Kamar 126

Kamar 126
Bernuansa putih


__ADS_3

Axel yang mendengarnya tersenyum kecil lalu mengangguk, "Papa tenang saja, semuanya akan Axel tanggung apapun yang terjadi!" Ucap Axel.


Setelah itu Byun kembali ke kamarnya sendiri, sedangkan Axel berjalan ke arah ranjangnya. Axel duduk di sisi ranjang, dengan memandang keluar jendela, "Ya papa benar, aku akan berjuang dan menanggung semua yang nantinya akan jadi keputusan Dila! Dila semoga kita di takdir kan untuk bersama!!" Ucap Axel lalu setelahnya tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfian


Malam itu aku tertidur di ranjang ku karena rasa lelah yang memang menghinggap di tubuhku. Aku kembali melakukan kegiatan untuk membantu makhluk tak kasat mata menyelesaikan masalah dunia yang belum terselesaikan. Tentu saja aku tidak sendiri, ada kak Mark yang senantiasa berada di sampingku. Bahkan sekarang kak Lucas, kak Victor dan kak Alfin juga ikut membantu. Meskipun mereka hanya membantu yang bisa terlihat saja, sekaligus untuk berjaga-jaga dengan para orang yang akan menyakiti kita sewaktu sedang dalam proses menolong mereka, makhluk tak kasat mata.


Hari itu aku sangat yakin kalau bisa membantu mereka dalam rencana kami untuk menolong mereka, lebih tepatnya bisa menguburkan mereka dengan layak.


Saat kita berlima sampai di sebuah museum yang menjulang tinggi dengan banyaknya manekin-manekin di dalamnya. Ketika aku baru pertama kali masuk ke dalam, suasana mencekam sudah sangat terasa di dalam. Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Melihat banyaknya manekin yang terbuat dari tubuh manusia asli itu membuatku merasa ngeri. Aku di tatap oleh arwah mereka yang berdiri tepat di dekat masing-masing manekin milik mereka. Mereka menatapku dengan penuh harap, tak ada yang mendekat karena takut kalau akan menjadi abu setelah mendekati kami. Itu semua karena kalung yang kami pakai. Semua tampak suram, wajah mereka seakan tak ada yang ingin berontak, mereka hanya bisa pasrah saja dengan keadaan mereka saat ini. Lebih tepatnya karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, setelah kematian mereka.


Aku berjalan mengikuti kak Mark yang sudah lebih dulu jalan paling depan diantara kami berlima. Ku lihat kak Mark sedang mencari-cari patung manekin milik nyonya Klara. Namun tak kunjung menemukannya.


Sampai akhirnya kita di kejutkan dengan adanya satu ruangan yang mencuri perhatian kita. Di pintu itu tertera tulisan ruangan khusus. Aku bingung dengan apa maksudnya, sampai asisten Anisa yang bekerja di sana mengatakan kalau ruangan khusus itu tidak sembarangan orang boleh masuk. Asisten Anisa mengatakan tentang ruangan itu yang hanya boleh di kunjungi oleh para pria berusia 18 tahun ke atas, dan itu pun harus dengan biaya yang sangat fantastis.


Saat itu aku bingung kenapa harus seperti itu? Apakah memang di dalamnya ada patung yang sangat spesial sehingga harus mengeluarkan banyak uang dan juga harus pria yang berusia di atas 18 tahun.


Ku lihat wajah kak Mark biasa saja setelah mendengarnya. Kurasa dia sudah mengetahui sesuatu tentang ruangan itu. Mengingat kak Mark bisa mengetahui masalalu dari nyonya Klara melalui penglihatannya. Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam sana. Hingga akhirnya kak Mark memberikan isyarat untuk aku dan kak Victor supaya menunggu di luar selagi dia, Kak Alfin dan kak Lucas masuk ke dalam ruangan khusus itu.

__ADS_1


Cukup lama aku dan kak Victor menunggu di luar, hingga aku bisa merasakan adanya aura dari sosok tante Klara. Aku bisa merasakan kalau manekin yang terbuat dari tubuhnya ada di dalam ruangan khusus itu. Akan tetapi memang aku tak bisa masuk karena harus mematuhi aturan yang ada di sana, apalagi memang umurku dan kak Victor yang belum cukup untuk masuk ke dalam sana.


Hingga akhirnya mereka keluar dari dalam dan mengajak ke lobby sembari menunggu kedatangan nyonya Ana, sang pemilik sekaligus pembuat patung-patung manekin di museum itu.


Hingga kita semua bertemu dan tante Ana yang secara pribadi di minta oleh kak Mark untuk membimbing kami menuju ke berbagai manekin yang ada sana. Tante Ana juga dengan senang hati menyambut kedatangan kami berlima, walau penampilannya agak berlebihan sih menurutku. Tapi itu tak menjadi masalah bagi kami, yang kami inginkan saat itu hanyalah kebenaran mengenai arwah tante Klara. Hingga saat itu kak Mark menyinggung sebuah ruangan khusus itu, yang memang sebenarnya kak Mark telah memasukinya. Tapi tentu saja tante Ana tidak tahu, dan mengira kalau mereka baru pertama kali datang ke sana.


Seperti yang di katakan oleh kak Mark saat tadi, tante Ana juga mengatakan kalau anak-anak di bawah umur tidak boleh masuk, karena di dalam ruangan itu ada satu manekin dengan pakaian yang vulgar. Hanya pria dewasa saja yang boleh masuk dan tentunya dengan uang untuk perjam masuk di sana.


Hingga aku dan kak Jeno kembali menunggu di depan ruangan itu, sambil melihat-lihat manekin yang terbuat dari tubuh manusia asli itu. Aku merasa kasihan pada mereka yang telah menjadi patung manekin seperti itu. Hatiku rasanya seperti tersayat melihat mereka di bunuh dan tubuhnya di jadikan sebagai bahan pembuatan manekin, dan parahnya lagi manekin hasil karyanya itu di pajang di sebuah museum pameran yang terkenal milik nyonya Ana.


Aku sebenarnya ingin tahu apa yang mereka bicarakan di dalam. Rasa penasaranku bahkan semakin menjadi ketika ku lihat tuan Bram yang tak lain adalah suami dari nyonya Ana datang. Dia tampak menyambut aku dan kak Victor yang ada di depan ruangan khusus itu. Lalu kemudian beliau langsung masuk ke dalam sana. Jujur aku sangat ingin tahu tentang apa yang mereka bicarakan di dalam sana.


Aku terus menunggu di depan ruangan itu, sampai selang beberapa menit kemudian. Aku melihat seorang gadis cantik yang seumuran dengan para kakak-kakak tertua dari keluarga besar kami. Dia tampak berjalan dengan tergesa dan langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan khusus itu. Aku sempat bingung, lalu saat ku lihat dengan jelas, ternyata gadis itu sedang di rasuki oleh satu sosok.


Pasalnya kita bahkan tak tahu apa-apa dan kita juga takut terjadi apa-apa pada mereka yang ada di dalam sana. Dan ketika mendengar suara tembakan itu aku sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada saudaraku. Saat aku hendak masuk ke dalam bersama dengan kak Jeno. Ternyata pintu sudah lebih dulu di buka oleh seorang perempuan yang tak lain adalah tante Ana. Dia tampak masih memegang pistol di tangannya. Dan berjalan cepat menuju ke arah lobby dan keluar dari museum.


Aku tak peduli sedikit pun dengan nyonya Ana. Hingga ku lihat ada kak Lucas yang keluar dan hendak mengejar nyonya Ana. Sontak saja aku dan kak Victor juga ikut turut membantu kak Lucas untuk mengejar nyonya Ana. Akan tetapi naas, dia telah mati karena tertabrak tepat di jalan raya yang ada di depan museumnya. Aku bahkan tak tahu apa yang telah terjadi di dalam museum sampai nyonya Ana keluar dan mengalami kejadian naas seperti itu.


Lalu kemudian aku di beri tahu oleh kak Mark tentang semua kejadian di dalam ruangan khusus itu, yang tak aku dan kak Victor ketahui. Aku bahkan sempat syok saat tahu kalau tuan Bram meregang nyawa karena istrinya sendiri yang telah menembaknya karena telah melindungi anaknya.


Hingga kami memutuskan untuk menghubungi ambulan yang sengaja diberi tahu untuk mengurus jenasah nyonya Ana dan tuan Bram. Aku tak tega melihat kak Windy, anak dari tuan Bram dan nyonya Ana itu yang terus menerus menangisi kepergian kedua orang tuanya sekaligus.

__ADS_1


Bagaimana tidak, bahkan melihat kedua orang tua kita terluka saja rasanya seperti teriris oleh belati yang tajam. Apalagi melihat mereka meregang nyawa di depan mata kepala kita sendiri!


Kalau aku berada di sisi kak Windy, mungkin aku sudah tak sanggup lagi untuk hidup karena kehilangan kedua orang tua.


Namun ku lihat kak Windy perlahan berusaha tegar untuk menerima kenyataan pahit yang datang padanya itu. Kak Windy terus menerus mendoakan kedua orang tuanya supaya mereka di tempatkan di sisi tuhan.


Kemudian ketika hari sudah menjelang petang, aku dan keempat saudaraku memilih untuk pulang dan melanjutkan semuanya besok pagi, termasuk urusan untuk menguburkan manekin-manekin itu.


Dan tentu saja saat aku dan para saudara ku sampai di mansion. Kami di cecar berbagai pertanyaan oleh Mommy Jeni, ya karena mama Gisella tidak ada, jadi Mommy Jeni tak ada yang bisa mengatur kekhawatirannya. Sebab Mommy Jeni selalu saja khawatir pada anak-anaknya setelah kejadian beberapa bulan lalu yang terjadi pada anak bungsunya. Tentu saja Mommy Jeni jadi trauma akan kejadian waktu itu. Dan biasanya mama Gisella yang akan menenangkan Mommy Jeni saat dia merasa khawatir.


Namun kali ini berbeda, mama Gisella sedang berada di Jawa dan tentu tak ada yang bisa meredakan rasa khawatir Mommy Jeni terhadap anak-anaknya, maka dari itu Mommy sangat khawatir ketika melihat kita belum pulang ke mansion.


Singkat ceritanya, saat itu setelah makan malam aku pergi ke kamarku untuk beristirahat di ranjang ku yang empuk. Entahlah rasanya membayangkan ranjang aku jadi terus mengantuk dan ingin segera tidur. Sampai akhirnya aku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku tertidur pulas ,hingga aku merasa sedang berada di sebuah ruangan bernuansa putih tanpa sudut.


Aku amati sekeliling dan tidak ada siapapun di sana, hingga perlahan tempat bernuansa putih itu berubah menjadi sebuah sel penjara. Namun anehnya sel penjara itu tak terlihat menyeramkan sama sekali. Aku mendekatinya dan aku cukup terkejut melihat apa yang ada di dalam jeruji besi itu.


Terlihat puluhan orang berada dalam jeruji besi yang berwarna putih itu. Aku perhatikan satu persatu dari mereka yang terlihat tidak asing bagiku, ya aku seperti pernah melihat mereka. Tapi di mana?


Mereka bahkan tak berkata apapun, hanya menatapku dengan tatapan penuh haru dan rasanya hatiku perih melihat mereka seperti itu di sana. Hingga tiba-tiba saja aku mendengar suara dari belakang tubuhku.


"Hey!!" Panggilnya.

__ADS_1


Deg,,,,,


__ADS_2