Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
78 (Akhirnya)


__ADS_3

“Tapi kok bisa, gadis muda itu bekerja disini? Pada hal dia terlihat seperti anak orang kaya.” Reni masih tak terima jika Fi yang cantik adalah Art di rumah itu.


Sepanjang jalan menuju kamar tuannya, Fi tak hentinya mendapat pandangan lekat, orang-orang juga membicarakan dirinya, mereka semua penasaran dengan sosok art baru yang ternyata adalah rekan kerja lama mereka sendiri.


“Luar biasa, betul-betul wanita impian, dia adalah tipe ku,” ucap satpam A.


“Betul, cantiknya alami, kira-kira dia sudah punya pacar belum ya?” ucap satpam B, yang berencana mendekati Fi.


Fi yang mendengar obrolan para satpam itu hanya diam pura-pura tak mendengar. Ia yang kini depan kamar Yudi mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok tok!


Yudi yang telah berseragam formal mempersilahkan Fi untuk masuk.


“Masuk saja!” ucap Yudi dari dalam kamar.


Kemudian Fi membuka handle pintu, “Selamat pagi tuan.” wajah cerah Fi membuat Yudi salah tingkah.


Tuk!


Handphone yang ada di tangannya pun terjatuh, karena seluruh fokusnya tertuju pada wajah Fi.


“Tuan tak apa-apa?” Fi dengan cepat mengambil handphone Yudi dari lantai.


“Maaf, aku tak sengaja.” anehnya Yudi malah minta maaf pada Artnya.


“Iya tuan, tidak apa-apa. Untung handphone tuan tak pecah.” lalu Fi menyerahkan ponsel


tuannya.


Pecah ya tinggal ganti, batin Yudi.


“Terimakasih banyak.” ucap Yudi dengan senyum-senyum tak jelas.


“Oh ya tuan, kapan tuan akan mempertemukan aku dengan anak-anak ku?” Fi mengingatkan Yudi akan janji Suli 3 bulan yang lalu.


“Besok.” Yudi memilih itu karena kontrak kerjanya dengan Asir akan berakhir hari ini, tentunya setelah tak ada ikatan apapun dengan Asir, akan memudahkan Yudi untuk bicara apa yang ingin ia katakan pada mantan suami Fi tersebut.


“Baiklah tuan.” Fi menjadi tak sabar untuk menunggu hari esok.


“Oh ya Fi, kau bisa administrasi tidak?” Yudi tak ingin jika calon istrinya bekerja berdampingan dengan orang-orang kasar yang ada di rumah itu.


“Bisa tuan,” ucap Fi.


“Baiklah, kalau kau mau, ada lowongan di kantor.” Yudi memberi peluang kerja pada Fi.


“Jadi administrasi tuan?” tanya Fi memastikan.

__ADS_1


“Bukan, jadi sekretaris pribadi ku.” Yudi yang ingin mengikat Fi secara halus, sengaja menempatkan wanita itu di dekatnya setiap waktu.


“Apa saya pantas untuk bekerja di perusahaan tuan?” Fi yang tidak percaya diri merasa kalau ia tak lebih baik dari orang lain.


“Tentu saja, kalau tak bisa aku akan mengajari mu, dan kau bisa tetap tinggal disini juga sebagai bonusnya, terserah kau mau tidur di kamar yang mana saja.” kebaikan Yudi yang sangat berlebihan membuat Fi memikirkan perkataan ibunya.


Salah enggak ya, kalau aku menerima semua tawaran tuan? batin Fi.


“Apa saya boleh berpikir dulu tuan?” Fi ingin bertanya pendapat ibunya terlebih dahulu.


“Silahkan.” Yudi membiarkan Fi untuk berpikir, karena ia yakin wanita cantik dan penyabar itu akan menerimanya.


“Oh iya, aku pergi dulu ya. hati-hati saat bekerja.” setelah itu Yudi berangkat ke kantor.


Fi yang di tinggal sendiri bekerja dengan semangat, karena ia ingin membuat tuannya puas akan kinerjanya.


“Bagainana pun aku harus tahu diri.” saat Fi sibuk bersih-bersih Rila masuk ke kamar majikannya.


“Hei neng, siapa nama mu?” tanya Rila ia berpikir kalau Fi masih gadis 18 tahun.


“Eh, kak Rila, apa kabar kak?” Fi menjabat tangan kepala Artnya.


“Kau kenal aku?” Rila menunjuk dirinya.


“Iya kak, aku Fi Saeadat, aku bawa oleh-oleh untuk kakak dari Korea loh.”


“Tidak, kau pasti bercanda.” Rila tertawa getir. sebab gadis di depannya cantik bagai bidadari di matanya.


“Ini memang aku kak, aku tiga bulan yang lalu operasi total, ini wajah ku saat aku masih sehat.” Fi bercerita panjang lebar pada Rila.


“Astaga... beruntung sekali dirimu, tuan dan nyonya begitu baik pada mu Fi.” Rila merasa iri dengan kecantikan Fi yang sekarang.


“Benar kak, aku sangat bersyukur bisa bertemu tuan dan nyonya,” Fi tersenyum bahagia.


Hum... wajah hasil operasi plastik saja bangga, batin Rila.


“Habis berapa buat operasi?” Rila yang ingin membedah hidungnya agar lebih mancung bertanya-tanya pada.


“Aku kurang tahu kak, karena semua biaya di tanggung oleh nyonya.” Fi tak tahu jika tuannya yang membayar semua tagihan rumah sakitnya.


“Oh... begitu, tapi tolong kau tanya tuan ya, karena aku juga mau, hehehe...” ucap Rila seraya keluar dari kamar Yudi.


“Insya Allah kak.” kemudian Fi melanjutkan pekerjaannya kembali.


🏵️


Wina yang tidur di kamar tamu membuka matanya.

__ADS_1


“Astaga... ternyata sudah pagi.” kemudian Wina bangkit dari tidurnya.


“Aku harus segera ke klinik, kalau memang mau tetap bersamanya.” Wina yang sebelumnya telah mencari tahu klinik yang menerima aborsi dengan cepat menuju kesana.


“Bagaimana pun aku tak mau jadi babu lagi, sudah bagus aku bisa bersama pria kaya raya yang memberi segalanya untuk ku.” dengan keputusan yang bulat, Wina akhirnya mantap untuk menyingkirkan buah hatinya dan Asir.


Sedang Asir yang akan berangkat teringat akan Dewi.


“Hum... harusnya dulu aku tak memutuskan Dewi, pada kenyataannya dia jauh lebih cantik dan baik, di bandingkan Wina yang ceroboh, apa aku balikan dengan Dewi lagi ya...” Asir berencana akan menemui Dewi ke tempat kerjanya setelah pulang dari kerja.


“Aku yakin dia masih mau pada ku, seperti biasa, kuncinya adalah uang, punya banyak harta, tinggal tunjuk mau wanita yang mana.” Asir sangat percaya diri. Ia yakin, Dewi yang gila harta akan mau padanya.


Saat ia keluar dari kamar, ia bertemu dengan Wina yang sudah berpakaian rapi.


“Mas.” Wina tersenyum seraya mendekat pada ke kasihnya.


“Ada apa?” wajah Asir nampak tak senang dengan kehadiran Wina.


“Apa mas mau berangkat kerja?


tanya Wina dengan tersenyum. Ia berharap hubungannya dan Asir kembali seperti semula.


“Iya, aku mau bekerja, apa kau sudah memutuskannya?” Asir bertanya soal pengguguran anak mereka.


“Iya mas, aku akan menggugurkannya, Mas tenang saja.” Wina menyakinkan Asir bahwa ia serius.


“Baiklah kalau begitu, ku harap kau masih layak pakai setelah itu.” Asir yang buru-buru berjalan terlebih dahulu.


“Mas, kita sama-sama saja, aku juga ingin ke klinik.” Wina berniat berangkat bersama Asir.


“Tidak, kaukan bisa dengan supir, aku sangat buru-buru soalnya.” Asir menghindari Wina yang sudah cacat di matanya.


Wina yang di tinggalkan begitu saja menelan salivanya.


Ia juga menahan air matanya yang akan menetes. Sebab banyak pasang mata yang menaruh pandang padanya.


Akhirnya, Wina berangkat dengan supir menuju klinik aborsi ilegal yang akan ia tuju.


🏵️


Di perusahaan Yudi, Asir dan 2 orang rekan kerja duduk di ruangan meeting berhadapan dengan Yudi.


“Jadi kontrak kerja sama yang kita lakukan sudah berakhir kemarin ya pak Asir.” ucap Yudi seraya melihat kembali berkas kontrak kerja sama mereka.


“Iya pak, tapi kita masih perpanjangkan pak?” ucap Asir dengan penuh senyum.


Lalu Yudi melihat wajah Asir dengan seksama. “Tidak pak Asir, ku rasa cukup sampai disini.” Yudi memutus begitu saja, karena ia tak sudi menjalankan bisnis dengan orang sebiadab Asir.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2