
Yudi yang mendapat tatapan penuh makna dari Fi menjadi grogi.
Ia berpikir kalau ada sesuatu di wajahnya. “Ada apa? Kenapa tatapan mata mu tajam sekali?” pertanyaan Yudi membuat Fi tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa tuan.” Fi pun meminum teh buatannya.
“Apa ada yang salah dengan wajah ku?” Yudi meraba-raba pipinya.
“Tidak tuan, semua sudah pas.” Fi ingin tertawa saat melihat wajah Yudi nampak khawatir.
“Benarkah?” Yudi tersenyum pada Fi. “Kalau ada yang lucu tertawa saja, aku tak keberatan jika alasan tawa mu adalah aku.”
“Kenapa saya harus tertawa karena tuan?” Fi tak mau melakukannya karena ingin menghargai majikannya.
“Oh.” jawaban dingin Fi membuat Yudi mati kutu.
“Iya.” jawaban singkat Fi seolah menyuruh Yudi pulang.
“Apa kau sudah makan?” tanya Yudi untuk membuat topik baru.
“Sudah tuan.” Fi tak melempar pertanyaan yang sama pada majikannya.
“Aku belum, mau makan dengan ku? Aku akan pesan online.” malam itu Yudi ingin makan bersama Fi.
“Aku sudah kenyang tuan.” Fi tak memperpanjang jawaban atas semua perkataan Yudi.
“Oh, begitu ya.” Yudi yang selalu mendapat kartu mati dari Fi menjadi tak nyaman, bila harus berlama-lama disana lagi.
“Sudah malam tuan, besok tuan harus kerja bukan?” kode kera yang Fi berikan membuat Yudi menelan salivanya.
Galak banget, batin Yudi.
“Ya, tadi aku juga sudah berencana untuk pulang, oke!” Yudi bangkit dari duduknya. “Selamat malam Fi, jangan begadang, karena kau butuh energi untuk mengahadapi persidangan lusa,” ucap Yudi.
“Terimakasih banyak tuan, tuan juga harus jaga kesehatan. Mari ku antar tuan.” Fi yang tak punya basa-basi membuat Yudi mengelus dada.
“Baiklah.” kemudian Fi mengantar Yudi sampai ke pintu utama.
“Hati-hati tuan.” Fi tersenyum tipis pada Yudi.
“Baiklah, terimakasih banyak.” Yudi pun keluar dari rumah Fi.
Saat ia menoleh ke belakang, Fi melambaikan tangannya.
Yudi pun membalas lambaian tangan itu di tambah dengan senyuman.
Selanjutnya Yudi mengayun pedal sepedanya menuju rumahnya.
__ADS_1
Setalah Yudi luput dari pandangannya, Fi tersenyum seraya menutup pintu. Pasalnya sikap jutek yang ia lakukan hanya untuk menguji seberapa jauh Yudi mencintainya.
Kira-kira tuan akan mentok dimana ya? batin Fi.
Keesokan harinya, Fi yang bangun jam 04:30 melihat ke sebelahnya.
“Masih nyenyak dia.” lalu Fi mencium Andri yang masih terlelap.
Kemudian Fi turun dari ranjang, saat ia membuka pintu kamarnya, la langsung merasa prustasi, sebab rumah besar itu harus ia bersihkan sendiri.
Pernikahan yang tak menyisakan apapun padanya, membuat Fi berpikir dua kali kalau harus buang-buang uang untuk menggaji art.
Pasalnya ia ingin tabungan yang ia miliki saat
untuk biaya pendidikan anaknya di masa depan.
Belum lagi, Fi ingin membawa Andri ke dokter saraf, karena ia mau mengobati bibir anaknya yang masih mencong ke kiri.
“Apa ku buat saja rumah ini jadi kosan?” Fi berpikir hal itu adalah ide yang bagus.
Sebelum mulai bekerja, Fi mandi dan sholat terlebih dahulu.
Setelah itu ia ke dapur untuk memasak. Namun saat Fi membuka pintu kulkas, ia pun menghela napas panjang, sebab tak ada apapun yang bisa di masak disana.
“Ya Tuhan, kok aku bisa lupa sih?!” Fi memijat kepalanya yang terasa sakit.
Alhasil Fi pun berencana akan ke pasar pagi yang berjarak 15 menit dengan naik motor dari rumahnya.
Yudi yang baru bangun buru-buru keluar dari ranjang.
Ia yang ingin bertemu Fi namun tak ada alasan untuk ke rumah sang pujaan hati memutuskan untuk olah raga pagi saat itu.
Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi, karena ia ingin saat Fi melihatnya ia dalam keadaan keren, bersih dan wangi.
Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit di kamar mandi, Yudi pun keluar, selanjutnya memakai baju khusus joging yang biasa di pakai pada umumnya.
Walau Yudi biasa bangun pagi, namun yang membuat berbeda di mata artnya adalah Yudi memakai pakaian olah raga.
“Mau kemana tuan?” bisik Lia pada Rila.
“Kalau penasaran tanya saja sendiri.” Rila yang tau tujan majikannya, tak ingin membuat gosip meski bibirnya gatal.
Karena tujuannya sekarang adalah mendukung Fi, sebab Rila yakin 100%, kalau Fi akan menjadi nyonya Hirarki cepat atau lambat.
Siapa yang bisa menolak tuan besar yang sudah tampan, dompet tebal, atm berat, batin Rila.
Yudi yang telah keluar dari rumah, melakukan lari-lari kecil menuju jalan.
__ADS_1
Niat hatinya yang dari awal hanya ingin cari perhatian pada Fi, mulai sok sibuk gerak badan di depan gerbang wanita cantik itu.
Meski hari itu bukan hari libur, tapi demi Fi, Yudi rela mengundur meeting pentingnya.
“Satu dua, satu dua!” Yudi pun mengencangkan hitungannya seraya melakukan gerak badan.
Namun 30 menit ia melakukan olah raga, sang pujaan hati tak muncul sama sekali.
“Apa dia masih tidur??” Yudi pun melihat ke arah rumah Fi yang ada di sebelah ia berdiri.
“Astaga!” Yudi tersentak, pasalnya ia tak sengaja bertemu mata dengan Yuri.
“Eh... tuan, lagi olah raga ya?” Yuri membuka pagar rumah mereka.
“I-iya bu, walau sibuk harus tetap sempatkan olah raga, karena sehat itu penting bu. Hehehe...” Yudi yang tertangkap basah malu bukan main.
“Tuan benar sekali, silahkan di lanjut tuan.” Yuri tersenyum lebar pada Yudi.
“Ngomong-ngomong masih tidur ya bu?” tanya Yudi yang penasaran dari tadi.
“Tidak tuan, dia lagi ke pasar, karena bahan-bahan di dapur lagi kosong,” terang Yuri.
Yudi yang tahu hal itu merasa semua yang ia lakukan sia-sia.
Tahu begitu, mending aku mandi dan berangkat ke kantor, batin Yudi.
Lalu ia pun melihat ke arah mata hari yang sudah mulai menampakkan sinarnya.
“Oh, gitu ya bu, kalau begitu aku titip salam pada Fi saja, katakan untuk makan yang banyak.” karena tak mendapatkan apa yang dia inginkan, Yudi pun mengakhiri drama paginya.
“Siap tuan, nanti saya akan sampaikan.” Yuri sangat senang dengan Yudi yang selalu perhatian pada putrinya.
“Terimakasih banyak bu.” setelah itu Yudi pulang ke rumahnya.
Ia yang baru sampai di kamar melihat layar handphonenya menyala.
Yudi dengan cepat mengambil handphonenya yang ada di atas meja.
Ia pun melihat pesan masuk, dari yayasan ia mendapatkan art.
Maaf pak, saat ini yang melamar kerja belum ada, tapi secepatnya akan kami kabari. ✉️ Ibu Yayasan.
Baik bu, saya menunggu kabar terbaru dari ibu. ✉️ Yudi.
“Astaga... bisa repot banget Fi karena ini.” ia yang kasihan pada sang pujaan hati, memutuskan menyuruh sebagian artnya untuk menangani rumah Fi.
Ia yang ingat wajah Reni langsung memasukkanya ke dalam list.
__ADS_1
“Ini judulnya, misi untuk membersihkan rumah Fi, yang kesana, Reni, Lia, Selia, dan Mirna, eh jangan Mirna. Nanti yang masak untuk ku siapa? Oh iya, kasih Selia saja.” setelah menentukan orang-orang yang akan ia kirim ke rumah Fi, ia pun masuk ke kamar mandi untuk mandi kembali.
...Bersambung......