
“Jangan halangi kebaikan kami! Masih untung aku dan mas Asir mau menampung anak mu kak! Memangnya kau yang tak punya apapun bisa memberikan keponakan ku makan? Hah?!” Dewi menarik tangan Emir yang bersembunyi di belakang Fi.
“Setiap orang yang hidup pasti ada rezekinya, jadi tak usah risau akan kami, urus saja kebahagiaan kalian.” Fi percaya, meski ia tak memiliki uang, ia mampu memberi anak-anaknya makan.
“Iya, kakak benar, dan rezeki mereka, Allah titipkan pada kami, jadi biarkan aku dan Dewi membawa mereka pulang!” Asir mengambilnya paksa Emir dari Fi.
Meski kedua anak tak berdosa itu menangis, karena tak ingin ikut ayah dan tante mereka, namun Emir dan Andri tak berdaya untuk membela diri.
“Jangan bawa mereka, hiks...” Fi mengejar adik dan suaminya, yang membawa kedua anaknya
“Berisik banget dia!” ucap Dewi pada Asir.
Kemudian Asir yang juga merasa keberatan dengan sikap Fi, memutar badannya mengarah istrinya.
“Cuih!” Asir membuang ludahnya ke wajah Fi.
“Wanita laknat! Mereka juga anak ku, andaikan kita memperebutkan hak asuh di pengadilan, sudah pasti aku pemenangnya, karena hakim juga takkan tega, kalau mereka di titipkan pada mu. Walau kau bilang, kau akan mencari kerja untuk membiayai Emir dan Andri, tetap semua orang percaya kau tak mampu, karena apa? Karena kau cacat dan buruk rupa, di dunia ini, kalau enggak cantik, takkan di terima kerja, wajah harus menjual, baru HRD memberi mu pekerjaan!”
“Tapi mas, aku...”
“Sudahlah, kalau kau memang ibu yang baik, jangan halangi aku dan Dewi membawa mereka.” perkataan Asir membuat Fi yang tak percaya diri diam di tempat, tak mengejar langkah suami dan adiknya lagi.
Lalu, Alisyah yang baru pulang melihat tamu tak di undang dalam rumahnya.
“Pasangan Zina, untuk apa kalian kemari?” kemudian Alisyah melihat kedua cucunya yang menangis. “Kenapa tiba-tiba kau menjemput mereka? Bukankah kemarin kau menyuruh mama untuk membawa mereka?” Alisyah mengingatkan anaknya tentang peristiwa kemarin.
Namun Asir tak menggubris kata-kata ibunya. Baginya, sang ibu adalah orang yang sangat menyebalkan.
“Asir! Jangan bawa Emir dan Andri!” Alisyah tak rela bila kedua cucunya di asuh oleh Dewi dan anaknya.
“Jangan ikut campur ma, ini adalah urusan keluarga ku!” Asir membentak ibunya.
“Jangan kurang ajar kau! Mereka itu cucu ku!” teriak Alisyah.
__ADS_1
Dewi yang dendam pada Alisyah, menghasut Asir untuk memberi pelajaran pada ibu kekasihnya.
“Jaga kata-kata mu tante, aku lihat selama ini tante selalu saja memarahi mas Asir, apapun yang mas Asir lakukan, selalu salah di mata tante, pada hal dia anak satu-satunya tante, tapi tante seolah tak bersyukur memilikinya, seorang ibu harusnya menyayangi anaknya, bukan terus mengomelinya, perbuatan tante yang sekarang sama saja tak menganggap mas Asir anak kandung tante, kalau aku jadi mas Asir, aku pasti tak menganggap tante ibu, tapi mas Asir yang baik hati, tetap menghormati dan menyayangi tante.”
Alisyah tersenyum getir dengan opini Dewi, “Pantas tak ada laki-laki yang menyukai mu selain Asir, kelakuan mu sungguh buruk, adab dan sopan santun mu juga nol! Di kepala mu hanya ada uang, demi hidup senang secara instan, kau jual kehormatan mu pada putra ku yang bodoh, hum! Kalian benar-benar cocok!” Alisyah menyunggingkan bibirnya
Dewi yang ingin memberi Alisyah pelajaran memulai drama barunya.
“Kata-kata mu sangat kejam tante, pada hal anak mu yang akan memberi mu nafkah, tapi tante malah mengatakan mas Asir bodoh! Ku harap mas Asir tetap mau berbaik hati pada tante, meski tante telah menghina ku dan juga mas Asir.”
Asir yang tak pernah mendapat dukungan dengan apa yang ia lalukan selama ini merasa jika Dewi adalah satu-satunya yang mengerti dirinya.
Sedang Fi yang takut mertuanya makin murka menghentikan adiknya.
“Wi, jaga sikap mu, bagaimanapun kaulah yang salah,” ucap Fi.
“Diam kau jelek! Sampah seperti mu, tak pantas mengatakan apapun pada Dewi!” Asir membela adik iparnya.
“Dasar anak setan, kalau ku tahu akhirnya kau akan jadi aib keluarga, takkan ku minta kehadiran mu pada Ilahi!” kata-kata Alisyah begitu menyakiti hati Asir.
“Tante apa yang kau katakan? Mas Asir sekarang tulang punggung keluarga, tolong hargai dia!” Dewi membela Asir yang selalu di remehkan ibunya.
“Dia itu hanya menikmati hasil, kalau mau jadi tulang punggung sungguhan, sana! Buat usaha dari nol!” pekik Alisyah.
Asir yang sudah pada batas sabarnya mendatangi ibunya yang tak jauh di hadapannya.
Plak!
Asir menampar wajah ibunya di depan Andri yang sedang ia gendong.
Hiks...!!! Tangis Andri kian pecah. Fi langsung berlari menuju mertuanya.
“Mama tak apa-apa?” Fi memeluk mertuanya, saat Alisyah mengangkat wajahnya, Fi baru melihat sudut bibir mertunya pecah.
__ADS_1
“Mama!” Fi yang khawatir, menyeka darah mertuanya dengan ujung bajunya.
“Biasanya, anak yang durhaka pada orang tua, tapi disini, orang tua yang durhaka pada anak, aku tak mengerti, kenapa mama tak bersyukur memiliki ku, dari aku kecil mama selalu cerewet! Batin ku tersiksa ma! Jujur! mama juga sering memukul ku hanya karena masalah sepele. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku meniru sifat mama!” pekik Asir.
Mata Alisyah membelalak pada putranya yang di luar batas.
“Takkan ku maafkan perbuatan mu yang sekarang! Kau anak jahanam, sifat mu mirip Dajjal, ini semua pasti hasil hasutan perempuan iblis itu!” netra Alisyah menunjuk ke arah Dewi.
Dewi yang telah menguasai keadaan, tersenyum getir.
“Harusnya kau sadar tante, semua kekacauan ini, karena mu! Baik-baiklah pada mas Asir, jangan sampai dia membuang mu ke jalanan! Berpikir panjang kalau mau melapor polisi, karena nanti, kau yang akan menderita!” pekik Dewi.
“Dewi! Kau jangan menghasut mas Asir untuk membenci mama, mama itu orang tua kandung mas Asir, takkan berkah hidup seorang anak jika menyakiti hati orang tuanya!” Fi memarahi adiknya.
“Kau hanya orang asing, jangan ikut campur!” Dewi memarahi kakaknya.
“Kalau mama berani merusak masa depan ku, aku takkan memaafkan mama, dan aku akan memutus hubungan ku dengan mu ma!” kali itu, Asir tak main-main dengan ancamannya.
“Kau pasti menyesal Asir! mam tak akan pernah memaafkan mu, dan semoga Tuhan mengutuk perjalanan hidup mu!”
Asir memutar mata malas, ia pun menggertakkan giginya karena kesal.
“Tuhan, takkan melakukan itu, karena Tuhan juga tahu, yang salah siapa, dan yang harus di berkati siapa.” Asir yang kurang ilmu agama terus menentangnya perkataan orang tuanya.
Fi yang iba pada mertuanya memilih mengalah, ia pun berbesar hati untuk merelakan anak- anaknya di bawa oleh suaminya.
“Bawalah mereka, tapi ku mohon rawat Emir dan Andri baik-baik. Perlakukan seperti anak mu sendiri Wi,” ucap Fi.
“Fi, apa yang kau lakukan?!” Alisyah masih belum mengizikannya jika cucunya di bawa pergi.
“Tak apa bu, kita tak bisa menghalangi kemauan mereka,” terang Fi.
...Bersambung......
__ADS_1