Kamar 126

Kamar 126
Menuju ke kediaman paman Felix


__ADS_3

Terlihat puluhan orang berada dalam jeruji besi yang berwarna putih itu. Aku perhatikan satu persatu dari mereka yang terlihat tidak asing bagiku, ya aku seperti pernah melihat mereka. Tapi di mana?


Mereka bahkan tak berkata apapun, hanya menatapku dengan tatapan penuh haru dan rasanya hatiku perih melihat mereka seperti itu di sana. Hingga tiba-tiba saja aku mendengar suara dari belakang tubuhku.


"Hey!!" Panggilnya.


Deg,,,,,


Aku langsung menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggil aku itu. Hingga setelah aku berbalik, aku melihat tante Klara dengan tersenyum manisnya ke arahku.


"Tante Klara?!" Ucapku ketika melihat tante Klara ada di hadapanku.


Tante Klara tersenyum ke arahku, "Mereka adalah korban dari Ana, lebih tepatnya tubuh mereka di jadikan manekin-manekin yang kamu lihat di museum itu!" Jelas tante Klara yang membuat aku ingat. Aku baru ingat kalau mereka itu manekin-manekin itu. Aku pandang kembali mereka yang ada di balik jeruji besi berwarna putih itu. Aku sekarang yakin dan ingat, kalau merekalah korban dari tante Ana.


"Tapi kenapa mereka masih ada di sana tante? Kenapa mereka tidak bisa keluar dari jeruji besi itu?!" Tanyaku pada tante Klara karena rasa penasaranku.


Tante Klara menoleh sekilas ke arah mereka, "Itu karena mereka belum di makamkan dengan layak, bukankah kamu dan para saudara kamu masih akan memakamkan besok pagi? Oh iya sebelumnya jeruji besi yang kamu lihat itu berwarna merah darah! Bahkan di sana tidak seorang pun bisa menyentuhnya, itu sebabnya mereka tidak bisa keluar dari sana!!" Ucap tante Klara memberi tahu aku tentang jeruji besi yang awalnya berwarna merah darah.


"Tapi bukankah tante juga sama seperti mereka? Dan kenapa tante bisa keluar dari jeruji besi itu?!" Tanyaku heran.


"Tante berbeda dengan mereka, karena tante dulu memiliki seorang bayi di kandungan tante! Apalagi tante memiliki dendam yang mendalam, juga sudah mengucap sumpah akan terus ada di dekat anak Ana!! Maka dari itu tante bisa bebas karena Windy, anak dari Ana!" Jelas tante Klara yang membuat aku paham dan mengerti dengan dirinya yang berbeda dari yang lainnya.


"Jadi begitu!" Aku mengangguk-angguk paham menanggapi ucapan tante Klara.


Tante Klara memegang pundak ku, "Aku akan pergi terlebih dahulu bersama dengan suamiku dan anakku! Mereka sudah menungguku di alam selanjutnya!! Aku sengaja menemui mu di alam mimpi untuk berpamitan dengan kamu! Sampaikan rasa terima kasih aku pada para saudara kamu! Terutama kakak tertua kamu, Mark!!" Tante Klara menghela nafas untuk melanjutkan ucapannya, "Aku akan pergi sekarang, dan tolong berjanjilah untuk melepaskan mereka dari jeruji besi itu! Tuntaskan tugas kamu nak! Aku pergi dulu" Ucap tante Klara sembari tersenyum manis ke arahku. Aku pun membalas senyumannya dan mengangguk.


"Tante tenang saja, aku akan membantu mereka sampai akhir!! Semoga tante bahagia di alam selanjutnya!!" Ucapku pada tante Klara.


Lalu seketika saja perwujudan tante Klara di depanku itu mendadak menghilang bagaikan angin lalu yang lewat begitu saja. Hatiku merasa senang bisa membantunya, apalagi dirinya sepertinya sangat bahagia bisa kembali ke alam di mana seharusnya dia berada dengan berkumpul dengan keluarga kecilnya.


"Aku bangga pada diriku sendiri!" Kataku dengan lirih lalu menoleh ke arah jeruji besi putih itu. Ku lihat mereka yang tadinya ada di sana menghilang, bahkan dengan jeruji besi itu berubah menjadi tampak menyeramkan. Di tambah adanya satu sosok yang mengerikan di dalamnya.

__ADS_1


Aku terkejut ketika melihatnya, aku juga merasa sangat penasaran dengan siapa yang ada di dalamnya. Kenapa hanya dalam sekejap mata saja bisa berubah menjadi mengerikan seperti itu. Aku lihat dari jarak yang tak begitu jauh, wajah sosok itu hancur tak berupa. Tubuhnya penuh dengan darah, dan bahkan aroma busuk menyengat membuatku merasa mual di buatnya. Namun aku masih saja penasaran dengan siapa yang ada di dalamnya.


Aku berjalan mendekat ke arah jeruji besi yang menyeramkan itu, dengan menutup hidungku. Karena aku sungguh sangat mual dengan baunya. Dan saat aku berada tepat di dekat jeruji besi yang kini tampak menyeramkan itu. Aku terkejut bukan main. Ku lihat kaki sosok itu di rantai menggunakan rantai yang sangat panjang. Ku perhatikan wajahnya yang hancur dan menunduk itu. Lalu kemudian dia perlahan mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tajam. Sangat menyeramkan.


Aku sempat mundur 2 langkah dari tempatku karena tak percaya dengan apa yang aku lihat.


"Tante Ana?!" Kataku saat sudah tahu kalau ternyata dia yang ada di jeruji besi itu adalah tante Ana.


Dia menyeringai padaku, seakan ingin menerkam ku dan membawaku masuk ke dalam jeruji besi itu.


"Anak baik, apa kau mau menemaniku di sini? Kemari lah!!" Katanya dengan suara yang menyeramkan.


Aku tertegun mendengar suaranya saat itu, "Kenapa kau bisa ada di sini?!" Tanyaku mencoba memberanikan diri.


"Kenapa? Kenapa ? Kenapa!!!!!!!!" Suara tante Ana yang awalnya pelan hingga sampai meninggikan suaranya membuat telingaku berdengung beberapa saat. Bahkan tanganku yang awalnya ku gunakan untuk menutup hidung tadi, kini berpindah memegang telinga karena mendengar teriakannya yang menggelegar.


"Itu semua karena iblis itu!! Dia yang menjeratku!! Dia menipuku!! Dia licik!!" Ucap tante Ana yang menyebut sosok iblis yang menjeratnya.


"Itu balasan untukmu yang sudah tega melakukan perbuatan keji dan tidak bermoral seperti membuat manekin itu tante!!" Kataku dengan kesal pada tante Ana yang sepertinya menyesali perbuatannya, "Kau pasti akan sangat menderita dalam naungan iblis!! Itulah akibat dari perbuatan mu selama ada di dunia!!!" Ucapku lagi yang sudah sangat kesal mengingat perbuatan keji yang telah di lakukan oleh tante Ana.


"Kau orang yang sangat tidak bermoral!! Apa kau lupa kalau kau sudah mati? Bahkan kau berada dalam jeruji besi ini! Dan tak akan pernah bisa keluar!!" Ucapku mengingatkannya. Lalu aku memutuskan berbalik arah dan hendak berjalan pergi dari tempat itu.


Akan tetapi baru dua langkah saja, aku bisa mendengar kalau tante Ana perlahan tertawa dan semakin keras tertawa seperti orang yang tak waras.


"Dasar bocah bodoh!! Apa kau pikir aku akan ada di sini terus? Iblis itu akan melepaskan aku untuk mencari mangsa lagi! Dan aku akan membunuhmu dengan seluruh keluargamu dengan bantuan iblis itu!!!" Kata tante Ana mengancam ku. Hatiku mendadak gelisah mendengar ancaman yang keluar dari mulutnya itu. Aku menelan saliva ku dengan kasar. Aku berbalik dan aku mendapati tante Ana sudah berdiri tepat di depanku dengan tersenyum menyeringai licik.


Kakiku tak bisa bergerak, dan aku juga tidak bisa berteriak karena tenggorokanku seperti tercekik oleh sesuatu. Rasanya sesak di dada, hingga aku melihat sosok wanita cantik tengah berdiri di belakang tante Ana dengan tersenyum seringai. Ukuran tubuhnya 2 kali lipat dari tubuh tante Ana. Aku membelalakkan mataku saat melihatnya.


Lalu tiba-tiba saja aku melihat tante Ana hendak mencekik leherku. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya bisa berdoa dengan menyebut nama mama supaya aku di tolong olehnya. Namun itu sia-sia karena mama sedang tak ada di mansion. Lalu belum sempat tante Ana memegang leherku, dia berteriak kepanasan. Hingga akhirnya membuat aku bangun dari tidurku.


Aku ngos-ngosan seperti orang yang habis lari maraton. Aku langsung menenggak habis air putih yang ada di gelas yang di letakkan di nakas. Aku mencoba mencoba mengatur nafasku yang tersengal-sengal akibat itu. Lalu kemudian aku langsung mengusap wajahku dengan kasar.

__ADS_1


"Cuma mimpi!" Kataku lalu ku lihat tanganku terdapat darah yang aku ketahui berasal dari hidungku. Aku langsung beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membasuhnya. Lalu kemudian memutuskan untuk melanjutkan tidurku kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di sisi Gisella dan juga Chan. Lebih tepatnya saat para anak-anaknya berkutat untuk menyelesaikan masalah dari Klara. Gisella dan Chan pergi ke suatu tempat di mana terdapat pan Chan yang memang ahli dalam melihat makhluk tak kasat mata. Seperti seorang yang di segani di sebuah kota yang ada di pulau Jawa.


Hari itu Gisella dan Chan menuju ke kediaman paman Felix yang akan menjadi tempat tujuan utama Gisella dan Chan. Sudah lama sekali Chan tidak berkunjung ke sana. Karena memang setelah kematian dari kedua orang tua Chan saat itu. Chan tidak lagi pergi kemana pun. Dia memilih tinggal di mansion nya hingga bertemu dengan banyak teman seperti sekarang ini.


Sesampainya di kediaman paman Felix. Gisella dan juga Chan langsung turun dari mobil dan melihat sebuah pendopo yang di yakini sebagai tempat tinggal paman Felix. Saat mereka turun dari mobil terlihat seorang ibu-ibu paruh baya mendekat ke arah mereka. Beliau keluar dari dalam pendopo itu, dan berjalan menuju ke Chan Gisella.


"Maaf kalian berdua ini siapa ya?!" Ucap wanita paruh baya itu pada Gisella dan Chan.


"Bi Inem? Ini bi Inem kan?" Kata Chan yang mengingat kalau wanita paruh baya itu adalah orang yang dia kenal.


"Iya benar nama saya Inem, kenapa anda bisa tahu nama saya?!" Tanyanya yang kini kita tahu bernama bi Inem.


Chan tersenyum senang, "Bi ini aku Chan! Keponakan dari paman Felix!!" Ucap Chan memperkenalkan diri. Bi Inem sempat terkejut dan tak percaya, karena dulu Chan yang dia kenal masih sangat kecil, dan paling tidak suka berhubungan dengan makhluk tak aksat mata. Bahkan Chan tak percaya kalai makhluk tak kasat mata itu ada.


"Ini nak Chan? Wah bahkan sepertinya kamu sudah dewasa ya!" Ucap bi Inem.


"Bukan hanya dewasa Bi! Aku sudah memiliki 4 anak sekarang!" Ucap Chan memberi tahu bi Inem.


"Wah lalu di mana anak-anak? Oh iya lebih baik kita duduk dulu di gazebo itu! Pamanmu sedang bertapa, dan tidak dapat di ganggu sekarang, tunggu 1 sampai 2 jam lagi pasti sudah selesai!!" Ucap bi Inem memberi tahu sekaligus mengajak Chan dan Gisella duduk di sebuah gazebo yang letaknya ada di dekat pendopo itu.


Setelah sudah duduk di sana,,,


"Ini istri kamu ya?!" Tanya Bi Inem pada Chan. Dan Chan mengangguki ucapan dari bi Inem, lalu kemudian memperkenalkan Gisella pada Bi Inem.


"Ini istriku, namanya Gisella! Dia sama seperti paman, yang bisa melihat makhluk tak kasat mata!" Ucap Chan memperkenalkan istrinya, lalu mereka berdua saling berjabat tangan tanda saling berkenalan. Lalu bi Inem sempat mengernyit, "Kamu nggak salah? Perasaan dulu kamu nggak percaya sama makhluk tak kasat mata? Apa istri kamu yang membuat kamu percaya?!" Tanya Bi Inem penasaran.


Chan lalu menceritakan semua kejadian dari awal mula dirinya bertemu dengan iblis dan sempat hampir terjerat. Hingga bertemu dengan Gisella yang telah menolongnya dari jeratan Wendy. Bi Inem sempat tak percaya dengan apa yang terjadi pada Chan, namun dia ingat kalau Felix pernah menceritakan padanya tentang Chan yang bisa melihat makhluk tak kasat mata hanya menggunakan setengah indra ke enamnya yang terbuka.

__ADS_1


"Dulu kan paman kamu Felix sudah pernah bilang kalau kamu itu memiliki indra ke enam yang sudah terbuka setengah, kamu saja yang tidak percaya!!" Ucap bi Inem memberi tahu dan mengingatkan Chan tentang dulu.


Chan hanya mengedikkan bahunya, "Ya itu kan dulu Bi, dulu juga Chan kan nggak percaya sama yang begituan, jadi wajar kalau Chan juga nggak percaya sama apa yang di omongin paman!!" Ucap Chan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


__ADS_2