
“Hiks... maafkan mama nak, karena tak bisa melindungi kalian, hiks...”
Suara tangisan Fi samar-samar di dengar oleh para Art yang lalu lalang di depan pintu kamarnya.
“Berisik banget sih dia! Kalau buka karena tuan membelanya, aku pasti sudah mengacak-acak wajahnya yang seram itu.” Reni sungguh terganggu dengan suara bising Fi.
“Betul, entah susuk jenis apa yang ia gunakan pada tuan, sehingga tuan membelanya,” ujar Selia.
“Betul, kau tahu enggak? Waktu dia makan siang tadi? Masa tuan menyuruhnya makan di ruang makan utama? Pada hal itukan khusus untuk tuan dan nyonya. Entah karena kasihan atau memang ilmu pengasihnya kuat,” timpal Reni.
“Kita hati-hati saja, semoga kita tidak terkena juga.” saat keduanya masih menggosipkan Fi, Mirna yang berjalan di belakang mereka langsung memberi teguran.
”Hei-hei... jangan buat fitnah baru, sebaiknya kalian berhenti mengatakan hal yang tak benar soal Fi. Andaikan ia pakai ilmu gaib, pasti bukan hanya tuan yang kena. Ingat ya, jangan cari masalah dengan dia, nanti kalian di pecat seperti pak Ikhwan.” Mirna memperingati kedua rekan kerja. Setelah itu Mirna masuk ke dalam kamarnya.
“Benar juga kata Mirna, pak Ikhwan keluar tanpa ampun, sebaiknya kita menjauh dari dia,” ucap Reni.
“Iya, aku setuju.”
Yudi yang berada di kamarnya melihat nomor kontak istrinya.
”Terakhir aktif jam 07:00 tadi, kenapa dia tak kasih kabar ya?” Yudi yang rindu pada istrinya memutuskan untuk melakukan panggilan video call.
Namun sayang, sang istri tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
“Apa dia masih syuting? Atau... ketiduran karena lelah?” Yudi mencoba memaklumi aktivitas Suli yang serba sibuk.
Ia yang masih rindu pun mengirim pesan singkat pada istrinya.
Kalau sudah sempat, telepon aku, ✉️ Yudi.
_______________________________________
Asir yang berpikir Wina telah keluar dari kamar merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan santai.
Hasrat Asir yang belum lunas membuatnya terpaksa meminta jatah pada kekasihnya.
“Ayo kita main.” Asir memeluk tubuh Dewi yang ada di sebelahnya.
“Aku cape mas.” Dewi menolak keinginan Asir.
“Ayo! Aku sudah di ujung.” namun Asir yang perkasa tak menerima penolakan.
Dasar biadab! Enggak tahu apa, rasanya itu sakit sekali, kalau main pas hamil! batin Dewi.
Dewi yang tak dapat menolak pun membuka bajunya dengan senyum tak ikhlas.
Wina yang masih berada di bawah kolong ranjang merasa mual karena masuk angin.
Kurang ajar, sampai kapan aku disini? Jangan sampai besok kamar ini juga di tutup, batin Wina.
Tak lama ranjang pun mulai bergetar, suara gaib Asir dan Dewi yang saling bersahutan terdengar jelas di telinga Wina.
__ADS_1
Sungguh Wina merasa sial berulang-ulang, karena sepanjang hidupnya, baru kali itu mendengar suara nikmatnya surga dunia.
1 jam kemudian, setelah selesai beradu aksi, Dewi mengibas-ngibas tubuhnya yang basah akan keringat.
“Panas ya mas.” Dewi menoleh ke arah Asir.
“Iya, turunkan saja suhunya,” ujar Asir.
Dewi yang ingin mengerjai lawannya menyetel suhu AC ke 16 derajat celcius.
Semoga kau mati kedinginan! batin Dewi.
Wina yang tengkurap di atas lantai tanpa alas menggigil parah.
Perlahan tubuhnya bergetar, dirinya saat itu ingin sekali keluar, namun karena Dewi masih mengunci pintu, ia harus menahan derita yang ia jemput sendiri.
Sialan kau Dewi ular! Wina mengumpat dalam hatinya.
Dewi yang tib-tiba kepikiran soal kandungannya, berniat menemui dukun aborsi yang di rekomendasikan temannya padanya esok hari.
Semoga saja janin ini bisa di bereskan, batin Dewi.
Ia yang merasa lelah memutuskan untuk tidur dengan memakai selimut tebal.
2 jam kemudian, Wina yang hanya mendengar suara dengkuran dari kedua majikannya, mencoba memberanikan diri untuk keluar dari kolong ranjang.
Jika memang aku, harus tetap disini malam ini, lebih baik aku sembunyi di dalam lemari saja, batin Wina.
Deg deg deg!
Hatinya sungguh gelisah, ia tak dapat membayangkan jika itu Dewi.
Perlahan seseorang yang ada di atas ranjang memijakkan kakinya ke lantai.
Wina yang melihat banyak bulu di betis orang tersebut dapat menebak, kalau itu adalah Asir.
Wina yang ingin minta tolong pun mengeluarkan kepalanya dari kolong ranjang.
“Ssst! Ssst! tuan...” Wina memanggil majikannya dengan suara yang pelan.
Lalu Asir yang mendengar pun menoleh ke sumber suara.
“Kau masih disitu?” mata Asir membelalak.
“Iya, tolong aku tuan.” Asir yang ingin melindungi Wina mendekat ke ranjang, lalu berjongkok.
“Keluarlah, dia sudah terlelap,” ucap Asir.
Lalu Wina perlahan keluar dari kolong ranjang yang membuat ia hampir membeku. Saat Asir mencari kunci, Wina berjongkok, agar Dewi tak melihatnya, ia sangat takut, jika sewaktu-waktu perempuan sadis itu bangun.
Setelah lama mencari, akhirnya Asir menemukan kunci serap kamarnya yang di simpan oleh mantan istrinya di dalam laci meja rias.
__ADS_1
Saat Asir ingin mengeluarkan Wina, tiba-tiba Joninya yang tak kunjung kenyang meminta makan kembali.
“Wina,” ucap Asir
”Iya tuan?” sahut Wina dengan bibir bergetar.
“Ayo kita lanjutkan yang tadi,” Asir mengajak Wina untuk bercinta.
“Tapi tuan, ada nyonya...” meski Wina ingin mengangkat derajatnya menjadi nyonya besar. Namun ia masih takut, jika bermain asyik dalam tempat yang sama dengan Dewi.
“Tidak apa-apa, kita ke kamar mandi saja.” Asir yang tak sabar lagi, menarik tangan Wina menuju kamar mandi.
Tek!
Setelah keduanya masuk, Dewi membuka matanya.
“Ternyata kau Wina? Bagus, beraninya kau menikung posisi ku, tapi itu takkan pernah terjadi, nasib mu akan tetap menundukkan kepala di hadapan ku!” Dewi tertawa getir, karena ia sangat yakin, Asir yang selalu tembak dalam, akan segera memiliki anak juga dengan Wina.
_______________________________________
Pagi harinya, sebelum aktivitas rutin di lakukan, para Art yang bekerja di rumah Yudi sarapan terlebih dahulu.
Para pekerja yang ada di ruang makan kini duduk di atas tikar.
Semua orang duduk secara berkelompok seraya bercengkrama satu sama lain.
Mirna yang melihat Fi duduk bersandar sendirian di dekat pintu pun mendekat.
“Jangan menyendiri, nanti kalau tuan datang kemari, malah jadi salah faham lagi,” ucap Mirna.
“Aku enggak berani duduk dengan yang lain.” meski tak ada yang mencibirnya lagi, namun orang yang ada dalam ruangan itu membuang muka tiap kali melihatnya.
“Tak usah di pikirkan, ayo!” Mirna menarik tangan Fi yang banyak bekas luka.
”Jangan Mir, jangan, nanti orang-orang merasa terganggu.” Fi cukup tahu diri akan posisinya.
“Sudahlah, ayo! Kau jangan malu-malu begitu.” karena Mirna memaksa, Fi pun menurut, tak lupa Fi membawa piring berisi lontong sayurnya menuju 5 orang Art yang sedang mengobrol.
“Lagi bicara apa sih kalian? Seru banget kayaknya.” Mirna dan Fi duduk di antara ke 5 art itu.
Namun seketika suasana ceria dari para art itu mendadak sunyi.
“Hei kenapa kalian diam, ayo lanjutkan, kita juga ingin kebagian tawa loh!” ujar Mirna.
”Mir, untuk apa kau membawanya kesini? Nanti salah sedikit dia malah mengadu pada tuan lagi,” ucap Sela.
“Iya Mir, yang ada kita malah di pecat juga seperti pak Ikhwan. Pada hal tadi malam bukan masalah besar, tapi mulutnya besar sekali, sampai-sampai tuan datang kemari.” Reni sungguh tak ingin bersebalahan dengan Fi.
“Aku tidak mengatakan apapun pada tuan.” kali itu Fi membela dirinya yang tak bersalah.
...Bersambung......
__ADS_1