Kamar 126

Kamar 126
Arwah Gentayangan


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nak, kamu bawa adik kamu ke kamar ya! Jangan bangunkan dia!" Perintah Gisella pada anak pertamanya itu.


"Iya ma!" Jawab Alfin yang setelahnya menggendong Dira untuk membawanya ke kamarnya sendiri.


Sesampainya di kamar Dira, Alfin langsung meletakkan Dira di atas ranjangnya.


"Sepertinya adikku yang satu ini sangat manja padaku! sampai-sampai tidur di pangkuanku!" ujar Alfin.


Cup,,,


Alfin mengecup kening adiknya itu sambil mengucapkan selamat malam.


"Kak, Aku juga mau!" terdengar suara dari arah pintu dan membuat Alfin langsung menoleh.


Di sana ada Dila yang berdiri di ambang pintu sambil mengintip kakaknya, yang baru saja meletakkan Dira di atas ranjang dan mencium keningnya sembari mengucapkan selamat malam.


"Dila?" Ucap Alfin lirih karena tidak mau membangunkan Dira yang baru saja terlelap.


"Untukku?" Ucap Dila merengek sambil memencepkan bibirnya.


"Syuttt!" Alfin memberi kode Dila agar diam, Alfin pun menyelimuti Dira lalu setelahnya berjalan ke arah Dila berada.


"Ayo, kakak akan mengantarmu!" Ajak Alfin pada Dila.


"Gendong!" Ucap Dila manja sambil merentangkan tangannya.


"Haish, manja sekali kau ini!" Ucap Alfin yang langsung menggendong Dila dan meletakkannya di kamar, sama persis dengan apa yang Alfin lakukan pada Dira.


Setelah mengantarkan Dila ke kamarnya, Alfin langsung masuk ke dalam kamarnya.


Alfin masih memikirkan wanita yang dia temui di perpustakaan, Alfin  dibuat penasaran agar wanita tersebut. Alfin juga memutuskan dirinya akan mencari tahu tentang wanita tersebut di keesokan harinya.


"Haish, kenapa gue kepikiran sama cewek itu terus sih?" Ucap Alfin yang beberapa kali terlintas bayangan wanita yang dia temui di perpustakaan.


"Gue harus cari tahu tentang cewek itu besok!" kata Alfin sembari merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Keesokan harinya,


Mansion besar Nathan kini semakin bertambah besar, pembangunan berjalan lancar dalam 1 hari. Kini Byun beserta keluarga kecilnya juga tinggal di mansion itu bersama dengan yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfin,


Di kampus,


"Gue harus ketemu sama cewek itu, biar gue nggak terus-terusan penasaran!" Kata Alfian berbicara dengan lirih.


"Lucas!" Panggil Alfin pada Lucas yang duduk di sebelah bangkunya.


"Apa? Lo nggak lihat kaki gue lagi sakit? Gue nggak mau!" Ujar Lucas yang menolak, dan seakan tahu apa yang akan di katakan oleh Alfin padanya.


"Lah, lo kenapa? Gue aja belum ngomong!" Kata Alfin yang tertegun mendengar ucapan Lucas yang menolak ajakannya.


"Udah sama gue aja, gue juga mau ke perpustakaan!" Ajak Adam tiba-tiba.


"Kok lo tahu kalau gue mau ngajak ke perpustakaan? Kalian kok kayak udah tahu gitu kalau gue mau ke sana!" Ucap Alfin  bingung.


Alfin pun menghela nafasnya pasrah, karena memang sudah menjadi kebiasaan dirinya pergi ke perpustakaan. Setelah itu Adam langsung berdiri dari duduknya dan mengajak Alfin untuk pergi ke perpustakaan.


Alfin berjalan di belakang Adam yang menuju ke perpus.


Sesampainya di perpus,


Mereka memutuskan untuk berpisah dan mengambil buku apa yang akan mereka pinjam. Adam lebih memilih ke rak buku yang berisi dengan novel. Namun berbeda dengan Alfin , yang saat itu dirinya hanya ingin fokus untuk mencari keberadaan cewek yang dia temui beberapa hari yang lalu.


Alfin dengan rasa penasarannya, memilih untuk mengelilingi seluruh tempat dan di setiap sudut ruangan yang ada di perpustakaan itu. Namun ternyata hasilnya nihil, Alfin tidak menemukan cewek itu di manapun.


"Haish, kenapa cewek itu nggak ada si sini!" Alfin mengeluh dan duduk di sebuah kursi, karena dirinya tak kunjung menemukan keberadaan cewek yang dia cari.


Saat Alfin duduk di sebuah kursi, tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian di kursi yang ada di pojok ruang perpustakaan. Terlihat dari kejauhan wanita itu sedang dengan santainya sambil memandangi sebuah buku di tangannya.


Alfin terkejut hingga membelalakkan matanya,"Itu bukannya cewek yang kemarin? Gue ke sana aja deh!" Ucap Alfin yang seketika berjalan mendekati gadis itu.


"Hey, apa gue boleh duduk di sini?" Tanya Alfin sambil menyapa gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu tak bergeming, bahkan masih tetap menatap buku yang ada di depannya.


"Apa lo nggak denger gue?" Tanya Alfin lagi dan seketika gadis itu menoleh.


"Eh, e- lo?" Jawab gadis itu dengan gugup.


"Btw sorry ya, kemarin udah nabrak lo!" Ucap Alfin meminta maaf pada gadis itu lalu duduk di sampingnya.


"Iya nggak apa-apa kok!" Ucap gadis itu sedikit bingung.


"Oh iya, kenalin gue Alfin! Nama lo siapa?" Ucap Alfin yang seketika mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Gu-gue Saviana!" Jawabnya sambil terbata dan membalas jabat tangan Alfin.


"Ow, salam kenal ya!" Ujar Alfin sambil mengangguk paham.


"I-iya!" Saviana masih saja merasa gugup.


"Udah nggak usah gugup gitu, gue nggak bakal apa-apain lo kok!" Kata Alfin yang melihat Saviana yang sedari tadi gugup.


"Oh iya, Gue pergi dulu ya, soalnya gue ada kelas!" Ucap Saviana sambil beranjak dari duduknya.


Saat Saviana hendak berjalan meninggalkan Alfin, tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh Alfian.


"Eh?" Ucap Saviana yang baru saja tangannya di pegang oleh Alfin, dan dirinya langsung menoleh ke arah Alfin.


"Lain kali gue bisa ketemu sama lo lagi kan?" Tanya Alfin memastikan kalau dirinya nanti bisa bertemu lagi dengan Saviana.


"Iy-iya mungkin Bis-bisa!" Kembali Saviana terlihat gugup dengan ucapannya.


Mendengar ucapan Saviana tadi, Alfin tersenyum lalu melepaskan tangannya yang tadi sempat menghambat perjalanan Saviana.


Saviana lalu berjalan pergi dan perlahan tidak terlihat dari mata Alfin.


Pov Saviana


"Ya Tuhan, kenapa pria tadi bisa melihat gue? Apa dia nggak sadar kalau gue itu bukan manusia? Atau sebenarnya dia itu sudah tahu kalau gue ini hanyalah arwah? Tapi sebelum ini tidak ada orang yang bisa melihat gue?!" Ucap Saviana yang kini bingung pada dirinya sendiri dan juga pria yang dia temui tadi.


"Apa sebaiknya gue minta tolong sama dia aja? Aisssh, tidak-tidak! Kalau gue kasih tahu dia tentang kebenaran kalau gue ini arwah, dia pasti bakalan jauhi gue nanti!" Kata Saviana berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saviana menghela nafas panjang lalu berkata lagi, "Ini bisa jadi kesempatan gue untuk bisa dekat sama manusia, sudah lama gue sendirian dan tanpa seorang pun yang bisa mengajak gue bicara! Tapi sebaiknya gue harus pastiin dulu, apa dia benar-benar tidak tahu kalau gue ini sebenarnya arwah gentayangan!" Ucap Saviana yang terlihat bersedih, karena memang dirinya tidak pernah berbicara pada manusia setelah kematiannya dulu.


__ADS_2