
Dila tampak menarik nafas lalu membuangnya perlahan, "Gue sama Axel adalah orang yang paling merasa kehilangan atas meninggalnya Dira, kak!! Ya, meskipun yang lainnya juga merasa kehilangan, Dira bahkan lebih dekat dengan Axel lebih dari gue yang saudara kembarnya sendiri!!" Ucap Dila uang mengingat kalau dirinya memang tidak sedekat seperti Axel dengan Dira.
"Sudah, jangan di teruskan lagi?! Nggak baik kalau terlalu berlarut-larut dalam kesedihan lagi!!" Kata Mark sambil mengusap lembut pundak Dila.
Setelah itu Mark dan Dila saling bercerita satu sama lain. Dan mencoba lebih dekat lagi.
Di sisi lain, karena Dila tak kunjung kembali pada Axel. Dirinya melihat Dila yang sedang bersenda gurau bersama dengan Mark. Axel pun memutuskan untuk membeli 1 es krim untuk Dila.
Axel pun berjalan ke arah Mark dan juga Dila.
"Dila, nih gue bawain es krim buat lo!" Ucap Axel sembari menyodorkan es krim pada Dila.
"Wah, makasih ya Axel!" Ucap Dila dengan mata berbinar menatap es krim yang di belikan oleh Axel tadi, "Mark, lo mau?!" Dila menawarkan pada Mark, padahal dia sendiri sangat mau pada es krim itu. Namun Mark ternyata menjawabnya dengan gelengan, pertanda bahwa dia tidak mau es krim itu.
"Oh iya, Axel! Nanti habis pulang dari Jepang kita ke makam Dira ya!" Dila mengajak Axel untuk mengunjungi makam Dira. Axel hanya menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum kecil mengingat Dira.
"Jangan dingin-dingin kenapa sih Axel?!" Mark mencoba menegur Axel yang memang sikapnya akhir-akhir ini sering dingin bahkan pada keluarganya sendiri. Mendengar itu Axel hanya menatap Mark sekilas lalu mengalihkan pandangannya. Mark yang melihat itu hanya bisa menghela nafas pasrah dengan kecuekan dari Axel.
Di sisi lain para orang tua sedang berada di bawah pohon yang rindang. Di sanalah Byun dan juga Sindy menatap ke arah Axel ,Dila dan Mark yang sedang duduk di kursi taman. Byun dan Sindy saat itu memang sedikit jauh dari para orang tua lainnya.
__ADS_1
"Haish, tuh anak kenapa kayak gitu sih, Ma?!" Tanya Byun pada Sindy yang melihat sikap Mark yang cuek.
"Itu karena dia merasa sangat kehilangan sosok Dira di hidupnya, Pa!" Jawab Sindy yang memang tahu kalau Axel merasa terpukul akan kematian Dira yang begitu tiba-tiba dan bahkan dengan kondisi yang mengenaskan.
"Ya tapi kan nggak harus dingin-dingin kayak gitu, Ma! Kasihan semua saudaranya yang nggak tahu apa-apa malah di cuekin!!" Byun menghela nafasnya miris mengingat Axel yang sering dingin pada semua orang akhir-akhir ini.
"Ya habisnya mau gimana lagi, pa! Hati juga nggak bisa di paksain buat senang! Walaupun kita baru pindah bersama semua sahabat kamu, tapi kedekatan Dira sama Axel itu udah kayak lem yang nggak bisa di lepasin!! Lagi pula nanti kalau Axel udah dapat pengganti untuk mengisi hatinya, paling Axel bisa senang lagi!" Jelas Sindy panjang lebar pada suaminya.
"Apa kita harus jodohin aja si Axel?!" Saran Byun yang mulai tak masuk akal di pikiran Sindy.
"Apa? Papa mau jodohin Axel? Itu sama aja paksaan, Pa! Mama juga yakin 100 persen Axel pasti menolak!" Sindy tampak membela anaknya kalau sampai Axel di jodohkan.
"Papa tahu nggak kalau kedekatan Dira sama Axel itu kayak apa? Mama aja sampai salut sama kedekatan mereka!" Terukir senyum di sudut bibir Sindy mengingat kedekatan anaknya dengan salah satu anak kembar dari Gisella.
Sindy menoleh ke arah Byun lalu berkata, "Papa nggak tahu ya kalau anak kita itu sering banget tidur bareng sama Dila!"
Mata Axel langsung terbelalak mendengar ucapan dari istrinya, "Apa? Jadi selama ini Axel udah nggak suci lagi?!" Lirih Byun supaya tidak di dengar oleh yang lainnya.
"Ish, papa kenapa mikirnya kayak gitu sih? Mereka tuh nggak ngelakuin hal yang macem-macem kok! Palingan juga mentok-mentok tidur satu ranjang! Itu pun jarang banget, soalnya si Dira kalau minta tidur sama Axel!! Si Axel nya juga ngalah tidur di sofa kamar!" Jelas Sindy panjang lebar supaya suaminya itu tidak salah faham dengan apa yang sudah anaknya lakukan.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?!" Byun tampak sedikit curiga pada istrinya itu, "Kenapa mereka di biarin tidur bersama? Bukannya kalau saling suka itu, pasti ada bisikan setan supaya ngelakuin hal di luar kendali mereka!" Lanjut Byun dengan rasa penasarannya.
"Gimana mau tergoda sama setan? Orang di mansion aja nggak pernah ada setan, apalagi semua udah pakai kalung yang di kasih sama Gisella, semua setan nggak berani mendekat!" Sindy malah ngajakin muter-muter bikin Byun merasa gemas dengan percakapannya dengan istri kesayangannya itu.
"Ya nggak gitu juga kali, Sin!" Byun dengan wajah malasnya menatap istrinya sambil manyun. Membuat Sindy tersenyum menatap suaminya.
"Papa pokoknya harus percaya sama anak sendiri, nggak mungkin juga Axel berbuat hal yang tidak bermoral, lagi pula mama sendiri yang akan jadi jaminan!! Toh mama udah lihat sendiri secara langsung!" Jelas Sindy yang memang pernah dua kali melihat Dira dan Axel tidur dalam satu ranjang, namun pada akhirnya Axel memilih tidur di sofa.
Saat itu kebetulan Sindy ingin mematikan lampu kamar Axel yang masih tampak menyala. Sindy pikir Axel masih terbangun dan sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. Tapi saat Sindy membuka pintu kamarnya, Sindy sempat kaget melihat Axel yang tidur satu ranjang dengan Dira, dengan sekat guling di tengahnya. Sindy mengurungkan niatnya untuk mematikan lampu kamar Axel yang masih menyala, karena Sindy tahu, kalau Dira takut akan kegelapan. Sampai akhirnya Axel bangun dan berpindah tempat pada sofa yang ada di kamarnya. Axel tak melakukan apapun, hanya menyelimuti Dira dan langsung berpindah tempat setelah mengusap lembut rambut Dira.
Sindy yang melihat itu sebenarnya ada rasa takut kalau sampai nantinya anaknya melakukan hal di luar kendali. Namun dia berhasil menyingkirkan rasa takut itu setelah melihat Axel yang berpindah tempat tidur di sofa.
"Hey, kalian lagi ngomongin Dira ya!" Tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan mereka berdua yang sedang bercerita tentang Axel dan Dira. Ya, dia yang menganggu itu adalah Gisella. Gisella yang sedari tadi ternyata sudah menguping obrolan keduanya pun, langsung menyapa mereka.
"Gisella!" Jawab Byun dan Sindy kompak yang melihat kedatangan Gisella yang tiba-tiba.
"Wih kompak banget sih kalian! Oh iya, udahlah nggak usah bahas Dira lagi dia udah tenang di sana! Jadi jangan bikin dia sedih lagi!" Ucap Gisella memberi tahu.
"Hey, di mana-mana tuh ya, kalau di gibahin dosanya malah berkurang, Sel!" Byun tak mau kalah dengan ucapan Gisella tadi.
__ADS_1
"Haish,!" Sindy yang geram mencubit perut suaminya.
"Aw, sakit sayang!" Rengek Byun ketika perutnya di cubit manja oleh istrinya.