
Fi tak merespon setiap hinaan yang di berikan adiknya, hanya air mata kesedihan yang terus mengucur di pipinya.
Setelah Fi sampai di teras, Dewi mengeluarkan dompetnya.
“Karena aku baik hati, maka aku akan memberi mu uang, jangan di tolak ya.”
Dewi pun membuka dompetnya dan mengambil uang sebanyak Rp. 20.000.
“Nih!” Dewi melempar uang tersebut ke wajah Fi. “Maaf ya kak, kalau aku tak memberinya ke tangan mu, habis aku enggak bisa bersentuhan dengan wanita buruk rupa seperti mu!”
Fi mengusap air matanya, ia yang tak mendapat apapun memutuskan untuk pergi tanpa mengambil uang yang Dewi berikan.
Bertepatan saat ia ingin melangkahkan kakinya, Asir pulang dari kantor.
Mobil mewah suaminya berhenti tepat di hadapannya.
Ceklek! Asir keluar dengan santai, seolah tak melihat keberadaan Fi.
“Mas sudah pulang?” Dewi menjabat tangan iparnya.
Fi menoleh pada suami dan adiknya yang ada di belakangnya yang bertingkah layaknya pasangan resmi.
“Apa kau sudah memberi pengemis itu uang?” tanya Asir.
Fi mengusap dadanya, ia tak tahu, suaminya pura-pura atau serius tak mengenali dirinya.
“Sudah mas, tuh!” Dewi menunjuk ke arah uang yang terletak di lantai.
“20.000? Pantas pengemis itu tak mau, harusnya kau kasih 100.000.” ucap Asir.
Fi yang merasa terhina, beranjak dari sana, namun Asir memanggil dirinya.
“Bu-bu! Tunggu dulu!” Asir mencegah langkah Fi. Lalu Fi melihat wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.
“Ini untuk mu bu.” Asir memberi uang senilai 100.000 untuk Fi. “Semoga bisa meringankan beban keluarga mu.” wajah Asir nampak tulus memberikan uang itu pada Fi.
Apa benar dia tak mengenali ku? batin Fi.
“Aku tak butuh uang mu.” Fi melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Asir mengangkat alisnya, kemudian menyimpan kembali uangnya ke dalam dompetnya.
__ADS_1
“Dia pengemis apa bukan sih?” tanya Asir pada Dewi.
“Tentu pengemis.” jawab Dewi dengan menahan tawanya.
“Tapi kenapa dia tak mau uang?” percakapan keduanya masih dapat di dengar oleh Fi, yang belum jauh melangkah.
“Mana mungkin dia mau, itu terlalu sedikit baginya, ngomong-ngomong, kau benar-benar tak mengenal pengemis itu mas?” tanya Dewi.
“Aku baru pertama kali melihatnya, mana mungkin ku kenal,” ucap Asir.
“Mata mu memang sakit, hehehe... dia itu istri mu mas!” Dewi begitu antusias memberi tahu Asir.
“Benarkah? Tapi tak mirip dengan Fi.” Asir betul-betul lupa pada istri yang telah menemaninya hidup selama 5 tahun.
“Bohong kau mas, ayo ah! Kita masuk ke dalam!” Dewi dan Asir pun masuk ke dalam rumah dengan saling berpelukan.
Fi yang berdiri di pinggir jalan bingung mau pulang pakai apa, sebab ia tak memiliki uang.
Sang satpam yang melihat kerisauan majikannya, pun mendatangi Fi.
“Nyah, apa yang kau pikirkan?”
“Aku tak punya uang untuk pulang, apa bapak bisa memberi saya ongkos?” Fi yang menyedihkan membuat sang satpam iba.
Lalu satpam itu pun memberi Fi uang 50.000, “Hanya ini yang bisa saya beri, semoga cukup nyah,” satpam tersebut ingin menangis melihat penderitaan Fi.
Dulu wanita itu begitu cantik dan elegan di matanya, namun dalam sekejap berubah menjadi buruk rupa dan penuh luka di tubuhnya. batin sang satpam.
“Apa nyonya sudah makan?” sang satpam baik hati itu berniat memberi makanan yang baru ia beli pada Fi, sebab ia yakin sang nyonya belum makan.
“Belum pak, tapi ini saya mau pulang.” Fi sangat bahagia, karena masih ada orang di rumah itu yang memperlakukannya secara manusiawi.
“Tunggu sebentar bu!” sang satpam lari kecil ke pos jaganya untuk mengambil sate Padang yang baru ia beli.
“Ini untuk nyonya, maaf hanya ini yang bisa saya beri, tolong jangan di tolak, karena dulu juga nyonya tak mengizinkan ku untuk menolak apapun yang nyonya beri.”
Sang satpam ingat betul, dulu saat ia kelaparan karena tak punya uang ketika mencari kerja, Fi yang baik hati memberinya solusi, dengan menjadi satpam di rumahnya.
Walau sang nyonya tak mengenali dirinya, namun sang nyonya baik hati, percaya jika ia bukanlah orang jahat.
“Terimakasih banyak pak, kalau aku punya rezeki, akan ku balas kebaikan bapak.” Fi menerima sate Padang pemberian satpamnya.
__ADS_1
“Iya nyonya, nyonya jaga diri, terus semangat, semua ada masanya.” sang satpam menyemangati Fi.
Tak lama angkot pun datang, Fi segera masuk ke dalam angkot.
Selama perjalanan Fi menangis, ia juga kembali mengingat kenangannya bersama Asir selama ini.
Ia yang rapuh tak dapat menahan air matanya, hingga akhirnya ia menangis seperti anak kecil di dalam angkot yang memiliki banyak penumpang.
Orang-orang yang melihatnya berpikir kalau dirinya adalah orang gila.
“Diam dong bu! Berisik banget kau!” salah seorang penumpang yang baru di PHK membentak Fi.
“Ma-maaf mas.” Fi menyeka air matanya dengan bajunya. Meski ia telah berusaha menegarkan hatinya, namun Fi tetap tak bisa membendung air matanya. Kemudian seorang wanita berkepala tiga pun menegurya.
“Hargai penumpang lain bu, suara tangisan ibu meski pelan tapi sangat menggangu!”
Fi menatap nanar orang-orang yang berwajah masam padanya.
Saat itu ia baru sadar, bahwa di dunia ini, takkan ada orang yang perduli pada mu selain dirimu sendiri.
Sesampainya Fi di tujuan, Fi turun dari angkot. Setelah itu ia berjalan menuju rumah mertuanya.
“Assalamu'alaikum.” Fi membuka pintu rumah.
“Walaikumsalam, bagaimana Fi, apa Asir menceraikan mu? Atau justru mengajak mu baikan? Dan... apa kau sudah menjual barang-barang mewah mu?” pertanyaan dari sang mertua membuat Fi menundukkan kepalanya.
“Maaf bu, aku tak berhasil mengambilnya, karena Dewi dan Art-nya menghalangi ku, dan aku juga tak dapat cerai dan yang lainnya dari mas Asir.” pernyataan dari Fi membuat sang mertua menghela nafas panjang.
“Sudah ku duga, hum! Ya sudah, pergilah ke kamar, Andri menangis terus minta susu.” Alisyah begitu pusing akan permasalahan yang menimpa keluarganya
“Permisi bu.” Fi menundukkan tubuhnya saat melewati mertuanya. Dan tanpa sengaja Alisyah melihat kantong kresek berisi sate Padang milik menantunya.
Pasti dia belum makan, batin Alisyah.
“Fi, sebelum menyusui Andri, sebaiknya kau makan dulu, tak baik memberi anak asi dalam keadaan perut kosong, takutnya Andri masuk angin.” Alisyah yang menyayangi cucunya tak sampai hati, bila sang cucu sakit karena ibunya yang tak makan tepat waktu.
“Terimakasih banyak bu.” atas saran darinsang mertua, Fi menuju ruang makan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, sebelum memberi Andri Asi.
Ternyata ibu benar, meski ibu mertua galak dan bicara tak berperasaan, tapi sebenarnya hatinya baik, batin Fi.
...Bersambung......
__ADS_1