
Beberapa saat kemudian,
Masih di tempat yang sama dengan waktu yang hanya berselang beberapa menit saja, tampak Lukas sedang berada di balkon markas bersama dengan Victor, adiknya.
"Kak, lo yakin mau urus tuh tawanan sendiri? Masak cuma penyusup biasa aja seorang king mafia harus turun tangan?!" Tanya Jeno, karena tak biasanya melihat Lukas yang akan turun tangan sendiri untuk menginterogasi para tawanan sendiri.
Menghela nafas "Gue cuma mau tahu apa tujuan dia!" Jawab Lukas.
"Tapi apa itu penting? Biasanya alasannya cuma satu, yaitu merebut kekuasaan dan gelar king mafia!" Ucap Jeno yang memang sudah terbiasa melihat kejadian pembantaian para manusia yang hendak merebut gelar king mafia milik Lukas.
Lukas menatap Victor sekilas, "Kalo gitu, lo aja yang interogasi mereka! Cari tahu apa sebenarnya yang mereka mau!"
"Oke, baiklah! Dengan senang hati!" Jawab Victor dengan senyum sumringah, memang dia sangat jarang untuk melakukan interogasi terhadap tawanan milik kakaknya itu.
Selang beberapa menit, Victor bergegas menuju ke ruang bawah tanah. Tepatnya tempat para tawanan milik mereka.
Ruang bawah tanah,
Victor langsung masuk ke salah satu sel, di sana sudah ada 2 tawanan. Yang tadinya di tangkap saat menyusup ke dalam markas.
"Lepaskan kami!!!" Mereka berusaha berontak, namun ikatan mereka begitu kuat. Dan sudah di pastikan mereka tak akan bisa keluar dari sana hidup-hidup.
Mata Victor menatap tajam ke arah 2 pria yang umurnya berkisar 30 tahunan itu, "Tenang saja paman, aku anak yang baik! Kalian katakan saja apa tujuan kalian, nanti akan aku lepaskan kalian berdua!" Ucap Jeno dengan santai.
Salah satu diantaranya berdecih, "Cih, bocah ingusan! Apa kamu pikir kita akan percaya kalau kamu akan melepaskan kami?!" Ucapnya dengan nada sedikit mengejek.
"Oh benarkah kalian tidak mau mengatakannya?!" Victor menaikkan satu alisnya.
"Bahkan sampai mati pun kamu tidak akan mengatakan apa tujuan kami!" Ucap salah satu tawanan itu sambil menatap tajam ke arah Victor.
Jeno tampak berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah kalau itu memang mau kalian! Tapi sebelum kalian mati, aku akan bersenang-senang dulu!" Ucap Victor sambil mengeluarkan sebuah pistol yang ada di saku celananya.
2 tawanan itu tampak ketakutan, namun mereka berusaha menutupi rasa takut itu dari Victor.
"Apa kalian takut?!" Tanya Victor remeh.
2 tawanan itu saling bertatapan, Mereka tahu kalau mereka pasti tidak akan selamat. Namun bagaimana pun, mereka akan tetap berusaha terlihat tidak takut pada ancaman yang Victor berikan.
Victor berjalan mendekat ke arah tawanan itu, lalu mengarahkan pistol itu tepat pada kepala salah satu tawanan.
"Benarkah kalian tidak ingin mengatakannya?!" Tawar Victor lagi.
Salah satu tawanan itu mendengus, menatap rekannya yang sudah di todong sebuah pistol, "Anak kurang ajar!! Apa itu yang diajarkan oleh kedua orang tuamu? Menghakimi orang yang lebih tua darimu?! Kau memang anak seorang iblis!!" Katanya membuat Victor semakin menajamkan tatapannya, dia tidak terima kedua orang tuanya di katai seperti itu.
"Mulutmu berbisa sekali paman, aku sudah memberi penawaran terbaik, tapi kau malah mengatai keluargaku!! Dan kau bilang apa tadi? Anak? Siapa yang kau anggap anak itu? Kau tidak pantas mengatai ku sebagai anak!!!" Victor berjalan mendekati tawanan yang berbicara dengan sadis itu, "Aku bisa saja baik pada siapapun, termasuk tawanan ku sendiri!! Tapi aku paling tidak suka ada yang berani mengatai kedua orang tuaku!!!" Lanjut Jeno dengan menekankan kata kedua orang tua.
"Mafioso, potong lidah pria ini!!!!" Perintah Victor yang sudah geram akan ucapan yang keluar dari mulut pria itu tadi.
Mata kedua tawanan itu membulat sempurna, mendengar apa yang sudah di katakan oleh Victor tadi. Mereka sungguh tak percaya kalau itu akan terjadi.
"Baik tuan muda!" Jawab salah satu mafioso dengan tegas. Lalu dengan segera melaksanakan tugasnya tanpa belas kasihan.
Srakkk,,,
Lidah itu berhasil di potong, dengan mulut yang penuh dengan darah. Tampaknya rekannya itu ketakutan melihat nasib temannya.
__ADS_1
"Ku mohon ampuni kami!" Salah satu rekan yang lidahnya masih utuh itu memohon belas kasihan dari Jeno.
"Baru sekarang kau memohon?! Cepat katakan apa tujuan kalian menjadi penyusup? Apa kalian sudah bosan untuk hidup, hah??" Kembali lagi pertanyaan itu di ulang oleh Victor.
"Siapa kau berani menghina kedua orang tuaku!!!" Terdengar suara menggema dari arah pintu sel yang ada di ruang bawah tanah itu.
Ya, orang yang tak lain adalah Lukas. Siapa yang tahu, kalau ternyata sedari tadi dirinya menguping pembicaraan antara adiknya itu dengan kedua tawanan yang baru saja di bawa oleh beberapa mafioso.
2 tawanan itu tampak beringsut mundur mendengar suara dari seorang king mafia. Dan ternyata Lucas sudah mengetahui dalang di balik semua itu.
2 tawanan itu adalah orang suruhan dari mafia ke 5 untuk masuk ke dapur, dengan tujuan menaruh sebuah racun mematikan. Dengan alih-alih king mafia itu memakan dan keracunan dan akhirnya mati mengenaskan. Tapi siapa sangka pergerakan mereka malah ketahuan oleh para mafioso milik Lukas. Yang kebetulan sedang berjaga di area dapur. Mereka tanpa basa-basi langsung membekuk 2 orang suruhan mafia ke 5 itu.
Srakk,,,,
Sretttt,,,,
Kepala merek langsung di penggal oleh Lukas, karena dia sudah sangat geram akan ucapan dari mereka tadi.
Darah berada di mana-mana, ruangan itu penuh dengan darah, bahkan kepala mereka yang tak lagi menyatu dengan badan pun kini jauh terpental. Akibat sabetan samurai milk Lucas.
"Mafioso cepat bereskan ini! Aku tidak mau kalau sampai ada sedikit saja noda darah yang mengotori tempatku!! meskipun itu ruang bawah tanah sekalipun.
Lukas dan Victor pun berjalan beriringan menuju ke ruangan milik Lukas. Dirinya tau kalau menjadi seorang king mafia itu tidaklah mudah, apalagi pasti akan ada banyak musuh yang akan merebutkan gelar itu.
"Jeno, cepat beri tahu peretas kita untuk mencari lokasi mafia ke 5 saat ini!! Perintahkan sedikitnya 50 pasukan, kita serang markas utama mafia ke 5!" Perintah Lucas yang langsung di angguki dan di laksanakan oleh Jeno.
"Dengan senang hati, kak! Tangan gue juga udah gatel banget pengen bertarung lagi!!" Jawab Victor yang setelahnya langsung menjalankan perintah dari kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jauh di sisi lain, tepatnya di Mansion keluarga besar Nathan. Gisella hendak menuju kamar Mark, namun saat dirinya tidak sengaja melewati kamar Dila. Dia tidak sengaja mencium aroma yang yang sangat familiar.
Ceklekk,,
Pintu di buka oleh Gisella dengan perlahan, dan langsung menampilkan Mark yang tengah membaca sebuah buku dengan bersandar pada dipan ranjang.
Mengetahui adanya mama Gisella, dia langsung menutup bukunya dan menyapa mamanya itu tanpa beranjak dari posisinya, "Mama? Ada perlu apa mama ke sini? Apa ada masalah?!" Tanya Mark penasaran dengan tujuan Gisella datang ke kamarnya.
Memang sedari dirinya mengunjungi bioskop pribadi tadi dengan tujuan menemui Dila. Saat itu Dila tampak ketiduran di bahu Mark, lalu tak ada pilihan lain lagi selain menggendong Dila dan membawanya ke kamarnya sendiri.
Gisella berjalan ke arah Mark lalu setelahnya duduk di sisi ranjang anak angkatnya itu, "Memangnya mama harus punya alasan dulu biar bisa datang ke sini buat nemuin kamu?!" Tanya Gisella sambil menaikkan satu alisnya ke atas.
Mark menggeleng, "Tidak ma! Bukan itu maksud Mark!" Jawab Mark tak enak hati.
Gisella tersenyum, "Kamu tenang saja nak, mama ke sini cuma mau bilang ke kamu, kalau besok kamu sudah masuk ke universitas yang sama seperti saudara kamu yang lain!" Ucap Gisella mengingatkan. Tentu saja bahkan tanpa di ingatkan sekali pun, Mark tahu kalau besok dirinya akan mulai memasuki kuliah di tempat yang sama seperti para saudaranya.
"Iya, ma! Mark ingat kok!" Jawab Mark sembari tersenyum ke arah Gisella. Mendapat senyuman dari anaknya itu, Gisella membalas senyuman itu. Lalu perlahan berjalan menuju balkon di kamar Mark.
Netra mata Gisella menatap anak bungsunya yang sedang meminum sebuah teh sambil membaca buku di balkon kamar yang tak jauh dari kamar Mark.
"Hm, anak bungsu mama ini lagi ngapain?!" Ucap Gisella yang membuat Alfian langsung tersentak karena kaget.
"Astaga mama! Ngagetin Alfian aja sih!!" Wajah Alfian tampak sedikit kesal karena mamanya mengejutkannya yang tengah asik membawa buku.
"Kamu lagi baca buku apa sih nak, kenapa sampai fokus banget kayak gitu hm?!" Tanya Gisella dari seberang balkon yang berbeda.
__ADS_1
"Mama kan bisa melihat kalau Alfian lagi fokus baca buku, kenapa malah di ganggu sih?!" Kesal Alfian sambil mengerucutkan bibirnya, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas sendiri.
Mendengar percakapan dari mamanya dan juga adik bungsunya itu, Mark yang penasaran pun memutuskan untuk bangkit dari posisinya dan mendekati mamanya yang ada di balkon kamarnya itu. Mark pun duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya itu.
Mark pun membuka suara, "Ma, ada yang Mark mau omongin sama mama!" Ucap Mark yang membuat pandangan mata Gisella beralih menatap ke arahnya.
"Ada apa sayang?!" Tanya Gisella sambil perlahan duduk di bangku yang ada di dekat Mark.
Mark mengambil nafas lalu menghembuskan nya, "Mark ingin tahu apa yang terjadi pada makhluk tak kasat mata yang terjerat oleh iblis?!" Mark mencoba mengatakan tentang rasa penasarannya itu. Karena dengan bertanya pada Gisella, itu akan menjadi jalan termudah untuknya.
Alfian yang samar-samar mendengar percakapan itu pun, merasa penasaran. Lalu kemudian dirinya bangkit dari duduknya dan memilih untuk mengunjungi kamar kakaknya itu.
Selang beberapa detik saja, bahkan Gisella belum sempat menjawab pertanyaan dari anak sulungnya itu, Alfian sudah lebih dulu datang ke kamar Mark. Bak makhluk tak kasat mata, Alfian seperti langsung berpindah tempat begitu saja. Ya, tentu saja itu karena memang kamar mereka bersebelahan.
Gisella dan Mark terkejut melihatnya, "Loh kok lo udah nyampe sini aja?" Jata Mark.
"Apa anak bungsu mama ini memiliki kekuatan berteleportasi sampai-sampai langsung muncul gitu aja di sini!" Ucap Gisella terkekeh.
"Alfian juga pengen tahu jawaban dari pertanyaan kak Mark tadi ma!" Kata Alfian to the point.
Sejenak, Mark dan Gisella saling bertatapan. Bagaimana Alfian bisa tahu?
Gisella menghela nafas kasar, "Baiklah Mama akan memberi tahu kan nya pada kalian tentang itu! Alfian, duduklah di sini!" Gisella menyuruh anak bungsunya itu untuk duduk di kursi yang masih kosong. Lalu dengan segera Alfian menempatinya.
"Jadi begini, jika kita melakukan perjanjian dengan iblis! Kita yang akan celaka! Meskipun kenyataan di dunia kita bahagia, namun nantinya kita akan tersiksa di alam selanjutnya, karena bagaimana pun iblis itu tidak akan membiarkan tawanannya pergi!" Jelas Gisella sedikit rumit. "Jadi jelasnya gini, jika kita bersekutu dengan iblis, itu artinya jiwa kita sudah sepenuhnya jadi milik iblis itu! Tak ada yang bisa keluar dari jeratan itu, kecuali jika benar-benar ada yang menolongnya!" Jelas Gisella lagi.
"Apa mama bisa memberikan contoh yang paling mendasar?!" Tanya Alfian. Merasa pertanyaannya terwakilkan oleh Alfian, Mark hanya diam menyimak.
Gisella lalu menatap ke arah depan untuk sembari menghela nafasnya "Contohnya, makhluk tak kasat mata yang biasa di sebut sebagai tuyul!! Apa kalian tahu?!" Tanya Gisella di akhir ucapannya.
Mark dan Alfian kompak mengangguk,
"Tuyul itu juga tak lebih dari seorang iblis, hanya bentuknya saja yang kecil! Tapi seringkali manusia memelihara makhluk kecil itu untuk menghasilkan uang!" Menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya, "dan apa kalian tahu apa yang akan dilakukan pemiliknya? Dan kenapa tuyul itu lebih banyak di pelihara oleh wanita? Itu karena dia butuh tempat menyusui!! Dan dengan begitu dia akan menurut, dan membawakan uang hasil curiannya!" Jelas Gisella.
"Dan apa kalian tahu akhir dari manusia yang memeliharanya? Mereka tidak akan pernah mencapai alam selanjutnya, karena jiwa mereka di tahan oleh tuyul itu!" Lanjut Gisella hingga Mark dan Alfian langsung paham.
"Jadi seperti itu?!" Ucap Alfian sambil mengangguk-angguk paham.
"Lalu, kenapa bisa manusia memelihara makhluk seperti itu ma?! Apakah itu turun temurun?!" Tanya Mark yang merasa cerita dari mamanya itu sungguh menarik.
Gisella tersenyum kecil, "Tuyul itu biasanya di beli dari seorang yang mempunyai ilmu hitam!! Jadi gini, misalkan kalian membeli tuyul itu dengan harga 1 juta!! Nantinya kalau tuyul itu beraksi untuk mengambil uang, dia hanya akan bisa mengambil seberapa banyak uang yang kalian keluarkan untuk membelinya!!" Jelas Gisella lagi.
Mark dan Alfian kembali mengangguk tanda bahwa mereka paham akan apa yang di jelaskan oleh Gisella itu.
"Mama tahu dari mana cerita itu?!" Tanya Alfian.
"Dari kakek sama nenek kalian nak!" Kata Gisella sambil tersenyum.
Memang setiap 2 bulan sekali kedua orang tua Gisella akan berkunjung ke mansion itu. Mereka sengaja tidak mau tinggal bersama Gisella karena bisnis mereka kini juga banyak, dan bahkan tidak bisa mereka tinggalkan. Hal itu mengharuskan mereka menetap di luar negeri. Bahkan kerap kali Gisella dan seluruh keluarga besar mengunjungi mereka.
Sebenarnya Gisella telah melarang mereka untuk berkerja, namun mama dari Gisella itu menolak. Karena memang itu yang menjadi kegiatan mereka sehari-hari. Akan ada saatnya nanti ketika cucu mereka menikah dan akan memberinya sebuah cicit, dan itu akan membuat mereka pensiun dari pekerjaan mereka dan menikmati masa tua.
Pernah dulu ketika keluarga besar itu sudah di karuniai anak masing-masing, selama 6 tahun lamanya. Kedua orang tua Gisella menetap di mansion itu. Akan tetapi saat mereka sudah mulai bersekolah, itu membuat kedua orang tua Gisella merasa kesepian. Hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke luar negeri dan lanjut mengelola bisnisnya.
"Kamu tenang saja nak, kita akan kembali ke mansion ini setelah cucu-cucu kami menikah dan memiliki bayi yang mungil! Kita akan tinggal lalu pensiun dari pekerjaan!" Jelas mama dari Gisella yang lebih tepatnya nenek mereka itu.
__ADS_1
"Haish, aku kok malah kangen sama nenek ya!" Kata Alfian yang teringat dengan neneknya.
"Sabar ya nak, bentar lagi pasti nenek akan berkunjung lagi!" Kata Gisella sembari mengusap lembut rambut Alfian, anaknya.