Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
69 (Spg)


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Clara, Dewi langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk milik sahabatnya.


“Sudah lama tak merasa nyaman seperti ini.” Dewi memejamkan matanya karena merasa ngantuk.


“Hei!” Clara mencolek lengan Dewi.


”Ada apa? Jangan ganggu aku dulu, aku mau tidur.” ucap Dewi, sofa lembut itu serasa memanjakan tubuhnya.


”Mandi dulu sana! Om Toni mau pulang! Kau tak malu apa bertemu dia dengan keadaan lusuh? Di kamar tamu masih ada baju yang lupa kau bawa, pakai itu! Kau harus cantik, mana tahu om Toni bawa teman, kenalannya kan banyak, enggak cuma om Bram.” atas saran dari sahabatnya Dewi langsung bangkit dari sofa menuju kamar tamu untuk mandi.


1 jam kemudian, Toni datang, ia pun terkejut saat melihat Dewi ada di apartemen istri mudanya.


“Ku pikir kau sendiri sayang, ternyata ada Dewi ” ucap Toni.


“Iya mas, Dewi katanya ingin kenalan dengan om Bram mas,” ucap Clara.


“Bram? Ah...” Toni duduk di sebelah istri mudanya. “Dia baru saja menikahi gadis yang baru lulus SMA kemarin, kau terlambat Wi,” terang Bram.


Seketika Dewi merasa lemas, raganya bagai melayang tak tentu arah.


“Apa tak ada kenalan om yang lain?” suara lemas Dewi nampak jelas di telinga Clara dan Toni.


”Ada, namanya Jon, punya istri 5, usianya baru 73 tahun, kalau kau mau, akan om kenalkan, orangnya sangat kaya, kau pasti masih kebagian hartanya, meski jadi istri ke enamnya.” Toni berniat mengenalkan Dewi pada mantan gurunya waktu SD dulu.


Gila, memangnya aku sejelek itu? Sampai-sampai masalah jodoh juga harus meleset ke kakek bau tanah? batin Dewi.


“Boleh om. Aku mau.” ucap Dewi dengan hati yang ragu.


“Sebentar, aku telepon nomornya.” Toni pun mendial nomor Jon.


Halo... 📲 Jon.


Suara bergetar Jon membuat Dewi hampir pingsan.


Apa kakek itu masih punya gigi? batin Dewi.


Halo pak, apa kabar?📲 Toni.


Baik, hehehe... ada apa menelepon, Ton? 📲 Jon.


Ini pak, ada teman istri yang mau kenalan dengan bapak, apa bapak masih mau menikah lagi? 📲 Toni.


Hehehe... aku mau-mau saja Ton, tapi... istri ke lima ku sangat cerewet dan cemburuan, kemana pun aku pergi selalu di temani olehnya, jadi... aku tak berani Ton, kalau sampai menikah lagi, bisa-bisa aku di sunat sama dia lagi kalau sampai ketahuan, ehehehe... 📲 Jon.


Oh... begitu ya pak, apa bapak masih punya teman yang lain? 📲 Toni.


Seketika Dewi merasa hidupnya malang, saat kakek bau tahan saja tak mau menerimanya.

__ADS_1


Tidak ada, hehehe... oh sudah dulu ya Ton, bapak mau jalan-jalan dulu sama istri muda bapak! 📲 Jon.


Setelah selesai menelepon, Toni dan Clara melihat ke arah Dewi yang tertunduk lesu.


“Wi, kau enggak apa-apakan?” Clara mengelus bahu sahabatnya.


“Enggak, aku baik-baik saja.” Dewi menahan air matanya yang akan jatuh.


🏵️


Emir yang ada di dalam kamar menemani sang adik yang sedang tidur. Ia punkembali memikirkan apa yang di katakan Wina.


Terlebih ia melihat ke arah jendela kamarnya yang terbuka, ada burung gereja yang masuk.


Pitpitpit...


Burrr...


Burung tersebut terbang tinggi sampai Emir tak melihatnya lagi.


“Apa benar yang di katakan tante Wina?” Emir yang masih kecil tak dapat membedakan mana yang benar dan salah.


Ia pun turun dari ranjang menuju lemari bajunya dan sang adik.


Krieett...


“Mama... Emir rindu... Mama kapan datang buat jemput Emir dan Andri...” Emir yang ingin menangis tak dapat menitihkan air matanya. Karena di kepalanya selalu terngiang-ngiang tidak boleh menangis oleh Dewi dan Wina.


“Apa kalau aku mati, aku bisa bersama mama?”


Emir kembali mengingat perkataan Wina yang begitu meyakinkan.


🏵️


3 Hari sudah Dewi menginap di apartemen Clara.


Clara yang takut jika om Toninya di serong oleh Dewi memutuskan untuk menyuruh sahabatnya pulang.


“Wi, aku dan om Toni mau ke Amerika malam ini, dan entah kapan kembalinya, maaf banget nih, apa kau bisa pulang dulu ke rumah orang tua mu? Nanti kalau aku kembali lagi kau boleh ke sini.” Clara terpaksa berbohong karena firasatnya sangat kuat, ia merasa Dewi akan jadi ancaman untuknya, jika tetap tinggal bersamanya.


“Memangnya aku tak bisa tinggal sementara disini? Selama kalian pergi, dari pada rumah ini kosong?” Dewi yang malas pulang ke rumah pengab yang ia tak suka, berkeinginan untuk tetap di apartemen Clara.


“Maaf Wi, om Toni minta untuk di kosongkan.” Clara menggadaikan nama suaminya, agar sahabatnya mau pergi.


Dengan wajah yang muram, Dewi menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, kalau begitu, tapi... apa kau bisa meminjamkan aku uang?” Dewi yang tak memiliki uang sepeserpun meminta pada sahabatnya.

__ADS_1


”Baiklah,” lalu Clara membuka dompetnya. “Ini." Clara memberi Dewi uang sebanyak 2 juta rupiah.


Dikit banget, dasar pelit! batin Dewi.


”Terimakasih banyak ya.” ucap Dewi dengan tersenyum.


”Sama-sama, oh ya... kemarin laku lihat ini di mall.” Clara memberikan selebaran brosur info lowongan kerja pada Dewi.


“Jadi Spg buah?” Dewi mengernyitkan dahinya.


”Iya, lumayan loh, gaji pokoknya saja UMR, kalau kau capai target bulanan, akan dapat bonus, enakkan?” Clara memberitahu sahabatnya peluang mencari kerja.


“Kau gila ya! Mana mungkin aku jadi Spg! Enggak banget!” Dewi menolak karena merasa dirinya tak pantas mengerjakan pekerjaan tersebut.


“Yang penting halal Wi, kau juga bisa menyambung bedak dan makan mi, tak mungkin kau bergantung pada orang lain, lagi pula kalau kau jadi Spg, kau akan banyak bertemu orang, mintai saja nomornya satu persatu, lagi pula kau di tempatkan di mall Sency loh! Tempat para orang kaya dan artis berkumpul, tapi... terserah kau saja kalau kau tak mau.” berkat bujukan Clara, pikiran Dewi pun terbuka.


Ia sadar jika dirinya tak mungkin hidup dalam kekurangan, ia juga tak mau jika tinggal dengan Yuri.


“Baiklah, terimaksih banyak.” Dewi memasukkan brosur dan uangnya ke dalam tas pemberian Clara.


”Kau tak usah kembalikan uang itu, untuk mu saja, aktifkan terus nomor mu, jika ada orang kaya, aku akan memberitahu mu.” Clara merasa senang karena akhirnya Dewi mau minggat dengan cara baik-baik.


Setelah Dewi keluar dari apartemen Clara ia pun tertawa getir.


Bilang saja kau takut suami mu menikahi ku juga, batin Dewi.


Setelah dari apartemen Clara, Dewi pergi ke mall yang di cantumkan alamatnya dalam brosur, setelah melakukan interview, dirinya pun di terima kerja.


Dan sejak saat itu, Dewi resmi bekerja sebagai sales promotion girl.


Ia pun memulai karirnya dari nol, meski berat, namun ia tak ingin berakhir tanpa melakukan apapun.


🏵️


3 bulan kemudian, Yudi datang ke Korea sesuai janjinya pada Fi Saeadat.


Ia yang telah berada di depan pintu ruang rawat Fi merasa deg degan. Sebab ia selalu terbayang akan wajah si cantik yang dulu.


Ceklek


Kriett...!!


Saat tangannya telah berhasil membuka handle pintu, matanya membelalak sempurna saat melihat Fi berdiri di depan jendela rumah sakit dengan wajah mengarah padanya.


“Tuan, selamat datang.” ucap Fi Saeadat.


...Bersambung......

__ADS_1



__ADS_2