
Di sisi lain, di alam nyata. Dila seperti menyadari sesuatu yang membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Kini Dila berada di dekat Alfin, bersama yang lain di ruang tamu. Sedangkan yang ikut ke dalam kamar Dira hanya ada Byun dan juga Sindy untuk menjaga mereka yang sedang melakukan astral projection.
"Tunggu!" Ucap Dila yang membuat semua mata menatap ke arahnya.
"Ada apa Dil?" Tanya Alfin pada adiknya.
"Kenapa pembantu di sini dari tadi pagi tidak ada? Apa jangan-jangan mereka yang membawa Dira pergi?!" Ucap Dila yang yakin, namun sedikit keraguan juga ada. Karena bi Tina dan bi Sara sempat membuatkan sarapan. Meski wajah mereka tak terlihat. Namun sarapan sudah di sediakan.
"Apa kamu yakin, Dil?!" Tanya Lucas memastikan.
"Aku yakin kak, ini sangat aneh! Kalau memang mereka bukan pelaku! Seharusnya mereka ada di sini sampai saat ini!" Kata Dila meyakinkan semuanya yang ada di sana.
Dila langsung berlari menuju ke dapur dan bahkan segala penjuru vila. Namun tak menemukan 2 pembantunya.
"Nak jangan lari!" Kata Nathan memperingatkan, karena melihat Dila berlari-lari mengitari Vila untuk mencari keberadaan Dira.
"Ayah, pembantu kita nggak ada di sini! Apa jangan-jangan memang benar mereka membawa Dira!" Kata Dila yang hampir menangis.
"Itu bisa jadi, Dil!" Alisya menimpali.
"Leon!!" Panggil Nathan pada Leon.
"Ada apa?!" Tanya Leon setelah mendengar panggilan dari Nathan.
"Tingkatkan pencarian! Bilang pada seluruh mafioso untuk mencari keberadaan 2 pembantu yang di maksud sama anak-anak!" Ucap Nathan meminta Leon memberi tahu para mafioso nya.
"Baik!" Jawab Leon langsung segera memberi tahu para mafioso nya.
Mereka semua curiga dengan 2 pembantu yang bekerja di vila itu. Karena saat Dira menghilang, mereka juga menghilang entah ke mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, di saat mereka sedang mengkhawatirkan Dira. Para orang yang ada di mansion juga tak kalah khawatir.
__ADS_1
Alfian saat itu berada di kamarnya, karena juga tidak tahu lagi harus melakukan apa. Para orang tua melarang anak mereka yang paling kecil untuk pergi ke desa Loka.
"Kak, Dira sebenarnya ada di mana?" Ucap Alfian sambil menatap ke luar jendela.
"Dek!" Panggil Dira tiba-tiba langsung mengejutkan Alfian.
Deg,,,
"Kak Dira?!" Alfian membelalakkan matanya melihat Dira ada di kamarnya, "Kak Dira kok di sini? Kakak ke sini sama siapa?!" Tanya Alfian penasaran.
Dira hanya berdiri dengan wajah memelas nya, wajahnya juga terlihat sangat pucat. Dia menatap Alfian tanpa berkedip. Alfian yang sangat antusias melihat adanya Dira di kamarnya pun ,mencoba berjalan mendekat ke arah Dira berada.
Akan tetapi Alfian membelalakkan matanya, dirinya yang perlahan mendekat ke arah Dira pun perlahan tubuh Dira mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Alfian tampak sangat panik dan juga bingung melihat Dira. Alfian yang belum sampai pada Dira pun menghentikan langkahnya.
"Kak, apa yang terjadi padamu? Kenapa badanmu penuh dengan darah?!" Tanya Alfian panik.
"Alfian, ini sakit!" Ucap Dira dengan suara yang serak.
Alfian tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh kakaknya. Dia masih terus menatap ke arah kakaknya dengan tatapan panik.
"Kak Dira!!" Teriak Alfian dengan nafas terengah-engah karena mimpi itu seperti nyata.
Brakk,,,,
"Alfian, ada apa nak?" Tanya Alex yang mendengar teriakan Alfian.
"Papi, tolong antar kan Alfiane ke desa Loka! Ini penting pi!" Ucap Alfian dengan panik.
Alex langsung mendekat ke ranjang Alfian sambil mencoba untuk menenangkannya.
"Tenanglah dulu, ini minumlah!" Alex mengambil minum di atas nakas kamar Alfian lalu menyodorkan minum pada Alfian. Alfian langsung meneguknya hingga habis.
"Nak, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu ingin ke desa Loka?!" Tanya Alex setelah melihat Alfian sudah mulai tenang.
__ADS_1
"Ini penting pi, kak Dira! Aku rasa dia dalam bahaya pi!" Ucap Alfian sambil merengek pada Alex ,supaya mau mengantarkannya ke desa Loka.
Alex menghela nafasnya, dia sendiri bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin membawa Alfian ke sana, semua sudah melarang anak bungsu untuk pergi ke desa Loka. Tapi di sisi lain ,Alex juga tidak bisa melihat Alfian yang teramat sangat ingin pergi ke sana untuk ikut mencari keberadaan Dira.
"Baiklah, tapi kamu janji jangan beri tahu saudara yang lain! Papa akan antar kan kamu ke sana!" Ucap Alex sambil mengusap lembut rambut Alfian . Alfian tersenyum penuh harap melihat Alex yang dengan senang hati mau mengantarkan Alfian ke desa Loka.
Malam itu juga Alfian bersiap dan tanpa sepengetahuan saudaranya yang lain. Hanya Lisa dan Jeni yang tahu kepergian mereka. Alfian langsung mengantarkan Alfian menuju ke desa Loka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Gisella masih berada di balik astral projection bersama dengan Mark. Mereka masih berusaha mencari Dira, yang sampai sekarang belum juga di temukan. Sosok hitam besar yang ada di dekat pohon tadi, tampak tidak ada hubungannya dengan hilangnya Dira. Pada akhirnya Gisella dan juga Mark melanjutkan pencarian mereka melalui astral projection.
Sampai akhirnya mereka bingung, karena hasilnya hanya nihil. Dira tak ada di sana.
"Dira, kamu di mana sayang, mama harap kamu baik-baik saja, di mana pun kamu berada!" Batin Gisella merasa sesak setiap kali mengingat dirinya belum juga menemukan anak ke tiganya itu.
Saat mereka memutuskan untuk mengakhiri astral projection. Gisella melihat satu pintu yang belum sempat dia jamah. Pintu itu berwarna merah darah. Sangat mengerikan.
Gisella penasaran, kenapa sedari tadi dia tidak melihat adanya pintu merah itu di sana. Pada akhirnya dirinya memberi tahu Mark, dan perlahan berjalan ke arah pintu itu bersama dengan Mark.
"Mark, lihatlah pintu itu!" Ucap Gisella sambil menunjuk pintu berwarna merah itu. Mark langsung mengarahkan pandangannya yang di tunjukkan oleh Gisella. Benar saja, ada pintu berwarna merah darah di sana.
"Kak, sepertinya ini adalah hasil dari meditasi ku!" Ucap Mark yang membuat Gisella menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan heran.
"Kau melakukan meditasi?!" Tanya Gisella memastikan.
"Iya kak, sebelum aku di jemput oleh para orang-orang mu tadi! Aku sempat melakukan meditasi untuk meminta agar aku bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan Dira!" Jelas Mark panjang lebar.
"Kalau begitu, kita harus buka pintu itu! Siapa tahu ada petunjuk tentang Dira!" Ucap Gisella, mereka pun berjalan menuju pintu itu. Saat sampai di depan pintu, mereka terkejut dan membelalakkan matanya melihat pintu merah itu tiba-tiba saja menghilang.
"Astaga, kenapa pintu itu menghilang?!" Tanya Gisella terlihat panik.
"Ini berarti pintu itu bukanlah dari dunia ini kak! Tapi dari dunia kita! Dunia nyata!" Kata Mark dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus segera kembali dari astral projection!" Ucap Gisella. Yang setelahnya langsung bersama dengan Mark untuk kembali dari astral projection.
Mereka pun kembali dari astral projection. Bersamaan dengan itu Alfianternyata juga sudah sampai di vila yang di tinggali oleh kakak-kakaknya.