Kamar 126

Kamar 126
Gisella terjerat


__ADS_3

"Lep-lepaskan mereka! Kau mengi-nginkanku bu-bukan?" Kata Gisella dengan terbata karena lehernya di cekik.


Mark yang melihat kedua saudaranya itu pun hendak mendekat dan menolong. Akan tetapi tiba-tiba saja,,,


Bruk,,,,


Tubuh Mark terpental hingga dirinya membentur sebuah tembok.


Di dunia nyata tubuh Gisella dan Mark bahkan berguncang hebat. Semua orang yang ada di sana di buat terkejut bukan main, lalu kemudian Nadia, Lisa, Sindy dan juga Jeni yang melihat itu langsung membantu memegang tubuh keduanya supaya bisa menyalurkan kekuatan. Ya meskipun mereka tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata, namun mereka bisa menyalurkan kekuatan hanya dengan berusaha menopang tubuh keduanya.


"To-tolong lepaskan mereka! Am-ambil saja aku!!" Kata Gisella lagi dengan terbata.


"Apa yang kau punya sampai kau ingin merelakan dirimu hah?!" Kata iblis Wendy dengan mencengkeram kuat leher Gisella yang sudah mulai kehabisan nafas.


"Ak-aku akan men-jadi budak mu!!" Ucap Gisella dengan susah payah. Namun siapa sangka Wendy menyeringai tajam dan mendekatkan wajahnya pada wajah Gisella.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?!" Tanya Wendy dengan menatap manik mata Gisella dengan tajam, membuat Gisella yang aat itu sedang kehabisan nafas pun bingung tak tahu lagi harus berbuat apa. Bahkan tubuhnya terasa tak berdaya, rasa sakit dia rasakan di tubuhnya akibat cekikan itu.


Akan tetapi ternyata Mark tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dirinya mencoba perlahan berjalan ke arah Dila dan Axel yang ada di dekat iblis itu. Beruntungnya iblis itu tak menyadarinya, hingga Mark meneteskan air anggrek hitam itu pada rantai yang menjerat Dila dan Axel.


Setelah berhasil, Wendy merasa kekuatannya berkurang. Karena jiwa yang sedang dia serap perlahan berkurang karena Dila dan Axel telah lepas dari rantai yang menjerat lehernya. Meskipun mereka berdua masih terlihat linglung dengan tatapan kosong.


Wendy langsung menoleh, melihat kedua tawanannya yang sudah tidak ada, dan menyadari kalau Mark telah membawa mereka ke pembatas astral projection. Wendy membelalakkan matanya melihat itu. Dirinya langsung menghampiri Mark dengan tangan masih mencengkeram kuat leher Gisella.

__ADS_1


"Kurang ajar!!!" Ucap Wendy dengan geram, lalu kemudian melesat ke arah Mark.


Mark yang menyadari itu langsung menarik Dila dan Axel yang ada di belakangnya, lalu segera melewati astral projection. Di pikiran Mark saat itu, karena Gisella masih pada genggaman iblis itu, dan Mark sendiri juga tak bisa berbuat apapun. Dirinya memiliki rencana untuk menyelamatkan Dila dan Axel terlebih dahulu dan membawanya mendekat ke astral projection untuk kembali.


Namun siapa sangka sebelum melewati astral projection, Mark ketahuan dengan iblis itu. Hingga dirinya langsung menarik Dila dan Axel untuk melewatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dunia tepatnya di kamar 126 itu, Lisa sudah menyiram air suci di berbagai sudut untuk berjaga-jaga. Sedangkan yang lainnya membantu Chan, Gisella dan juga Mark yang melakukan astral projection dengan menjaga tubuh mereka di dunia nyata ini.


Namun tiba-tiba Mark menarik nafas panjang dan terbatuk darah, membuat mereka yang melihatnya khawatir. Mark ternyata sudah membuka matanya, hal itu membuat Chan langsung ikut membuka mata dengan menutup astral projection.


"Mark, kamu tidak apa-apa nak?!" Tanya Nadia dengan mengusap mulut Mark dengan tisu. Chan juga khawatir, namun tatapan matanya mengarah pada Gisella yang tiba-tiba ambruk dari duduknya, membuat semua orang bertambah khawatir.


"Mama berada di tangan iblis itu pa! Dia terjerat, Mark tidak bisa membantunya!" Ucap Mark dengan sedih, dirinya menyesal tak bisa membantu mamanya.


"Tidak!! Jangan tinggalkan aku Gisella!! Jika kau tiada aku akan ikut tiada bersama denganmu!" Ucap Chan dengan menangis histeris dan memeluk erat tubuh Gisella.


"Chan tenanglah! Gisella masih hidup! Lebih baik kita hubungi dokter pribadi untuk menopang hidupnya di dunia, supaya dia bisa bertahan!" Kata Nathan dan tanpa di suruh pun ternyata Alex sudah menghubungi seorang dokter dan juga beberapa alat-alat medis khusus yang harus di bawa dokter untuk Gisella.


"Dila!! Axel!" Kata Mark teringat kalau dia tadi bersama dengan Dila dan Axel.


Byun langsung bertanya pada Mark, "Nak katakan di mana adik-adik kamu itu?!" Tanya Byun.

__ADS_1


"Aku tadi membawa mereka bersamaku dan berniat kembali untuk menyelamatkan mama Gisella, tapi iblis itu berlari hingga aku terpaksa harus melewati astral projection terlebih dahulu!!" Kata Mark menjelaskan, belum sempat ada pertanyaan lagi. Lisa mendengar suara dari dalam lemari pakaian dirinya langsung membuka lemari itu dan terkejut melihat Dila yang terkulai lemas di dalamnya.


"DILA!!!" Teriak Lisa yang membuat semua mata menoleh ke arahnya, dengan sigap Leon langsung menggendongnya dan meletakkan Dila yang masih setengah sadar karena kehabisan tenaga. Mark yang melihat Dila pun merasa lega namun perasaan menyesal masih ada dalam hatinya, tubuhnya juga lemas karena pertarungan tadi dengan iblis itu.


"Tunggu! Lalu di mana Axel?!" Tanya Mark mengingat lagi kalau hanya ada Dila saja. Semua orang bingung dengan apa yang terjadi pada Axel, karena Axel tidak muncul.


Ternyata saat Mark menarik tubuh Dila dan Axel, iblis itu sudah lebih dulu menarik tangan Axel dan menjeratnya bersama dengan Gisella.


Tak berapa lama dokter datang dan langsung memasang alat penopang hidup pada Gisella dan memeriksa kondisi Dila yang masih lemas.


Semua orang menangis tanpa suara, takut jika mereka kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup mereka, yaitu Gisella.


Mark yang saat itu mencoba memulihkan tubuhnya pun tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dirinya langsung mencoba beranjak dari duduknya dan meminta Lucas untuk mengantarnya pulang.


"Lucas antar gue pulang sekarang juga!!!" Kata Mark dengan kesungguhannya. Dia sudah memikirkan sebuah rencana.


"Mark, apa yang akan kamu lakukan? Jangan membuat semua adik-adik kamu di mansion menjadi khawatir!!" Kata Jeni menghalangi Mark.


Mark dengan segera menyanggahnya, "Tidak Mom! Aku hanya akan mengambil sesuatu yang di butuhkan! Aku harus menyelamatkan mama Gisella dari iblis itu!!" Ucap Mark dengan serius. Jeni tak bisa lagi menyangkalnya, dia hanya bisa menuruti apa yang menjadi keputusan dari Mark, dan menyuruh Lucas untuk menuruti apa yang Mark mau.


Lucas langsung mengantar Mark kembali ke mansion. Ternyata semua adik-adiknya telah pulang, dan tentunya mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi. Ada yang sedang berenang, ada juga yang sedang melakukan gym. Hal itu terjadi karena ternyata Lucas memberi tahu Adam dan Zaki mengenai semuanya, dan menyuruh mereka berdua untuk membuat alasan supaya tak menanyakan keberadaan para orang tua. Bahkan Alfin dan Windy ada di sana, Windy sengaja di ajak ke mansion utama supaya dirinya tak merasa kesepian. Windy langsung akrab dengan Alisya dan adik-adik Alfin yang lain. Alfin sendiri juga sudah tahu, karena Adam yang memberi tahunya. Dia sebenarnya khawatir, namun dia segera menepis rasa khawatir itu supaya tidak membuat adik-adiknya yang lain panik.


Mark dan Lucas masuk ke dalam mansion tanpa ada yang tahu, karena ternyata mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mark langsung masuk ke dalam kamar Gisella. Dirinya tanpa permisi langsung menggeledah koper milik Gisella yang ternyata belum di rapikan setelah kembali dari mansion di Jawa.

__ADS_1


__ADS_2