Kamar 126

Kamar 126
Pamit pulang


__ADS_3

Dila pun langsung duduk di kursi kayu yang hanya ada 2 dengan meja kecil di antara kursi itu. Mark yang masuk ke dalam rumahnya, mengambilkan secangkir teh hangat untuk Dila.


Sesaat kemudian Mark keluar dengan membawakan secangkir teh hangat untuk Dila, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Dila.


"Ini minumlah, sorry cuma ada ini!" Ucap Mark sambil meletakkan minuman di meja.


"Nggak apa-apa kok, sorry gue malah ngerepotin lo!" Kata Dila yang malah kelihatan canggung. "Ternyata, dia juga bisa ramah!" Batin Dila.


Di sisi lain, di tempat Bryan bersembunyi. Dirinya kebingungan dengan siapa Dila bertemu. "Siapa pria itu? Wah-wah nggak bener nih! Jadi Dila bilang mau keluar itu ternyata mau ketemu sama cowok?!" Batin Bryan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya. Lalu kemudian Bryan memberi tahu para saudaranya yang lain lewati ponselnya. Namun karena Victor yang dia kirimi pesan, sedang berada di kolam renang, bersama dengan Alisya. Dirinya tidak mungkin memegang ponsel.


Back to Dila, yang kini sudah duduk bersebelahan dengan Mark. Mespipun ada meja yang menghalangi mereka.


"Gue mau lo jelasin ke gue, apa maksud ucapan lo yang kemarin-kemarin itu?!" Pinta Dila membuka suara, dan meminta Mark untuk menjelaskan semuanya.


"Oke gue bakal jelasin ke lo!" Jawab Mark namun kemudian dia menatap Dila sekilas.


"Tunggu dulu, kita belum kenalan! Kenalin nama gue Dila!" Dila mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Mark, sebelum Mark menceritakan semuanya. Mark juga langsung menerima uluran tangan Dila ,"Gue Mark!" Jawabnya singkat.


Mungkin mereka sudah tahu nama dari masing-masing mereka yang berkenalan, namun Dila ingin mereka berkenalan dan tahu nama masing-masing dari mulut mereka sendiri.


"Oh iya, jadi gimana?" Tanya Dila setelah berjabat tangan dengan Mark.


"Gue akan kasih tahu lo tentang hal yang berkaitan dengan supranatural!" Ucap Mark mengawali pembicaraannya.


Dila tampak mengerutkan keningnya karena mendengar Mark mengatakan itu padanya.


"Supranatural? Maksud lo? Kayak kekuatan gitu? Kekuatan bisa melihat hantu?!" Entah kenapa Dila langsung bisa mengarah pada kekuatan indra keenam.

__ADS_1


"Syukurlah kalau lo udah tahu, jadi gue nggak perlu capek-capek jelasin ke lo soal itu!" Kata Mark setelah menghela nafasnya.


"Terus apa hubungannya kekuatan supranatural sama Vila itu? Lalu kenapa lo tiba-tiba nyuruh gue sama saudara-saudara gue pergi dari sana?!" Tanya Dila yang masih belum mengerti di tambah rasa penasaran yang mendominasi di hatinya.


"Gue bisa melihat mereka!" Kata Mark yang sekilas menoleh ke arah Dila, lalu kembali menatap ke depan. Dila memilih diam mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Mark.


"Gue memiliki kekuatan untuk melihat makhluk yang tak kasat mata! Entahlah, gue juga sempat menyebut ini sebagai kutukan buat gue!!" Mark tampak menarik nafasnya untuk melanjutkan ucapannya, "Tapi setelah gue sadar kalau nggak banyak orang yang bisa melihat mereka seperti gue! Gue mencoba beradaptasi dengan keadaan! Banyak orang yang mengira kalau gue itu aneh, bahkan ada juga yang pernah mengatakan kalau gue ini gila! Tapi tentang diri gue hanya gue sendiri yang tahu!" Kata Mark yang selesai mengatakan apa yang kini dia pendam sendiri dan tak banyak orang tahu.


"Oh, jadi itu sebabnya dia di bilang sebagai pria yang aneh?!" Batin Dila yang tiba-tiba melamun.


Setelah itu Mark menatap Dila dan membuat Dila langsung melihat ke arahnya. "Ada aura hitam yang menyelimuti Vila itu! Gue sarankan kalau kalian sebaiknya pergi dari vila itu, gue takut kalau sampai nantinya akan terjadi sesuatu sama salah satu dari kalian!" Ucap Mark memberi tahu.


"Maksudnya?" Tanya Dila yang memang tak begitu paham dengan apa yang di katakan oleh Mark.


"Gue juga nggak tahu pastinya, tapi yang jelas Vila itu udah lama nggak di tempati! Itulah kenapa gue sering ngecek ke sana, tapi karena gue selalu merasa panas saat mendekat ke vila itu, jadi gue urungkan niat gue!" Kata Mark memberi tahu.


"Ya gue nggak tahu, tapi yang jelas karena Vila itu sudah terlalu banyak memakan korban!" Kata Mark lagi yang membuat Dila membelalakkan matanya.


"Apa?!" Ucapnya terkejut.


"Terakhir gue dengar, ada sepasang suami istri yang tinggal di sana! Tapi entah kenapa mereka seakan hilang seperti di telan oleh bumi!"


"Tapi kenapa mereka bisa hilang?" Dila semakin penasaran akan cerita dari Mark.


"Gue juga belum tahu pastinya mengenai hal itu! Tapi lebih baik kalau kalian semua segera pergi dari sana dan jangan terlalu percaya dengan 2 pembantu yang ada di sana!" Kata Mark.


"Maksudnya bi Tina sama bi Sara? Memangnya kenapa? Mereka kan juga baru bekerja di sana, jadi mereka nggak mungkin melakukan hal yang macam-macam!" Ucap Dila yang tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Mark.

__ADS_1


"Terserah lo mau menanggapi ini bagaimana, tapi yang jelas gue udah ngingetin lo untuk hati-hati!" Kata Mark sambil menatap lurus ke depan.


"Jadi kemarin lo nyuruh gue sama saudara-saudara gue pergi itu karena ini?!" Tanya Dila memastikan lagi.


"Iya, karena sejak kejadian hilangnya pasangan suami istri itu! Seluruh warga di sini juga sudah tidak mau lagi berurusan dengan vila itu! Mereka memilih bungkam ketika di tanyai tentang seluk beluk vila itu!" Kata Mark, "Para penduduk juga tidak menyangka ada yang berani menempati vila itu, apalagi yang menempatinya adalah para remaja!" Lanjut Mark lagi.


"Gue sendiri sebenarnya nggak percaya sama yang begituan! Tapi gue akan tetap pikirkan lagi saran dari lo ini! Gue juga bakal omongin dulu sama saudara-saudara gue nantinya!" Kata Dila yang entah kenapa tak bisa langsung menolak atau bahkan menyangkalnya.


"Kalau lo butuh apa-apa, lo datang aja ke sini! Siapa tahu gue bisa bantu!" Entah kenapa Mark bisa menawarkan hal semacam itu pada Dila, apakah sebenarnya Mark memang menyukai Dila. Mark sendiri tidak tahu tentang perasaan itu, entah bagaimana dirinya seperti luluh saat melihat wajah cantik Dila.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menganggu pembicaraan mereka. Mark dan Dila yang berada di teras pun menoleh ke sumber suara.


"Woy!!!" Panggilnya. Siapa lagi kalau bukan Bayu yang selalu datang dengan berteriak. Bayu memanggil Mark dari kejauhan, lalu perlahan berjalan menuju Mark yang sedang bersama Dila du teras rumahnya.


"Ya elah, di tungguin malah pacaran di sini!" Kata Bayu sambil berkacak pinggang dan menatap ke arah keduanya. Mark dan Dila saling pandang sekilas.


"Bisa nggak lo nggak usah ngatain gue pacarnya? Dia datang cuma mau tanya soal Vila!" Terang Mark menjelaskan.


"Vila? Yang lo ceritain kemarin?!" Tanya Bayu pada Mark dan di jawab anggukan oleh Mark. "Wah , Dil! Lo memang benar-benar mau nantangin maut!" Kata Bayu setelahnya.


Dila tampak bingung ketika mendengar Bayu mengatakan hal yang serupa dengan Mark. Kemudian Mark pun memberi tahu Dila kalau Bayu juga memiliki kekuatan indra keenam seperti Mark.


"Saran gue lo harus hati-hati tinggal di vila itu!" Kata Bayu mengingatkan. Dila tampak menjawab ucapan Bayu dengan anggukan dan tersenyum manis.


"Ya udah, kalau gitu gue mau balik dulu ya! Takut kemalaman, nanti saudara-saudara gue pada nyariin!" Kata Dila yang berniat berpamitan pada Mark dan juga Bayu.


"Iya, hati-hati!" Jawab Mark singkat dan datar.

__ADS_1


"Lo nggak anterin Dila?!" Tanya Bayu dengan tatapan seperti tidak suka pada ucapan Mark.


__ADS_2