
“Perasaan aku tak ada masalah apapun dengan nyonya, sebaiknya ku tanyakan saja, biar keragian dalam hatiku hilang.” Fi pun kembali melanjutkan pekerjannya.
🏵️
Dewi yang istirahat siang pergi ke rumah sakit yang dekat dengan mall tempat ia bekerja.
Setelah menemui sang dokter. Dewi menceritakan segala keluhannya.
Dewi juga mengatakan kalau dirinya pernah keguguran.
Membuat sang dokter pun menduga, kalau ada masalah dalam rahim Dewi.
Untuk itu sang dokter menyarankan, agar Dewi pergi ke dokter obgyn.
Atas masukan dari sang dokter, Dewi beralih ke bagian dokter obgyn.
Ia pun menceritakan kembali masalah yang ia alami.
“Baik bu, kita akan tes darah, dan juga transvaginal, nanti akan ketahuan sakit apa yang ibu idap saat ini, mudah-mudahan hanya penyakit biasa ya bu.” ucap sang dokter.
“Tes darah dan transvaginalnya sakit enggak dok?” tanya Dewi, sebab ia sangat takut. Dirinya juga masih ingat betul pengalamannya saat keguguran dan juga di kuret.
“Tidak bu, ibu tenang saja ya. Pasti semua baik-baik saja.” sang dokter tetap berkata positif pada pasiennya.
Tujuannya agar si pasien tidak panik dan ketakutan.
“Baik dok.” Dewi yang ingin tahu kondisinya bersedia untuk tes darah dan juga transvaginal.
Setelah sampel darahnya di ambil, sang perawat membawanya ke left.
Selanjutnya Dewi di suruh berbaring di atas ranjang pasien.
Dan dokterpun memasukkan alat ke dalam organ vital Dewi.
Dan dari layar besar yang ada di hadapan Dewi, ia melihat ujung alat itu bergerak ke kiri dan ke kanan.
Sang dokter pun mengernyitkan dahinya. “Banyak perubahan di dinding rahim ibu, ketebalan rahim juga berubah, apa ibu yakin kalau ibu hanya keguguran 1 kali?” tanya sang dokter.
“Iya dok.” jawab Dewi dengan ragu. Sebab ia sering terlambat datang bulan selama ini.
“Saat kuret tak benar-benar bersih di lakukan ya bu, kelihatan sekali,” terang sang dokter.
“Saya kurang tahu dok.” Dewi yang tak mengerti, tidak tahu apakah rahimnya yang di kuret benar-benar bersih atau tidak.
“Ehm, sudah selesai bu.” ucap sang dokter.
Lalu sang dokter duduk kembali ke kursinya. Dewi yang baru selesai merapikan Celananya, duduk di hadapan sang dokter.
__ADS_1
“Bagaiman dok?” tanya Dewi dengan perasaan khawatir.
Kemudian sang dokter menerima hasil photo print out transvaginal Dewi.
“Yang sabar ya bu, tak ada penyakit yang tak bisa sembuh, yang penting tetap berusaha dan jaga kesehatan.”
“Maksud dokter apa?” Dewi menjadi semakin penasaran.
“Ibu mengidap penyakit kanker rahim dan serviks, ini semua terjadi karena pola hidup yang tidak sehat, berhubungan **** di usia dini, sistem kekebalan tubuh yang lemah, penggunaan pil KB yang terlalu lama, sering berganti pasangan bercinta, atau bisa juga karena keturunan,” terang sang dokter.
Seketika Dewi merasa lemas dan tak berdaya. “Apa yang harus di lakukan agar saya sembuh dok?” Dewi menitikkan air matanya.
“Ini masih stadium satu, dan bisa sembuh dengan operasi, kalau ibu bersedia, kita bisa segera melakukan tindakan cepat, karena kalau di biarkan lebih lama, akan sangat membahyakan ibu,” terang sang dokter.
“Kira-kira berapa dok biayanya?” tanya Dewi.
“Tidak mahal bu, apa ibu punya kartu jaminan kesehatan? tanya sang dokter.
Dewi yang baru kerja 3 bulan, belum mendapatkan kartu jaminan sehat tersebut dari perusahaan ia bekerja.
“Saya tidak punya dok, semurah apa dok biaya operasinya?” tanya Dewi.
“20 jutaan bu, itu sudah termasuk biaya administrasi juga.” ucap sang dokter.
Seketika Dewi tambah tak berdaya, sebab uang 4 juta saja ia harus bekerja keras selama 1 bulan.
“Baik dok, saya cari dulu uangnya, setelah itu saya akan datang kesini.”
“Baik bu, tetap jaga kesehatan ya bu,” ujar sang dokter.
“Terimakasih banyak dok.” kemudian Dewi keluar dari ruangan sang dokter.
Ya Tuhan, aku harus pinjam uang siapa? batin Dewi.
Dewi yang ingin menjerit, harus meredamnya, sebab ia masih harus bekerja.
Kecantikan dan riasan di wajahnya juga harus tetap stabil.
Selama perjalanan ke mall Dewi banyak melamun.
Ia yang tak melihat jalan hampir terjatuh ke dalam got.
“Hati-hati!”
Suara yang familiar di telinga Dewi membuat hatinya panas membara. Ia pun menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah Asir.
“Untuk apa kau disini?!” pekik Dewi, ia sangat marah pada lelaki yang buat masa depan dan bayinya gugur.
__ADS_1
“Maafkan aku kalau datang secara tiba-tiba.” sikap manis Asir membuat Dewi mengernyitkan dahinya.
Apa yang terjadi padanya? batin Dewi.
“Aku sibuk, aku ingin masuk kerja.” ucap Dewi, ia yang benci Asir tak ingin bertatap muka dengan pria hidung belang itu sedetikpun.
“Tunggu Wi, aku ingin bicara.” Asir memegang tangan Dewi.
“Apa yang kau lakukan brengsek!” Dewi menghempaskan tangannya dari Asir.
“Ayo balikan, jadilah kekasih ku lagi!” Asir dengan mudahnya mengajak Dewi untuk kembali bersama, pada hal ia telah menyakiti hati adik mantan istrinya.
Dewi yang ingin menolak kembali mengingat bahwa dirinya butuh uang untuk kesembuhannya.
“Aku mau bersama mu asal kau memenuhi 3 persyaratan ku,” ucap Dewi.
“Apa itu?” tanya Asir.
“Pertama, usir Wina, yang ke dua, berikan aku uang yang banyak, ke tiga, kembalikan semua berlian ku.” Dewi yang tak mau rugi dua kali meminta keinginannya terlebih dahulu.
Sesuai dugaan, mata duitan, batin Asir.
“Baik, ku beri kau 200 juta sebagai uang muka menjadi kekasih ku lagi, kalau kau mau kembali tinggal bersama ku sekarang juga, berlian yang kau inginkan, akan ku serahkan ke tangan mu.” Asir tak perduli berapapun uang yang akan ia keluarkan pada Dewi, yang penting batinnya puas.
“Aku akan datang lusa, karena aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Dan satu lagi, aku langsung yang mengusir Wina.” Dewi yang ingin balas dendam sudah tak sabar ingin menghajar saingannya yang kurang ajar itu.
“Baiklah, aku setuju.” Asir yang tak punya hati tak memikirkan bagaimana sakitnya hati Wina bila ia membawa Dewi ke dalam rumahnya lagi.
Akhirnya, hari kemenangan ku datang lagi, akan ku hancurkan semua orang yang telah menghina ku, terutama kau dan Wina Asir! batin Dewi.
🏵️
Fi yang telah selesai mengerjakan ruang office kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Sebab ia merasa lelah, sejak pulang dari Korea ia hanya tidur beberapa jam di rumahnya.
Saat ia akan sampai ke kamarnya, tatapan benci dan malas menyorotnya tiada henti.
Cantik salah, jelek apa lagi, batin Fi.
Ia yang tak ingin membuat masalah hanya tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Sombong, sedikit pun dia tak menyapa kita, pada hal dia cantik berkat pisau bedah, bukan dari Tuhan,” ucap Art A.
“Benar banget, sombongnya minta ampun, pengen banget menginjak wajah palsunya, hah! Kalau dia punya otak, harusnya dia berbasa-basi pada kita, gabung buat ngobrol gitu,” ujar Art B.
...Bersambung......
__ADS_1