
Dewi menampar keras wajah ibu tirinya. “Ini urusan dua saudara! Orang luar seperti mu, diam!” pekik Dewi.
Plak!
Plak!
Fi membalas perbuatan tercela adiknya pada sang ibu kandung.
“Kurang ajar! Biadab! Kau memang tak ada jera dan malunya Dewi!” Fi menjambak kuat rambut adiknya yang telah lelah kena rebonding.
“Lepas kak! Jangan sakiti aku! Aku ini adik mu!” Dewi mencoba melepas cengkraman kuat dari Fi.
“Diam kau adik nakal! Manusia seperti mu pantasnya membusuk di penjara!” Fi yang telah habis kesabarannya melempar tubuh Dewi ke lantai.
Bruk!
“Siapa saja! Bawakan aku tali! Cepat!” suara menggelegar dari Fi membuat semua orang berinisiatif membawa apa yang di minta oleh Fi.
“Kau mau apa kak?” Dewi bingung, karena Fi mulai memutar tangannya mengarah belakang.
“Tutup mulut mu, atau ku jahit kalau tak bisa diam!” pekik Fi.
“Kak, lepaskan aku! Lepas!” pinta Dewi.
Fi yang tak punya hati kali itu mengikat tangan Dewi dengan tali rapiah yang di bawa oleh Selia dan Lia.
“Ayo Lia! Ikat kakinya! Jangan sampai benalu ini lepas!” emosi Fi yang meledak-ledak membuat semua orang takut.
“Fi, apa ini tidak berlebihan?” Yuri merasa kasihan pada Dewi yang di ikat seperti ayam yang baru di beli.
“Biar saja bu! Dia ini jahat dan licik! Dia harus segera di adili” ucap Fi dengan tegas.
“Apa maksud kakak?” mata Dewi membulat sempurna.
“Mendekam lah dalam penjara!” Fi tertawa getir pada adiknya.
“Enggak kak, aku lagi sakit kak, sebentar lagi aku akan mati, aku enggak mau menghabiskan sisa hidup ku di penjara, hiks!” Dewi menangis sesungukan.
“Sstt! Diam! Tolong ambil handphone ku di kamar Lia, aku ingin menelepon polisi!” ucap Fi.
“Ibu sudah telepon nak,” ucap Yuri.
“Baiklah kalau begitu.” kemudian Fi membiarkan Dewi yang menangis begitu saja di lantai.
Hatinya yang terlanjur sakit berhasil mengubur nuraninya.
Ia yang dulu sayang Dewi, kini berbalik benci.
Meski begitu, ia tak sepenuhnya membuang tali persaudaraan mereka.
Ia hanya ingin memberi hukuman yang pantas untuk adiknya yang bengis.
Andri yang melihat tantenya di perlakuan demikian pun mendekat ke Dewi.
__ADS_1
“Tante jangan nangis, nanti di pukul mama loh.” kemudian Andri mengelus rambut Dewi yang acak-acakan.
“Jangan nak Andri, nanti mama marah.” Selia menggendong Andri agar menjauh dari Dewi.
“Hiks! Kak, lepaskan aku, aku berjanji takkan menyakiti mu lagi, aku akan jadi adik yang baik kak, hiks...” Dewi terus memohon ampun, sebab ia sangat takut ke penjara.
“Aku akan menerima mu, kalau kau sudah menghabiskan masa tahanan mu!” Fi menegakkan kepalanya.
Ia juga menguatkan hatinya agar tak goyah pada adik yang telah berhasil menghancurkan kehidupannya.
Liu liu liu!!!
Suara sirene polisi pun terdengar memasuki rumah Fi.
Fi dengan cepat menemui polisi yang telah berdiri di depan pintu.
“Selamat siang bu, apa benar ini dengan kediaman bu Yuri?” tanya sang polisi.
“Betul pak. Itu ibu saya, dan saya ingin melaporkan tersangka Dewi telah berada di rumah saya.” kemudian Fi menuntun para polisi untuk menuju Dewi.
“Kakak! Aku enggak mau di penjara! Maafkan aku! Hiks!” Dewi menangis histeris.
Lalu Fi pun memberi tatapan mata tajam pada adiknya.
“Maksudnya gimana? Kau ingin bebas? Enak saja kau! Silahkan berkumpul dengan kekasih haram mu itu! Sekedar pemberitahuan, selingkuhannya juga ada disana! Hiduplah yang akur Dewi! Bawa dia pak!” titah Fi.
Kemudian para polisi menggotong tubuh Dewi yang kini telah kurus ke dalam mobil dinas.
“Kau tak apa-apa nak?” Yuri memeluk Fi.
“Aku baik-baik saja bu. Hanya saja, aku syok saat melihat dia,” terang Fi.
”Sabar nak, yang paling penting, orang-orang yang menyakiti mu, kini telah mendapat balasan.” Yuri sangat bahagia, akhirnya Fi mendapat keadilan atas apa yang dia alami selama ini.
🏵️
Dewi yang langsung di masukkan dalam penjara mulai menggila.
Setelah tali yang mengikat kaki dan tangannya di lepas, ia mencoba untuk lari.
“Ibu Dewi! Mohon kerja samanya, jangan membuat kerusuhan!” pekik sipir penjara.
“Aku itu tidak bersalah pak! Yang salah si bajingan Asir! Hah!” Dewi mencoba menerobos keluar dari dalam sel.
Namun sang sipir penjara mendorong tubuh Dewi hingga tersungkur ke lantai.
“Tunggu saja jadwal sidangnya bu, enggak usah banyak bacot!”
Bam!
Sipir penjara menutup sel yang di tempati oleh Dewi.
“Kepara!! Sialan! Fi kurang ajar!!!”
__ADS_1
Bam!!
Dewi yang bersikap seenaknya mendapat sambutan selamat datang dari penghuni lama dengan cara menghantamkan keningnya ke jeruji besi.
Tes tes tes!
perlahan dahi Dewi mengeluarkan banyak darah, Seketika ia terhuyung dan ambruk ke lantai.
“Berisik banget kau! Enggak tahu apa! Kalau aku lagi pusing!” ucap Leli, penghuni garang yang di takuti semua orang dalam sel itu.
“Coba kak, cek kantongnya, mana tahu ada uang.” Seri mengatakan idenya.
”Benar juga kau!” kemudian Leli menggeledah setiap saku baju dan celana Dewi.
”Luar biasa, lumayan nih.” Leli mendapatkan uang senilai 500.000 dari saku baju depan Dewi.
”Jangan ambil uang ku! Jangan!” Dewi yang tak berdaya tak bisa bergerak dari tempat ia berbaring.
“Kalau sudah di tangan ku, berarti uang ku, mana mungkin uang mu lagi, hahahaha...” Leli tertawa jahat.
🏵️
Asir yang ada dalam selnya kembali mengingat wajah Fi yang cantik.
“Andai aku tak menceraikannya, andai aku tahu lebih cepat, kalau operasi plastik bisa jadi solusi dari segala permasalahan, maafkan aku Fi, andai aku tak gegabah.” Asir menjambak rambutnya sendiri karena kesal akan kebodohannya.
“Apa yang harus ku lakukan agar dia mau kembali lagi pada ku? Aku tak sudi kalau putra ku memanggil Yudi papa. Hanya akulah ayahnya.” Asir sangat marah pada Yudi yang berhasil masuk dalam kehidupan anak dan mantan istrinya.
Orang-orang yang ada dalam sel geleng-geleng kepala saat melihat Asir yang terus beradai-andai serta emosi secara mendadak.
“Sinting benar dia, pada hal yang cari masalah dia sendiri.” Arman yang tahu akan kasus Asir jadi geleng-geleng kepala.
🏵️
Wina yang kesehatan mentalnya semakin mengkhawatirkan akhirnya di kirim oleh tim ke polisian ke rumah sakit jiwa.
Trauma akan takut miskin dan kehilangan anaknya membuat ia tak terkendali, ia pun sering menyakiti teman satu selnya.
Selama perjalanan ke rumah sakit jiwa, kedua tangan Wina di borgol agar ia tak menyakiti orang lain lagi.
“Yahya... ikut mama ya nak, kita cari papa!” Wina berbicara pada borgol tangannya yang ia anggap anaknya.
Dan kelakuannya itu berhasil membuatnya jadi bahan lelucon bagi petugas yang mengantarnya.
🏵️
Malam harinya, Yudi yang baru pulang kerja berencana akan ke rumah Fi.
Sebab ia sangat merindukan sang calon istri yang sebentar lagi akan ia nikahi.
...Bersambung......
__ADS_1