Kamar 126

Kamar 126
Nggak peka


__ADS_3

"Ya udah, kalau gitu gue mau balik dulu ya! Takut kemalaman, nanti saudara-saudara gue pada nyariin!" Kata Dila yang berniat berpamitan pada Mark dan juga Bayu.


"Iya, hati-hati!" Jawab Mark singkat dan datar.


"Lo nggak anterin Dila?!" Tanya Bayu dengan tatapan seperti tidak suka pada ucapan Mark.


"Nggak!" Jawab Mark dengan santainya.


"Dasar nggak peka, masak iya lo tega biarin nih cewek cantik pulang sendiri!" Entah kenapa Taemin tampak bingung dengan Mark yang tak bisa peka pada seorang wanita.


"Ya kan tadi dia ke sini juga sendiri!" Ucap Mark dengan polosnya dan seakan dirinya memang tak bisa mengerti akan apa yang di maksud oleh Bayu.


"Udah-udah, gue bisa pulang sendiri kok!" Kata Dila yang tak ingin merepotkan mereka berdua, "Oh iya Mark thank's ya udah di kasih tahu soal tadi!" Ucap Dila sambil langsung menjabat tangan Mark.


Mark terdiam membisu melihat tangannya yang semula di samping tubuhnya kini di jabat oleh tangan Dila. Mark seakan tak percaya Dila benar-benar mengucapkan terima kasih. Muncul geleyar aneh pada tubuh Mark, yang bahkan belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Namun Mark yang memang bisa melihat dengan menggunakan mata batinnya, saat tangannya menyentuh Dila, dirinya seperti mendapatkan penglihatan tentang Dila.


"Tolong!!! Siapapun tolong gue!!! Tolong!!!!" Ucap seorang gadis yang ada pada penglihatan Mark, ketika dia menjabat tangan Dila. Mark yakin kalau yang meminta tolong itu adalah Dila.


Bayu yang sejatinya sudah tahu kalau Mark bisa melihat apa yang akan terjadi pun, tampak diam menunggu Dila pergi baru menanyakannya pada Mark nanti.


"Mark, lo kenapa?" Tanya Dila yang membuyarkan penglihatan Mark saat menyentuh tangan Dila.


"Nggak ada apa-apa! Sekali lagi gue kasih tahu lo untuk pergi dari vila itu dan jaga diri kalian baik-baik di sana! Kabari saja kalau nanti kalian dalam masalah!" Ucap Mark pada Dila ,lalu melepaskan tangannya yang di jabat oleh tangan Dila tadi.


"Iya, kalau gitu gue balik dulu!" Kata Dila setelah mengangguk sebelum menjawab. Hingga akhirnya Dila sudah benar-benar pergi dan menghilang dari hadapan mereka berdua yang masih ada depan rumah Mark.


"Lo lihat apa Mark?" Tanya Bayu yang seakan sudah tahu dengan apa yang di rasakan sahabatnya itu.


"Gue lihat dia teriak minta tolong, Bay!" Kata Mark dengan datar namun di wajahnya terlihat seperti ada rasa kekhawatiran pada Dila.


"Kalau begitu berarti dia dalam bahaya dong!" Ucap Bayu yang terkejut dengan penuturan Mark.


"Tapi gue yakin kalau makhluk tak kasat mata yang ada di vila itu, tidak berani mendekati mereka!" Ucap Mark dengan yakin.

__ADS_1


Bayu tampak mengerutkan kening, mendengar Mark yang bicara seyakin itu, "Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?!" Tanya Bayu penasaran.


"Gue lihat mereka memakai kalung berisi air suci!" Kata Chan memberi tahu saat dia tadi juga sempat merasakan energi positif dari air suci yang di jadikan sebuah kalung oleh Dila.


"Astaga, berarti orang tua mereka memang sudah menjaga mereka menggunakan itu, kalau tidak ya pasti mereka sendiri yang membuatnya!" Kata Bayu yang menduga-duga tentang kalung itu.


Bryan juga sudah kembali saat melihat Dila pergi dari rumah Mark.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, di vila. Seperti biasanya mereka makan malam bersama di meja makan, namun kali ini Dira tidak ikut makan malam bersama dengan mereka. Ya tentu karena dia ingin sendiri dulu di kamarnya, dia butuh waktu untuk memahami kondisinya yang tak seorang pun percaya padanya.


Dila yang memang tadi pulang agak larut, dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dirinya masih belum mengerti tentang apa yang terjadi pada saudara kembarnya. Begitu pun dengan kejadian sore tadi yang membuat Dira merasa kalau tak ada seorang pun yang percaya padanya.


Dila baru menyadari ketidak hadiaran Dira saat makan malam. Dila yang melihat bangku saudara kembarnya itu kosong tampak bingung, kenapa malam itu Dira tak ikut makan malam bersama.


"Dimana Dira?" Tanya Dila yang baru menyadari kalau saudara kembarnya tidak ada di bangkunya.


"Dia marah, Dil!" Kata Axel dengan wajah lesunya.


"Sabar dulu kenapa sih, Dil!" Kata Alisya yang melihat Dila meninggikan suaranya.


"Sekarang cepat katakan, kenapa adik gue bisa marah?!" Tanya Dila yang menahan emosinya.


Axel pun menceritakan semuanya pada Dila, kejadian yang terjadi tadi saat dirinya tidak ada di Vila. Axel menceritakan semua kesalahpahaman yang terjadi antara saudara-saudaranya yang lain pada Dira.


"Jadi dia ngambek karena mengira kalau kalian nggak percaya sama dia?!" Ucap Dila mengambil sebuah kesimpulan saat setelah mengetahui semuanya.


Axel tampak menghela nafasnya merasa hatinya sakit mengingat Dira yang marah padanya.


"Nanti biar gue yang antar makanan ke kamarnya!" Kata Dila sambil memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Eh, Dil! Lo tadi keluar sama siapa? Sama cowok kan?!" Kata Alisya yang membuat Dila membelalakkan matanya.


Deg,,

__ADS_1


"Hah? Apa?!" Tanya Dila yang pura-pura tak mengerti dengan apa yang di katakan nya.


"Udah, lo nggak usah bohong sama kita! Kita udah tahu kok! Lo nggak bisa bohong sama kita!!" Ucap Victor yang juga tak kalah mencerca pertanyaan pada Dila.


"Mana ada!" Ucap Dila yang masih saja mengelak.


"Lo mau bohong? Gue ada bukti kok!" Ucap Bryan yang mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan sebuah foto ketika Dika bertemu dengan 2 orang pria. Dila tampak membelalakkan matanya melihat foto dirinya di ponsel Bryan , yang sedang bersama dengan Mark dan juga Bayu tadi sore.


"Lo dapat foto ini dari mana?!" Tanya Dila yang mencoba menutupi rasa terkejutnya.


"Gue sengaja ikuti lo tadi pas mau pergi!" Kata Bryan memberi tahu. Supaya Dila tidak bisa mengelak lagi.


"Ish, ngeselin banget sih lo! Mau tahu aja urusan orang!" Geram Dila sambil melanjutkan makan malamnya.


"Gue yang sengaja nyuruh Bryan buat diam-diam ngikutin lo, Dil! Gue nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama lo! Lo tuh cewek!" Kata Axel memberi tahu.


Dila menghela nafasnya, "Ya kan nggak gitu juga Axel!" Kesal Dila. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang di bilang Axel memang ada benarnya. Dila adalah seorang remaja cewek yang tidak bisa seenaknya main keluar tanpa sepengetahuan mereka yang sedang berada di desa orang. Karena mereka tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi nantinya.


"Udahlah ,Dil! Lagian kan sekarang kita semua juga udah tahu! Mending lo kasih tahu ke kita aja! Dan jujur sama kita soal tadi!" Kata Victor namun matanya mengarah pada makanan di depannya.


Karena tak ada pilihan lain lagi selain menceritakan semuanya pada para saudara-saudaranya itu. Dila akhirnya mau tidak mau menceritakan tentang siapa pria yang dia temui, dan apa tujuan Dila menemuinya diam-diam tanpa sepengetahuan para saudaranya.


"Kok gue nggak percaya ya!" Kata Victor setelah Dila menceritakan semuanya.


"Gue sih sebenarnya juga nggak percaya, kan gue juga atau bahkan kalian juga nggak pernah di ganggu sama makhluk tak kasat mata atau apalah itu!" Kata Dila menjelaskan.


Namun di saat semua bingung dengan perasaan mereka masing-masing. Axel tampak terdiam dan mengingat apa yang di katakan oleh Dira sore tadi saat di tepi kolam renang.


"Lo semua nggak ingat sama apa yang di katakan Dira tadi?!" Tanya Axel memecah keheningan mereka. Axel juga memiliki firasat buruk mengenai Dira.


"Ada apa?" Tanya Alisya bingung dengan yang di maksud oleh Axel.


"Cerita Dira yang memang berbeda dari yang kita alami di sini! Mungkin ucapan pria yang di katakan Dila itu ada benarnya! Namun hanya Dira saja yang di takuti diantara kita!" Jelas Axel menyimpulkan.


"Tapi jujur sih, kalau cuma Dira gue nggak percaya! Lo semua kan tahu sendiri kalau Dira itu orangnya emang penakut!" Kata Bryan yang tak setuju dengan pendapat Axel.

__ADS_1


__ADS_2