
Dewi memberi Clara tatapan mata tajam. “ Hei, meski pun aku jahat, tapi aku takkan meminta hal yang satu itu saat sholat!”
“Hum! Kalau enggak sholat kaukan selalu ngomong asal, hahaha...” Clara tertawa terbahak-bahak.
“Kau gila ya!” pekik Dewi.
“Tapi Wi, kalau kau punya anak dengan teman om Toni, ku rasa kau tak perlu susah-susah bermain trik busuk untuk mengambil hartanya.” Dewi memberitahu benefit jika bersama teman Toni.
“sudahlah, jangan bicara ngaco, aku mau pulang!” Pekik Dewi.
”Jangan lupa pakai make up yang tebal! Nanti kalau si Asir lihat wajah mu pucat, dia malah menendang mu tanpa ampun lagi, hahaha...” Clara menggoda Dewi yang posisinya bisa terancam kapan saja.
“Aku tahu apa yang harus ku lakukan.” Dewi yang percaya diri bangkit dari duduknya, kemudian keluar terlebih dahulu dari klinik.
Ia yang telah berada dalam mobil berdandan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah kekasihnya.
Setelah wajahnya terlihat segar, ia pun melajukan mobilnya.
Bremmm...
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Dewi akhirnya sampai di rumah Asir.
Saat ia akan masuk ke kamar ke kasihnya, tiba-tiba Wina keluar dengan berpakaian daster dari kamar itu.
Deg!
Ia cukup terkejut, namun seorang Dewi bersikap biasa saja di hadapan Wina.
“Kau habis bersih-besih ya Win?” sapa Dewi seraya meredam emosinya yang ingin meledak.
“I-iya nyonya.” sahut Wina dengan canggung, ia tak tahu jika Dewi akan kembali secepat itu.
“Baiklah kalau begitu,” Dewi tersenyum tipis.
Wina yang tak ingin berhadapan lebih lama dengan Dewi memilih pergi ke dapur.
Dewi pun menatap lekat kepergian Artnya yang luar biasa.
“Hum! Nikmati saja sebelum kau hamil!” Dewi menghela napas panjang. Lalu ia pun masuk ke dalam kamar yang telah di lalui oleh 3 wanita di dalamnya.
“Sebenarnya aku tak perduli apapun yang di lakukan si brengsek itu! Tapi... rasanya bikin panas juga, saat dia bercinta dengan orang yang ku kenal.” Dewi meremas seprei ranjangnya.
Seketika ia pun kembali mengingat betapa sakit yang ia lalui dari hari kemarin.
“Aku harus mendapatkan yang setimpal!” lalu Dewi mencari surat-suray rumah Asir. Ia berniat menjual rumah itu sewaktu-waktu jika mendapatkannya.
Ia yang sibuk menggeledah kamar tiba-tiba merasa lapar.
“Nanti saja ku lanjut.” ia pun segera menuju dapur.
Namun saat ia melewati kamar keponakannya yang pintunya terbuka separuh, Dewi melihat Alisyah sedang memakaikan baju pada Andri.
__ADS_1
Ia yang kesal pada Asir berniat membalas dendam pada Alisyah.
Krieet...!!
Dewi membuka pintu lebih lebar, nenek dan cucu itu pun menoleh ke arah Dewi.
“Hei tante, 1 jam lagi datang ke kamar ku, kalau tidak, kau akan tahu akibatnya,” titah Dewi.
Alisyah yang gentar pun menganggukkan kepalanya. “Baiklah.”
Setelah itu, Dewi menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Dewi melihat saingannya mencuci piring seraya bersenandung.
Bangkek! Bahagia sekali kau sialan! batin Dewi.
Sejujurnya ia ingin sekali menjambak Dewi, namun apa boleh buat, itu terlalu Dini untuk ia lakukan. Dewi yang percaya kalau Wina akan hamil, harus banyak bersabar untuk menyaksikan wanita itu menangis di hadapannya.
Saat itu tiba, akan ku beri kau kenang-kenangan, batin Dewi.
Kemudian Dewi duduk di atas kursi. “Ambilkan aku nasi, Wina,” titah Dewi.
Mendengar suara Dewi yang tenang, membuat bulu kuduk Wina berdiri.
“Baik nyonya.” Wina dengan sigap menyediakan permintaan Dewi. Setelah itu menaruhnya tepat di hadapan Dewi.
“Hufff...” Dewi mengaduk-aduk nasinya dengan wajah resah.
“Ada apa nyonya?” tanya Wina penasaran. Ia berharap kalau tuannya sudah memutuskan Dewi.
“Sabar nyonya, nanti juga ada rezekinya.” Wina yang yakin kalau dirinya subur, percaya kalau dirinya bisa mengandung benih Asir secepatnya.
“Kau benar juga, terimakasih telah menyemangati ku.” Dewi tersenyum penuh makna pada Wina. Yang membuat Wina mengernyitkan dahinya.
“Saya lanjut cuci piringnya ya nyonya,” ucap Wina.
“Baiklah.” sahut Dewi.
Tangan Wina yang sibuk membersihkan piring memikirkan yang di katakan Dewi seraya tersenyum bahagia.
Sebentar lagi kau akan tersingkir, batin Wina.
Kedua wanita yang menjadi korban Asir itu pun menyimpan dendam di hati mereka masing-masing.
🏵️
Fi yang baru selesai makan malam beranjak menuju kamarnya, ia pun tersenyum lebar, saat tak sengaja berpapasan dengan sang tuan yang baru keluar dari garasi.
“Baru pulang tuan?” sapa Fi, sebagai basa-basi.
“Iya, aku baru beli sup iga, ayo! Temani aku makan,” pinta Yudi.
Aku kan baru makan, batin Fi.
__ADS_1
“Maaf tuan, aku sudah kenyang.” ucap Fi dengan jujur.
“Aku hanya meminta mu untuk menemani ku makan.”
Seketika Fi menjadi malu, ia berpikir sang tuan mengajaknya makan. Meski kenyataannya memang begitu.
“Baik tuan.” Fi pun mengikuti keinginan Yudi.
Kemudian keduanya beranjak menuju ruang makan.
Pada hal ini waktunya untuk ku istirihat, hiks...
Fi yang lelah menangis dalam hatinya.
Sesampainya mereka, Fi yang tahu posisinya mengambil mangkuk kaca berukuran sedang sebagai wadah sup Iga tuannya. Tak lupa ia juga mengambil piring.
“Tuan, nasinya mau berapa sendok?” tanya Fi, karena ia tak pernah melayani tuannya sebelumnya.
“2, minumnya air hangat ya.” pinta Yudi sebagai tambahan.
Saat Fi sedang sibuk bekerja, Yudi pun memperhatikan setiap gerakan Artnya itu. Dan dari hatinya yang paling dalam tumbuh rasa nyaman.
Dari dulu, aku selalu makan sendiri. Eh, bukan, sesekali ada Suli yang menemani, tapi... melihat Fi yang sibuk melayani ku, rasanya.. seperti keluarga yang telah lama hilang, kini kembali lagi, batin Yudi.
Tak!
Fi meletakkan nasi dan air hangat di hadapan Yudi.
“Silahkan tuan,” ucap Fi.
“Terimakasih banyak.” Yudi yang melihat Fi hanya berdiri tanpa mengambil tempat duduk berdecak.
“Ck, apa yang kau lakukan? Duduklah!” Yudi menarik tangan Fi untuk duduk di sebelahnya.
“Saya kuat berdiri kok tuan.” Fi kembali menolak kenaikan hati Yudi yang kini ada tujuannya.
“Aku yang tak kuat, bila di tonton makan oleh mu.” lalu Yudi menuang kuah dan memindahkan sebagian iga sapi ke piringnya.
Tak!
Yudi meletakkan sebagian sup iganya di hadapan Fi.
“Makanlah, agar kau gemuk.” Yudi sangat kasihan melihat tubuh Fi yang kurus kering.
“Tapi aku baru makan tuan.” Fi yang kenyang merasa tak sanggup bila mengisi perutnya lagi.
“Makan saja, kalau masih ada sisa kuah di mangkuk itu, berarti kau harus jadi koki pribadi ku.” Yudi yang tahu Fi takkan mampu menghabiskannya, sengaja meminta demikian, agar tujuannya tercapai.
Gila, mana mungkin habis, sup iganya kan masih banyak, batin Fi.
Namun apa boleh buat, ia yang mendapat banyak perhatian dan kebaikan dari tuannya, tak mampu menolak, karena merasa berhutang budi.
__ADS_1
...Bersambung......