Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
22 (Dampak)


__ADS_3

Andri yang haus begitu rakus meminum asi ibunya.


Emir yang baru bangun melihat kehadiran sang ibu.


“Mama!” Emir yang riang bangkit dari tidurnya, lalu memeluk Fi.


“Emir, kau sakit apa nak?” tanya Fi seraya mencium puncak kepala putranya berulang kali.


“Diare ma.” jawab Emir.


“Kok bisa sayang?” Fi merasa aneh karena Emir bisa diare. “Memangnya kau makan apa nak?” tanya Fi penasaran.


“Mama jangan bilang-bilang ya.” Emir begitu takut jika ibunya akan memarahi Wina.


“Apa sayang?”


“Bi Wina, memaksa ku untuk menelan cabai 1 sendok, dan bibi juga menyuruh ku menghabiskan nasi banyak, sudah begitu di kasih cabai juga.” Emir menceritakan perlakuan buruk Wina padanya.


Fi yang marah mengepal tangannya. Tadinya ia berpikir jika yang menyakiti putranya adalah Dewi. Kenyataan itu membuat Fi menangis darah, sebab seorang Art sekali pun berani semena-mena padanya dan anak-anaknya.


Tunggu saja kau, batin Fi.


“Nak, lain kali, kalau bibi melakukan hal buruk pada mu, katakan pada mama, jangan takut.”


“Memangnya mama bisa berkelahi? Di marahi tante Dewi saja mama diam, di pukul papa juga diam, aku enggak mau, kalau bibi juga menyakiti mama.” Emir yang tak pernah melihat ibunya bertengkar yakin jika ibunya tak bisa melindunginya.


“Kalau itu soal Emir dan Andri, mama pasti melawan,” ucap Fi.


“Jangan ma, lebih baik kita diam, nanti kalau mama memarahi bibi, mama di suruh makan cabai juga lagi.” Emir berpikir jika ia sama kecil dengan ibunya.


Fi menghela nafas panjang. Ia sungguh kasihan pada dirinya dan kedua putranya.


Andri yang telah kenyang minum asi melihat wajah ibunya.


“Mama lepas maskel (masker) jelek.” Andri masih berpikir, jika wajah Fi yang sekarang masih menggunakan masker.


“Ade, abang suka kok dengan masker mama, jadi ade harus suka juga ya.” Emir kembali mengelabui adiknya.


Andri yang serba setuju dengan pendapat abangnya berkata “Iya, bagus.”


1 jam kemudian, setelah Fi memandikan serta memakaikan baju kedua anaknya. Fi menitipkan Andri pada Emir.


“Nak, tolong jaga ade ya, mama mau buat susu dulu.”


“Iya mama.” sahut Emir.


Setelah itu, Fi keluar dari dalam kamar menuju dapur.

__ADS_1


Ia yang melihat Wina sedang memasak, menghampiri Art yang telah menyakiti anaknya.


“Wina!”


Mendengar ada yang memanggil namanya, Wina menoleh ke arah sumber suara.


“Ada apa?!” sahut Wina dengan sombong.


Plak!


Fi menampar wajah Wina. “Berani sekali kau menyakiti anak ku!”


“Kapan aku menyakitinya?! Jangan fitnah kau buruk rupa!” Wina yang takut memilih berbohong.


“Jangan mengelak! Aku sudah tahu apa yang kau lakukan pada Emir, lancang sekali kau menyakiti putra ku! Kau yang hanya Art, berani memperlakukannya dengan kasar? Anak ku sampai diare karena mu!”


Plak! Fi menampar pipi kanan Wina.


“Mana mungkin aku melakukannya, anak-anak mu itu menang nakal, tak ada yang bisa di urus!” meski dirinya telah dapat tamparan, namun Wina masih bersilat lidah.


“Ck! Wina, aku tahu, bagaimana sifat Emir dan Andri! Hanya karena Dewi jahanam pada ku dan anak-anak ku, kau mau ikutan juga? Memangnya kau siapa? Aku diam karena tak berdaya, bukan karena takut nyawa ku akan hilang! Tapi setiap kali aku mau melawan, ada orang yang harus ku lindungi!!” teriakan Fi yang begitu keras terdengar sampai ke kamar Asir.


Asir yang saat itu baru pulang kerja, dapat mendengar suara marah-marah Fi dari dapur.


Ia yang lelah merasa keberatan ada yang bising di rumahnya.


Sebelum menggunakan sarung tangan itu, Asir terlebih dahulu meletakkan tasnya ke atas bufet yang ada di sebelah pintu kamarnya.


Setelah itu, ia beranjak ke dapur seraya memakai sepasang sarung tangan karet di tangannya.


“Apa kalian tak tahu ini jam berapa?” suara Asir membuat keduanya bungkam.


Fi yang ingat akan peringatan sang adik, langsung menundukkan wajahnya, agar tak di lihat oleh Asir.


“Kau!” Asir berdiri di hadapan Fi. “Kenapa baru datang sudah membuat pencemaran suara di disini?”


Plak! Asir menampar telinga Fi dengan keras.


Nging!!!


Seketika, telinga Fi berdenging, ia pun mendadak jadi pusing.


“Bukannya menjaga anak-anak mu, kau malah asyik marah-marah!”


Plak!


Asir kembali menampar telinga Fi, “Bertingkah bagai nyonya, kau berbuat kasar pada Art baru rumah ku!”

__ADS_1


“Mas...”


“Jangan panggil aku mas, cuih! Jijik!” Asir meludahi kepala Fi yang masih menunduk.


“Tolong dengarkan penjelasan ku, aku marah karena dia...”


“Aku tak ingin dengar suara mu bodoh! Apa Dewi tak mengatakan pada mu? Kalau kau tak boleh menampakkan diri di hadapan ku?”


“Sudah, tapi...”


“Diam! Jangan katakan apapun lagi!” pekik Asir.


Lalu Dewi yang baru selesai mandi datang ke dapur dengan tubuh di balut handuk sutra putih , ia amat penasaran akan kekacauan yang terjadi di dapur.


“Ada apa ini?” Dewi bergabung dengan ke empatnya.


“Manusia kotor ini, marah-marah pada Wina.” ucap Asir menjelaskan situasi yang sebenarnya.


“Ada apa lagi sih kak? Dan... kenapa kakak ada disini? Bukannya aku sudah bilang, jangan tunjukkan wajah kakak di hadapan mas Asir.”


“Untuk itu aku menundukkan kepala ku, dan aku marah-marah pada Wina, karena dia telah memaksa anak ku memakan cabai, sehingga Emir diare.” penjelasan dari Winda membuat Dewi ingat saat Emir makan dengan wajah memerah.


“Apa itu benar Win?” tanya Asir.


“Itu tidak benar tuan, mana mungkin saya berani melakukannya pada tuan Emir.” Wina yang takut berbohong kembali.


Plak!


Dewi menampar wajah Wina, karena Wina telah berani membuatnya rugi dua kali. Pertama karena uangnya harus keluar untuk biaya berobat, kedua, Wina telah mencelakai aset berharganya.


“Aku masih ingat betul! Piring Emir penuh cabai, jadi... kau pelakunya? Sungguh biadab, perbuatan mu tak bisa di maafkan, berani sekali kau menyiksa anak kecil yang tak berdosa! Belum lagi itu majikan mu sialan!” pekik Dewi.


“Kau juga salah, ku titipkan keduanya pada mu, tapi kau bisa kecolongan di depan mata mu sendiri?” Asir memarahi Dewi, karena tak menjalankan tugasnya dengan baik.


“Mas, itu karena aku menjaga Andri, dan saat itu Emir lapar, mana mungkin aku bisa mengawasi keduanya sekaligus.” Dewi membela dirinya yang tak merasa bersalah.


“Aku lelah, kau urus sajq sisanya!” Asir memutuskan untuk kembali ke kamar, karena ia merasa lelah dan pusing.


Setelah Asir pergi, Dewi yang malu di marahi di depan orang lain, memaki Wina.


“Manusia tak berguna! Karena kau telah kurang ajar! Maka bulan ini, kau takkan ku bayar!” puas memarahi Wina. Dewi meninggalkan Fi keduanya menuju kamar iparnya.


Fi yang masih ada di dapur, melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat susu untuk Andri.


Sebelum Fi pergi, ia pun berkata pada dirinya sendiri. “Dasar laki-laki buaya, tak bisa melihat wanita mulus dan seksi, pasti langsung di obok-obok, coba waktu bisa di putar, aku takkan mau menikah dengan orang yang mudah tergoda pada wanita yang dadanya besar!”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2