
"Kalau begitu kita harus segera kembali dari astral projection!" Ucap Gisella. Yang setelahnya langsung bersama dengan Mark untuk kembali dari astral projection.
Mereka pun kembali dari astral projection. Bersamaan dengan itu Alfian ternyata juga sudah sampai di vila yang di tinggali oleh kakak-kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dunia nyata, tepatnya di kamar Dira. Alfian masuk bersama dengan Alex, sontak membuat Chan terkejut dengan kehadiran anak bungsunya itu.
"Alex, kenapa kau bawa Alfianke sini?!" Tanya Chan saat melihat Alfian datang bersama dengan Alex.
"Pa, ini kemauan Alfian sendiri! Jangan marahi Papi Alex! Aku hanya ingin memberi tahu Mama tentang kak Dira!" Kata Alfian menjelaskan tujuannya untuk datang ke sana.
Gisella yang sudah kembali dari astral projection pun membuka matanya dan menatap anak bungsunya yang kini ada di sana. Belum sempat Chan menjawab ucapan Alfian tadi, Gisella sudah lebih dulu berkata.
"Alfian!" Ucap Gisella.
"Mama,!" Kata Alfian, dan Gisella langsung berdiri dari duduknya untuk mendekat ke arah Alfian.
"Ada apa nak? Kenapa kau datang ke sini?!" Tanya Gisella pada Alfian, putra bungsunya.
"Ma, aku bermimpi tentang kak Dira!" Kata Alfian, yang setelahnya menoleh ke arah semua orang yang ada di sana. Dirinya takut kalau harus menceritakan ini di depan semua orang yang ada di kamar Dira.
"Tidak apa-apa, katakan saja nak! Mereka semua juga sama seperti kamu!" Pinta Gisella sembari melihat wajah Alfian yang tampak panik. Gisella juga memberi tahu kalau mereka yang ada di kamar itu juga memiliki kemampuan, bisa melihat makhluk tak kasat mata.
__ADS_1
"Benarkah?!" Ucap Alfian.
"Iya, katakan saja!" Pinta Mark buka suara.
"Aku bermimpi kalau kak Dira mengeluarkan banyak darah di tubuhnya, Ma! Dia meminta tolong pada Alfian!" Ucap Alfian memberi tahu pada mereka tentang apa yang dia mimpikan.
Gisella yang mendengarnya, sontak langsung bertambah khawatir. Perasaan buruk selalu menghantui pikirannya. Dira yang tak kunjung dia temukan membuatnya sampai frustasi.
"Cepat segera cari pintu rahasia di kamar ini!!!" Gisella tidak berpikir panjang lagi, karena memang di alam bawah sadar tadi, dirinya melihat pintu merah itu ada di kamar Dira. Yang artinya kalau di dunia nyata pintu itu juga pasti ada di kamar Dira. Tapi entah terletak di mana pintu itu, mereka juga tidak pernah berpikir kalau ada sebuah pintu rahasia di kamar Dira. Namun Gisella sangat yakin kalau di kamar Dira ada pintu rahasia, yang bisa mengungkap tentang keberadaan Dira saat ini.
Mereka semua sempat bingung dengan apa yang di katakan oleh Gisella. Mereka berpikir, mana mungkin ada sebuah pintu rahasia di kamar itu. Karena semua yang ada di kamar Dira memang tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Gisella berhasil meyakinkan mereka semua, lalu mereka langsung mencari apa yang di pinta oleh Gisella. Yaitu untuk mencari pintu rahasia yang ada di kamar Dira. Semua orang tampak sibuk mencari, sampai Gisella yang akhirnya membuka lemari pakaian. Di lemari itu ada banyak baru Dira yang di gantung rapi. Akan tetapi betapa terkejutnya dia saat melihat kalung berisi air suci pemberian Gisella untuk Dira, terjatuh di sisi dalam lemari itu. Gisella semakin yakin kalau memang anaknya menghilang karena ulah manusia. Dia mengambil kalung itu.
"Kalung Dira? Apa memang benar firasatku mengatakan kalau pintu rahasia itu ada di balik lemari kayu ini!" Batin Gisella.
"Sayang, ada apa?!" Tanya Chan sembari mendekati Gisella.
"Chan, cepat dorong lemari ini! Aku yakin pintu rahasia itu ada di balik lemari kayu ini!" Perintah Gisella pada Chan, suaminya.
Tanpa pikir panjang lagi, Chan yang di dekatnya ada Alex juga langsung mencoba mendorong lemari kayu yang ukurannya juga lumayan besar. Dengan sekali dorong, lemari itu langsung bergeser. Betapa terkejutnya mereka saat melihat apa yanga ada di balik pintu kamar itu. Benar saja, terdapat sebuah pintu kecil seukuran sedang yang ada di balik lemari itu. Dan ternyata yang lebih mengejutkan lagi, bagian dalam lemari tadi bisa di geser. Itu karena tadi Mark sempat mencobanya ketika lemari sudah berhasil di geser oleh Alex dan juga Chan.
Mereka tertegun melihat pintu itu. Perasaan mereka mulai campur aduk. Bagaimana bisa ada sebuah pintu rahasia di kamar Dira. Apa mungkin itu semua memang sudah di rencanakan oleh seseorang?
__ADS_1
Chan mencoba membuka pintu itu, dan ternyata memang sangat mudah membuka pintu itu.
Ceklek
Setelah pintu berhasil di buka, ada sebuah lorong yang mungkin sangat panjang nan gelap, lorong itu juga menyeramkan. Kegelapan menyelimuti lorong itu.
"Berikan aku senter!" Pinta Chan, Mela yang sempat melihat senter di meja rias Dira pun langsung mengambilnya dan memberikannya pada Chan.
Chan sengaja menyorot lorong itu dari luar, mencoba mencari tahu apakah lorong itu panjang atau memang hanya gelap saja. Namun ternyata, kebenarannya lorong itu sangat panjang.
"Cepat ambil beberapa senter dan suruh beberapa mafioso untuk datang ke sini!" Pinta Chan yang di angguki oleh Alex. Lalu Alex segera memberi tahu semua orang, dan juga beberapa mafioso. Tak lupa dia juga menyediakan beberapa senter untuk menerangi jalan mereka. Saat akan menelusuri lorong itu.
Setelah itu, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam lorong itu. Untuk mencari tahu di mana ujung dari lorong itu sebenarnya.
Bayu dan juga Mark yang memimpin jalan mereka kali ini. Dengan berbekal senter yang di berikan oleh Chan tadi, mereka perlahan memasuki lorong itu dan mencari tahu, dengan yang lainnya yang terus mengekor di belakang. Tak terlalu besar ukuran dari lorong itu. Cukup gelap, pengap dan aroma anyir tercium di mana-mana. Semakin dalam dan jauh mereka mencari ujungnya, maka semakin terasa pula aura mistisnya. Namun mereka tak terlalu memikirkan itu. Karena mencium aroma itu, sudah kerap kali di rasakan sebagai pemilik indra keenam yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.
Gisella juga merasakan banyak aura mistis di lorong itu. Namun dia mencoba menenangkan semua yang ada di lorong itu untuk terus melanjutkan jalan mereka.
"Jalan saja, tidak akan ada yang berani menggangu langkah kita di lorong ini!" Ucap Gisella dengan percaya diri.
Benar saja, tak berapa lama kemudian. Mereka telah sampai di ujung lorong. Ada sebuah pintu yang tertutup. Tentu saja menghubung ke lorong itu tadi. Yang di yakini adalah ujung dari lorong panjang nan gelap tadi.
Chan yang sudah tak tahan lagi akhirnya langsung mendobrak pintu itu. Karena sepertinya di kunci dari luar lorong.
__ADS_1
Gubrakk,,,,
Terdengar suara dentuman pintu yang sangat keras. Pintu itu langsung saja terbuka dengan sekali hentakan kaki Chan yang mendobraknya.