
"Eh siapa tuh?" Dila mulai menajamkan penglihatannya, "Loh, bukannya itu pemuda yang gue temui tadi siang? Ngapain dia ngelihatin vila ini terus?" Dila yang semakin penasaran dan ingin tahu pun, menatap pemuda itu, sampai dia kembali mengayuh sepeda gunungnya dan menjauh dari Vila.
"Gue jadi makin penasaran sama pemuda itu! Apa yang sebenarnya dia mau?!" Dila bertanya-tanya dan mencoba berpikir sejenak mencari tahu dalam otaknya, "Besok gue harus cari tahu tentang dia!" Ucap Dila setelahnya.
Setelah beradu dalam pikirannya mencari tahu tentang pemuda tadi. Dila memutuskan untuk tidur.
"Dila, tolongin gue Dil!!" Dira memanggil nama kembarannya.
"Dira lo kenapa?" Tanya Dila padanya.
"Tolong gue, Dil! Gue takut, gue nggak kuat!" Ucap Dira lagi.
"DIRA!!" teriak Dila yang terbangun dari tidurnya.
Ceklekkk
Suara pintu kamar Dia terbuka. Bryan yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan Dila mendengar teriakannya, karena kebetulan Bryan sudah bangun dari tidurnya. Hari yang sudah pagi membuat Bryan yang biasa bangun pagi pun mendengar teriakan Dila.
Dila masih belum menyadari kalau Bryan membuka pintu, dia masig terlihat mengatur nafasnya setelah mimpi buruk tadi.
"Dila lo kenapa?" Tanya Bryan mendekat dan mengusap lembut punggung Dila, untuk menenangkannya.
Dila menarik nafas lalu menghembuskan nnya dengan kasar, "Syukurlah, itu hanya mimpi!" Ucap Dila sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Lo mimpi apaan sih, sampai teriak nama Dira kayak gitu?" Tanya Bryan pada Dila sambil memberikan segelas air putih yang dia ambil dari meja kecil yang ada di dekat ranjang, Bryan masih berusaha menenangkan Dila dengan mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Gue mimpi buruk Bryan!" Jawab Dila setelah meminum segelas air putih yang di berikan oleh Bryan tadi.
"Ya sudah, mendingan lo sekarang mandi terus ke meja makan! Kita sarapan bersama ! Gue tunggu di sana sama yang lain!" Bryan menyuruh supaya Dila membersihkan tubuhnya dan segera sarapan bersama dengan yang lainnya.
Dila menjawabnya dengan anggukan lalu Bryan memutuskan untuk keluar dari kamar Dila, dan berjalan ke arah meja makan.
Saat Bryan sudah keluar dari sana, terlihat Dila yang masih duduk di ranjangnya mengusap kasar wajahnya sambil menghela nafasnya.
"Hufffttt astaga!! Kenapa mimpi buruk gue tadi rasanya nyata banget? Dan kenapa harus Dira?!" Ucap Dila yang masih berusaha menenangkan dirinya lagi dan masih mengingat kejadian di dalam mimpi buruknya tadi.
"Apa mungkin karena gue kembarannya, jadi gue juga mimpiin dia gitu aja? Untung aja cuma mimpi!" Dila menangkup wajahnya sendiri, " Haish, mendingan gue mandi! Gue juga harus nyari tahu soal pemuda itu.
Setelah itu Dila pun memutuskan untuk memberikan dirinya di bawah shower kamar mandi. Lalu bergegas merapikan dirinya untuk ikut sarapan.
"Hay guys, hari ini kita mau ke mana lagi?!" Tanya Dila yang baru datang dari arah kamarnya menuju ke meja makan.
"Iya gue setuju!" Jawab Dila sambil duduk di kursi yang dekat dengan kembarannya.
"Iya, gue juga setuju!" Ucap Victor yang juga tak kalah setuju dengan saran dari Bryan tadi.
"Ya udah, gini aja! Sekarang gue, Victor sama Alisya nyari tempat yang lain aja buat nyari bahan! Sedangkan Dila, Dira sama Axel mendingan kalian kerjain tugas yang kemarin itu!" Ucap Bryan membagi tugas mereka secara berkelompok.
Setelah mereka semua setuju. Mereka segera menghabiskan sarapan mereka dan lanjutkan apa yang sudah mereka rencanakan untuk hari itu.
3 jam kemudian, di Vila terlihat Dira dan Axel masih bergulat dengan labtop mereka masing-masing, sedangkan Dila sudah lebih dulu menyelesaikan apa yang mereka sudah bagi dari 3 orang tadi.
__ADS_1
"Kalau gue di sini terus, gimana caranya gue nyari tahu soal pemuda itu? Gue harus bisa keluar dari vila ini!" Batin Dila sambil menatap 2 saudaranya hang masih bergulat dengan labtop mereka masing-masing. Dila tampak berpikir bagaimana caranya supaya dirinya bisa keluar dari Vila , dia terus mencari ide dan alasan untuk keluar tanpa di curigai oleh saudara-saudaranya, "Nah gue tahu!" Batin Dila yang sudah menemukan sebuah ide.
"Dira, Axel! Gue nyusulin mereka yang lagi nyari tambahan bahan buat makalah ya!" Ucap Dila yang membuat saudara kembarnya Dira menoleh ke arahnya.
"Mau ngapain?!" Tanya Dira dengan tatapan mengintimidasi.
"Gue jenuh banget di sini! Bosen banget tahu nggak! Lagian kan tugas gue yang lo kasih udah gue selesain ini!" Ucap Dila yang mencoba supaya di perbolehkan untuk pergi keluar vila.
"Ya sudah kalau lo mau nyusul mereka! Tapi lo tahu kan jalannya?!" Tanya Axel menyela pembicaraan 2 bersaudara itu.
"Ya tahu lah, paling juga nggak jauh dari yang kemarin! Kalau gitu gue ganti baju dulu deh!" Ucap Dila beranjak dari duduknya, karena merasa mendapat ijin dari Axel.
Dila pun menuju kamarnya dengan memakai celana selutut dam hoddie putih yang melekat pada tubuhnya. Dila berjalan melewati Dira dan Axel yang berada di ruang tamu.
"Lo hati-hati ya, Dil!" Pesan Dira pada saudara kembarnya itu.
"Iya siap!" Dila lalu berjalan keluar dari vila. Kini dia menuju ke rencana yang sudah dia buat untuk mencari pemuda aneh itu.
Tangan Dila dia masukkan ke dalam saku hoddie yang di kenakan, kepalanya dia tutup dengan penutup kepala hoddie. Sambil terus menyusuri jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil saja itu, dia terus mencari keberadaan pemuda itu. Dia juga sebenarnya tidak tahu harus mencarinya ke mana.
"Haish, gue mau cari dia ke mana?!" Tanya Dila pada dirinya sendiri, sambil menyusuri jalanan Desa Loka. Dila memang berbanding terbalik dengan sikap Dira yang sangat penakut. Dila memiliki keberanian dan tak percaya dengan adanya hal-hal mistis. Bisa di katakan dia sama seperti Jaehyun yang tidak percaya, dengan adanya makhluk tak kasat mata.
Dila yang kini sudah memasuki area pemukiman warga yang memang jaraknya dari satu rumah ke rumah yang lain tidak dekat. Tidak seperti di kota yang rumahnya berderet dan hanya di batasi oleh tembok tinggi. di desa Loka itu, jarak dari satu rumah ke rumah yang lain menggunakan tanah kosong untuk menyela rumah mereka, bahkan ada juga lahan yang di tanami berbagai tumbuhan dan ada yang tidak terawat. Memang begitu mencekam sama seperti apa yang di katakan oleh Dira. Namun hal itu di anggap biasa saja oleh saudara kembarnya, Terlihat Dila berjalan sendiri menyusuri Desa itu. Kadang Dila juga mampir ke beberapa rumah untuk bertanya tentang keberadaan pemuda itu.
"Haish, bahkan gue udah tanyain satu-satu rumah warga, tapi kenapa nggak ada yang tahu? Susah banget sih nyarinya?!" Gerutu Dila yang tak kunjung menemuka apa yang dia cari, "Padahal desa ini juga nggak begitu besar, tapi aneh banget sih! Susah nyari tuh pemuda!" Gerutu Dira lagi. Karena capek pada kakinya yang terus berjalan, Dila pun berjongkok di pinggir jalan desa Loka itu.
__ADS_1
Masih di posisi yang sama, tak lama kemudian. Tanpa Dila sadari ada sepeda motor yang lewat dan melaju sangat kencang. Dila yang tak menyadari kalau ada genangan air di depan dia berjongkok pun tak sengaja air itu menyiprat ke arahnya saat sepeda motor itu melintas di depannya.
Swassssstt,,,,