
"Mas, mereka-" ucap Ana terpotong.
"Katakan! Apa kalian memiliki bukti?!" Ucap Bram yang membuat Ana tak menyangka kalau dia justru akan percaya dan meminta bukti.
"Mas apa yang kamu katakan?!" Tanya Ana heran.
"Diam lah Ana! Kalau memang kau tidak bersalah, maka mereka tak akan bisa membuktikan apapun!" Ucap Bram menenangkan istrinya.
Ana langsung terdiam karena ucapan dari suaminya itu.
"Katakan apa yang kamu tahu tentang Klara?!" Tanya Bram penasaran. Sebenarnya dia juga tidak ingin menanyakan itu, namun hatinya tak bisa berbohong. Bram masih tak percaya istri pertamanya itu meninggalkannya dengan cara sadis seperti itu. Dengan berselingkuh dan kabur entah kemana.
Selama ini Bram diam dan memilih untuk tak mencari keberadaan Klara itu karena Ana selalu membujuknya dan mempengaruhi dirinya supaya semakin membenci Klara. Akan tetapi sebenarnya dalam hati kecil Bram mengatakan kalau sebenarnya Klara tidak mengkhianatinya. Semua kejadian itu terlihat janggal di mata Bram.
"Mas, kamu ini kenapa sih? Apa kamu akan percaya pada bualan mereka itu? Mereka itu masih kecil, bahkan kejadian yang di alami Klara itu sudah lama! Mungkin mereka juga belum lahir!! Tapi kenapa kamu percaya sama mereka?!" Ucap Ana yang geram akan sikap suaminya itu.
"Ana aku tidak percaya, tapi apa salahnya kalau aku hanya memastikan saja?!" Bram mencoba meyakinkan Ana mengenai hal itu. Dan ana yang mendengarnya hanya mendengus.
"Dia ada di sini! Apa anda tidak melihat patung manekin ini? Apa anda tidak mengenali istri anda sendiri tuan Bram?!" Ucap Mark menyuruh Bram untuk mengamati lebih detail mengenai manekin itu. Bram sebenarnya juga tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Mark. Akan tetapi rasa penasarannya yang membuatnya ingin tahu akan hal itu.
Perlahan Bram berjalan menuju pada manekin itu. Saat hendak menyentuhnya, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Ana.
"Jangan berani menyentuh manekin aku!!! Kalau kau berani, aku tak akan segan-segan pergi dari hidupmu dan membawa Windy bersama denganku!!!" Ancam Ana pada Bram. Dan ternyata itu adalah cara Ana untuk membuat Bram senantiasa tunduk padanya. Itu karena memang dirinya tak ingin kehilangan orang yang dia sayangi lagi. Semenjak 20 tahun yang lalu hidup Bram berubah, dia seperti tidak hidup pada dirinya sendiri. Itu karena dia hanya di jadikan budak n*fsu oleh Ana. Yang ternyata mengalami hyper ***.
Bram terdiam seketika saat mendengar ancaman yang di berikan oleh Ana tadi. Dia langsung mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tantang keberadaan Klara.
Bram menghela nafas, "Maafkan aku, aku janji nggak akan melakukan ini lagi, ayo kita pergi!" Ajak Bram. Di wajah Ana terukir sebuah senyuman kemenangan, karena berhasil menaklukkan Bram hanya dengan mengancamnya seperti itu tadi.
Mark, Alfin dan Lucas hanya diam. Mereka tentu tak bisa melakukan apapun lagi. Kalau mereka memaksa Bram untuk mencari tahu tentang Klara. Bukankah itu nantinya akan berakibat pada Windy? Dirinya pasti akan terpisah jauh dari anak gadisnya itu. Tentu saja Bram tak mau, karena saat ini hanya Windy yang dia punya. Bahkan kehadiran Ana sama sekali tak berpengaruh kalau bukan karena ancaman itu.
Bram lalu menggandeng tangan Ana dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan khusus itu. Tapi sebelum itu dia sempat berpamitan secara hormat dengan ketiga anak itu.
Akan tetapi langkah mereka terhenti ketika hendak menuju ambang pintu. Ternyata anak mereka telah berdiri di ambang pintu. Ya, dia adalah Windy. Entah dari kapan dia ada di sana, namun itu cukup membuat semuanya terkejut.
"Windy, kenapa kamu ada di sini nak?!" Tanya Bram yang melihat anaknya itu berdiri di ambang pintu.
Windy menatap mereka dengan tatapan tajam. Padahal sebelumnya Windy tak pernah terlihat seperti itu, apalagi di depan orang tuanya.
Mark dan saudaranya yang ada di ruangan itu membelalakkan matanya melihat itu, "Nyonya Klara?!" Ucap Mark yang membuat Semua menoleh ke arahnya.
"Apa kau bilang? Kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan Klara? Dia itu putriku, Windy! Bukan Klara!!" Ucap Bram yang mulai kesal, karena merasa di permainkan oleh anak-anak itu.
Yang ternyata benar, Klara telah merasuki Windy. Sebenarnya Mark tak tahu kenapa bisa Klara masuk ke dalam tubuh gadis itu. Tapi dia mulai menyadari sesuatu saat melihat dengan dimensi lain.
Flashback on,,
Di kediaman tuan Bram dan Ana. Karena hari itu kampus sedang libur, Windy tampak berdiri di atas rooftop mansion. Dia termenung menatap ke satu arah. Namun kalian tentu tahu kalau di belakang Windy itu ada Ana yang selalu mengikutinya. Ana yang tak bisa berbuat apapun, hanya menatap dengan sendu di belakang Windy. Sebenarnya dia selalu menatap tajam ke arah Windy, tapi entah kenapa hari itu seakan wajah Ana berubah menjadi sendu.
"Setiap aku melihat kamu, aku merasa anakku pasti juga sudah sebesar dirimu! Itu jika dia masih hidup!! Tapi hidupmu lebih beruntung, kau bisa melihat dunia hingga kurang lebih 20 tahun! Aku sangat merindukan anakku! Andai saja aku bisa melihatnya dan pergi bersama dnegan tenang! Aku tak akan pernah mengikuti kamu nak!" Ucap Klara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hari ini, anak-anak itu akan mencoba membongkar kedok iblis itu!! Aku berharap papamu akan percaya dan aku bisa di kuburkan dengan layak!" Ucap Klara lagi yang sangat menginginkan pergi dari dunia ini dan berkumpul bersama dengan anaknya.
Tentu saja dia berbicara sendiri, dia sendiri tak pernah merasa sesedih saat ini. Biasanya dia akan mengatakan kalimat-kalimat ancaman untuk Windy. Namun kali ini dia hanya mengatakan betapa malang nasibnya.
Klara menunduk, dan tak terasa air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Windy berbalik, "Kalau begitu, lakukan! Dan katakan apa yang bisa aku bantu?!" Ucap Windy.
Deg,,,,,
Klara terkejut setengah mati mendengar ucapan dari Windy tadi. Dia tak percaya kalau Windy bisa melihat dirinya.
"Ap-apa kau bisa melihatku?!" Tanya Klara memastikan. Dan Klara hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Jadi selama ini kau hanya berpura-pura tidak melihatku saja? Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?!" Tanya Klara lagi.
"Untuk apa aku melakukannya, kau bahkan selalu mengancam ku dengan ancaman-ancaman yang tak dapat di lakukan olehmu! Aku diam karena aku ingin tahu apa masalahmu dengan keluarga mu! Tapi sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku merasa iba padamu, tante!" Windy memanggil Klara dengan sebutan tante. Sontak saja hati Klara bergetar, dia tak menyangka anak yang selama ini dia ikuti dan takut-takuti dengan berkedok sebuah dendam di masalalu. Ternyata itu semua salah di sisi Klara, bahkan Windy sama sekali tak membencinya, Windy justru malah ingin menolongnya.
"Maafkan tante karena sudah melakukan ini padamu! Tante di buta kan oleh dendam di masalalu, tante bahkan tak akan pernah memaafkan mama kamu! Dia yang sudah membuat tante jadi seperti ini nak!" Ucap Klara masih dengan wajah sendunya.
Windy masih menatap iba pada Klara, "Iya tante benar! Mama memang orang yang paling bersalah dalam hal ini! Aku harap tante bisa menyelesaikan masalah tante!" Ucap Windy penuh harap membuat Klara senang namun juga merasa sedih.
"Tapi-" ucap Klara terpotong.
Windy menghela nafasnya, "Tante tenang saja, Windy akan bantu tante untuk menyelesaikan urusan dunia tante!" Ucap Windy yang dengan suka rela menawarkan sebuah bantuan. Seketika senyum dari wajah Klara terukir, dia kemudian berpikir bagaimana caranya dia akan melakukan semua itu?.
Klara menarik nafas dalam "Tapi bagaimana caranya tante melakukannya? Tante bahkan tidak pernah berpikir sampai sana nak!" Ucap Klara sembari berpikir dengan keras.
"Aku akan dengan senang hati meminjamkan tubuhku untuk kau pakai tante! Tapi dengan satu syarat! Kau tidak boleh melukai orang termasuk kedua orang tuaku! Karena bagaimana pun aku sangat menyayangi mereka, dan juga ini tubuhku dan bukan tubuhmu tante, aku tidak ingin di cap sebagai penganiaya orang!" Ujar Windy sembari mengingatkan apa yang harus di lakukan dan menjadi syarat untuk meminjam tubuhnya.
Klara mengangguk, dia sangat senang mendapatkan bantuan setelah lebih dari 20 tahun dia berada di alam dunia dan bergentayangan. Dia ingin segera bisa melanjutkan ke tempat dirinya seharusnya berada.
Sampai akhirnya Klara dan Windy menuju ke museum manekin milik mamanya, tanpa memberi tahu mama dan papanya kalau dia akan ke sana.
Sesampainya di parkiran, terlihat Windy mempersilahkan tante Klara untuk merasuki raganya. Setelah itu dia berjalan menuju ke tempat mama dan papanya berada. Saat hendak masuk, Alfian sempat melihat adanya wanita yang dirasuki oleh makhluk tak kasat mata. Dia sebenarnya ingin menghentikannya, namun niat itu dia urungkan setelah Windy yang di rasuki oleh tante Klara itu tersenyum ke arah Alfian.
Alfian yang memang tidak ikut masuk karena usianya, dia bersama dengan Jeno menunggu di luar ruangan khusus itu.
"Dia memang Windy, tapi tubuhnya di rasuki oleh arwah nyonya Klara!" Mark memberi tahukan itu pada semua yang ada di ruang khusus itu.
Ana mendengus mendengarnya, "Apa kau sedang membual nak, siapa yang akan percaya pada omong kosong kamu itu?! Windy kemari lah nak!" Ucap Ana yang setelahnya menyuruh Windy untuk mendekat ke arahnya.
Windy lalu berjalan menuju papa dan mamanya berada. Akan tetapi Windy yang seharusnya mendekat ke arah mamanya. Kini dia malah berhadapan dengan papanya, mata mereka saling bertemu, mata yang penuh dengan cinta dan juga kebencian atas penghianatan yang di lakukan oleh Bram. Mata yang tak lain adalah milik Klara.
Mata Bram membulat menyadari kalau itu adalah tatapan yang sama saat Klara dulu menatapnya, "Mas Bram!" Ucap Windy, yang tak lain yang sedang di rasuki oleh Klara, istri pertama Bram.
"Kla-Klara!" Ucap Bram terbata. Ana yang mendengar suaminya itu menyebut nama Klara malah kesal di buatnya.
Ana kesal dan berkata, "Mas kamu kenapa sih? Dia itu Windy, anak kita!! Bukan wanita j*l*ng itu!!" Ucap Ana dengan nada sedikit meninggi karena kesal.
Windy menatap mamanya itu dengan tajam, tatapan yang sebelumnya belum pernah ia tujukan pada mamanya itu. Seketika Ana terdiam, melihat anaknya menatap tajam ke arah dirinya.
"Windy, apa-apaan kamu ini?! Sudah berani menatap mama seperti ini? Kamu mau jadi anak durhaka hah?!" Ana malah kesal pada anaknya itu karena sudah berani memberikan tatapan mata tajam pada dirinya.
Windy yang berkedok Klara itu tak menggubris nya, dia kembali menatap ke arah Bram, "Iya mas ,ini aku! Aku telah tiada lagi di dunia ini! Dan aku kecewa sama kamu mas, kau tega mengkhianati cinta kita! Kau memiliki wanita lain di belakangku!! Tapi kau malah berpikir aku yang menduakan kamu?!" Ucap Klara yang masih mengontrol emosinya di depan Bram.
"Jadi kamu sudah? Maafkan aku yang telah mengkhianati cinta kita! Tapi apa maksud kamu? Bukankah kau juga melakukannya dengan pria lain?!" Tanya Bram dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kejadian di masalalu.
"Kau salah mas, aku di jebak! Aku di culik oleh seorang yang berhati iblis!! Dia menyiksaku dan aku kehilangan anak kita!" Ucapnya lagi.
Deg,,,,,
__ADS_1
Bram terdiam mendengar ucapan dari Klara, apa yang dia maksud anak? Bukankah Klara tidak pernah hamil? Tapi kenapa bisa dia mengatakan kalau dia itu memiliki anak?!
"Apa yang kamu maksud Klara? Anak siapa yang kamu maksud?!" Tanya Bram memastikan.
Windy yang berkedok Klara itu menitihkan air matanya mengingat kejadian saat dirinya di siksa dan kehilangan calon anak yang sedang dia kandung, "Saat itu aku mengandung anakmu mas! Aku ingin memberi tahu kamu mengenai kehamilan kita!" Ucap Klara dengan sendu.
"Jadi kamu-?" Terpotong.
"Berhentilah berbicara omong kosong! Windy, mama akan sangat marah padamu karena sudah lancang mengatakan hal yang tak pantas untuk di katakan?!" Ucap Ana mengancam Windy, namun itu sia-sia karena memang yang di hadapannya saat ini bukanlah Windy, melainkan Klara.
"Ana diam!!! Biarkan dia berbicara! Sudah cukup aku terlalu patuh terhadap wanita seperti dirimu! Ijinkan aku mendengarkan penjelasan dia!!" Ucap Bram memperingatkan pada Ana. Seketika Ana diam dan memalingkan wajahnya. Tentu saja dia takut kalau kedoknya terbongkar, bahkan oleh anaknya sendiri.
"Katakan!" Pinta Bram yang air matanya sudah mulai mengalir, dia tidak menyangka kalau Klara telah meninggal dan bahkan dia mendapatkan kenyataan pahit ini. Kehilangan Klara sekaligus calon anaknya. Dia memang bukan suami yang setia. Dan malah berpikir bahwa Klara lah yang telah mengkhianatinya.
"Aku meninggal 20 tahun yang lalu, di tangan seorang wanita yang kini hidup berdampingan denganmu! Dia yang sudah tega menyiksa sehingga aku meregang nyawa dengan anakku!! Bahkan dia menjadikan tubuhku menjadi sebuah manekin!!!!" Klara meninggikan suaranya.
Plakkk,,,,,
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Windy, Windy sampai terjatuh. Begitu juga dengan Klara yang langsung keluar dari tubuh Windy karena tamparan keras itu.
Windy memegang pipinya yang memerah karena tamparan keras dari mamanya.
"Dasar anak tidak tahu diri!!! Ada apa dengan kau ini hah?!" Kesal Ana pada anaknya itu, dia memarahi Windy karena sudah mengungkapkan kematian Klara.
Semua yang ada di ruangan itu juga terkejut, apalagi Bram yang melihat anaknya tersungkur karena tamparan itu. Dia langsung mengangkat tubuh Windy yang sedari tadi sudah menangis sembari memegang pipinya.
"Windy sayang, kamu baik-baik saja kan?!" Tanya Bram pada anaknya itu. Windy hanya menjawabnya dengan anggukan sembari memeluk papanya, karena takut pada mamanya.
"Ana , apa-apaan kau ini? Dia anakmu!! Kenapa kau menamparnya?!" Tanya Bram yang sebenarnya tak terima anaknya mendapat perlakuan seperti itu dari Ana.
"Apa kau bilang? Bukankah kau menyebut nya dengan sebutan nama j*l*ng itu?!" Ucap ana kesal.
"Ana cukup!!! Kalau kau tidak bersalah seharusnya kau tidak seperti ini!!!!" Kata Bram yang mulai tersulut emosi dengan ucapan dari Ana.
Ana berdecih, sembari menatap ke arah manekin itu dirinya menunjuk ke arah manekin itu, "Dia memang pantas untuk mati!!" Ucap Ana sembari tersenyum sinis.
Plakkkkk,,,,
Sebuah tamparan kasar terdengar menggema di dalam ruangan khusus itu. Pipi kiri Ana di tampar oleh Windy yang telah di rasuki oleh Klara kembali.
"Akhh!!" Rintih Ana sembari memegang pipinya yang sakit akibat tamparan keras itu.
Semuanya tentu saja terkejut melihat itu.
"Tamparan ini tidak sebanding dengan sakitnya kehilangan anak sekaligus suamiku!!!!" Teriak Windy yang tak lain adalah Klara.
"Beraninya kau anak bodoh!!!!" Umpat Ana. Dirinya langsung mengeluarkan pistol untuk menembak anaknya. Di mata Ana dia bukanlah anaknya melainkan Klara.
Dorrrrr,,,
Suara tembakan terdengar menggema di ruangan khusus itu. Mereka semua terkejut melihat Bram yang malah terkena tembakan itu karena melindungi anaknya.
Ana menjatuhkan pistolnya, kesempatan itu di gunakan oleh Lucas untuk menodongkan pistolnya sendiri pada Ana.
"Tidak!! Papa!!" Teriak Windy yang melihat papanya itu sekarat karena tembakan itu. Karena Klara langsung di keluarkan paksa oleh Windy.
__ADS_1
Ana terdiam melihatnya, dia sangat menyesal sudah melakukan itu pada suami yang selama ini menjadi obsesinya. Dia ingin mendekat, tapi pikirannya seketika langsung teringat kalau dia tidak ingin di tangkap polisi.
Ana melarikan diri, dan langsung di kejar oleh Lucas diikuti oleh Alfian dan Victor yang tadi berada si luar ruang khusus. Lucas bisa saja menembaknya, tapi dia tidak ingin melakukan itu, karena bagaimana pun nama Ana itu sudah pernah menjadi sorotan publik karena manekin yang dia buat. Lucas juga tak ingin mengotori namanya hanya karena menembak seorang wanita seperti Ana.