
“Kalau tidak ada, kenapa tuan sampai datang kemari?!” Reni meninggikan suaranya.
“Kenapa kau tak tanya sendiri pada tuan?” Fi yang tak suka akan kelakuan rekan kerjanya memilih bangkit dari duduknya.
“Kau mau kemana?” tanya Mirna.
“Mencari tempat duduk yang nyaman.” Fi yang tak suka berbaur dengan orang-orang yang menghina dirinya memilih duduk ke dekat pintu kembali.
“Kalian jahat banget sih! Kasihan dia!” Mirna memarahi kedua rekan kerjanya.
“Siapa juga yang perduli!” ucap Reni.
Fi yang ingin segera bekerja menghabiskan dengan cepat sarapannya.
Setelah itu, dia pergi menuju halaman tempat mereka melakukan briefing sebelum kerja.
Setelah 10 menit menunggu, satu persatu Art dan satpam pun datang ke halaman utama.
Kemudian briefing pagi yang di pimpin oleh Rila pun di laksanakan.
Setelah briefing selesai, mereka semua mengerjakan tugas masing-masing.
Fi yang telah sampai di depan pintu kamar Yudi, mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok tok tok!
“Masuk!” ucap Yudi dari dalam kamar.
Ceklek!
Fi pun membuka pintu dengan perlahan. Lalu ia melihat tuannya telah rapi dengan pakaian formal.
“Kau sudah mau bekerja Fi?” sapaan Yudi yang terkesan akrab membuat Fi merasa aneh.
“Iya tuan, tapi setelah tuan beranjak dari kamar,” ujar Fi.
“Um... ngomong-ngomong apa kabar anak-anak mu Fi?” tanya Yudi seraya menyusun dokumen yang ia bawa ke dalam tasnya.
“Aku tak tahu tuan, karena aku sudah sebulan tak bertemu mereka.” wajah Fi menjadi murung saat mengingat anak-anaknya.
Yudi yang melihat keresahan di wajah Fi merasa iba.
“Harusnya kau bawa mereka, saat bercerai dari suami mu,” ujar Yudi.
“Asir tak mengizinkan tuan, entah apa alasannya, pada hal dia tak menyukai anak-anak,” terang Fi.
“Benarkah?” Yudi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Iya tuan.” Fi yang ingin meminjam uang pada Yudi ragu untuk mengatakannya.
Di kasih enggak ya? Pada hal akukan baru kerja 2 hari, apa pantas aku meminta pinjaman 500 juta? batin Fi.
Yudi yang telah selesao menyusun barangnya, berniat untuk segera pergi.
”Oh ya... ini untuk mu.” Yudi memberi sebatang coklat untuk Fi.
”Untuk ku tuan?” Fi menatap lekat wajah majikannya.
”Iya.” sahut Yudi.
Kemudian Fi menadahkan tangannya. Yudi pun di buat heran, saat melihat bekas luka di tangan artnya.
“Apa ini karena robot pembersih yang kemarin?” Yudi memegang tangan Fi yang memerah.
“Iya tuan?” Fi yang tak nyaman menarik tangannya dari Yudi.
“Tunggu sebentar.” Yudi yang buru-buru ke kantor masih sempat untuk mengambil krim luka bakar untuk Artnya.
“Sini tangan mu.” saat Yudi ingin kembali memegang tangannya. Fi malah menolak.
“Saya saja tuan, saya bisa sendiri kok, sebaiknya tuan berangkat.” Yudi yang terlalu baik, membuat Fi tak nyaman. Ia takut jika tuannya ada udang di balik batu padanya.
“Jangan begitu Fi, aku tak ada maksud apapun, aku hanya kasihan pada mu, lihatlah, kau terlihat sakit di seluruh tubuh mu, pada hal aku sudah memberi uang untuk berobat, ku rasa uang itu juga cukup untuk mengoperasi bekas luka mu,” terang Yudi.
Seketika Yudi menjadi mual, “Hoek!!” rasanya ia ingin muntah. melihat betis Fi dengan bekas luka bakar berwarna merah tua. Dan betis Fi yang terbakar juga meninggalkan banyak daging tumbuh.
“Maaf tuan, sudah membuat tuan jijik.” Fi kembali menutup kakinya.
“Sejak kapan, bekas luka itu ada di kaki mu?” tanya Yudi penuh selidik.
“Sebulan yang lalu, mantan suami ku membakar betis ku pakai bensin, saat aku ketahuan akan membawa kedua anak ku pergi dari rumah itu.” terang Fi dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa kau tak langsung obati luka mu, biar tak seburuk ini?” Yudi tak mengerti dengan jalan pikiran Fi.
”Hiks...” Fi yang masih sedih, tak dapat membendung air matanya. “Aku juga mau tuan, uang yang tuan beri rencananya untuk biaya hidup ku dan juga anak-anak ku, tapi aku tak berdaya tuan, saat adik ku mengambil cek yang tuan beri, hiks...” Fi menangis sejadi-jadinya.
Meski telah sebulan berlalu, ia masih mengingat jelas apa yang ia rasakan saat itu.
“Siapa yang kau maksud adik?” Yudi semakin penasaran dengan dengan masa lalu Fi.
“Dewi, wanita yang di katakan Asir sebagai calon istrinya tuan, hiks...” Fi, akhirnya mengatakan keburukan suami dan adiknya.
“Jadi itu adik mu?”
“Iya tuan, itu adik kandung ku, aku yang salah tuan, karena tak dapat menjaga suami ku dengan baik, hiks...”
__ADS_1
Yudi menghela nafas panjang. Lalu ia pun bertanya lebih lanjut. “Siapa yang membuat kaki dan wajah mu jadi cacat, apa itu suami mu juga?”
”Iya tuan, bahkan tak hanya kaki dan wajah, bekas operasi dan organ intiim ku pun, di tendang olehnya, ku pikir waktu itu aku akan mati, tapi ternyata Tuhan masih memberi ku hidup, hiks...”
Yudi mengusap wajahnya, ia tak menyangka ada orang sekejam Asir di dunia ini.
Ia yang ada meeting dengan Asir pun mendadak lupa, karena isak tangis Fi menyita perhatiannya.
“Sudah Fi, jangan menangis lagi, semua sudah berlalu.” Yudi menepuk punggung Artnya.
Kejam sekali kau pak Asir! batin Yudi.
“Saya takut tuan, dengan nasib anak-anak saya. karena Andri, bibirnya juga belum sembuh.”
“Kenapa dengan bibir Andri?” tanya Yudi. Sebab saat ia bertamu ke rumah Asir, ia yang tak terlalu memperhatikan bibir Andri.
“Bibirnya mencong ke kiri karena di tampar Asir tuan hiks...” Fi tak sanggup membayangkan kondisi anak-anaknya sekarang di rumah suaminya.
“Ya Tuhan.” Yudi turut sedih atas apa yang menimpa Andri. Ia yang menyukai anak-anak, ikut terluka akan perbuatan rekan kerjanya.
“Tuan, aku ingin sekali bertemu anak ku,” Fi sangat berharap Yudi mau membantunya.
“Aku akan berusaha mempertemukan kalian.” Yudi yang iba mengusap puncak kelapa Fi.
Deg!
Tangannya tiba-tiba merasa geli, saat menyentuh bekas jahitan yang ada di kepala Fi.
Ia pun melihat dengan hati-hati, apa yang membuat tangannya risih.
Ya Tuhan, apa kau manusia pak Asir? batin Yudi.
Saat keduanya sama-sama berduka tiba-tiba Suli berdiri di antara mereka.
“Drama macam apa ini?” Suli yang tak tahu apapun malah salah faham.
Sontak Fi dan Yudi menoleh ke sumber suara, ”Baby.” Yudi tersenyum karena sang istri yang ia rindukan ada di hadapannya.
“Apa yang terjadi disini? Kenapa kau tak menjawab pertanyaan ku babe?!” Suli yang cemburu membentak suaminya.
“Aku bisa jelaskan baby, kau jangan salah paham.” Yudi menggenggam tangan Suli.
Fi yang sadar dirinya menjadi sumber masalah, menyeka air matanya.
”Maafkan saya nyonya, saya yang salah karena curhat kepada tuan.” Fi menundukkan kepalanya.
“Aku tak bertanya pada mu jelek!” Suli yang terbakar api cemburu malah menghina Fisik Fi.
__ADS_1
...Bersambung......