Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
89 (Mengambil Hati)


__ADS_3

Mendengar penuturan polos Andri, Yudi jadi sedih.


Malang sekali nasib mu nak. batin Yudi. Ia pun memeluk erat tubuh Andri.


“Abang sekarang sudah ada di tempat yang indah,” ucap Yudi.


“Kapan bertemu aku lagi pa?” tanya Andri.


“Nanti, setelah kau besar, untuk itu, jadilah anak yang baik pada mama, jangan buat mama resah, nurut sama mama, makan yang banyak, biar jadi anak kuat.” Yudi mengecup pipi Andri.


Kasih sayang yang tak pernah Andri dapatkan dari Asir, membuat Andri jatuh hati pada Yudi yang bukan ayah kandungnya.


“Papa, Andri akan jadi anak yang patuh, papa jangan pukul Andri ya.” Andri membenamkan wajahnya ke dada bidang Yudi.


“Tidak akan.” Yudi yang ingin menghibur Andri, membawa jagoan kecil itu ke luar dari kamar menuju taman.


Ia berencana mengajak Andri main bola. Karena setahunya, anak laki-laki suka permainan itu.


Sesampainya mereka di taman, Yudi menurunkan Andri dari gendongannya.


“Tunggu disini, papa mau ambil bola di keranjang.” Yudi menunjuk ke arah keranjang yang ada di dekat pintu teras taman.


“Memangnya kita boleh main bola pa?” Andri bertanya, sebab di rumah ayahnya, semua serba tidak boleh.


“Tentu saja, kau suka main bolakan?” ucap Yudi.


“Suka, tapi jangan bilang sama tante Wina ya pa. Kalau aku main bola, sssttt!” Andri meletakkan telunjuknya ke bibirnya.


Sejauh apa sih wanita itu menganiaya Andri? Bahkan setelah tak di rumah ayahnya pun, dia masih teringat akan wanita itu, batin Yudi.


Yudi merasa iba pada anak Fi yang terkekang selama ini.


“Iya, papa enggak akan bilang, dan jangan kau takut pada tante Wina, karena dia tak akan pernah kesini. Dan takkan pernah menyakiti mu lagi, Percayalah.” Yudi menyakinkan Andri bahwa Wina tidak akan mengganggunya lagi.


“Oke pa.” Andri tersenyum lepas.


Setelah itu, Yudi mengambil bola, dan bermain bersama Andri.


Tawa ceria Andri kian riang, ia seperti tak ada beban selama ini.


Bruk!


“Andri! Kau baik-baik saja?” Yudi membantu berdiri Andri yang jatuh.


Ia pun melihat Lutut Andri lecet. “Lain kali hati-hati ya nak.” Yudi meniup luka Andri.

__ADS_1


Kemudian Yudi menoleh ke wajah anak kecil itu.


Sepertinya dia mau menangis, batin Yudi.


Namun berkat pengajaran ektra militer dari Wina dan Dewi, Andri menjadi anak yang tegar.


“Ayo, kita masuk, luka mu perlu di obati,” Yudi pun menggendong Andri.


“Tapi aku baik-baik saja pa. Tidak sakit sama sekali.” Andri yang masih ingin bermain menolak untuk masuk rumah.


“Tidak, tidak, kita harus masuk, kapan pun kau mau, kau bisa bebas bermain nak.”


“Benarkah pa? Hehehe...” Andri tertawa girang.


“Tentu saja.” kemudian Yudi dan Andri masuk ke dalam rumah.


Yudi pun membasuh luka Andri dengan alkohol, selanjutnya menempel plester anti septik di lutut anaknya Fi.


Setelah itu mereka pergi ke ruang makan untuk makan siang.


Mirna yang ada di ruang makan bertanya-tanya, siapa anak kecil yang bersama majikannya.


Ternyata Rila tak membagi gosip mengenai Fi yang akan calon nyonya masa depan, sebab ia ingin pencitraan sendiri.


“Ini anak siapa tuan?” sapa Mirna dengan mengelus puncak kepala Andri.


“Oh pantas ganteng, mirip tuan, hehehe...” Mirna tertawa kaku.


Tuan mengadopsi anak ya, kasihan. Coba kalau tuan menikahi aku, pasti sudah cepat ku kasih anak selusin, batin Mirna.


“Iya, tolong Mir, siapkan kami makanan, karena anak ku sudah lapar,” pinta Yudi.


“Siap tuan!” Mirna dengan sigap menyiapkan menu favorit tuannya yang telah matang. Yaitu ikan mas panggang, daun ubi kukus, sambal bawang mentah.


Kemudian ia menghidangkan di hadapan Yudi dan Andri yang duduk di bangku khusus bayi makan.


“Nanti tolong masak sup kambing ya.” Yudi ingin menambah berat badan Andri yang kurang dari rata-rata seharusnya.


“Baik tuan.” Mirna mengerti akan tugasnya.


Kemudian Yudi mengambil satu ekor ikan bakar penuh bumbu dari piring yang ada di hadapannya. Ia pun memisahkan daging dan durinya. Kemudian ia taruh daging ikan lezat itu ke piring Andri yang nasinya sedikit.


“Ayo, makan yang banyak nak.” Yudi juga menaruh daun ubi kukus ke piring Andri.


“Terimakasih banyak papa.” Andri pun mulai melahap makanan yang di berikan padanya.

__ADS_1


Sejak keretakan hubungan ayah dan ibunya, makannya tak pernah beres, ia juga sering melahap nasi tanpa lauk, bahkan tak jarang ia dan abangnya harus berpuasa, kalau salah di mata orang-orang dewasa yang tak menyukai mereka.


Sedang Yudi ingin menangis, saat melihat Andri makan dengan sangat cepat.


“Papa, apa aku boleh tambah enggak?” Andri yang belum makan dari tadi malam merasakan lapar yang luar biasa, rasanya ia dapat menampung semua makanan yang ada di ruang makan itu.


“Tentu saja.” Yudi pun meminta Mirna untuk mengambil ikan, sayur dan juga nasi kembali.


Saat Yudi ingin memisahkan duri ikan, Mirna menawarkan bantuan. Sebab ia lihat tuannya sendiri belum selesai makan.


“Biar saya saja tuan, tuan lanjutkan makan saja,” ujar Mirna.


“Baiklah, terimakasih banyak.” Yudi pun melanjutkan makannya yang tertunda.


Kemudian Mirna melayani Andri dengan sangat baik.


Setelah selesai makan. Andri memeluk tubuh Mirna yang ada di hadapannya.


“Terimakasih banyak tante, masakan tante, enak banget!” Andri memuji Mirna. Karena ia ingin mengambil hati Mirna. Agar Art tersebut menyayanginya.


Yudi yang mendengar Andri memanggil Mirna dengan sebutan tante, menahan tawanya.


Sedang Mirna merasa tak enak, sebab dirinya tak harus di panggil dengan sebutan itu.


“Eh, tuan, jangan panggil tante, panggil ibu saja ya.” Mirna takut jika panggilan tante membuat majikannya keberatan.


“Ibu juga bagus, terimakasih ibu cantik.” sikap manis Andri membuat Mirna ingin menangis, sebab di tempat kerjanya sebelumnya, anak-anak majikannya sangat nakal, dan sering berkata kasar padanya.


“Sama-sama nak, eh salah, maksud ibu tuan.” Mirna menyeka sudut matanya yang basah.


Yudi yang menyaksikan itu sangat senang. Ia pun bangkit dari duduknya.


“Sayangi Andri, layaknya anak mu sendiri, aku ingin kau masak yang enak dan bergizi untuknya. Kau lihat matanya yang kuning kan? Masak sayur dan wortel yang banyak untuknya,” ucap Yudi.


“Siap tuan!” permintaan dari sang tuan besar langsung di penuhi oleh Mirna.


“Oh, ya, tolong buatkan bubur ayam, dan antar ke kamar yang ada di dekat tangga.” titah Yudi .


“Baik tuan.” sahut Mirna dengan sigap.


Setelah itu, Andri dan Yudi menuju kamar Fi. Mereka ingin melihat kondisi terbaru wanita yang sama-sama mereka sayangi itu.


“Memangnya siapa yang ada disana?” Mirna menjadi sangat penasaran.


Ia pun cepat-cepat menyiapkan bubur permintaan tuannya, sekaligus agar ia mengetahui untuk siapa dia menyiapkan makanan lunak itu.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2