Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
103 (Makan bersama)


__ADS_3

“Sabar pak Asir, jangan gegabah, semua ini sudah terjadi, mari kita sama-sama pikirkan, solusi dari masalah ini,” terang Hitman.


“Apa bapak sudah lobi para hakim dan polisi?” tanya Asir dengan mata memerah.


“Sudah, tapi mereka menolak pak Asir.” Hitman menceritakan percakapannya dengan pada petinggi yang ada disana.


“Siapa sih yang mendampingi Fi? Kalau hanya dia seorang, pasti laporannya sudah di abaikan.” Asir menjadi penasaran akan pendukung mantan istrinya.


“Saya sepemikiran dengan bapak, pada hal setahu saya petinggi sini paling mudah untuk di sogok, ujar Hitman.


Baik Asir mau pun Hitman ingin tahu, sosok Yudi yang menjadi pembela Fi.


🏵️


Wina yang duduk menghadap tembok mulai menggores-gores dinding sel mereka dengan tangannya.


“Dear, diary... hari ini rasanya sepi sekali, karena orang yang ku cintai, tak menghargai ku lagi, rasa hampa yang ada di dalam dada kian membara, apa lagi mengingat anak ku yang telah tiada, diary, hati ku sedih kian tak berujung, aku... patah hati.”


Wina yang gagal menjadi orang kayak jadi sakit mental sungguhan.


“Dari tadi malam dia main diary-diaryan terus.” Sera menyunggingkan bibirnya.


“Benar banget, bikin takut banget dia! Tahu enggak, pas aku lagi enak-enaknya tidur, masa, dia meniup telinga ku berulang kali? Bagian paling memberikannya, dia tertawa menyeringai saat aku membuka mata!” Sri menceritakan perbuatan jahil Wina padanya.


“Lama-lama dia menyeramkan juga, harusnya dia di masukkan ke rumah sakit jiwa, bukan malah disini.” Sera sangat takut pada Wina yang kini gila.


“Kau betul, dia juga sering mengobrol dengan dirinya di kaca, dan sering menganggap sikat lantai adalah anaknya, astaga... kapan sih sidangnya berlangsung.” kini Sri selalu merinding saat melihat Wina.


Ketika mereka sibuk menggosipkan Wina yang tak jauh dari mereka.


Tiba-tiba Wina berdiri kaku dengan mata melotot.


“Mama enggak salah nak, itu semua karena papa mu, dia memaksa mama untuk menggugurkan mu.” Wina bicara pada anaknya telah tiada yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.


Sri dan Sera yang menyaksikan malah makin merinding, terlebih saat Wina menatap mereka berdua.


“Kalian kenapa sih?” tanya Wina.


Kemudian Wina berjalan mendekat ke arah Sri dan Sera, kemudian Wina duduk di hadapan kedua tahanan lama itu.


“Ini anak ku, namanya Yahya.” Wina menunjuk ke sebelahnya yang tak ada siapapun.


Namun pada penglihatannya, putra yang gagal ia lahirkan sedang bersama mereka.


Glek!


Sera dan Sri menelan saliva mereka. Kemudian Wina tersenyum pada keduanya.


“Anak ku mau minta gendong pada mu, Sera.”


Mendengar namanya di sebut, Sera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Hei, jangan menakut-nakuti kami!” Sera tak suka dengan kondisi Wina yang makin parah.


“Sera, Yahya menangis, sebaiknya kau gendong dia!” pekik Wina.


Sera yang tak mau di perdaya oleh Wina memilih pindah duduk.


“Yang benar saja, aku mau di suruh-suruh orang gila,” gumam Sera.


🏵️


Pukul 16:00 sore, Yudi telah tiba di depan rumah Fi.


Pagar rumah yang tak di tutup membuat Yudi menyuruh Rian untuk masuk tanpa permisi.


Sesampainya mereka di pintu utama, Yudi dan Rian melihat Fi, Yuri dan Andri duduk bersila di teras seraya makan nasi Padang.


Yudi yang pecinta masakan Padang pun langsung merasa lapar.


Tiga orang yang sedang bersantap ria pun menoleh ke arah Yudi dan Rian.


“Tuan, sudah pulang?” sapa Fi, ia yang ingin berdiri di cegat oleh Yudi.


“Sudah, duduk saja.” Yudi tak tega bila menggangu Fi yang sedang makan.


“Tapi saya mau ke dalam tuan, karena tadi saya menyimpan dua bungkus nasi Padang juga untuk tuan, dan pak Rian,” terang Fi.


“Benarkah?” Yudi yang lapar sontak duduk di sebelah calon ibu mertuanya.


“Sekarang juga boleh.” ujar Yudi yang telah keroncongan sedari tadi.


“Baiklah tuan, saya mengerti.” kemudian Fi pergi menuju dapur.


Rian pun mengambil tempat duduk di sebelah Andri.


Dua pria itu pun tak sabar menunggu kedatangan Fi.


Pada hal mereka juga mampu membeli nasi Padang yang akan Fi berikan pada mereka.


Tapi keduanya sepakat dalam hati masing-masing kalau nasi pemberian Fi, jauh lebih enak.


3 menit kemudian Fi datang dengan membawa 2 piring dan 2 bungkus nasi Padang di tangannya.


“Silahkan tuan, pak Rian.” Fi pun melayani kedua pria itu dengan baik.


Yudi yang ingin mengambil hati mulai berkata manis pada Andri.


“Kau sudah kenyang nak?” ucap Yudi


“Belum pa.” sahut Andri yang terus di suap tangan oleh Fi.


“Kemarilah, biar papa yang menyuap mu, kasihan, mama kan cape, pasti mama lapar banget.” kata-kata mama dan papa yang di keluar dari mulut Yudi membuat, Fi, Yuri dan Rian menatap aneh ke arah sang majikan.

__ADS_1


Sedang Yudi dan Andri merasa biasa saja. Seolah itu wajar untuk di ucapkan.


“Ma, aku di suap papa saja ya.” kemudian Andri bangkit dari pangkuan Fi, dan berpindah ke pangkuan Yudi.


Sontak mulut Fi menganga, sebab anaknya benar-benar menganggap Yudi sebagai ayahnya.


Kok jadi begini sih?! batin Fi.


Sedang Yuri yang tahu perasaan Yudi pada putri sambungnya hanya tersenyum tipis.


“Ayo Fi, lanjutkan makan mu,” ujar Yudi.


Meski Yudi merasa lapar, namun demi merebut hati Fi, ia harus menahannya.


Aku akan mempengaruhi Andri, kalau Andri menyukai ku, otomatis Fi juga akan mau pada ku, hahaha.... batin Yudi.


Ia sangat percaya, Fi yang sayang anak, akan setuju dengan apapun yang di minta putra satu-satunya.


Kemudian mereka semua pun melanjutkan makan mereka masing-masing.


Yudi yang berpikir Andri akan cepat kenyang ternyata salah.


Andri justru terus minta di suap sampai nasi bagian Yudi ludes tak tersisa.


Rian yang menyaksikan hal itu menahan tawanya.


Sedang Yudi menahan laparnya, meski ia sultan, tapi saat perutnya kosong, ia sama sama saja seperti orang lain, yaitu butuh untuk segera di isi.


Fi yang tahu Yudi belum makan sama sekali menuju dapur.


Tak lama ia pun kembali. “Ini tuan.” ternyata Fi masih punya stok untuk makan malam mereka.


“Akh, tidak usah, aku sudah makan di jalan tadi.” Yudi yang lapar setengah pingsan masih membuat gengsi.


“Makanlah tuan, pasti tuan lapar, apa lagi tuan kan baru selesai kerja berat di kantor, makan banyak adalah solusi untuk berpikir lancar,” ucap Fi.


“Sudah pa, makan saja, atau tangan papa cape? Mau di suap mama?” ucapan Andri membuat Fi dan Yudi menjadi canggung.


“Hei, Andri, sini! Tuan mau makan!” kemudian Fi meletakan nasi bungkus di atas piring tepat di hadapan Yudi.


Kemudian ia pun menarik tangan anaknya untung bangkit dari pangkuan Yudi.


“Baik, akan ku makan.” kemudian Yudi melahap nasi pemberian orang yang ia cintai.


Setelah selesai makan, Yudi cuci tangan di kobokan yang telah di sediakan oleh Fi.


Selesai istirahat sejenak, Yudi pun mengajak berangkat. “Ayo ke makam Emir, nanti keburu malam lagi sampai disana.” ucap Yudi seraya Berdiri dari duduknya.


Yang buat lamakan, tuan sendiri, batin Fi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2