Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
60 (Otw Korea)


__ADS_3

Tidak lama penantian Fi pun berbuah manis, sang majikan yang ia tunggu sedari tadi kini telah pulang.


Ceklek!


Yudi membuka pintu lalu turun dari mobilnya, lalu ia pun melihat Fi dengan setelan jadulnya.


Kasihan, apa dia tak punya baju lain? batin Yudi.


Lelaki tajir melintir itu sangat iba pada Artnya yang mengenakan baju 90-an.


“Kau sudah siap??” tanya Yudi seraya menggaruk kepalanya.


“Iya tuan.” Fi yang bersemangat tak hentinya tersenyum hangat pada tuannya.


“Baiklah, aku masih bolehkan untuk ganti baju sebentar?” tanya Yudi, sebab semangat membara Fi membuatnya tak enak bila harus membuat wanita itu menunggu lama.


“Tentu saja tuan,” jawab Fi.


“Apa kau tidak ikut masuk?” Yudi bermaksud ingin mengisi perut mereka berdua sebentar sebelum berangkat.


“Tidak tuan, saya tunggu disini saja.” namun Fi yang tak sabar ingin berangkat lebih memilih untuk menunggu di teras.


“Baiklah.” Yudi menaikkan alisnya. “Tunggu sebentar ya.” Yudi pun masuk ke dalam rumah untuk mandi dan berganti baju.


Art dan sang satpam yang melihat pemandangan itu menjadi iri akan kedekatan Fi dan majikan mereka.


“Mata pak Yudi rabun kali ya, apa sih istimewanya wanita itu?” sang satpam geleng-geleng kepala.


“Aku juga tak tahu, malang betul nyonya yang seorang artis, saingannya wanita rendahan seperti itu,” ujar sang Art.


“Sepertinya mereka mau ke suatu tempat.” sang satpam menduga-duga dengan tepat.


“Aku tak dapat membayangkan, seandainya nyonya tahu, mereka berdua pergi bersama-sama.” sang Art memijat pelipisnya yang terasa sakit karena cemburu.


Keduanya pun terus memantau pergerakan Fi, hingga Yudi keluar dengan setelan kasual atasan baju kaus lengab pendek berwarna putih di padukan dengan celana berbahan kain twill stretch warna abu-abu.


Fi yang melihat penampilan santai tuannya menjadi terperangah. Sebab baru kali itu ia melihat Yudi tanpa pakaian formalnya.


Tampan, batin Fi.


“Ini!” Yudi memberi Fi jaket Versch coat Korea sepanjang lutut, cukup untuk menutupi baju Fi yang lusuh. Yudi tak berani menyuruh wanita malang itu untuk ganti baju, sebab ia takut jika Fi yang miskin merasa sakit hati.


“Ini untuk ku? Bukankah ini punya nyonya tuan?” ucap Fi, ia merasa tak pantas memakai barang orang lain, terlebih itu sang nyonya yang baik hati padanya.


“Tidak, itu punya mu.” jaket tersebut bertujuan untuk Suli awalnya, namun karena Yudi tak sempat mengasih pada istrinya, ia pun memutuskan untuk memberikannya pada Fi.


“Terimaksih banyak tuan.” Fi memeluk pemberian tuannya dengan penuh cinta.


Sikap Fi yang manis membuat Yudi terharu, pasalnya Suli yang mampu mendapatkan apapun yang ia mau, membuat Yudi tak banyak kesempatan untuk membeli sesuatu pada istrinya.


Dan juga karena Suli sering mendapat banyak hadiah dari para rekan dan penggemarnya, membuat artis tersohor tersebut tak terlalu menganggap pemberian suaminya.

__ADS_1


Suli yang mandiri juga membuat Yudi sedikit tersinggung, sebab setiap kali Yudi memberi uang pada Suli. Suli selalu menolak.


“Kau suka?” tanya Yudi dengan wajah memerah.


“Iya tuan, ini pasti mahal terimakasih banyak tuan.” Fi tak hentinya merasa bersyukur.


“Itu barang murahan, nanti akan ku beli yang lain kalau kau mau.” Yudi yang bingung menghamburkan uangnya yang banyak kemana sebelumnya, akhirnya punya penampungan sekarang.


“Terimaksih tuan.” Fi tak menolak niat baik tuannya. Sebab ia berpikir tuannya hanya bersedekah.


Lumayanlah, berarti uang yang di beri nona pada ku kemarin, buat biaya sekolah anak-anak ku nanti kalau kami sudah bersama lagi, batin Fi


Setelah percakapan itu, keduanya pun masuk ke dalam mobil menuju bandara Internasional Soekarno Hatta.


“Wah! Ada main juga mereka, gila! Luar biasa!”sang art merasa emosi berat pada Fi.


“Betul, kita harus lapor pada nyonya nih! Biar wanita pembawa sial itu di tendang dari rumah ini, mau kemana coba mereka.” sang satpam yang mulutnya bagai ibu-ibu komplek berniat mengadukan apa yang ia lihat pada Suli.


“Boleh juga, ide mu bagus sekali.” sang Art pun setuju akan usul sang satpam.


🏵️


Wina yang berada di kamar terus menangis tanpa henti, ia merasa marah karena perhiasannya di rebut oleh Dewi.


”Hiks... wanita iblis! Tak tahu diri, sendirinya juga seorang wanita simpanan! Bikin kesel!” ia yang tak tahan dengan azab yang di berikan oleh Dewi, memutuskan mengadukan hal tersebut pada Asir.


“Akan ku katakan pada tuan! Awas kau Dewi ular!” Wina yang merasa telah bisa menguasai hati Asir langsung menelepon tuannya.


Hiks, tuan...📲 Wina.


Ada apa dengan mu? Kenapa kau menangis? 📲 Asir.


Nyonya tuan, dia merebut cincin berlian yang di beri tuan, hiks... dia juga melempar kepala ku pakai vas bunga, hiks....📲 Wina.


Apa kepala mu terluka? 📲 Asir.


Asir takut jika Wina sampai lecet, sebab ia tak suka pada wanita yang memiliki tias.


Syukurnya hanya benjol tuan, tapi nyonya... mencekik ku juga, tolong aku tuan, nyonya sangat menakutkan, dia mengancam akan membunuh ku juga tuan, tolong tuan... aku takut sekali kalau sampai di bunuh olehnya, hiks... 📲 Wina.


Wina bertingkah menyedihkan dan bicara berlebihan agar dapat pembelaan dari Asir.


Diamlah, jangan menangis lagi, nanti aku bicara dengannya. 📲 Asir.


Baiklah tuan, tolong aku ya tuan, nyonya benar-benar brutal. 📲 Wina.


Iya sayang, sudah jangan menangis lagi, nanti akan ku minta lagi cincinnya untuk mu.📲 Asir.


Baik, terimakasih banyak tuan. 📲 Wina.


Oke, aku tutup ya dulu sayang. 📲 Asir.

__ADS_1


Iya tuan sayang. 📲 Wina.


Setelah sambungan telepon terputus Wina tertawa cengengesan.


“Xixixixixi... misi berhasil, aku akan membuat mu di tendang dari rumah ini, itu sudah pasti! Kita lihat siapa pemenangnya.” Wina tersenyum puas.


Setelah itu ia pun menghapus air matanya yang terbuang sia-sia.


🏵️


Dewi yang ingin ke salon tiba-tiba merasakan nyeri di perutnya.


“Sssttt... ada apa ini?” ia yang tak kuat berdiri tepaksa duduk di sofa.


“Pada hal sudah di kuret, apa ini hanya efeknya saja?” Dewi mengelus perutnya yang terasa sakit.


Ia yang sedang menderita melihat Alisyah dan kedua keponakannya yang ingin bermain ke taman.


“Tante! Cepat kemari!” Dewi memanggil Alisyah.


“Ada apa?” tanya Alisyah seraya mendatangi Dewi.


“Tolong, ambilkan pil Moxam di kotak PPPK! Ada di kamar ku!” Dewi yang tak tahan dengan sakitnya ingin segera minum obat.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Alisyah pun pergi mengambil obat yang di minta oleh Dewi.


Setelah 5 menit menunggu Alisyah datang dengan tangan kosong.


“Maaf Wi, aku tak melihat pil yang kau bilang di kotak obat,” terang Alisyah.


“Jangan bohong kau! Aku baru membelinya kemarin!” Dewi tahu betul, jika Alisyah sengaja melakukannya.


“Aku serius! Untuk apa aku berbohong,” Alisyah yang ingin balas dendam tak mau membantu Dewi.


“Kalau sampai aku mendapatkannya, akan ku patahkan jari-jari mu!” Dewi yang kesakitan harus memaksakan diri untuk berjalan menuju kamar kekasihnya kembali.


Sesampainya ia di kamar, Dewi tak melihat kotak obatnya di mana pun.


“Astaga! Keterlaluan!” ia yang geram harus kembali ke ruang tamu dengan bersusah payah.


Namun sayang, Alisyah dan kedua keponakannya sudah tak ada lagi disana.


“Kau benar-benar keterlaluan tante!” Dewi yang marah menggenggam erat tangannya, lalu ia pun memanggil Artnya.


“Sania!! Cepat kemari!” teriakan Dewi yang begini menggelegar membuat hati siapa saja yang mendengar menjadi jantungan.


...Bersambung......


Kisah novel di bawah ini akan membuat kamu, baper dan susah move on! Karena alurnya begitu membekas di hati.


__ADS_1



__ADS_2