
Rila dan para pekerja lainnya merasa ketar ketir, pasalnya sang tuan besar tak pernah ikut campur dengan apa yang mereka lalukan sebelumnya.
Karena semua soal rumah telah di percayakan pada Rila.
Namun kali itu, sang tuan besar yang tak pernah terdengar suaranya tiba-tiba berbicara lantang di hadapan mereka semua.
“Apa dari kalian tak ada yang punya mata? sampai-sampai tak melihat, rekan kerja kalian, makan seorang diri di luar?”
Semua orang melihat satu sama lain, tak ada yang berani buka suara. Terlebih sang satpam angkuh yang tak memberi Fi kursi merasa dag dig dug, jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang.
Semoga aku enggak kena, kalau sampai ketahuan, habis sudah karir ku sebagai satpam di rumah ini, batin sang satpam.
“Ada yang bisa jelaskan? Kenapa dia duduk sendiri di luar??” di antara banyaknya orang dalam ruangan itu, tak ada seorangpun yang mau buka suara.
“Kalau tak ada yang mau bicara, kau!” Yudi melihat ke arah Rila. “Akan ku pecat!”
Duar!!!
Rila hampir pingsan mendengar keputusan dari majikannya.
“Ta-tapi tuan, saya tidak bersalah, kenapa jadi saya yang di salahkan?!” Rila mencoba membela diri.
“Karena kau pemimpinnya, bisa-bisanya kau makan enak, sementara anggota mu tersisih sendiri di luar, apa kau gila?! Kau taruh dimana otak mu?” pekik Yudi.
Jdar!!! Lagi-lagi, Rila di buat jantungan oleh Yudi.
“Kau harus cari penyebab dari masalah ini, aku tunggu paling lama 30 menit, dan satu lagi! Buang semua bangku dan meja yang ada di ruangan ini.” titah dari Yudi, yang membuat Rila dan yang lainnya merasa ketakutan.
Setelah itu, Yudi keluar dari ruang makan Artnya.
Fi yang masih duduk di pintu diam tak bersuara. Ia merasa pembelaan tuannya akan membawa malapetaka baru padanya.
Yudi yang kini berdiri di hadapan Fi, melihat dengan seksama wanita yang masih menundukkan kepalanya.
“Hei, Fi Saeadat, angkat kepala mu,” ucap Yudi.
Dengan ragu, Fi mendongak, untuk melihat wajah tuannya.
“Iya tuan?” sahut Fi dengan suara yang redup.
Kemudian Yudi berjongkok di hadapan Fi. Seraya menyodorkan handphone Fi yang ia pinjam.
“Ini, aku kembalikan.” Yudi tersenyum manis pada Artnya.
“Terimakasih banyak tuan.” Fi mengambil handphonenya dari tangan majikannya.
__ADS_1
“Fi, kalau ada yang usil pada mu, katakan saja pada ku.” Yudi ingin sekali melindungi wanita malang itu.
“Baik tuan.” Fi yang tak ingin bicara panjang lebar hanya mengangguk setuju
“Jangan mau di injak, kalau memang tak salah, takkan ada yang bersedia menyelamatkan mu, selain dirimu sendiri.” setelah menyemangati Fi, Yudi pun bangkit.
“Kenapa?” ucap Fi.
“Apanya?” tanya Yudi.
“Kenapa tuan begitu baik pada ku? Saat pertama kali bertemu, tuan juga memberi ku dan anak-anak ku uang, pada hal kita tak saling kenal tuan.” Fi merasa aneh dengan kebaikan hati majikannya.
“Karena kau menyedihkan.” jawaban dari Yudi membuat Fi tersentak, ia pun sadar akan apa yang di maksud oleh tuannya.
Karena jelek dan cacat, itukan maksudnya? batin Fi.
Setelah mengatakan alasannya, Yudi meninggalkan Fi.
Yudi yang telah sampai ke kamarnya, duduk di pinggir ranjang dengan menghela nafas panjang.
“Hufftt...” ia pun teringat akan ibunya yang telah meninggal dunia.
“Karena kau sama malangnya dengan ibu ku.”
Sang ibu yang menjadi istri kedua, selalu mendapat kecaman dan tindakan fisik dari pihak ibu sambungnya.
Yudi yang masih kecil saat itu, hanya bisa melihat keganasan istri pertama ayahnya yang tidak memiliki keturunan.
Ibunya yang juga seorang istri sah di rumah besar ayahnya, sering kali di perlakukan bagai Art oleh ibu tirinya.
Namun setelah Yudi dewasa, sang ayah yang tak memiliki anak lain selain dirinya, memutuskan mewariskan segala harta kekayaan milik Hirarki kepada dirinya.
Meski ia memiliki segalanya, namun di hatinya selalu merasa ada yang kurang, sebab sebelum ia sukses, ibunya telah tiada.
Karena itu, Yudi tak dapat melihat bila ada orang lain yang kesusahan, apa lagi mendapat penganiayaan.
_______________________________________
Rila yang ingin menyelamatkan karirnya mulai mengusut tuntas dalang dari perundungan Fi.
“Katakan! Ulah siapa ini?! Di yayasan ku masih banyak yang menganggur, kalau kalian diam, bukan hal sulit bagi ku untuk memecat kalian!” Rila yang tak ingin kehilangan gaji 30 juta perbulan harus bertindak cepat sebelum 30 menit berlalu.
Mirna yang tak suka pada Ikhwan, sang satpam sombong, sok tegas dan merasa berkuasa mulai angkat suara.
“Itu semua karena pak Ikhwan bu!” ucap Mirna.
__ADS_1
Sontak Rila mengalihkan pandangan mengerikannya pada satpam tersebut.
“Jadi kau biang keroknya?” Rila berjalan cepat menuju Ikhwan yang duduk di kursinya.
“Ma-maafkan saya bu, itu semua karena si pincang yang tak tahu diri.” meski nasibnya telah di ujung tanduk, Ikhwan masih sempat menghina Fisik Fi.
“Tidak tahu diri apa maksud mu?!” tanya Rila penuh selidik.
“Dia meminta bangku yang menjadi tempat tas ku, dan menyuruh ku untuk meletakkan tas ku di lantai, itu namanya enggak sopan bu. Apa lagi dia masih anak baru disini,” Ikhwan menjelaskan kronologi yang terjadi dengan jujur.
”Jadi begitu?” Rila yang telah hilang kesabaran meraih kasar tas ransel hitam milik Ikhwan.
Brukk!!
Rila melempar tas milik Ikhwan ke lantai dengan sembarang.
“Jadi itu masalahnya? Di gudangkan banyak bangku. Lagi pula, bangku itu gunanya untuk tatakan bokong, bukan tas!” aksi heroik dari Rila membuat Ikhwan menelan salivanya.
“Ma-maaf bu.” seketika Ikhwan menjadi kikuk.
“Dan karena ulah mu, aku hampir saja kehilangan pekerjaan ku!” pekik Rila.
“Maaf bu!” lagi-lagi hanya kata maaf yang terucap dari bibir berbisa Ikhwan.
“Tidak ada maaf untuk mu, sekarang kau ku pecat!” Rila yang merasa di rugikan, tak ingin ada Ikhwan di antara mereka lagi.
“Tapi bu, saya tidak bersalah, kalau saja si pincang mintanya baik-baik pasti saya akan beri.” Ikhwan yang tak kunjung sadar, tetap membela diri.
“Aku tak perduli, di antara kalian siapa yang salah dan benar, yang jelas! Kau sudah membuat posisi ku dalam bahaya! Kalian semua juga tidak ada yang punya otak! Selalu saja membuat aku pusing!” Rila melampiaskan amarahnya pada semua bawahannya.
Kerusuhan dalam ruang makan itu di dengar jelas oleh Fi yang masih duduk di atas lantai.
Ia yang telah selesai makan berniat menaruh piringnya ke dalam ruang makan.
“Ikhwan, aku tak mau tau ya! Tinggalkan tempat ini sekarang juga!” Rila menunjukkan jalan keluar pada Ikhwan.
“Bu, saya mohon jangan pecat saya, saya berjanji tidak akan membuat ulah lagi.” Ikhwan sungguh menyesal dengan apa yabg ia perbuat.
“Tidak-tidak! Kau wajib keluar! Enak saja kau masih kerja disini?! Makanya banyak-banyak bersyukur kalian semua, dari gaji di bawah UMR menjadi setara PNS!” Rila sendiri merasakan gaji kecil di tempat kerjanya yang sebelumnya. Karena itu ia ingin bekerja maksimal, agar bisa di pertahankan lama oleh Yudi.
“Bu, tolong bu, jangan pecat saya bu!” Ikhwan menggenggam tangan Rila.
“Jauh-jauh kau dariku, bikin alergi saja kau!” Rila sungguh muak melihat wajah Ikhwan.
...Bersambung......
__ADS_1