Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
100 (Pura-pura)


__ADS_3

“Apa tuan?” melihat ukuran rumah yang hampir sama ukurannya dengan Yudi, Fi langusung memikirkan bagaimana cara membersihkan rumah tersebut.


Jika hanya mengandalkan dirinya, sang ibu dan satu art, pasti tidak akan mampu menangani rumah sebesar itu.


Yang ada nanti malah jadi sarang hantu dan tikus lagi, kalau banyak ruangan yang tak bisa di jamah, batin Fi.


“Maaf tuan, tapi saya sudah temukan rumah baru, cocok sekali untuk kami bertiga tinggali,” ucap Fi.


“Dimana??” tanya Yudi penasaran.


“Di Jakarta timur tuan, dan harga rumah serta perawatan rumah yang akan saya beli sangat pas di kantong, jadi mohon maaf banget tuan, saya tidak bersedia tinggal di rumah sebelah, sebaiknya kita jual lagi rumah itu, lumayan buat biaya sekolah Andri kalau sudah besar,” ucap Fi.


“Tidak bisa, pilihan mu hanya dua, tinggal disini, atau tinggal di sebelah.” pilihan yang di berikan oleh Yudi membuat Fi bingung.


Kok jadi tuan yang mengatur ku? batin Fi.


Kenapa Fi makin membangkang sekarang? batin Yudi.


“Baik tuan, saya akan tinggal di sebelah.” Fi memilih untuk menempati pembelian Yudi.


Sebab ia tak mau bila bertatap muka sebagai art dengan para rekan kerjanya yang lain. Karena ia tahu betul, teman-temannya yang buruk hati akan memusuhinya.


“Oke, kau sudah memilih, hari ini kau bisa pindah ke sebelah.” keputusan Yudi membuat Fi senang.


“Terimakasih banyak tuan.” suasana hatinya yang bagus membuat Fi berinisiatif untuk mengambil sarapan untuknya dan majikannya.


Baik Reni maupun Mirna, tak ada yang mencegatnya, sebab mereka takut, jika Fi jadi nyonya Hirarki mereka akan di tendang, apabila Fi tak menyukai mereka.


Kemudian Fi dan dan Yudi sarapan bersama, saat keduanya sedang menikmati bubur ayam yang begitu gurih di mulut Al tiba-tiba muncul.


“Hei, kalian berdua makan enggak ajak-ajak aku ya, pada hal aku sudah mengurus kalian dengan baik tadi malam.” mendengar pengakuan Al membuat Fi dan Yudi melihat satu sama lain.


Keduanya sama-sam bungkam, sebab mereka sudah pura-pura tak tahu jika mereka tidur bersama tadi malam.


Reni dan Mirna yang juga mendengar menjadi bertanga-tanya, apa maksud dari perkataan Al.


“Hei, kenapa kalian diam saja? Tidak terjadi apapun kan?” Al yang berpikir kalau Yudi dan Fi sudah sama-sama tahu, malah makin membahas perihal tersebut.


“Diamlah! Kau berisik banget dari tadi, lebih baik kau makan, setelah itu kau pulang ke rumah mu, aku tak suka kau lama-lama ada disini.” Yudi mengusir Al yang membuatnya dalam situasi canggung bersama Fi.

__ADS_1


“Aku tidak akan pulang, karena mama dan papa sedang keluar kota.” Al tak mau menuruti perkataan dari Yudi.


“Kalau begitu bersikap baik selama disini, jangan buat aku kesal.” meski Yudi ingin adiknya pergi, namun ia tak bisa berbuat banyak, apabila Al menolak.


“Oh ya Fi, kau hari ini masih bersih-bersih enggak di office bang Yudi?” pertanyaan Al membuat Yudi cemburu.


“Kau datang ke ruang kerja ku kemarin??” ucap Yudi dengan hati yang gusar.


“Iya, awalnya aku tak percaya kalau Fi ibu-ibu, ternyata memang benar, hahaha... kapan rencana pernikahan kalian?” lagi-lagi Al membuat janda dan duda itu deg degan dan grogi.


“Kau bicara apa sih?!” pekik Yudi.


Astaga!!! Mereka benar-benar mau menikah? batin Mirna.


Bangsat! Bagus banget rezeki si jelek! batin Reni.


“Katanya kau mau melamarnya! Bagaimana Fi, apa kau mau menikah dengannya?” Al makin memperburuk keadaan.


Muka Fi dan Yudi sama-sama memerah dengan pertanyaan Al.


Bicara apa sih dia! batin Fi.


Ia sangat kesal dengan Al yang begitu terus terang. Meski ia telah tahu isi hati majikannya, namun dirinya memilih diam, karena tak ada cinta di hatinya untuk Yudi.


“Saya mengerti tuan.” Fi tersenyum kaku, ia yang tak ingin di ruang menyesakkan itu lagi bangkit dari duduknya.


“Saya permisi tuan.” saat Fi akan beranjak pergi, Al yang berdiri di sebelah tempat duduk Fi, menggenggam tangan wanita cantik itu.


“Kalau kau tak mau, apa Fi untuk ku saja?” Al memberi tatapan penuh makna.


“Jangan!” ucap spontan Yudi dengan mata membelalak.


Suara keras Yudi membuat Fi, Mirna dan Reni tersentak. Yudi yang kelepasan, mengenal nafas panjang.


Sialan kau Al! Yudi sangat gusar dalam hatinya.


“Kenapa? Ku pikir kau tak serius mencintai Fi, aku sekali bertemu sudah langsung jatuh hati, bang Yudistira, Fi jadi istri ku saja ya?!” lamaran sepele Al membuat Fi marah dan menghempaskan tangan Al darinya.


“Tuan, candaan tuan benar-benar tak lucu!” pekik Fi, ia yang trauma dengan pria good looking, membuatnya anti pada Al yang sifatnya terbuka.

__ADS_1


“Aku serius.” Al mengantarkan wajahnya ke hadapan wajah Fi.


“Al, jaga sopan santun mu pada Fi.” Yudi bangkit dari duduknya. “Jangan sentuh dia, jangan sebut namanya, panggil Fi dengan sebutan ibu. Apa kau paham?” Yudi mencengkram erat bahu Al.


Seketika Al tertawa, ia yang tak ingin kena amarah Yudi memilih cari aman.


“Maaf, aku salah, maaf ya bu, aku akan lebih sopan ke depannya, hehehe...” Al tertawa cengengesan.


Kemudian Yudi melepas tangannya dari adik sepupunya. “Fi, persiapkan koper mu, pagi ini juga kau pindah.” untuk menjaga yang ia cinta dari Al pecinta yang lebih tua. Yudi merelakan sang pujaan hati angkat kaki lebih cepat dari rumahnya.


”Baik tuan.” setelah itu Fi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Saat hanya keduanya yang tinggal di ruang makan, Yudi memberi tatapan mata tajam pada Al.


“Hei, dia milik ku, hanya waktu saja yang belum tepat untuk menyatakan cinta dan melamarnya, kau jangan membuat aku marah, kali ini ku kasih izin kau untuk menggoda gadis-gadis yang ada di rumah ini!” Yudi lebih baik memperbolehkan Al merayu siapa saja yang ada di rumahnya, dari pada Al mendekati Fi Saeadat.


“Oke bang, aman.” Al pura-pura tunduk, pada hal dalam hatinya berontak.


Siap cepat, dia yang dapat dong bang, batin Al.


Setelah merasa cukup, Yudi meninggalkan adiknya di ruang makan.


Reni dan Mirna yang menyaksikan perseteruan itu menjadi makin iri pada Fi yang kini jadi rebutan dua tuan muda rumah itu.


Sementara Fi yang telah menyelesaikan merapikan barangnya, membangunkan putranya.


“Andri, sayang... ayo bangun.” Fi mengecup pipi putranya.


“Mama? Ada apa?” tanya Andri dengan mengucek matanya.


“Ayo, kita pindah ke rumah baru kita.” ucap Fi seraya menggendong anaknya.


Yudi yang baru datang ke kamar Fi, melihat wanita yang ia cintai sedang kerepotan.


Bagaimana tidak, Fi menggendong Andri seraya menarik 3 koper besarnya dengan satu tangannya.


“Sini ku bantu.” Yudi pun mengambil 3 koper itu dari tangan Fi.


“Terimaksih banyak tuan.” ucap Fi tanpa melihat wajah Yudi.

__ADS_1


“Maaf ya Fi, kalau kata-kata Al membuat mu marah, maklum saja, dia orangnya memang suka asal bicara,” terang Yudi.


...Bersambung......


__ADS_2