Kamar 126

Kamar 126
Sosok hitam besar


__ADS_3

Semua pun juga sempat berkenalan lalu setelahnya langsung menyuruh mereka bertiga masuk ke dalam Vila. Lebih tepatnya mereka akan melakukan astral projection di kamar Dira.


Di dalam kamar Dira. Mark, Mela dan Bayu langsung duduk memutar dengan bersila. Namun entah kenapa Mela dan juga Bayu seperti tidak kuat untuk melakukan astral projection.


"Mark, gue nggak kuat! Aura hitam di sini sangat berbahaya! Energi gue akan langsung habis kalau gue ikut astral projection!" Kata Bayu yang sudah menahannya dari tadi.


"Gue juga sama kayak Bayu, Mark!" Kata Mela menimpali.


"Ya udah kalau gitu biar gue sendiri aja yang pergi! Kalian di sini aja jaga portalnya!" Ujar Mark yang ternyata memang dirinya lebih kuat di banding dengan Mela dan Bayu.


"Lo yakin mau pergi sendiri?" Tanya Mela meyakinkan Mark.


"Iya, waktu kita nggak banyak! Gue janji kalau gue akan balik!" Ucap Mark meyakinkan ke 2 sahabatnya.


Sedangkan Dila, Alisya saat itu memilih duduk di tepi ranjang sambil menunggu ke 3 orang yang akan membantunya itu. Victor dan juga Axel memilih kembali keluar dari vila untuk mencari keberadaan Dira. Akan tetapi berbeda dengan Bryan yang langsung menghubungi keluarga mereka, terutama Chan, Papa dari Dira.


Pov Bryan.


Saat ini Bryan sedang berusaha untuk menghubungi keluarganya, beruntung Chan dan para orang tua yang lain tidak jadi untuk pergi ke luar negeri. Jadi mereka kini sedang berada di ruang keluarga dan berbincang menghabiskan waktu bersama.


Namun entah kebetulan yang bagaimana , saat Bryan menelpon. Chan saat itu sedang berada di kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar.


Panggilan telepon,


"Halo, Ma!" Ucap Bryan, karena dirinya menelpon di ponsel Gisella.


"Halo, Bryan! Ada apa nak?!" Tanya Chan yang malah berada di balik telepon. Karena melihat ponsel Gisella yang berdering dan Chan langsung mengangkatnya.


"Papa? Mama Gisella ada di mana?!" Tanya Bryan yang mendapati Chan yang ada di balik telepon itu.

__ADS_1


"Iya ini papa, mama Gisella lagi di ruang keluarga! ada apa Bryan?" Tanya Chan penasaran.


"Pa, Dira hilang!" Ucap Bryan dengan gemetar mengatakannya.


"APA??! BAGAIMANA BISA?!" Teriak Chan dibalik telepon, dia sangat terkejut ketuka mengetahui kalau anak ketiganya hilang.


"Kita juga nggak tahu, Pa! Tadi pas sarapan kita tunggu dia nggak keluar kamar, Terus pas kita cek ke kamarnya dia nggak ada! Kita semua juga udah nyari dia kemana-mana pa! Tapi dia nggak ketemu!" Kata Bryan yang langsung menjelaskan panjang lebar dengan suara yang sedikit gemetar.


Chan yang sebenarnya merasa sangat khawatir, mencoba menutupinya dari Bryan. Karena bagaimana pun juga Bryan masih terlalu remaja dan Chan juga tidak ingin menambah mereka yang kini sedang jauh dari keluaga.


"Ya sudah, kalau begitu kamu tenangkan yang lain dulu! Papa akan kasih tahu semuanya di sini!" Kata Chan menenangkan Bryan.


"Iya, Pa!" Jawab Bryan singkat. Lalu sambungan telepon terputus.


Chan sangat bingung dan tidak tahu harus mengatakan pada Gisella bagaimana. Gisella pasti akan sangat syok mengetahui ini. Sejenak Chan berpikir, sampai terdengar suara lembut dari istrinya yang berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kamu kenapa?" Suara Gisella membuat Chan tersentak dan langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan menginterogasi. Melihat Chan yang sedang Gelisah, tentu saja itu mengundang rasa penasaran dari Gisella.


Dan ternyata bukan hanya Gisella saja, semua para orang tua langsung menuju kamar Chan, yang ternyata tadi samar-samar mendengar suara Chan yang seperti berteriak.


"Ada apa Chan? Kenapa lo tadi teriak kayak gitu?" Tanya Nathan selaku yang tertua di antara mereka.


"Dira!" Ujar Chan lirih, sebenarnya dia sendiri bingung harus mengatakannya bagaimana.


"Dira?! Ada apa dengan Dira?!" Entah kenapa Gisella langsung mendekat ke arah Chan dengan tatapan khawatir, bahkan air matanya kini tengah berkumpul di pelupuk matanya. Gisella takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya terutama dengan Dira. Karena Gisella sebelumnya sudah memiliki firasat buruk mengenai Dira.


"Dira, dia! Dia hilang !" Kata Chan dengan sedikit gemetar.


"APA?!" Jawab mereka serempak. Mereka terkejut dengan pernyataan dari Chan yang mengatakan kalau Dira hilang.

__ADS_1


"Ba-bagaimana anak kita bisa hilang?!" Ujar Gisella yang air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.


"Chan, lo jangan main-main sama omongan lo!" Kata Nathan memastikan.


"Nathan, gue nggak bercanda! Bryan sendiri yang menelpon tadi dan mengatakan kalau Dira hilang! Mereka juga sudah mencari kemanapun tapi hasilnya nihil!" Kata Chan menjelaskan. Walau pun dalam hatinya berharap kalau anaknya tidak benar-benar hilang.


"Kalau gitu, kita harus segera ke sana buat memastikan semuanya!" Kata Leon menyarankan. Meski tanpa di minta pun jelas Chan akan pergi ke sana untuk menemui anak-anak mereka.


Tiba-tiba saja, Gisella langsung pingsan seketika karena mendengar hal itu dan dia langsung merasa syok. Beruntung Chan ada di dekatnya dan langsung menangkap Gisella. Gisella langsung di bopong oleh Chan dan diletakkan di atas ranjang miliknya.


"Batalkan semua meting kita di luar negeri besok! Ayo kita segera berangkat ke desa loka! Alex dan Lisa lebih baik kalian di sini untuk menjaga Gisella dan anak-anak yang lain!" Kata Nathan memberi tahu.


"Biarkan gue sama Sindy ikut ke sana, karena bagaimana pun juga mereka pasti membutuhkan seorang ibu di sana!" Kata Nadia dengan nada khawatir.


"Kalau begitu kita segera ke sana! Jaga Gisella dan jangan biarkan anak-anak kita menyusul ke sana nanti!" Kata Chan menyarankan.


"Suruh saja Alfin dan Lucas untuk menyusul kita ke desa loka nanti!" Kata Leon menyuruh mereka mengatakannya pada Lucas dan Alfin, dan di angguki paham oleh Alex.


Setelah mereka semua setuju dengan rencana itu, mereka segera bersiap untuk berangkat ke desa Loka untuk menemui anak-anak mereka yang sedang berada di desa Loka untuk mengerjakan makalah. Perjalanan mereka bahkan memakan waktu hampir beberapa jam untuk bisa sampai ke lokasi desa Loka.


Back to Dila yang masih menatap penuh harap pada Mark dan kedua saudaranya , yang tengah melakukan astral projection.


Pov Mark


Kini Mark berada di alam lain setelah mendapat persetujuan dari Mela dan Bayu. Mela dan Bayu sebenarnya bisa saja melakukan astral projection untuk ikut dengan Mark. Akan tetapi karena aura jahat yang ada di vila itu, membuat mereka seakan melemah dan tidak bisa melakukannya dengan kekuatan penuh. Tapi mereka akan menjaga portalnya untuk Mark.


Mark kini berjalan menyusuri lorong demi lorong yang sangat gelap tanpa penerangan sedikit pun. Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada pohon besar yang tampak mirip dengan pohon yang ada di dekat vila. Di dekat pohon itu, Mark melihat ada satu sosok hitam, tinggi, dan besar berdiri dengan tatapan menyeringai nya. Sosok itu menatap ke arah Mark namun tidak mendekat ke arah Mark. Mark yang sebenarnya merinding ketika melihat sosok itu, mencoba tidak memperdulikan tentang sosok yang masih terus menatapnya itu.


Setelah sekian lama di alam bawah sadarnya mencari petunjuk tentang keberadaan Dira. Mark akhirnya memutuskan kembali ke dunia nyata karena hasil yang dia dapatkan nihil. Tidak ada satu pun petunjuk yang menunjukkan tentang keberadaan Dira.

__ADS_1


__ADS_2