
Fi yang mendapat gombalan dari calon suaminya menahan tawanya.
“Baik, kalau begitu, kita di teras saja.” setelah mengatakan itu Fi yang tidak tahan melihat wajah Yudi lebih lama, balik kanan dan berjalan lebih dulu menuju teras.
Yudi yang mengikuti langkah Fi tak hentinya tersenyum.
“Dari belakang juga cantik,” gumam Yudi.
Fi yang mendengar pun mengelus tengkuknya, karena tersipu malu.
Sesampainya mereka di teras, keduanya pun duduk di atas kursi yang terbuat dari rotan.
“Kau mau bicara apa?” tanya Yudi dengan melihat jam di handphonenya.
“I love you aku cinta pada mu tuan,” ucap Fi dengan satu napas.
Yudi yang di tembak dadakan tanpa sengaja menjatuhkan handphone Apelnya.
“Kau bilang apa tadi?” Yudi tak percaya dirinya mendapat pernyataan cinta.
“Aku cinta pada tuan.” Fi mengulangi apa yang ia katakan.
Yudi yang mendengar itu pun merasa sangat bahagia, andai ia punya sayap pasti ia akan terbang ke langit saat itu juga.
“Aku juga cinta kau, maaf terlambat mengatakannya.” Yudi yang ingin menggenggam tangan Fi malah kena tepis.
Plak!
“Belum muhrim tuan.” Fi mengingatkan Yudi tentang status mereka yang belum resmi.
“Sabar!” Yudi menghela napas panjang. “Oh ya, lusa kita fitting baju pengantin.” Yudi mengatakan rencananya pada Fi.
“Oke tuan.” sahut Fi seraya menatap ke arah tanah karena malu.
“Ngomong-ngomong berapa nomor rekening mu?” Yudi ingin memberi hadiah pada calon istrinya, karena Fi telah menyatakan cinta padanya, jadi ia yang punya banyak uang ingin membuangnya untuk Fi.
“Untuk apa tuan?” tanya Fi, sebab ia merasa sudah gajian bulan itu.
”Untuk memberi kau uang jajan.” Yudi pun mengambil kembali handphonenya dari atas lantai.
“Tidak usah tuan.” Fi menolak karena ia merasa punya uang.
“Saat ini aku tak bisa memberi mu pelukan atau ciuman, jadi biarkan aku memberi uang.” Yudi memaksa calon istrinya untuk mengatakan nomor rekeningnya. Sebab yang mengurus keuangan selama ini adalah Rila.
Fi yang merasa apa yang di katakan Yudi ada benarnya pun memberi nomor rekeningnya.
“Oke, aku kirim lewat si hijau saja ya tuan.” Fi pun mengirim photo tangkap layar nomor rekeningnya.
Dengan cepat Yudi mengirim uang yang tak seberapa baginya pada calon istrinya.
Tididing!
Saat Fi membaca notifikasi pesannya, matanya membelalak.
__ADS_1
“Tuan!” Fi membentak Yudi, karena lagi-lagi dirinya di beri nominal fantastis.
“Harusnya kau panggil sayang, bukan tuan lagi sekarang, xixixi...” Yudi menertawai calon istrinya.
“Kitakan belum resmi tuan,” ucap Fi seraya tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa, anggap saja latihan.” Yudi mencubit hidung mancung Fi.
Fi yang mendapat perlakuan manis merapatkan kedua bibirnya, meski ia ingin tertawa melihat tingkah konyol tuan besar yang punya segalanya.
“Bang.” Fi memanggil calon suaminya dengan sebutan abang.
“Iya adik?” sahut Yudi.
“Apa abang tidak ngantuk?” Fi mengusir halus Yudi.
“Baik, tapi beri aku satu kecupan.” Yudi meminta ciuman pada Fi.
“Dimana?” tanya Fi dengan suara lembut.
“Disini.” Yudi menunjuk ke arah keningnya.
“Oke.”
Fi yang setuju dengan begitu mudah membuat Yudi curiga.
Benar saja, Fi mencium jari telunjuk dan tengahnya bersamaan, selanjutnya ia tempelkan di bibir Yudi.
“Aku menaruh harap pada mu, jangan kau sakiti aku dan anak ku kelak, aku memilih mu karena anak ku, ku harap kau tulus pada ku, bukan hanya sekedar penasaran karena tak mendapatkan ku sejak 5 tahun yang lalu.” Fi mengatakan isi hatinya.
“Aku takkan pernah mengucap janji apapun pada mu, kita jalani saja, nanti kau dapat menilai, bagaiman aku pada mu.” Yudi pun menuntun tangan Fi untuk memegang dadanya.
Deg! deg! deg!
“Ku rasa aku butuh dokter jaga 24 jam.” Yudi kembali mengajak Fi bercanda.
“Boleh aku melamar?” Fi menanggapi candaan Yudi.
“Langsung di terima, karena aku hanya butuh kuota 1.” Fi dan Yudi menghabiskan malam mereka dengan canda dan tawa.
Mereka yang sama-sama pernah di khianati merasa pertemuan mereka sekarang adalah yang paling tepat.
Karena kisah sebelumnya, mengajarkan mereka untuk lebih hati-hati menjaga hati pasangan mereka masing-masing.
🏵️
Keesokan harinya, saat sipir penjara datang memantau sel yang di huni oleh Dewi.
Sang sipir pun melihat Dewi yang bersimbah darah.
“Tolol! Ada peristiwa begini kalian diam saja?!” sang sipir memarahi Leli dan kawan-kawan.
Kemudian sang sipir membuka gembok sel yang mengurung Dewi di dalamnya.
__ADS_1
“Kalian apakan?!” tanya sang sipir penuh selidik.
“Tumbang sendiri pak dari tadi malam, makanya kita enggak sentuh, nanti salah sedikit malah kita yang jadi tersangka.” ucap Leli bersilat lidah.
Pada hal mereka memang sengaja membiarkan Dewi sekarat.
“Ini belum selesai, nanti kalian akan di periksa satu persatu, kalau terbukti bersalah, maka kalian akan di kurung di penjara pengasingan!”
Setelah memberi ancaman. Sang sipir mengangkat Dewi untuk menuju rumah sakit.
🏵️
Siang harinya, Fi yang baru selesai makan di temui oleh Yuri.
“Fi!” wajah Yuri nampak pucat saat memanggil nama putrinya.
“Ibu kenapa?” Fi berpikir kalau ibunya sedang sakit.
”Dewi Fi, dia di rawat di rumah sakit, dan sekarang lagi kritis,” terang Yuri.
“Ibu tahu darimana?” meski Dewi telah jahat padanya, namun Fi yang mempunyai hati nurani merasa iba pada adik kandungnya satu-satunya.
“Tadi pihak kepolisan yang telepon, ayo Fi, kita jenguk dia, katanya parah banget.” Yuri menahan air matanya karena iba pada Dewi.
“Ayo bu.” Fi dan Yuri pun berangakat ke rumah sakit yang telah di beritahu oleh polisi.
20 menit kemudian, Fi dan Yuri tiba di tujuan. Mereka pun langsung menuju ruangan Dewi di rawat.
Krieettt!!
Saat Fi membuka pintu, mereka pun melihat Dewi yang terbaring lemah.
Tangan di infus, dan di bantu bernafas oleh tabung oksigen.
Fi dan Yuri pun masuk. Dewi yang masih memiliki kesadaran menoleh ke arah kakak dan ibunya.
“Kak...” ucap Dewi dengan suara yang lemah.
“Dewi, ada apa dengan mu?” tanya Fi seraya menguap puncak kepala adiknya.
“Aku sakit kak, kakak maafkan aku karena sudah menyakiti mu selama ini, ibu... maafkan Dewi. Dewi salah bu.” Dewi menangis mengingat semua kesalahannya.
“Iya Wi, kami sudah memaafkan mu.” Yuri memeluk Dewi yang kini tak bisa duduk.
“Aku senang, ada kalian disini menemani aku, dan kakak perlu tahu, alasan Asir menahan Andri dan Emir selama ini, karena mereka berdua lah pewaris seluruh harta kekayaan ayah mertua mu kak, rebut kembali kak, itu hak Andri sekarang.” Dewi berharap rahasia yang satu itu dapat menebus kesalahannya pada sang kakak.
...Bersambung......
Dua novel di bawah ini akan membuat mu penasaran akan kisah selanjutnya, enggak percaya? Coba di baca, dan buktikan lewat kolom komentar.
__ADS_1