
“Wajar saja kalau kau tak tahu, namanya juga idola.” kemudian Yudi mengeluarkan dua bungkus nasi Padang yang ia bawa.
“Duduklah.” Yudi mempersilahkan Fi duduk di hadapannya.
“Terimakasih banyak tuan, tapi... saya mau ambil air untung cuci tangan tuan dulu,” ujar Fi.
“Oh, kau benar. Tapi tak usah, aku basuh tangan ku di wastafel saja.” Yudi yang tak ingin menyusahkan Artnya memilih untuk mencuci tangannya di wastafel.
Fi pun mengikuti langkah Yudi menuju tempat yang sama. Yaitu wastafel yang terletak di dekat jendela office.
Setelah keduanya selesai cuci tangan, Fi dan Yudi pun kembali ke tempat duduk mereka, kemudian membuka bungkus nasi Padang yang sedari tadi baunya mengundang selera.
“Tuan, apa tidak apa-apa kalau saya makan bersama tuan?” Fi merasa tak pantas, ia yang seorang Art bersantap ria bersama majikannya.
“Memangnya ada yang salah? Justru aku harus lebih sering makan bersama dengan mu,” ujar Yudi.
“Kenapa begitu tuan?” Fi tak mengerti, mengapa tuannya memiliki pemikiran demikian.
“Karena kau telah membantu ku membersihkan kamar dan ruang kerja ku, kalau aku, sudah jelas tak dapat melakukan semuanya, kalau hanya sebungkus nasi Padang, rasanya belum cukup untuk membalas jasa mu.” Yudi yang royal tak menganggap nasi Padang sebagai upah yang besar.
Fi pun tersenyum bahagia atas pujian sang tuan. Fi juga dapat merasakan ketulusan Yudi padanya.
“Tapi, itu memang kewajiban ku kan tuan? Aku bekerja, sementara tuan menggaji ku.” ucap Fi seraya memasukkan nasi Padang dengan lauk rendang yang di lumuri kuah kental, di temani daun ubi kukus dan juga pargedel.
“Rasanya masih samakan?” Yudi yang sering makan di rumah makan tersebut semasa kuliah, masih ingat rasanya sampai saat ini.
“Benar tuan, tapi saya juga bisa memasak yang seperti ini tuan,” ujar Fi.
“Oh ya? Haruskah kau memasak untuk ku juga? Xixixi...” Yudi tertawa lepas, setelah sekian lama ia merasa tak ada yang lucu dalam hidupnya yang serba tegang.
Sementara Fi yang melihat Yudi terkikik mengernyitkan dahinya.
Pada hal enggak ada yang lucu, batin Fi.
“Sstt.. Aduh...” Fi meringis, sebab luka gores yang ada di punggung jemarinya terkena sambel makanannya.
“Kau baik-baik saja Fi?” tanya Yudi, dengan sedikit cemas.
“Iya tuan, hanya perih sedikit.” Fi menunjukkan bekas lukanya.
“Kenapa lagi tangan mu?” Yudi tak habis pikir akan Fi yang mudah terluka.
__ADS_1
“Ini tak sengaja tergores di antara rak buku tuan,” terang Fi.
“Astaga... kau payah sekali.” cara bicara Yudi yang terdengar akrab membuat Fi merasa nyaman.
Rasanya aku seperti punya saudara laki-laki, batin Fi.
Karena luka, Fi menjadi lambat dalam menyantap makanannya, Yudi yang sudah selesai terlebih dahulu, menggeser nasi Fi ke hadapannya.
“Tuan masih kurang?” Fi berpikir kalau Yudi akan menghabiskan bagiannya juga.
“Tidak.” kemudian Yudi mengambil nasi dengan tangannya.
“A! Buka mulut mu,” titah Yudi.
Fi tersentak, karena ternyata Yudi ingin menyuapnya.
“Jangan tuan, ini sangat tidak pantas.” Fi merasa malu akan dirinya yang hanya seorang art di perlakukan spesial oleh tuannya.
“Kenapa? Apa kau jijik makan dari tangan ku?” Yudi yang hanya berniat membantu merasa yang ia lakukan bukanlah hal yang salah.
“Tidak, bukan begitu tuan, tapi ini bukan hal yang benar, saya hanya pembantu tuan, tolong jangan terlalu baik pada saya.” selain malu, Fi juga merasa jika tuannya menginginkan sesuatu darinya.
Apa dia sedang menguji ku? Tuan, aku bukan wanita murahan, batin Fi.
Meski begitu, Fi dapat melihat kekecewaan di wajah Yudi.
“Saya juga sering di suap, semasa ibu saya hidup tuan,” ungkap Fi.
“Benarkah?” Yudi tak mengira, ia mempunyai kesamaan dengan Fi.
“Betul tuan, saya juga sering menyuap adik ku Dewi, tapi... mantan suami ku, tak mau melakukan itu pada ku, hehehe...” Fi tersenyum seraya menahan air matanya.
“Kalau begitu, aku saja yang menyuap mu, tenang saja, aku tak punya maksud apapun pada mu, aku hanya terbiasa dengan hal ini di masa lalu,” terang Yudi.
Fi yang juga rindu, akan masa kecilnya yang indah akhirnya setuju.
“Baiklah tuan, saya sangat bersyukur bertemu dengan tuan dan nyonya, pada hal kalian adalah orang lain, tapi rasanya seperti saudara kandung di hati ku.” Fi meneteskan air matanya.
“Lo lo loh! kenapa malah menangis?” Yudi bingung mau menghapus air mata Fi dengan apa sebab kedua tangannya berminyak.
“Aku terharu tuan, hiks... setelah kedua orang tua ku meninggal orang yang benar-benar tulus pada ku hanya ibu sambung ku, tapi sekarang Tuhan mengirimkan tuan dan nyonya untuk ku hiks... aku pasti mengabdi pada kalian seumur hidup ku.” Fi terus menangis karena bahagia.
__ADS_1
Kemudian Yudi mengelus puncak kepala Fi, “Aku juga berterimakasih pada mu, karena kau sudah datang, meski terlambat.”
“Maksudnya bagaimana tuan?” Fi tak mengerti arah pembicaraan Yudi.
“Ah, bukan apa-apa, tak usah pikirkan,” ucap Yudi.
Karena kau telah mengisi ke kosongan dalam hati ku, batin Yudi.
“Oh, begitu ya tuan.” Fi pun tak ambil pusing dengan yang tuannya katakan.
“Sudah, jangan menangis lagi.”ucap Yudi, sebab ia paling tak bisa melihat wanita menangis.
“Baiklah tuan.” Fi pun menyeka air matanya hingga kering.
Kemudian, Yudi menyuap Fi, hingga makanannya habis.
🏵️
“Bangsat! Sakit banget...” umpat Dewi yang baru selesai kuret.
“Sakit dari mana? Kau kan di bius,” ucap Clara.
“Meskipun di bius tapi rasanya ngeri, ngilu dan juga nyeri.” Dewi yang pucat duduk di kuris tunggu klinik.
“Benar juga sih. Tapi Wi, kalau kau lakukan di rumah sakit, biayanya tak jauh beda, hanya selisih 500 ribu,” ujar Clara.
“500 ribu bisa beli tanah semeter, 500 ribu aku bisa ke salon untuk perawatan.” terang Dewi yang memikirkan penampilan.
“Astaga... luar biasa, eh tapi Wi, andai kau putus dengan Asir, aku punya stok loh, om Toni punya teman enggak kalah tajir dari Asir, dia lagi cari daun muda.” Clara memberitahu Dewi peluang kaya selain dengan Asir.
“Berapa umurnya?” meski Dewi mata duitan, tapi ia tak mau terong tua.
“60 tahun.”
“Ssttt... enggak ah! Aku tak mau, pasti sudah banyak keriput di wajahnya, dan kurasa Joninya pasti mogok-mogok kalau lagi jalan.” terang Dewi dengan perasaan jijik.
“Tapi Wi, dia tak punya anak, istrinya juga sakit-sakitan sekarang, pasti sebentar lagi akan mati. Kalau kau ingin seluruh hartanya, tinggal goyang yang kencang, 60 tahun juga sudah bau tanah Wi, paling kalian nikah sebentar dia juga sudah menyusul istrinya,” terang Clara.
“Mati dari mana? Mana tahu umurnya panjang?”
“Makanya kau sholat yang rajin, minta pada Tuhan untuk mencabut nyawanya lebih cepat, hahaha...” Clara tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
...Bersambung......