
"Siapa kalian!!!" Ucap seseorang yang membuyarkan kekaguman mereka mengenai bambu kuning. Sontak saja Gisella dan Chan langsung menoleh ke sumber suara dan melihat satu sosok cantik berada tepat sekitar 10 langkah dari mereka.
Saat itu memang Bi Inem tidak ikut dengan mereka, karena yang bertujuan hanyalah Chan dan Gisella. Bi Inem menunggu di sebuah gubuk yang tepatnya ada di dekat pohon besar yang tak jauh dari lokasi Chan dan Gisella berada.
"Apa tujuan kalian ke sini?!" Tanya sosok wanita cantik itu dengan menggunakan gaun putih dan rambutnya yang tergerai panjang. Dia sangat cantik, namun tak membuat Chan tertarik padanya. Ya, dia yang tak lain adalah peri yang di maksud oleh paman Felix.
"Apa kau penjaga bambu kuning ini?!" Tanya Gisella pada peri itu. Dia tahu kalau peri itu adalah peri yang paling berkuasa. Mengingat paman Felix juga mengatakan ada satu diantara para peri penjaga bambu kuning itu memiliki satu yang sangat kuat di bandingkan dengan yang lain.
"Sepertinya kalian berdua datang untuk mengambil apa yang aku miliki!!" Katanya dengan tatapan sinis ke arah Gisella dan Chan.
Gisella menelan ludahnya, "Iya itu benar, kami sangat membutuhkannya! Ijinkan kami untuk mengambil beberapa tanaman bambu kuning ini!!" Pinta Gisella dengan baik-baik. Namun siapa sangka justru peri itu malah ingin mengujinya.
"Apa yang akan kau pertaruhkan? Apa kau membawa pria ini untuk kau pertaruhkan nyawanya?!" Tanya peri itu dengan nada menggoda. Tidak, tidak seperti ini seharusnya! Bukankah paman Felix bilang kalau peri itu akan bersikap baik dan tak akan seperti ini? Tapi apa ini?
"Dia suamiku! Aku adalah istrinya! Kau tidak bisa sembarangan berkata seperti itu! Sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan suamiku pada siapapun! Kecuali harus melangkahi mayat ku dulu!" Kaya Gisella yang mulai kesal, karena peri itu menatap suaminya dengan penuh tatapan menggoda.
"Kalau begitu ambil saja bambu kuningnya, dan berikan kalung air suci itu padaku! Bukankah kau memiliki banyak?!" Tawar peri itu, kenapa tiba-tiba tawarannya bisa berubah seperti itu? Bahkan Gisella saja di buat bingung akan tingkahnya.
"Kau tidak perlu bingung! Aku tahu kau ingin mengambil bambu kuning untuk membuat penangkal di mansion kalian yang ada di kota bukan? Tidak apa-apa ambil saja semau kalian! Tapi jika kalian tidak ingin aku mengambil nyawa anak-anak kalian, maka berikan air suci itu padaku! Maka aku tidak akan pernah menampakkan wujud ku nanti!!" Kata peri itu memberi tahukan apa yang dia inginkan. Apakah Gisella harus percaya padanya? Gisella tentu saja curiga kenapa peri ini tiba-tiba malah bersikap baik padanya dan suaminya, Chan?
"Tunggu, sebelum itu! Aku ingin bertanya padamu! Kenapa kau berubah pikiran secepat ini? Ada apa? Apa kau mencoba mengelabuhi kami?" Tanya Gisella yang mencoba waspada. Dia takut kalau salah ambil langkah nantinya, dia tidak ingin ambil resiko.
__ADS_1
Peri itu tersenyum manis membuat siapa saja yang menatapnya pasti akan terpikat, namun tentu tidak dengan Chan. Entah kenapa Chan malah sama sekali tidak tertarik pada peri itu, "Apa kalian pikir aku ini sangat jahat? Ya kalian benar, aku bahkan bisa sangat jahat! Tapi kepada orang-orang seperti kalian dengan masa kelam dan juga karena kalian sudah banyak menolong orang! Maka aku akan mentoleransi nya! Di tambah rasa cinta kalian yang membuatku tidak bisa menggodanya! Itu sungguh ketulusan hati yang sulit di cari!" Kata peri itu dengan panjang lebar.
Gisella dan Chan yang mendengar penjelasannya pun sempat tidak percaya. Bagaimana tidak, ini sungguh luar nalar mereka. Bahkan mereka tak menyangka akan semudah ini mendapatkan penangkal itu. Namun setelah mengetahui kalau itu berkat perjuangan mereka dari awal berhubungan, itu tampaknya menjadi sebuah hadiah yang setimpal untuk mereka dapatkan.
"Apa kau benar-benar mengijinkan kami?!" Tanya Gisella baik-baik terhadap peri itu. Dan hanya di jawab anggukan saja olehnya.
"Kalau begitu, maaf sebelumnya! Tapi aku tidak ingin kalau kau menampakkan diri depan para anak-anakku!" Kata Gisella yang membuat peri itu hanya tersenyum.
"Aku mengerti, ada banyak orang yang mengatakan hal seperti itu ketika ingin mengambil bambu kuning milikku ini!! Jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan memperlihatkan wujud ku! Tapi kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?!" Tanya peri itu di akhir ucapannya. Gisella yang mengerti pun langsung mengangguk paham. Tapi dirinya sebenarnya masih ragu, kenapa peri ini hanya meminta imbalan air suci saja? Apa yang akan dia lakukan dengan air suci yang kan di berikan ini nantinya?
Gisella menatap peri itu penuh selidik, "Tapi sebelum itu aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan dengan air suci ini?" Tanya Gisella dengan penuh selidik.
Peri itu lagi-lagi malah tersenyum ke arah Gisella dan Chan sebelum menjawab, "Itu karena aku membutuhkannya, siapa tahu nanti ada iblis dan ku harus melawannya dengan kekuatanku? Aku juga akan menggunakan air suci itu untuk menyiram bambu kuning milikku! Supaya kekuatan di bambu kuning itu akan sedikit bertambah!!" Kata Peri itu lagi.
"Gisella apa itu tidak akan berbahaya sayang?!" Bisik Chan pada istrinya itu.
Gisella tersenyum ke arah suaminya itu, "Aku percaya pada mereka Chan, setidaknya mereka tak akan menyakiti kita nanti! Apalagi sebuah mantra yang aku dapatkan dari paman Felix tadi pasti nantinya akan sangat berguna.
Peri itu menerima kalung yang berisikan beberapa tetes air suci aja. Lalu membuka liontin itu dan menyiramkannya pada bambu kuning miliknya itu. Seketika tanaman bambu kuning itu bercahaya dan membuat Gisella juga Chan takjub dengan apa yang mereka lihat saat itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Gisella penasaran.
__ADS_1
"Ini adalah pertemuan antara 2 penangkal iblis, air itu sudah seperti sumber kehidupan untuk bambu kuning, begitu juga dengan tanaman anggrek hitam yang kau miliki, aku yakin kau pasti juga memilikinya bukan?!" Tanya peri itu di akhir ucapannya, dan lagi-lagi Gisella hanya menjawabnya dengan anggukan saja.
Kemudian tanpa pikir panjang lagi Gisella mulai mengatakan kalau dia akan membuat peri itu tak terlihat dari pandangan mata dan tak bis muncul di depan mata indra keenam.
"Maaf, aku harus membuatmu tidak terlihat!" Kata Gisella.
Peri itu menghela nafasnya lagi, "Baiklah, lakukan saja! Tapi ingatlah untuk mengambil bambu kuning yang baru tumbuh, dengan begitu kalian tidak akan kerepotan untuk membawanya!" Kata peri itu memperingatkan sekaligus memberi tahu.
Lalu kemudian Gisella merapal mantra itu bersama dengan Chan, dan seketika peri itu perlahan menghilang, oh iya lebih tepatnya bukan menghilang. Akan tetapi melebur supaya tak terlihat oleh orang-orang termasuk dengan anak-anaknya.
Gisella an Chan pun mengambil beberapa tanaman bambu kuningnya, perlahan namun pasti mesti harus bolak balik dari lokasi ke mobil, itu tidak masalah bagi mereka. Yang terpenting anak-anak kelak tak akan di ganggu oleh peri bambu kuning itu.
Pov paman Felix
Hari itu aku kedatangan tamu yang tak lain adalah keponakan ku sendiri. Dia datang bersama dengan istrinya, dengan tujuan menanyakan tentang penangkal iblis yang ketiga. Aku memberi tahu mereka tentang bambu kuning yang telah di putuskan sebagai penangkal iblis ketiga, dan tentunya menjadi penangkal iblis yang paling kuat diantara ketiganya itu.
Aku sendiri pernah melihat sepintas penglihatan ku mengenai anak gadis mereka. Aku melihat ada aura hitam yang keluar dari tubuh anak gadis di dalam penglihatan ku. Aku sebenarnya mencoba tak percaya, tapi apa yang biasanya aku lihat pasti kan menjadi kenyataan. Aku juga memberi tahu mereka mengenai firasat buruk itu. Keponakan ku Chan dan juga istrinya sangat terkejut mendengar apa yang aku katakan itu. Namun aku tak dapat mengatakan apa yang aku lihat, karena itu sudah di garis kan oleh tuhan, aku tak boleh dan tak dapat merubahnya. Karena itu sama saja aku menyalahi aturan sang pencipta. Tapi aku juga tak diam saja, hanya memberi mereka peringatan saja mengenai hal itu.
Setelah aku memberi tahu mereka apa saja yang harus di lakukan ketika mereka nanti akan mengambilnya di sebuah hutan, yang letaknya tak terlalu jauh dari pendopo ku ini. Mereka langsung pergi menuju ke lokasi bambu kuning untuk mengambilnya.
Namun ada yang membuat ku sempat terkejut dengan itu. Saat mereka pergi melaju menggunakan mobil, aku sempat melihat satu sosok perempuan menyeringai menatap kepergian mobil itu. Dan kemudian menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku merasa sosok itu tidak asing, dia seperti menginginkan sesuatu pada keponakanku. Ya, aku bisa merasakan itu.
__ADS_1
Ketika aku ingin mencoba mencari tahu tentang sosok itu melalui penglihatan ku, tiba-tiba saja dia menghilang. Aku yakin sosok itu memiliki niat buruk terhadapku.