Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
113 (Hilang Raga)


__ADS_3

Fi menjadi bingung dengan permintaan anaknya.


Ia pun memeluk putranya yang sedang menangis.


“Sst sst sst... itu hanya mimpi nak, papa baik-baik saja kok. Jangan menangis lagi ya. Besok kita ketemu papa.” ucap Fi menenangkan anaknya.


“Dimana ma?” tanya Andri.


“Di persidangan, makanya, ceritakan semua perlakuan papa dan tante Wina pada mu, abang, nenek, dan juga mama, itu akan mudahkan mu untuk bertemu papa kapan pun kau mau,” terang Fi.


“Iya mama.” Andri pun menuruti semua yang di katakan ibunya.


🏵️


Keesokan harinya, Fi bangun di jam seperti biasa, yaitu 04:30 pagi.


Kemudian ia pun menoleh ke arah putranya yang matanya membengkak.


“Nak, kau kok masih sayang sih sama papa mu?” Fi pun mengecup kedua tangan dan kening putranya.


“Jangan sakit-sakit dong nak, mama sedih kalau kau begini.” Fi menitikkan air matanya.


Setelah itu, ia pun turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah 10 menit membersihkan diri, Fi keluar dari kamar mandi.


Ia yang telah lama menunggu hari itu membuka lemari bajunya.


Fi pun mengambil dress casual simpel dengan model A line berwarna dusty pink dengan panjang di bawah lutut.


Rambutnya yang hitam panjang ia kuncir, wajahnya yang sudah cantik, ia beri sentuhan make up soft namun elegan.


Fi pun mengenakan anting emas panjang bermodel rubah di telinganya yang putih mulus.


Lehernya yang jenjang ia hias dengan kalung berlian tipis.


Seketika auranya yang yang mahal terpancar dengan nyata.


“Aku ingin sebelum kau menetap di penjara, kau melihat wajah ku yang dulu.” Fi ingin menghukum mantan suaminya dengan kenyataan yang pelik.


Setelah selesai berhias, Fi mengenakan heels berwarna senada dengan bajunya.


Di rasa cukup pas, Fi tiba-tiba merasa konyol. “Astaga... akukan belum memandikan Andri, Ya Tuhan, sudah cantik-cantik, harus main air lagi?” Fi geleng-geleng kepala dengan kecerobohannya.


Alhasil ia pun meminta bantuan pada ibunya.


“Maaf bu, harus menyusahkan ibu lagi.” kemudian Fi keluar dari dalam kamarnya.


Reni yang baru selesai mandi melihat Fi yang begitu sempurna.


“Apa sebenarnya Fi jelmaan bidadari?” Reni yang jatuh hati tak sadar menjatuhkan risol yang baru ia makan setengah.


Fi yang melihat Reni juga langsung mendatangi rekan kerjanya.


“Hei.” suara Fi yang lembut dan berwibawa membuat Reni kikuk.

__ADS_1


“I-iya nyonya?” Reni spontan memanggil Fi demikian, karena ia merasa tak pantas bila memanggil Fi dengan sebutan nama.


“Bicara apa sih kau?” Fi merasa aneh, dengan panggilan baru yang di ucapkan Reni.


“Bukankah aku harus memanggil mu nyonya? Karena akukan bekerja di rumah mu,” terang Reni.


“Biasa saja Ren, panggil Fi saja, itu khusus untuk kalian bertiga loh, xixixi...” setelah itu Fi meninggalkan Reni menuju kamar ibunya.


Reni yang mendapat perlakuan baik, semakin malu akut, ia yang cantiknya tak sebanding dengan Fi, membuatnya menelan salivanya.


“Harusnya aku jangan jadi orang sombong selama ini.” Reni mengelus-ngelus wajahnya, kemudian ia pergi menuju dapur karena haus.


Tok tok tok!


Fi mengetuk pintu kamar ibunya, tak lama Yuri membuka pintu kamarnya.


Krieeet...!!!


“Fi.” ternyata sang ibu sambung telah berpakaian rapi.


“Ibu sudah mandi?” Fi menjadi tak enak untuk minta tolong pada ibunya.


“Iya, loh Andri mana?” tanya Yuri.


“Masih tidur, ya sudah bu, aku mau kembali ke kamar.” Fi memutuskan untuk memandikan Emir sendiri.


“Fi, Emir belum mandikan?” ucap Yuri.


“Iya bu.” sahut Fi.


“Terimakasih banyak bu.” ucap Fi dengan tersenyum lebar.


Kebetulan yang sangat tepat, batin Fi.


Selama sang ibu memandikan putranya, Fi memesan makanan online.


Saat Fi ingin masuk ke kamarnya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.


Ting dong!


“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” Fi melihat ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 05:46 menit.


“Apa itu tuan Yudi?” Fi mengangkat kedua bahunya.


“Mana mungkin!” Fi yang ingin tahu siapa gerangan yang ada di balik pintu utama segera menuju kesana


Retek!


Krieeett...


Fi membuka pintu rumahnya, “Hah??!!” seketika Fi terperangah dengan kehadiran 5 art rumah majikannya.


Yang mana di antaranya adalah Mirna. Mereka datang bukan tanpa alasan.


Yudi yang baru turun dari dalam mobil mewahnya melihat Fi yang cantik tiada dua sedang berdiri di dekat pintu.

__ADS_1


Ya Tuhan, cantik sekali ciptaan mu, batin Yudi.


Ia yang lagi-lagi tak dapat mengontrol diri berjalan ke arah Fi tanpa melihat jalan.


Para art yang tahu tuan mereka tak sadar dengan otomatis memberi jalan.


Fi yang melihat kehadiran sang majikan jadi malu-malu kucing.


Pasalnya sang majikan baru saja menyatakan cinta padanya tadi malam.


Saat Yudi telah tepat berdiri di hadapan Fi, Yudi pun berkata.


Selamat pagi, ku yakin kau belum makan. batin Yudi.


Yudi yang tampan berpikir kalau kata-kata yang baru ia ucapkan dalam hatinya, telah keluar dari mulutnya.


“Tuan, apa tuan baik-baik saja?” tanya Fi, pasalnya Yudi sangat aneh di matanya.


Namun Yudi yang telinga tak berfungsi saat itu tak mendengar apa yang di katakan calon istrinya.


“Eh! Ada tuan Yudi.” suara keras dari Yuri, mengembalikan kesadaran Yudi.


“Ibu?” ucap Yudi.


Astaga... apa yang ku lakukan barusan, batin Yudi.


“Ayo masuk tuan, eh ini kenapa ramai-ramai tuan?” tanya Yuri.


“Aku menyuruh mereka untuk membawa makanan kemari, ku yakin ibu dan Fi belum memasak.” terang Yudi dengan senyum mempesona.


“Memang belum tuan, terimakasih banyak.” ucap Fi mewakili ibunya.


“Ayo masuk, jangan lama-lama berdiri di luar.” kemudian Yudi masuk ke dalam rumah calon istrinya.


Para art yang ada di belakang Yudi, Fi dan Yuri pun berbisik.


“Bukannya yang buat lama tuan sendiri?” ucap Mirna.


“Benar, aneh banget tuan ya, pada hal dengan nyonya Suli dulu tak begitu, walau aku hanya sekali melihat mereka bersama,” terang art A.


Sesampainya di meja makan, semua oleh-oleh yang Yudi bawa dari rumahnya di hidang di meja makan.


Ada ikan pepes, ikan goreng balado, ikan panggang, sayur campur rebus, timur potong segar, kerupuk udang dan aneka gorengan yang cocok jadi pasangan lauk yang mereka akan lahap.


Fi yang melihat banyak menu berlemak ingin tertawa keras, pasalnya Yudi tak mengira-ngira, kalau dirinya dan art lainnya berusaha keras untuk menjaga pola makan agar tetap memiliki tubuh ideal.


Tapi tak mengapa, kali itu Fi dapat menerima, karena Fi mengerti, yang majikannya lakukan adalah sebuah bentuk rasa cinta.


Lebih baik di kasih sebungkus nasi, dari pada satu buket bunga, batin Fi.


Kebaikan Yudi yang tulus, membuat Fi senyum-senyum tak menentu.


Yudi yang melihat wanita cantiknya bertingkah manis, membuat ia makin semangat untuk melakukan hal banyak di kesempatan lain.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2