
“Itu anak ku! Anak yang ku lahirkan, bagaimana perasaan mu, kalau anak mu di bunuh? Pasti perasaan mu juga akan sedih! Jahat! Kau benar-benar jahat!” Fi menarik selimut yang menutup tubuh Wina.
Namun Wina menahannya, ia yang bersembunyi juga menangis secara diam-diam, ia amat menyesal dengan apa yang telah di lakukan.
Selamat aku ya Tuhan, batin Wina.
Alisyah yang tak tahan mendengar teriak Fi, melerai perbuatan mantan menantunya.
“Sudah Fi, Sudah, jangan lagi!” Alisyah menarik tangan Fi.
Namun Fi yang kuat menghempaskan tangan Alisyah darinya.
“Kau menghentikan ku! Pada hal kau sendiri tak melakukan apapun! Ini masalah nyawa! Kalau memang tak mampu menjaga, harusnya tak usah menahan mereka, aku tak paham kenapa anak mu yang brengsek itu! Ngotot untuk merawat anak-anak ku, nyatanya dia tak bertanggung jawab!” Fi sampai saat ini tak tahu jika alasannya karena harta.
Dan sang pengacara yang loyal pada mantan ayah mertuanya telah oleng, karena dapat sogokan besar dari Asir.
“Iya, tante tahu, tante juga menyesal Fi. Hiks...” Alisyah menangis sesungukan.
“Tante tahu apa? Hah?! Enggak tahu apapun, walau pun Asir mati, tante tidak akan merasakan apa-apa! Karena anak mu itu adalah iblis! Ku rasa tante akan bersyukur kalau dia tiada! Hiks... Emir... Emir...” bagai orang Gila, Fi terus memanggil nama anaknya seraya manarik selimut Wina.
Teri yang menyaksikan merasa tak sabar, ia akhirnya membantu Fi untuk mengeluarkan Wina. Hingga Akhirnya mereka berhasil membuka selimut pembunuh anak Fi.
Terlihat Wina menggigil, tubuhnya meringkuk seraya menangis tanpa suara.
“Jangan akting kau!” Fi menarik tangan Wina. ”Ayo ke kantor polisi!” Fi menarik tubuh Wina agar turun dari ranjang.
“Ma-maafkan aku, maafkan aku Fi, aku tahu bagaimana perasaan mu, karena aku juga kehilangan buah hati ku karena Asir.” Wina mengatakan keadaannya dengan gelagapan.
“Kau pikir aku perduli? Tidak! Anak mu mau mati atau tidak itu bukan urusan ku! Ayo!!!” Fi kembali menarik tubuh Wina.
Yudi yang tak tahu harus berbuat apa hanya mengekor.
“Jangan bawa aku... hiks... aku tidak bersalah .. aku juga korban.” Wina menangis histeris.
“Pada hal kau yang salah, tapi sikap mu seolah menggambarkan kalau kau yang paling tersakiti! Tuan, tolong bantu aku untuk membawanya ke penjara!” pinta Fi dengan tegas pada Yudi.
__ADS_1
“Baik!” hati Yudi merasa lega, karena Fi tak membunuh Wina di hadapannya.
Sepanjang Fi, Wina, Yudi dan Andri lewat dari hadapan orang-orang, banyak yang berbisik mengenai mereka.
Tak dapat di pungkiri, hati para pekerja di rumah Asir sangat girang melihat Wina di perlakukan kasar oleh Fi.
Sesampainya dalam mobil, Fi memasukkan tubuh Wina secara paksa. Meski Wina menangis ia tak perduli.
“Lepaskan aku... aku tak bersalah, tolong jangan sekejam ini pada ku, kalau kau mau balas dendam, harusnya pada mas Asir saja! Dia adalah biang kebencian ku! Hiks...” Wina yang tak tahu diri, tetap merasa benar.
“Mau kau atau Asir, dua-duanya akan ku lapor! Jangan macam-macam kau pada ku! Aku lemah karena anak ku, dan aku berani, karena mereka juga, jadi jangan anggap aku tolol ya!”
Pok!
Fi menghantam kepala Wina dengan handphonenya.
Yudi yang berada di depan dengan Andri merasa resah akan tindakan Fi yang semakin brutal.
“Fi, sudahlah, untuk apa kau mengotori tangan mu, serahkan semua pada yang berwajib, aku juga akan menyewa pengacara untuk membantu mu.” Yudi membujuk Fi agar berhenti.
Fi menangis saat membayangkan putra sulungnya menjadi orang yang sukses.
“Apa gunanya aku punya segalanya, kalau anak ku sudah tiada?! Di depan matanya aku hampir mati terbunuh oleh ayahnya. Sekarang dia malah meninggal karena seorang pembantu yang tak tahu diri ini! Harga yang pantas adalah nyawanya tuan?! Hiks...” Fi tak dapat mengontrol emosinya
Harapan untuk bersama sang buah hati sirna. Impian melihat sang putra menjadi orang sukses pupus.
Yang paling membuatnya sakit, di saat terakhir pertemuannya dengan Emir, hanya penyiksaan yang anaknya saksikan terhadap dirinya.
“Sampai akhir hayatnya, aku tak bisa mengembalikan senyum cerianya, hiks...” Fi menangis dan menyesal karena telah melahirkan anaknya dalam ruang lingkup yang penuh derita.
Andri yang duduk di sebelah Yudi hanya diam, ia tak menangis sedikit pun, karena ia masih teringat akan larangan dua wanita yang menghancurkan pernikahan ibu dan ayahnya.
“Aku tahu, tapi... tenanglah, pasti mereka akan di hukum seberat-beratnya,” ucap Yudi.
“Semoga saja.”
__ADS_1
Tak lama mereka tiba di kantor polisi. Fi yang masih terbakar emosi menarik tangan Wina untuk keluar dari dalam mobil.
“Tolong maafkan aku Fi, jangan penjarakan aku, aku, aku tak bersalah, sungguh, aku tahu betapa pedih kehilangan buah hati, tolong sama-sama memahami, karena kita adalah sesama wanita yang di sakiti orang yang sama.” Wina meminta pengertian Fi.
Lalu Fi tertawa getir. “Jangan bercanda ya!” Fi yang tak mau memberi belas kasih pada yang tidak tepat.
Ia pun menuntun tangan Wina secara paksa. Hingga mereka masuk ke dalam kantor polisi.
Fi dan Wina yang sama-sama menangis membuat polisi heran dan bingung, siapa yang melapor dan yang terlapor.
“Silahkan duduk ibu-ibu berdua.” ucap sang polisi yang sedang bertugas di depan laptop.
“Duduk kau!” Fi memaksa Wina untuk mendaratkan bokongnya ke kursi.
Sang polisi yang melihat kegalakan seorang Fi jadi yakin, bahwa ialah yang menjadi korban.
“Ada yang bisa di bantu bu?” tanya sang polisi.
”Dia telah membunuh anak ku, penjarakan dia pak!” suara melengking Fi membuat siapa saja yang ada di ruangan itu menaruh pandang pada mereka berdua.
“Ba-baik bu. Harap tenang ya, pelan-pelan saja suaranya.” ucap sang polisi. Lalu Fi pun menjelaskan situasi yang terjadi.
Sedang Yudi yang ada di luar menelepon pengacara perusahaannya.
Tolong bantu Fi untuk memenangkan kasus pembunuhan anaknya. 📱 Yudi.
Siap pak, saya akan segera ke rumah bapak untuk menemui bu Fi. 📲 Marteen.
Baik. Terimakasih banyak pak. 📲 Yudi.
Setelah menyerahkan semuanya pada pengacaranya, Yudi pun masuk ke dalam ke dalam kantor polisi, dan disana ia melihat Fi masih marah-marah.
“Saya tak bersalah pak, yang salah ya Asir, saya juga tak membunuh Emir.” Wina tak mengakui segala perbuatannya.
“Alah, yang benar saja kau! Kaulah orang yang mempengaruhinya, dan kau juga mencoba menampar anak ku, enggak usah berkilah lagi.” Fi mengatakan apa yang ia ingin katakan pada yang berwajib.
__ADS_1
...Bersambung......