untuk mengemudikan mobil karena takut kalau nantinya akan terjadi sesuatu pada Windy nantinya. Lalu mereka berdua bertukar nomor ponsel, dengan tujuan mereka dapat berkomunikasi di saat apapun nantinya.


Windy mengirimi sebuah pesan pada Alfin yang isinya


[Alfin , tolong aku! Aku takut!],


Hanya itu pesan singkat yang di kirim oleh Windy sebelum dia berbalik untuk menoleh ke arah ART yang masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya bersama dengan Windy. Sebenarnya Windy bisa saja langsung keluar dari kamar itu jika mau, namun dia takut kalau malah akan terjadi sesuatu pada dirinya nanti.


Saat setelah mengirim sebuah pesan pada Alfin , Windy langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan dia hendak berbalik menanyakan pada ART apakah sudah menemukan kunci ruangan itu.


Namun apa yang terjadi membuat seluruh tubuh Windy seakan tak bisa bergerak, ART itu sudah berdiri tepat di belakang Windy dengan memegang sebuah pisau di belakang tubuhnya.


Deg,,,,


"Astaga, kau mengagetkanku bi!" Ucap Windy dengan suara yang gemetar, padahal kenyataannya dia menahan rasa takutnya di depan ART itu. ART yang dia ketahui telah berkerja lama dengan keluarga Windy.


ART itu menatap Windy dengan tatapan membunuhnya, seutas senyum yang dia arahkan pada Windy, sontak membuat buluk kuduk Windy meremang. Dia sungguh takut sekali sekarang. Dia yakin kalau ART itu akan melakukan sesuatu pada Windy. Windy sendiri berharap kalau Jaehyun dan para saudaranya segera datang untuk menyelamatkannya.


"Bi apa kau sudah menemukan kuncinya?!" Tanya Windy dengan nada yang bergetar. Tak dapat di pungkiri dia lebih takut pada tatapan ART itu dari pada tatapan yang di berikan oleh sosok hantu sekalipun.


Wajah ART itu seketika menjadi dingin, tak terlihat lagi senyum devil yang terukir di wajah nya, membuat Windy merasakan suatu hal tidak nyaman.


"Aku sudah menemukannya nona, apa yang akan nona lakukan dengan kunci ini? Apa nona akan membuka ruangan itu?!" Tanya ART itu pada Windy. Dia berbohong pada Windy dengan alasan mengatakan kalau dia telah menemukan kuncinya. Padahal dia hanya memegang sebuah pisau di balik tubuhnya.


"Syukurlah kalau begitu, berikan padaku kuncinya bi!" Pinta Windy dengan nada yang bergetar takut sembari tangannya terulur berharap kalau bibi itu akan memberikan kuncinya pada Windy. Akan tetapi dirinya sudah berpikiran negatif, mau bagaimana pun juga Windy adalah seorang perempuan yang sejatinya memanglah penakut.


Tangan kiri ART itu terulur dengan mengarahkan tangannya yang dia genggam, untuk mengelabuhi Windy dengan mengatakan kalau dia sudah menemukan kuncinya. Sebut saja namanya Bi Nuri yang memang sudah bekerja pada tante Ana sedari Windy masih bayi.


Saat tangan bi Nuri hendak menyentuh Windy, tiba-tiba saja bi Nuri menarik tangan Windy dan langsung mengarahkan tangan kanannya yang memegang sebilah pisau tadi.


Jleb,,,


Pisau itu menembus perut Windy. Membuat Windy membelalakkan matanya tak percaya. Dengan segera bi Nuri menarik kembali pisau yang dia gunakan untuk menusuk Windy tadi. Lalu Windy menahan sakit di perutnya akibat luka tusukan itu.


"Inilah akibatnya jika nona ingin mengetahui apa yang seharusnya anda tidak ketahui!!!" Ucap Bi Nuri membisikkan kalimat yang membuat Windy tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Bi Nuri.


Brukkk,,,,


Windy ambruk dengan tubuh yang bersimbah darah. Dia tahu mungkin ini adalah akhir dari hidupnya saat ini. Dia ingin berteriak meminta tolong, namun rasa sakit akibat luka tusukan itu juga tidak main-main. Windy berusaha menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah. Namun apalah dayanya untuk terus bertahan, toh nantinya pasti dia akan mati, itu yang saat ini ada di pikiran Windy.


Tanpa pikir panjang lagi, Bi Nuri menyeret tubuh Windy dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang ada di balik tembok kamar milik majikannya itu. Windy tak menyangka kalau ada sebuah ruangan rahasia di dalam kamar itu. Sungguh Windy tak pernah berpikir akan ada banyak rahasia yang di sembunyikan oleh mamanya itu terhadap dirinya.


Windy di letakkan di dalam sana, dia takut kalau nanti para teman-teman kampusnya itu akan pergi dari mansion nya. Dan hilang sudah harapan Windy untuk tertolong. Apalagi dia kini berada di sebuah ruangan yang tak di ketahui oleh siapapun. Windy berusaha bangkit dan meminta tolong, namun semua itu hanya sia-sia baginya, karena ruangan itu ternyata kedap suara.

__ADS_1


Windy terpikirkan untuk menelpon Jaehyun, akan tetapi ternyata Bi Nuri tadi juga telah mengambil ponsel milik Windy dan mematikannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di sisi Bi Nuri dia sedang mengelap darah yang berceceran tadi supaya tak meninggalkan jejak apapun. Setelah itu dia hendak keluar dengan bodohnya bi Nuri memasukkan pisau yang dia gunakan untuk menusuk Windy tadi ke dalam tempat sampah yang ada di kamar itu. Dia yang hendak kabur lewat jendela menyadari kalau ternyata jendela itu memiliki tralis. Dan mengharuskan bi Nuri untuk keluar dari sana melalui pintu.


Saat hendak keluar dan membuka pintu,


Ceklekk,,,


Bi Nuri terkejut melihat kelima tuan muda yang ada di depannya. Dia yang gugup segera menetralkan rasa gugupnya untuk berhadapan dengan para tuan muda itu.


"Tuan muda!" Ucap bi Nuri menunduk sembari menetralkan rasa kegelisahannya karena kelima tuan muda itu menatapnya dengan tatapan dingin.


Flashback on


Ketika tadi Windy memberikan sebuah pesan pada Alfin. Saat itu kebetulan Jaehyun tengah memegang ponselnya untuk sekedar memainkan sebuah game. Namun dia terkejut dan membelalakkan matanya setelah menerima sebuah pesan dari Windy yang mengatakan kalau dia sangat takut.


Mark yang melihat ekspresi Alfin yang berubah pun bertanya pada Alfin ,"Ada apa? Apa ada masalah? Kenapa dengan wajahmu?!" Tanya Kak Mark pada Alfin.


"Kak lihatlah!" Ucap Alfin memberikan ponselnya pada Mark untuk memperlihatkan isi pesan singkat yang di kirim oleh Windy.


"Kita harus segera menyusul Windy!" Kata Mark dan di angguki oleh keempat saudaranya. Mereka sangat khawatir pada Windy, terutama Alfin yang berjalan paling depan menuju ke kamar kedua orang tua Windy.


Flashback off


Bi Nuri menjawabnya tanpa menatap ke arah Alfin , "Nona Windy sedang ke dapur untuk mengambil minum tuan!" Ucapan Bi Nuri yang berusaha membuat alasan.


Alfin kini menatap bi Nuri yang tengah menunduk dengan tatapan mautnya, Alfin tentu tahu dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang berbohong "Victor , tangkap dia!!" Perintah Alfin yang membuat bi Nuri terkejut. Victor pun langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh kakaknya itu.


"Tuan muda apa yang anda lakukan?!" Tanya bi Nuri yang pergerakannya sudah di kunci oleh Victor.


"Cepat katakan di mana Windy?!!" Tanya Alfin dengan tatapan mengintimidasi.


Bi Nuri yang sejatinya tak dapat menahannya lagi pun meluapkan semua emosinya, "Dia sudah mati!!! Dan kalian tidak akan pernah menemukannya! Hahaha!!" Ucap Bi Nuri dengan diiringi tawa jahatnya.


Hal itu membuat Alfin geram karena bukannya mendapatkan jawaban, dirinya malah mendapatkan sebuah hinaan seperti itu. Alfin sangat geram dan ingin sekali memukul wajah Bi Nuri namun dia urungkan karena mendengar suara kakaknya yang melarangnya, "Alfin! Jangan habiskan tenaga mu untuk dia yang tak akan pernah mengatakan di mana Windy berada!! Sekarang yang terpenting kita harus mencari keberadaan Windy!" Kata kak Mark mengingatkan Jaehyun untuk lebih fokus mencari Windy.


"Victor , bawa dia ke markas sekarang juga!! Jangan biarkan dia kabur!!" perintah Alfin yang di angguki langsung oleh Victor . Lalu Victor langsung memukul tengkuk bi Nuri hingga pingsan dan mengikatnya. Kemudian Victor membawa bi Nuri ke markas utama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan yang lainnya langsung masuk ke dalam kamar kedua orang tua Windy itu untuk mencari tahu di mana keberadaan Windy. Windy sendiri yang berada di ruangan itu pandangannya mulai kabur, dia merasa kalau itu adalah takdirnya. Takdir yang akan membawanya bertemu dengan papanya.

__ADS_1


Di luar, tepatnya di kamar kedua orang tua Windy. Alfian menemukan sebuah pisau yang ada di tempat sampah. Namun Alfian tak berani menyentuhnya, "Kak!! Lihatlah apa yang gue temuin!!" Kata Alfian yang langsung membuat Alfin , Mark dan Lucas mendekat ke arahnya.


Mereka semua membelalakkan matanya melihat ada sebuah pisau di tempat sampah itu dan juga sebuah kain yang berlumuran dengan darah. Semuanya panik kecuali Mark yang memilih untuk memegangnya.


"Jangan di sentuh, atau kau akan dalam masalah!" Kata Lucas memperingatkan kak Mark untuk tidak menyentuh benda tajam itu.


"Lantas bagaimana cara kita mencari tahu keberadaan Windy di mana? Kalian lihat sendiri kan? Windy bahkan tidak ada di sini!!" Ucap Kak Mark yang memiliki sebuah rencana untuk melihat kejadian sebelumnya dengan cara memegang pisau itu.


"Cepat lakukan apapun kak! Gue khawatir sama Windy!" Ucap Alfin tak sabaran, tampak rasa kekhawatiran itu di wajahnya. Tentu dia tidak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya. Begitu menyakitkan kehilangan orang yang kita cintai bukan?


Dengan perlahan Mark menyentuh gagang pisau itu tanpa mengambilnya dari tempat sampah, dia hanya ingin melihat kejadian sebelumnya saja melalui sebilah pisau itu. Mark pun menutup matanya, sedangkan yang lain tengah sibuk melanjutkan pencarian di mana Windy berada. Mereka tak mencari keluar kamar karena mereka tahu Windy tidak mungkin keluar, karena Bi Nuri tadi masih berada di dalam. Jendela pun juga di tralis, jadi mereka semakin yakin kalau ada sebuah tempat rahasia di kamar itu.


Kembali lagi pada Mark yang sedang menutup matanya itu, dirinya melihat adegan di mana Windy di tusuk oleh Bi Nuri dan di seret masuk melalui sebuah pintu yang sengaja di buat seperti tembok. Sehingga siapapun tidak akan mengira kalau di sana ada sebuah pintu rahasia. Seketika itu Mark langsung membuka matanya dan langsung mendekat ke tempat itu. Semua orang menoleh ke arah kaka Mark yang tengah berdiri di depan tembok itu.


"Bagaimana? Apa yang lo lihat kak?!" Tanya Alfin panik karena tak kunjung menemukan di mana keberadaan Windy.


Mark mengetuk tembok itu 2 kali, membuat semua saudaranya yang ada di sana menjadi bingung, "Apa ini adalah pintu rahasia?!" Tanya Lucas yang sudah tahu akan maksud dari kak Mark.


"Kau benar! Ini adalah pintu rahasia!!" Kata kak Mark lalu setelahnya membuka satu ubin yang menempel di dinding itu, tepatnya ada satu tombol untuk membukanya. Lalu kemudian pintu terbuka.


Mereka langsung membelalakkan matanya melihat Windy yang tak sadarkan diri dengan bersimbah banyak darah yang mengalir dari perutnya. Alfin yang melihat itu pun langsung berlari ke arah Windy, dia sangat khawatir pada Windy.


"Tidak jangan lagi! Bangun Windy! Bangun!" Alfin panik melihat banyaknya darah di mana-mana yang mengalir di ruangan itu.


"Sebaiknya kau cepat bawa Windy ke rumah sakit! Lucas lo antar mereka ke rumah sakit! Gue akan cari tahu tempat ini sama Alfian!" Kata Kak Mark menyuruh Lucas untuk mengantar Windy ke rumah sakit bersama dengan Alfin.


Lucas yang menyetujui itu pun langsung beranjak dengan membantu Alfin yang tengah menggendong Windy yang tak sadarkan diri. Mereka pun menuju ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di mansion Windy, Mark dan Alfian tengah berada di ruangan itu bersama. Mereka mencari tahu tentang tempat itu yang hanya ada satu buah meja dengan 2 laci. Laci pertama berisi sebuah buku dan sebuah kunci yang di duga sebagai kunci ruangan rahasia milik tante Ana yang ada di dekat ruang tamu.


Sedangkan di laci yang satunya lagi terkunci. Alfian yang tak sabar dengan itu pun langsung menembak gembok yang ada di laci itu dan langsung terbuka begitu saja. Tak terdengar suara tembakan, karena yang Alfian bawa adalah pistol yang di modif dengan peredam suara.


Mereka menemukan sebuah foto, mereka yakin kalau foto itu adalah tuan Bram. Di balik foto itu terdapat sebuah mantra dan juga stempel jempol dengan darah. Dan ada sebuah patung boneka kecil di sampingnya dengan tubuh yang terikat dengan rangkaian bunga yang telah berwarna merah batankarena telah layu.


Mark tahu itu adalah sebuah gembar dan benda yang di gunakan untuk memikat tuan Bram dulu. Lalu Mark membawanya ke ruang tamu dan meletakkan benda itu di sebuah kain putih yang dia bawa tadi. Setelah meletakkannya Mark dan juga Alfian menuju ke ruangaan rahasia milik tante Ana.


Kini Mark yang membuka pintunya dengan kunci yang dia dapatkan tadi,


Ceklek,,,


Pintu terbuka, pemandangan yang di lihat oleh Alfian dan juga Mark pertama kali adalah sebuah kegelapan. Tidak ada cahaya yang menerangi ruangan itu. Dan Mark pun menyalakam lampu senter pada ponselnya untuk mencari saklar lampu di ruangan itu.

__ADS_1


Klakk,,,,


Lampu pun menyala, walaupun hanya lampu kecil yang redup, tapi cukup bisa membuat mereka melihat sekeliling. Ada dua pintu di ruangan itu, Mark menyuruh Alfian untuk tidak berpisah darinya walaupun itu hanyalah ruangan saja.


__ADS_2