Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
101 (Tak Bersedia)


__ADS_3

“Iya, aku mengerti tuan.” ucap Fi seraya terus melangkah.


Sikap dingin Fi membuat Yudi ragu untuk menyatakan perasaannya.


Setelah selesai persidangan saja aku nyatakan perasaan ku padanya, kalau sekarang yang ada aku di tolak mentah-mentah kayaknya, batin Yudi.


Mereka yang telah sampai di depan pintu utama masuk ke dalam mobil yang akan di tumpangi Yudi.


“Jalan pak. Tapi ke rumah sebelah dulu ya,” titah Yudi.


“Siap tuan,” sahut Rian.


Kemudian Rian menginjak gas menuju rumah baru Fi.


Baru jalan 3 menit, mereka telah sampai ke rumah Fi.


Rian pun membawa mulus mobil masuk ke kawasan rumah mewah yang memiliki lantai 2 tersebut.


Andri yang tak mengenali rumah itu bertanya pada ibunya.


“Ini rumah siapa ma?”


“Rumah kita sayang, nyonya Suli yang beli.” Fi memberitahu kebaikan sang nyonya pada putranya.


“Besar banget ma! Kita akan tinggal disini?” wajah Andri nampak tak percaya, apa lagi kepindahan mereka begitu mendadak.


“Iya, ini hadiah istimewa untuk kita dari nyonya, makanya baik-baik sama tuan ya.” Fi mengelus pipi putranya.


“Siap ma!” sahut Andri dengan antusias.


Sesampainya di depan pintu utama, mereka semua turun.


Yudi yang ingin terlihat baik dan dapat di andalkan, tak mengizinkan Rian untuk membawa 3 koper milik Fi.


Rian yang melihat hal tersebut, menahan tawanya, sebab sang majikan begitu berusaha keras. Sebab untuk mendapatkan Fi, uang bukanlah modal utama.


Yang satu ini beda ya tuan, batin Rian.


Krieeett...


Setelah pintu terbuka, Fi dan Andri tercengang, karena rumah tersebut telah lengkap perabotannya.


Bahkan rumah baru Fi terlihat bersih bebas dari debu.


“Apa ini tidak berlebihan tuan? Apa untuk dari lagu dan kisah hidup ku penghasilannya sebanyak itu? Pada hal aku sudah operasi plastik dan menetap selama 3 bulan di Korea, dan di kasih tabungan lagi, dan sekarang di beli rumah juga??” Fi merasa hadiah yang ia dapatkan terlalu berlebihan, tidak sebanding dengan apa yang ia berikan.

__ADS_1


“Nikmati saja, namanya juga rezeki.” ucap Yudi singkat, karena Yudi yang takut ketahuan tak memperpanjang obrolan tentang rumah itu.


“Tapi tuan...”


“Mungkin ini buah dari kesabaran mu selama ini, tetaplah tulus dalam melakukan apapun, dan... aku akan pulang cepat hari ini, kalau aku sudah sampai disini, aku mau kau sudah rapi, agar tak kemalaman sampai ke makam Emir,” ujar Yudi.


“Baik tuan.” seketika Fi lupa mengenai rumah yang ia permasalahkan.


Setelah itu, Yudi berpamitan pada Fi. “Aku pergi, jaga diri ya.”


“Baik tuan. Hati-hati di jalan tuan.” Fi menundukkan kepalanya.


“Iya, terimakasih banyak.” kemudian Yudi dan Rian masuk ke dalam mobil. Selanjutnya meluncur menuju kantor.


“Bukankah harusnya aku yang berkata terimakasih??” Fi mengangkat kedua bahunya.


Fi yang berada di rumah barunya merasa senang dan bersemangat. Ia pun segera mendial nomor ibunya.


Halo ibu, segera datang ke rumah tuan, ada kejutan untuk ibu. 📲 Fi.


Aduh Fi, ibu lagi buat kue, nanti sore saja ya, soalnya tanggung. 📲 Yuri.


Pokoknya sekarang bu. 📲 Fi.


Atas desakan Fi, akhirnya Yuri menyudahi acara memasak kue nastarnya.


Sast sambungan telepon terputus, Yuri mandi, setelah itu berangkat menuju rumah Yudi.


🏵️


Fi yang ada di rumahnya mulai berkeliling, melihat isi rumah yang akan menjadi tempat ia tinggal dengan ibu dan anaknya.


“Andri, kau mau kamar yang mana sayang?” tanya Fi pada putranya.


“Yang mana saja, yang penting tidurnya sama mama,” ucap Andri.


“Baiklah, kalau begitu kita disini saja ya.” Fi membuka kamar yang ada di dekat tangga.


“Oke mama!” kemudian ibu dan anak itu masuk ke dalam kamar indah, yang memiliki ranjang empuk dan luas.


“Ayo kita tes!” Fi dan Andri pun naik ke atas ranjang.


Fi yang merasa bahagia walau hatinya masih terluka mengecup wajah anaknya berulang kali.


“Andri.” ucap Fi seraya meletakkan dagunya di atas perut anaknya.

__ADS_1


“Apa ma?” sahut Andri.


“Kau harus jadi anak yang ceria, jangan pikirkan apapun, karena mama mau kau bahagia, Andri, kau harta mama satu-satunya di dunia ini. Hiks...” Fi kembali menangis. Karena Ia sangat rindu Emir yang kini berbeda alam dengan mereka.


“Mama jangan nangis dong, masa sudah besar nangis?” Andri meledek ibunya, kemudian menghapus air mata ibunya yang mengalir deras.


“Maaf sayang, mama hanya rindu abang, hiks...” Fi tersenyum pada putranya.


“Mama... bang Emir itu sudah bahagia, terbang sama burung-burung, aku juga mau seperti abang, biar bisa main sama abang lagi.” Andri mengatakan isi hatinya.


“Iya sayang, tapi Andri enggak boleh melakukan yang abang lakukan ya, Andri harus selalu di samping mama, mama enggak mau pisah dari Andri.” Fi merebahkan tubuhnya di sebelah putranya.


“Iya ma, Andri janji, selalu sama mama, tapi ma... abang kok enggak pulang-pulang ya??” kepolosan Andri membuat Fi ingin menangis lagi.


“Nanti Insya Allah, kita ketemu bang Emir.” Fi memeluk Andri kecil.


“Oke ma!” Andri membalas pelukan Fi.


🏵️


Hitman yang ada di kediaman Asir berbicara dengan Alisyah dan Teri.


“Tolong bantu pak Asir bu, untuk jadi saksi, setidaknya kalau tak bisa bebas, hukumannya di kurangi, kasihan anak ibu, pak Asir benar-benar tertekan disana, hanya kalian yang ada di rumah ini yang bisa jadi saksi.” Hitman membujuk Alisyah dan Teri sebagai perwakilan Art.


“Gimana ya pak, saya sangat mau jadi saksi, tapi... apa yang harus saya katakan? Toh, saya yang jadi ibu kandungnya sendiri pun di aniaya, walau pun Asir anak kandung saya, tapi saya tak bisa berbuat apapun, karena dia memang salah.” Alisyah menolak untuk membantu Asir.


Ia yang sakit hati, ingin anaknya mendapat balasan yang setimpal.


“Bahkan dulu, saya pernah melaporkannya, tapi polisi menolak karena dapat sogokan dari Asir, memangnya kalau bapak jadi saya, perasaan bapak masih baik-baik saja? Di pukul di hina, di tendang dan di kurung, ku yakin bapak pasti lebih murka!” Alisyah yang melihat celah, memutuskan untuk balas dendam.


“Tapi bu, ini demi masa depan anak ibu, kalau ibu tak mau membantu, pak Asir akan menua di penjara, perusahaan kalian juga bisa bangkrut, ibu bisa jadi gelandangan kalau memikirkan ego,” Hitman terus membujuk Alisyah.


“Tidak, aku tidak mau, biar saja bangkrut nanti aku tinggal di panti jompo saja!” Alisyah tetap tak tergerak hatinya untuk membantu putranya.


“Saya sebagai perwakilan art juga sama pak, kalau ada yang harus di katakan, sudah pasti mengenai kekejaman Wina, Dewi dan juga tuan Asir, tak ada pembelaan yang layak untuk mereka, karena memang mereka salah,” terang Teri dengan tegas.


Hitman yang menemui jalan buntu menghela nafas panjang.


“Baikalah, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, sidang di lakukan lusa, datanglah.” setelah itu. Hitman bangkit dari sofa, dan keluar dari rumah Asir.


“Nyonya yakin membiarkan masalah ini?” Teri menanyakan keseriusan majikannya.


“Tentu, karena inilah yang ku mau, sudah lama aku memimpikan Asir dan kedua teman zinanya masuk bui, ku harap mereka kekal disana.” ucap Alisyah dengan perasaan lega.


“Baiklah, terserah nyonya saja, tapi nyonya harus siap dengan segala resiko kedepannya.” ujar Teri.

__ADS_1


“Aku sudah sangat siap, di persidangan, aku akan jadi saksi tambahan untuk Fi, kau juga harus lakukan!” kali itu, Alisyah membantu mantan menantunya, karena ia sendiri butuh keadilan.


...Bersambung......


__ADS_2